Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Please ... Sebentar Saja


__ADS_3

"Ssshhh ...." Zoel mencoba menenangkan.


"Katakan padaku. Apa aku terlihat begitu tua? Apa aku tidak pantas lagi menjadi istri yang dibanggakan?" tuntut Floryn kepada Zoel. Ia ingin jawaban jujur dari seorang laki-laki. Apalagi Zoel masih lebih muda daripada dirinya. Seleranya pasti jauh lebih baik.


"Bu Flo-ryn ...." Zoel bicara dengan susah payah. Tangannya hampir menyentuh dua bukit kembar yang dimiliki Floryn. Siapa yang bisa tenang?


"Ya, aku memang ibu-ibu. Aku sudah tidak diinginkan lagi," sahutnya kemudian.


"Tidak. Bu-bukan itu maksud saya."


"Wanita sundal itu tidak lebih cantik dariku. Apa karena aku sudah pernah melahirkan? Apa aku harus pergi ke Jepang untuk melakukan operasi agar kembali seperti perawan?" oceh Floryn yang mulai tidak jelas.


Zoel melihat bibir Floryn yang gemetar. Ia menyadari jika rupanya wanita itu begitu kedinginan. Ia menaikkan suhu AC agar Floryn merasa lebih hangat. Namun sayangnya, hal itu tidak berhasil. Bibir penuh Floryn tetap saja menggigil kedinginan.


Zoel berbalik dan mencoba menemukan sesuatu untuk membuat Floryn hangat. Sayangnya tidak ada apa-apa di jok belakang. Ia memang tidak pernah membawa apa-apa di mobilnya.


"Hei, lihat aku! Kenapa mengacuhkan pertanyaan-pertanyaanku?!" tukas Floryn yang masih terus menitikkan air mata.


Zoel terkejut saat tangan Floryn menyentuh tangannya. Tangan itu sudah menjadi sangat dingin daripada sebelumnya. Apa yang terjadi dengan Floryn?


"Anda kenapa? Anda baik-baik saja?" tanya Zoel kemudian.


Tiba-tiba saja hidung Floryn mengeluarkan darah segar. Tetesan darah itu semakin banyak. Rupanya hidung wanita itu mimisan. Adalah hawa dingin yang memicu hal tersebut sampai terjadi.


"Ti-tisue ...," lirih Floryn yang sedang mendongakkan kepalanya.


"Jangan! Biarkan saja menetes. Jangan melihat ke atas, nanti darahnya menyumbat pernapasan Anda, Bu," terang Zoel seraya menyeka darah kental yang keluar dari hidung Floryn.


Setelah cairan merah tersebut bersih dan berhenti keluar, Zoel langsung saja maju dan mendekap tubuh dingin Floryn.


"Kamu tidak tahan dingin. Pantas saja sampai menggigil dan mimisan begitu ...," bisik Zoel iba. Ia tahu karena ada salah satu sepupunya memiliki masalah yang sama.

__ADS_1


Di dalam dekapan Zoel, Floryn hanya bisa mengangguk. Wanita itu menyusupkan tangannya ke dalam kemeja Zoel tanpa permisi. Tubuh hangat laki-laki itu membuatnya nyaman.


"B-Bu Floryn ...," Zoel berusaha menolak.


"Please ... sebentar saja," mohon Floryn seraya mengiba.


Zoel tidak tega. Ia membiarkan tangan Floryn menyentuh kulitnya dan mengusap-usap di sana. Membuat kehangatannya sendiri.


Akan tetapi, Zoel juga masih manusia biasa. Ia punya hasrat dan keinginan. Sentuhan dingin dan lembut dari Floryn, menaikkan suhu tubuhnya sendiri. Baik untuk Floryn, tapi tidak baik untuk Zoel.


"Bu ...." Zoel mencoba protes.


"Zoel ... kamu begitu hangat ...," sahut Floryn yang terdengar sangat nyaman.


Zoel tidak sanggup lagi. Ia menjauhkan tubuh Floryn dan kembali menariknya. Tidak hanya memeluk, kali ini Zoel menyatukan bibir mereka berdua.


"Eemmhh ...," lirih Floryn masih berusaha menjauhkan tubuh Zoel. Mereka mulai bertindak salah. Sayangnya laki-laki itu bergeming tak ingin menyudahi.


