
Hai semua. Author minta maaf kalau terlambat Up atau mungkin bolong Up. Si kecil lagi sakit jadi gak bisa fokus nulis. Mohon do'anya, ya :'). Terima kasih...
***
Zoel tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari adiknya. Widuri bilang kalau tadi malam Floryn datang untuk melihat keadaannya. Lalu, kenapa ia tidak dibangunkan?
“Sorry, Bang. Dia bos-ku di kantor. Ibu Floryn bilang, tidak perlu membangunkanmu … masa iya, aku melawan permintaannya …,” ungkap Widuri yang kali ini tidak enak dengan abangnya.
“Kamu tidak salah, sih …,” kata Zoel. “Tapi … ini sudah siang. Masa kamu baru bilang sekarang?” tambah Zoel lagi.
Widuri hanya tersenyum saja mendengar hal itu. Sebenarnya, ia lupa dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Karena hari ini hari minggu, Widuri asik dengan kegiatannya sendiri. Setelah membantu menyiapkan makan siang, Widuri baru ingat dengan kedatangan Floryn tadi malam.
Satu hal yang belum ia katakan kepada abangnya adalah tentang kepergian Floryn ke rumah Enrik. Menurut Widuri, jika ia mengatakan hal itu, Zoel pasti akan langsung menyusul ke sana.
Widuri tidak ingin hal buruk terjadi dengan abangnya. Ia meyakini jika Floryn pasti bisa menjaga diri. Apalagi Enrik berasal dari keuarga terpandang. Rasanya tidak mungkin jika laki-laki itu sampai menyakiti istrinya secara langsung. Setidaknya, hal itu yang ada di dalam pikiran Widuri saat ini.
“Makan yuk, Bang. Kamu harus minum obat, kan?” ajak Widuri karena si bibi sudah selesai menyiapkan makan siang.
“Boleh, deh …,” sahut Zoel yang kembali meletakkan HP-nya karena tidak ada pesan dari Floryn.
Ia berencana untuk menghubungi wanita itu setelah makan siang nanti. Mungkin ia akan mendapat jawaban, kenapa tadi malam Widuri tidak boleh membangunkannya. Padahal, Zoel sangat berharap bisa bertemu dengan Floryn setelah apa yang terjadi padanya.
“Aku harap polisi segera menangkap orang-orang yang menyerang dan menculikmu kemarin, Bang,” ungkap Widuri seraya memberikan piring berisi nasi di atasnya.
“Heh … tidak usah dipikirkan. Aku cukup yakin kalau kedua orang itu akan kabur yang jauh setelah kejadian kemarin …,” terang Zoel dengan sangat yakin.
__ADS_1
“Kenapa begitu yakin?” tanya Widuri lagi. Ia kembali meletakkan sepotong paha ayam setelah sebelumnya meletakkan sepotong tempe bacem.
“Rasanya … aku berhasil membuat mental mereka mengendur. Aku bilang kalau suami bosmu itu berada di bawah pengawasan polisi. Bisa-bisanya mereka mau bekerja sama. Nampaknya hal yang kukatakan termakan oleh mereka,” terang Zoel.
“Tapi … apa Pak Enrik masih diawasi polisi? Kayaknya enggak, deh ….”
“Iya, memang enggak. Yang masih dijagain itu Ibu Floryn. Kamu ingat pembunuhan sahabatnya itu, gak? Polisi masih mengintai si Jack ini. Mereka sedang mengumpulkan bukti dan menunggu waktu untuk melakukan penyergapan. Katanya, bukti yang mengarah kepada Jack di pembunuhan itu bisa dipatahkan dengan mudah. Makanya Ibu Floryn masih mendapat penjagaan …,” terang Zoel lagi.
“Oooo … berarti, apa yang ia katakan tadi malam memang benar, ya? Aku kira ia hanya memberanikan diri saja. Ibu Floryn nekat sekali pergi menemui suaminya. Ternyata masih ada polisi yang menjaga setiap saat …,” gumam Widuri yang tidak sadar jika ia sudah kelepasan bicara.
Brak!
Widuri tersentak kaget saat abangnya itu meletakkan sendok di atas meja dengan kasar. Susah payah ia menelan saliva karena baru sadar telah salah bicara.
