Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Mediasi (Lagi)


__ADS_3

Floryn menjadi agak kesal setelah sidang selesai hari ini. Bagaimana tidak, awalnya mereka sudah sepakat untuk tidak menjalani mediasi. Akan tetapi tidak dengan hari ini. Enrik menyetujui mediasi dan hal itu akan dilakukan dalam minggu ini.


"Kenapa kamu terlihat kesal?" tanya Zoel saat Floryn baru saja keluar dari ruang sidang.


"Mediasi lagi! Aku tidak percaya laki-laki itu! Dia sangat plin-plan!" omel Floryn terhadap Enrik.


Di sampingnya, Miranda hanya bisa tersenyum dan menepuk-nepuk punggung klien sekaligus temannya.


"Tidak apa. Memang sidang perceraian memakan waktu lama. Kalau masih ada pihak yang ingin mediasi, pengadilan tidak bisa menolaknya. Itu sudah ketentuan," terang Miranda. "Mungkin kalian bisa balikan lagi?"


"No!"


"Gak bisa!"


Zoel dan Floryn menjawab berbarengan. Hal itu membuat Miranda terkejut dan langsung tersenyum penuh makna.


"Aaaa ... ternyata dia memang sedang PDKT denganmu, ya? Ck ck ck ... kalian imut sekali," goda Miranda yang sudah berjalan meninggalkan kedua insan manusia itu.


Di belakangnya, Zoel melirik Floryn dan mencoba untuk merangkul wanita itu. Namun wanita itu langsung menahan tangan Zoel dan meliriknya dengan tajam.


"Jangan coba-coba deh, Zoel. Ini ruang umum ...," bisik Floryn malu.


Zoel menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana.


"Sorry. Gak tau kenapa, kalau di dekatmu rasanya ingin melindungi saja. Aku takut terjadi hal yang aneh-aneh ...," ungkap Zoel sok polos.


Floryn tersenyum dan kembali melangkah. Ada hal yang ingin dia tanyakan kepada Miranda. Ia harus cepat sebelum Miranda sempat pergi.


Di dalam hati, Zoel merasa semakin tertantang. Ia pernah mendekati beberapa wanita saat kuliah dulu. Akan tetapi, semuanya datang dengan mudah tanpa ia perlu bersusah payah.


Berbeda sekali dengan Floryn yang sangat jual mahal. Padahal mereka pernah sangat dekat dan intim, tapi sekarang sebuah jarak kembali terbentuk.


"Kamu akan menjadi hot janda yang begitu mahal, Flo. Aku harap, tidak ada saingan di luar sana. Cukup dengan egomu saja aku bertarung ...," batin Zoel. Senyum manis tersungging di wajahnya.


Dengan langkah besar-besar, Zoel berniat untuk menyusul Floryn. Ia tidak boleh lengah. Ia sendiri yang mengajukan diri sebagai bodyguard walau tidak diterima. Tandanya, ia harus siaga menjaga wanita itu. Kejadian seperti minggu lalu tidak boleh terulang kembali.


***

__ADS_1


Saat ini Zoel dan Floryn sudah duduk bersama di dalam mobil Zoel. Mobil itu belum bergerak, hanya mesinnya saja yang sudah menyala sejak beberapa saat lalu.


"Apa yang kita tunggu?" tanya Zoel penasaran.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir dan ingin bicara sedikit denganmu," ungkap Floryn. Ia memegangi perban tangannya yang akan dibuka hari ini.


"Oke. Aku menunggu ...," sahut Zoel dengan pandangan ke arah tangan Floryn. Ia tahu kalau setelah ini mereka akan pergi ke dokter dan membuka perban. Makanya Zoel bingung kenapa Floryn tidak buru-buru.


"Bagaimana kalau luka di tanganku meninggalkan bekas yang jelek?" tanya Floryn tiba-tiba.


Pandangan Zoel beralih menatap wajah Floryn. "Apa? Bekas luka? Tentu saja tidak apa-apa. Aku akan tetap menerimamu apa adanya," sahut Zoel.


Floryn menepuk lengan Zoel dengan punggung tangan kirinya.


"Bukan itu maksudnya! Gimana kalau ... orang-orang akan melihatku dengan pandangan buruk. Mereka akan menghinaku, kan?"


Zoel tahu jika penampilan fisik sangat penting bagi Floryn. Apalagi ia baru saja berpisah dari suaminya.


"Hei ... zaman sudah sangat canggih. Kamu bisa melakukan operasi plastik jika memang lukanya membekas. Aku juga pernah dengar tentang serum-serum kulit dari Tiongkok dan Jepang yang bisa menghilangkan bekas luka apa pun. Kamu jangan khawatir, dong ...," ungkap Zoel seraya mengusap rambut Floryn lembut.


