
Selamat Membaca ヾ(^-^)ノ
***
Floryn kembali mengunci pintu rumah mendiang Cika dan suaminya. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju ke mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
Tengkuknya mulai terasa dingin. Entah kenapa, ia nekat sekali masuk ke rumah itu sendirian. Jika dipikir-pikir, rumah itu adalah salah satu tempat kejadian perkara yang langsung memakan dua korban jiwa. Kenapa Floryn menolak saat ada yang mau menemaninya ke sana?
“Biar aku menemanimu, ya?” usul Zoel saat Floryn bilang niatnya untuk pergi ke rumah Cika.
Akan tetapi, Floryn langsung menolak usulan itu. Arah rumah Zoel dan rumah mendiang Cika berlawanan, jaraknya juga begitu jauh. Apalagi ini sudah malam, Floryn tidak ingin merepotkan orang lain. Seingatnya, masih ada satpam yang berjaga di sana setiap malam. Ketua RT bilang satpam itu akan bertugas mulai jam sembilam malam hingga pagi harinya.
Karena hal itu jugalah, Zoel mengalah. Jaraknya memang jauh, tapi sesungguhnya itu bukan masalah. Yang membuatnya percaya, karena Floryn bilang ada satpam yang berjaga. Seharusnya tidak akan apa-apa.
“Seharusnya aku ke sini besok pagi saja!” sesal Floryn setelah berhasil membuka pintu mobil.
Sayang sekali, belum juga ia berhasil masuk ke dalam mobilnya, sebuah tangan lebih dulu menyergap Folryn dari belakang. Floryn mencoba untuk berteriak, tapi orang itu lebih dulu membekap mulut Floryn.
“Eeemp!!” protes Floryn.
Sayang sekali orang yang mendekapnya tidak peduli. Sosok itu menyeret Floryn kembali ke arah rumah mendiang Cika yang baru saja ia tinggalkan.
Di depan pintu rumah, penjahat itu menarik tas Floryn dan memaksanya untuk membuka pintu.
“Siapa kamu?!” sentak Floryn saat sosok itu melepaskan dekapan di mulutnya.
“Diam, atau kamu akan mejadi mayat saat ini juga …,” ancam sosok itu seraya mengeluarkan sebilah pisau lipat yang begitu tajam.
“I-ini bukan rumah saya … A-anda salah sasaran …,” lirih Floryn berusaha menjelaskan. Nyalinya semakin menciut.
__ADS_1
Orang itu mencekal tangan Floryn yang sudah berhasil membuka pintu. Lalu, ia sendiri melepaskan topeng yang terpasang di wajahnya sejak tadi.
Setelah melihat siapa wajah di balik topeng itu, Floryn tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya terasa cekat dan panas.
“Apa kabar, Nyonya? Sudah lama tidak bertemu …,” sapa orang itu yang ternyata adalah Jack.
Floryn hampir melupakan sosok tersebut. Ia pikir polisi sudah menangkapnya karena kematian Cika dan Herman sudah terjadi beberapa bulan silam. Floryn sampai melupakan Jack karena sibuk dengan urusan pengadilannya sendiri. Perceraian dan lainnya.
“Ka-kamu?! Dasar pembunuh!” tukas Floryn yang kemudian berusaha untuk memukul si penjahat. Sebuah tamparan berhasil mengenai wajah Jack yang terlihat tidak berubah sama sekali.
Jack tersenyum tipis setelah menerima tamparan Floryn. Akan tetapi, sebelum Floryn melakukan hal lainnya, ia lebih dulu menarik Floryn untuk masuk ke dalam rumah. Dengan cepat Jack menutup pintu dan menguncinya.
“Lakukan hal itu lagi dan kamu akan kehilangan tanganmu yang mulus ini,” kata Jack seraya menarik tangan Floryn dengan kasar.
Floryn terdiam. Ia tidak berani macam-macam. Yang tadi itu refleks karena kekesalan yang tersimpan di dalam hatinya.
Jack mendorong Floryn hingga wanita itu terduduk di atas sofa. Sebelum Floryn sempat bertanya, Jack melemparkan beberapa buah kabel ties berukuran besar ke atas meja.
Floryn menelan saliva. Apa maksud dari perkataan Jack barusan? Kenapa Floryn merasa kalau ia tidak akan keluar dari sana hidup-hidup.
“A-aku tidak bisa menggunakannya. Benda apa itu?” tanya Floryn kemudian.
Sebuah senyuman mengejek terukir di wajah Jack. “Dasar manja ….”
Jack mendekati Floryn dan meletakkan pisau lipatnya di atas meja. Dengan kasar, ia menarik kedua tangan Floryn dan memasang kabel ties itu dengan cekatan. Tidak sampai lima menit, kedua tangan Floryn sudah terikat menjadi satu. Begitu kuat hingga terasa sakit.