Pangutan yang diinisiasi oleh Zoel dalam keadaan nekat, mulai mendapatkan temponya. Zoel meresapi setiap inci dari bibir Floryn yang lembut dan menagih.


"Ooh ... Bu Floryn ... Anda begitu manis," bisik Zoel yang kemudian beralih ke arah leher jenjang milik Floryn.


Floryn tahu apa yang ia lakukan begitu salah. Namun tubuhnya tidak mau menolak. Ia perlu kehangatan itu sekarang dan tangannya sudah semakin aktif untuk mencari kehangatan.


Entah bagaimana caranya, Zoel sudah berhasil membuat kursi milik Floryn lebih mundur ke belakang. Hal itu memudahkannya untuk melesak maju dan mencari lebih. Saat itulah Zoel sadar kalau baju koyak yang dikenakan Floryn, basah. Hal itu dibuktikan dengan jaket kainnya sendiri yang mulai lembab dan dingin.


"Pantas saja Anda menggigil," kata Zoel dengan suara pelan.


Tanpa permisi, Zoel membuka zipper jaket yang dikenakan Floryn.


"Tu-tunggu ...," lirih Floryn berusaha menolak.

__ADS_1


Namun Zoel tidak mengindahkannya. Ia tetap saja melakukan hal itu hingga tuntas. Mengabaikan tangan Floryn yang coba untuk menahan usahanya.


"Lepaskan pakaian basah ini. Anda bisa saja demam tinggi," jelas Zoel. "Saya akan tutup mata kalau Anda malu," tambahnya.


Floryn menelan saliva. Ia ragu, tapi apa yang dikatakan Zoel mungkin benar. Saat melihat Zoel menutup mata, Floryn melepaskan jaket itu. Lalu bajunya yang basah dan ... Zoel membuka mata.


Floryn kembali mencoba menutupi tubuhnya dengan jaket milik Zoel. Namun, tangan Zoel mencegah.


"Ini basah ... jangan dipakai lagi," Zoel membantu Floryn melepaskan baju basah itu.


Hal berikutnya yang Zoel lakukan adalah mendekap Floryn. Tangannya mengusap-usap punggung polos wanita itu dengan lembut. Tersisa dalaman putih Floryn saja saat ini. Membuat Floryn agak malu namun menjadi jauh lebih hangat.


Zoel tahu ia harus berhenti atau semuanya akan terlambat. Tidak ada hal lain yang bisa mengakhiri semua itu kecuali akal sehat mereka sendiri.


"Zoel ... kamu orang baik. Bisakah kamu merahasiakan semua ini? Termasuk kepada Widuri?"


Hati Zoel tergelitik saat mendengar kalimat Floryn barusan. Apakah ia orang baik? Orang baik macam apa yang tidak bisa menahan nafsvnya sendiri?


"Apakah saya orang baik?"


"Yeah. Kamu datang menolongku. Lalu sekarang, menghangatkanku seperti ini. Kamu orang baik, Zoel ...," terang Floryn. Entah apakah ia sadar atau tidak saat mengatakannya.


Tanpa bisa Floryn lihat, Zoel tersenyum kecut. Ia tidak mungkin merusak kepercayaan yang Floryn berikan padanya.


Dengan enggan, Zoel menjauhkan tubuh Floryn dari pelukan mereka. Zoel kemudian membuka kemeja yang ia kenakan. Pada saat itu, Floryn memilih untuk berpaling. Ia tidak ingin melihat Zoel yang bertelanjang dada.


Pandangan Floryn kembali ke arah Zoel saat laki-laki itu menutupkan kemejanya ke tubuh Floryn.


"Pakai ini," kata Zoel singkat.


Floryn lalu memakainnya dengan benar. Zoel sendiri, ia memutuskan untuk kembali menjalankan mobilnya dan pergi dari sana. Ia bertanya kemana Floryn ingin diantar. Dan wanita itu menyebutkan alamat rumahnya sendiri. Floryn cukup yakin jika tidak akan ada orang rumah yang akan menyadari kedatangannya. Sudah jam satu dan mereka pasti sedang lelap.

__ADS_1


"Baiklah."


Bersambung.


__ADS_2