
"Apa ya-yang Mas inginkan? Ki-ta di ... di kamar mandi ...," tanya Floryn dengan susah payah.
"Aku menginginkanmu, Sayang," sahut Enrik.
"Ta-tapi ...." Floryn ingin menyangkal. Bukankah malam tadi suaminya itu sudah mendapatkan keinginannya dengan Ambar? Lalu kenapa pagi ini lagi?
Ah, ya. Floryn hampir lupa kalau Enrik memang agak over dalam hal itu. Mungkin permasalahan itu jugalah yang membuatnya tidak tahan untuk tidak bermain dengan Ambar saat ia dinas di luar kota.
Sekuat tenaga Floryn mencoba untuk menolak. Bayangan tentang apa yang suaminya lakukan dengan Ambar semalam, masih membuatnya sakit hati. Mana mungkin ia bisa melayani Enrik dengan bayangan itu.
Tapi, usaha Enrik cukup keras. Ia terus-terusan memberikan rangsangan kepada Floryn agar wanita itu menyerah dan jatuh ke dalam pelukannya.
"Aaakkhh ... Mas ...," lirih Floryn saat benda tumpul milik Enrik mulai mencari jalannya.
"Angkat, Sayang ...," perintah Enrik dengan lembut. Tangannya sendiri langsung mengangkat kaki kiri Floryn untuk naik ke atas closet jongkok di sebelahnya.
Floryn tidak sanggup menolak. Tubuhnya memerlukan milik Enrik di dalamnya dengan segera. Dengan posisi yang sudah sesuai dengan keinginan Enrik, laki-laki itu mulai membenamkan kejantananya pada milik Floryn.
Floryn melentikkan punggungnya. Menahan menikmatan yang melesak masuk dengan keras.
"Hhaahh ... Mas ...." Mata Floryn terpejam.
Ada banyak hal berkecamuk di dalam dadanya. Ia merasa nikmat dan terhina di saat yang bersamaan. Tapi rasa tubuh Enrik di dalam dirinya begitu pas. Floryn tidak ingin menghentikan laki-laki itu.
"Lebih cepat, Mas ...," mohon Floryn pada akhirnya.
Di belakang Floryn, Enrik tersenyum. Ia menyukai permintaan itu, dan dengan senang hati meloloskannya.
__ADS_1
"Aakkhh ...." Floryn tersentak dengan dorongan yang diberikan Enrik di belakangnya.
"Maaaaass!" Floryn memekik kaget saat jemari Enrik menyentuh pusat dirinya di bawah sana.
Jemari yang tadinya hanya diam, kini mulai bergerak dengan lembut. Lalu semakin cepat seiringan dengan suara-suara yang terus Floryn ciptakan.
"Kamu menikmatinya, kan?" tanya Enrik di sela kesibukannya sendiri.
"He'eh. Ini nikmat ...," sahut Floryn yang merasa jika puncaknya akan tiba.
"Maaasss ... aku mau sampaaai ...," ungkap Floryn dengan napas yang terus memburu.
"Aku menunggumu, Sayang."
"Maaasss .... aaakhh ...."
Enrik menurunkan kaki Floryn dan memutar tubuh sang istri. Tanpa ijin, ia menundukkan wajahnya dan mulai menikmati dua gunung kembar milik Floryn. Ia menikmatinya bergantian. Sedangkan Floryn, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan serangan itu. Tangannya meremas rambut Enrik sebagai pelampiasan. Di bawah sana, sensasi pada miliknya masih juga belum reda.
"Aku kira kamu tidak lagi mau melayani ku, Sayang ...," bisik Enrik setelah ia menempelkan keningnya pada kening sang istri.
Floryn hanya bisa memejamkan matanya.
"Ya. Di dalam hatiku, aku sudah tidak menginginkan keberadaanmu. Sayangnya tubuh ini tidak sependapat. Aku malu mengakuinya ...," batin Floryn miris.
Padahal ia tahu kalau Enrik sudah berselingkuh. Namun kenapa tubuhnya masih menginginkan milik Enrik? Floryn tidak akan pernah mau dimadu. Kalau Enrik lebih memilih Ambar, ceraikan ia baik-baik. Ia tidak mau ada masalah.
"Jangan menduakan aku, Mas. Pikirkan anak kita ...," lirih Floryn dengan tangan yang sudah melingkar di tengkuk suaminya.
__ADS_1
Enrik mengerutkan kening. Sepertinya ia bingung dengan kalimat Floryn barusan.
"Menduakanmu? Kamu saja tidak akan ada habisnya, Sayang. Bagaimana aku akan menduakanmu? Hei ... jangan berpikiran yang tidak-tidak," kata Enrik kemudian mengecup puncak kepala Floryn.
Floryn yang tertunduk, malah menitikkan air mata. Ia kecewa sekali dengan sosok itu. Enrik begitu berubah. Entah sudah sejak kapan hubungan terlarang keduanya berjalan.
"Mas, aku harus mandi. Kita sudah lama di sini. Nanti aku terlambat," kata Floryn yang berusaha menjauh dari hadapan Enrik.
Namun, sebelum Floryn menjauh, Enrik berusaha untuk mendapatkan sebuah ciuman dari sang istri. Sayangnya Floryn terus mengelak dan langsung menyibukkan dirinya dengan sabun yang sudah ia balurkan pada tubuhnya sendiri.
"Aku mau dimandikan ...," bisik Enrik yang seakan tidak peduli dengan penolakan Floryn.
Dengan terpaksa, Floryn menuruti permintaan itu. Enrik adalah sosok yang keras kepala. Ia tidak akan menyerah dengan keinginannya. Ia akan berhenti jika ia mau.
Floryn mulai megoleskan sabun pada tubuh Enrik, tapi laki-laki itu malah membawa tangan Floryn untuk turun dan menyentuh miliknya.
"Mandikan dia saja," pinta Enrik.
Wajah Floryn terasa panas. Sepertinya Enrik sengaja menyiksa istrinya lebih lama lagi. Dengan segera, Floryn membersihkan benda itu dengan sabun di tangannya.
Setelah beberapa saat, Enrik meletakkan tangannya di atas kepala Floryn. Ia mengelus lembut kening Floryn dengan ibu jarinya.
"Kenapa Sayang membuatnya bangun lagi?" tanya Enrik dengan senyum merekah.
"Mas ... please lah ...."
Bersambung.
__ADS_1