Floryn merasakan hal itu dan langsung menangkap tangan Zoel. Zoel langsung saja menariknya karena takut Floryn menganggapnya lancang. Padahal Floryn hanya ingin memegang tangan itu. Tangan yang selama belakangan ini selalu menolongnya. Tangan yang siap melindungnya.


"Bagaimana dengan Cinta?"


Floryn mengangguk. "Juga Cinta ...."


Zoel mengusap pipi Floryn dengan ibu jarinya. Menyentuhnya dengan lembut dan hati-hati. Seakan-akan kulit itu bisa tergores jika ia tidak bersikap lembut.


"Floryn ... I love you ...," bisik Zoel saat wajah keduanya sudah begitu dekat.


Sedikit senyuman terbentuk di bibir Floryn. Ia tahu kalau dirinya juga mencintai orang itu. Ia cukup yakin saat ini. Debaran jantungnya, keringat dingin yang selalu terbentuk saat berdua saja dengan Zoel. Semua hal yang tidak terjadi jika Floryn bersama orang lainnya.


"Thank you ...," sahut Floryn. Ia gugup tidak berani menjawab dengan kata-kata yang sama.


"Thank you? Not ... I love you too?" tanya Zoel penuh harap.


Floryn hanya bisa memejamkan matanya saat bibir Zoel perlahan terus mendekat dan menyatukan bibir mereka berdua. Ciuman itu terasa begitu lembut dan ringan. Dan ciuman singkat itu berhasil membuat Floryn merinding. Agak kecewa saat Zoel menghentikan keindahan itu. Namun, Floryn tidak berani menanyakannya.

__ADS_1


Klek.


Floryn sedikit kaget saat mendengar suara safety belt yang baru dipasangkan. Rupanya, tangan Zoel sudah berhasil memasang safety belt milik Floryn.


"Kita akan langsung pergi ke rumah sakit. Siang ini jadwalmu untuk membuka perban, kan?" tanya Zoel yang sudah melepaskan rem tangan dan bersiap untuk beranjak dari sana.


"Iya ... rumah sakit yang kemaren ...," sahut Floryn dengan suara lirih. Ia masih belum bisa mengusai dirinya sendiri.


"Oke." Zoel tersenyum dan mengusap rambut Floryn dengan tangan kirinya yang bebas.


Floryn hanya bisa tersenyum saat menerima semua itu. Entah kenapa, ia merasa sangat spesial saat ada di dekat Zoel. Floryn menyukainya.


***


Sementara itu di tempat lain, ada Enrik yang datang ke rumah ayahnya setelah pulang dari sidang.


Enrik sedang menjelaskan kepada Edward, jika ia dan pengacaranya meminta mediasi lagi.


"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Edward bingung. "Bukankah sudah kubilang untuk tidak mempersulit hal ini?"


"Aku berniat untuk memintanya rujuk, Yah," sahut Enrik.


"Gila. Apa kamu tidak punya otak?" serah Sintia yang merasa jika Enrik mungkin sedang ngelindur.


Enrik berpaling ke arah ibu tirinya. Tatapan tidak suka menancap langsung kepada wanita itu.


"Kenapa aku tidak punya otak? Aku dan Floryn pernah memiliki hubungan berlandaskan cinta. Masih ada kemungkinan kita kembali bersama. Apalagi, ada Alvin yang kami miliki bersama," terang Enrik yang tidak terima jika idenya dianggap tidak masuk akal.


"Hei ... jangan berdebat tentang hal ini," ingat Edward. "Rik, kamu masih dalam pengawasan polisi. Urusan dengan pembatu itu belum selesai. Sidang keputusannya baru besok!"


Enrik berpaling kepada sang ayah. "Tidak usah khawatir, Yah. Pengacara itu tahu apa yang harus ia lakukan. Sekarang, aku harus melakukan hal lain agar Floryn mau memikirkan tentang masalah rujuk ini. Aku pulang dulu ...," kata Enrik akhirnya.


Laki-laki itu beranjak dari sana. Meninggalkan Edward dan Sintia yang terlihat masih bingung dengan kelakuan anak mereka.


"Mah, tolong awasi dia. Jangan sampai berbuat nekat lagi. Bayar orang untuk mengikutinya atau apa lah itu ...," terang Edward. Ia merasa sedikit khawatir dengan apa yang Enrik katakan barusan tadi.


"Iya, Pah. Mama paham ...."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2