“Jangan berusaha membukanya, karena hal itu akan mengikat tanganmu semakin kuat. Aku tidak bertanggung jawab jika aliran darah tidak bisa mencapai jari-jari lentikmu itu,” terang Jack seakan hal itu tidak berbahaya.
“Apa yang kamu inginkan dariku? Kita tidak punya masalah apa-apa!” tukas Floryn kepada sosok di depannya. Sosok yang sedang mengikat kedua kakinya dengan benda yang sama.
“Kamu bilang tidak ada masalah di antara kita? Wah wah wah … pandai sekali berpura-pura. Bukankah kamu yang melaporkanku ke polisi? Hanya kamu dan kedua mayat itu yang tahu hubunganku dengan Cika, Sundal!” tukas Jack yang sudah mulai marah.
__ADS_1
Floryn menelan saliva. Seingatnya, bukan dia yang bilang jika pembunuhnya mungkin Jack. Saat itu polisi datang dan menanyakan padanya perihal Jack.
“Aku tidak pernah bilang kepada polisi kalau kamu pembunuhnya! Polisi datang dan membawa fotomu bersama mereka. Mereka hanya bertanya, apa aku pernah melihatmu atau tidak. Itu saja!” jelas Floryn menahan emosi.
“Oya? Lalu kamu menjelaskan banyak hal kepada mereka, bukan?” tanya Jack lagi.
Lagi-lagi Floryn menelan saliva. “Aku hanya bilang kalau … kamu pernah mencoba untuk memperkosaku. Tidak ada hubungannya dengan kematian Cika ….”
“Kamu pasti bilang tentang hubunganku dengan Cika, kan?” tuntut Jack lagi.
Floryn tidak berani menjawab. Ia tahu kalau hal itu adalah satu pernyataan kunci pada saat penyelidikan dulu. Kalau saja Floryn tidak bilang jika Jack adalah teman ranjang Cika, mungkin Jack bukanlah tersangka utama.
“Aku tahu kamu pasti mengatakannya …,” ungkap Jack.
“Kalau begitu, apa yang kamu inginkan dariku? Bukankah kamu sudah pergi jauh hingga tidak ada polisi yang berhasil menangkapmu? Kenapa kembali ke sini? Ingin menyerahkan diri?” tanya Floryn dengan rentetan pertanyaan untuk penjahat tersebut.
“Banyak tanya … tapi, tidak apa. Aku akan memberitahukannya kepadamu. Aku datang ke sini untuk mengambil barangku yang ketinggalan. Tadinya aku masih mencari cara yang baik untuk masuk ke sini. Tapi saat melihat kedatanganmu dengan kunci rumah ini, aku tahu kalau kamulah yang akan membukakan pintu rumah ini untukku,” jelas Jack.
“Sebaiknya kamu lekas ambil benda itu dan pergi dari sini. Apa kamu tidak takut polisi menemukanmu?” tanya Floryn mengancam. Ia hanya ingin Jack pergi meninggalkannya. Ia bisa bebas dengan bantuan orang lain denan mudah. Mobilnya yang berada di depan, pasti akan menarik perhatian banyak orang. Kalau pun tidak malam ini, besok pagi pasti ada yang menghampiri.
“Ha ha ha ha … kamu lucu, Nyonya. Kamu pikir, setelah mempertaruhkan banyak hal dengan kembali ke sini, aku akan menyia-nyiakan waktu? Aku tahu kalau sudah tidak ada lagi polisi yang berjaga di dekatmu. Apalagi rumah ini … rumah ini sudah bukan lagi TKP dan yang menjaganya hanya satpam kurus yang sekarang sedang tidur di rumahnya. Kamu tahu, kita punya banyak waktu untuk bersenang-senang, Nyonya ….” Sebuah seringai jahat mengakhiri kalimat itu. Membuat Floryn mergidik ngeri dan tidak berani membayangkan apa yang orang itu rencanakan.
“Please … ambil yang kamu inginkan, tapi biarkan aku pergi. Mungkin saja keluargaku akan mencari tahu keberadaanku jika aku tidak pulang hingga tinggi malam. Kamu bisa saja ketahuan berada di sini ….” Floryn berusaha membujuk. Membuka pikiran Jack agar bermain aman dan menyelamatkan nyawanya sendiri.
“Aku akan melakukan apa yang aku inginkan, Nyonya. Jangan mengatur-aturku seperti itu. Lihat, yang terikat adalah tangan dan kakimu, bukan aku.” Jack mengambil sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya lalu mengikatkan benda itu ke mulut Floryn.
Elakkan yang Floryn lakukan tidak bisa mengubah apa pun.
“Eeempp!!” Floryn mencoba untuk protes.
“Diam. Tunggu di sini dan kita akan bermain lagi nanti ….”
__ADS_1
Bersambung.