“Apa? Kamu bilang, Bu Floryn menemui suaminya?” tanya Zoel mengulang pernyataan Widuri barusan.
Akan tetapi, dugaan Widuri salah. Zoel hanya membuang napas dengan kasar dan mengambil HP yang ia letakkan di atas meja. Zoel terlihat sedang mengetikkan sesuatu. Widuri tidak berani bertanya karena takut Zoel kembali marah.
“Pak, saya hanya ingin memberitahukan kalau Ibu Floryn sedang berada di rumah suaminya. Mungkin Bapak bisa mengecek keadaan Ibu Floryn, karena ia pergi ke sana untuk bicara dengan suaminya perihal pemukulan yang terjadi dengan saya. Seperti yang saya katakan, kami berpikir otak dari penculikan dan pemukulan yang terjadi pada saya pasti ada hubungannya dengan laki-laki itu.” Zoel mengirimkan pesan itu kepada polisi yang menerima laporannya kemarin malam. Namanya Martin, polisi senior yang merupakan pemimpin Tim Panther. Tim patroli yang kerap masuk acara TV karena aksinya membersihkan jalanan dari keributan dan aksi-aksi liar. Bagi Zoel, orang itu begitu berkomotmen dengan pekerjaannya.
Setelah pesan terkirim, Zoel kembali meletakkan HP-nya di atas meja. Ia mengambil sendok yang tadi ia letakkan dengan asal.
“Abang gak nekat pergi ke sana?” tanya Widuri bingung. Padahal, abangnya itu sangat tergila-gila dengan Floryn. Tumben sekali saat ini ia bisa menahan emosinya lebih jauh.
“Untuk apa aku ke sana, Ri? Ada polisi yang menjaga Floryn. Lalu, aku juga sudah mengirimkan pesan kepada polisi yang menerima laporanku semalam. Aku mengabarkannya dengan cukup jelas. Semoga saja mereka mau melakukan sesuatu …,” terang Zoel yang tumben bersikap rasional.
__ADS_1
Widuri tersenyum kepada abangnya. “Thanks karena memikirkan dirimu sendiri, Bang. Kalau kamu kenapa-kenapa, pada akhirnya tidak akan bisa berbuat banyak saat Ibu Floryn membutuhkan pertolongan. Kamu memang harus memulihkan keadaan dulu. Aku yakin Ibu Floryn pasti paham …,” sahut Widuri.
Mereka kembali melanjutkan makan siang berdua. Sesuatu yang jarang terjadi karena kesibukan masing-masing.
***
Sementara itu di rumah Enrik dan Floryn ….
Sudah setengah jam lamanya, Floryn mengelilingi rumah untuk mencari tas yang ia bawa tadi malam. Kakinya mulai lelah dan keringat juga mulai terbentuk. Masalahnya, di dalam tas itu ada kunci mobil, dompet, dan HP. Floryn mati kutu karena tidak ada semua itu.
“Gimana, Bi?” tanya Floryn saat Rosa datang menghampirinya.
Rosa menggelengkan kepala dan hanya bisa tertunduk. “Gak ada, Nyah. Saya sudah cari di dapur, ruang tamu, ruang tengah, dan halaman. Pokoknya semua lokasi di lantai satu sudah saya telusuri, tapi tas Nyonyah memang gak keliatan …,” ungkap Rosa yang juga terlihat kelelahan.
Floryn mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. “Apa Tuan sudah keluar dari kamar?” tanya Floryn memastikan.
“Sudah, Nyah. Tuan keluar jam tujuh tadi. Terburu-buru, sepertinya ada pekerjaan …,” sahut Rosa.
Semalam Floryn berhasil tidur di kamar terpisah dengan Enrik dengan sedikit ancaman. Mereka dalam proses perceraian, mana mungkin kembali tidur dalam satu kamar. Enrik terlihat kesal, tapi ia tidak punya pilihan. Floryn mengamcam tidak akan membawa Alvin kembali jika Enrik masih memaksanya. Akan tetapi, Enrik juga berhasil membuat Floryn setuju, untuk rujuk pada sidang mendatang.
“Ya. Kita akan rujuk,” kata Floryn saat itu. Di dalam hatinya, ia bersumpah tidak akan mau kembali kepelukan Enrik. Apa pun yang terjadi.
“Luar biasa … pasti dia yang menyimpan tasku di suatu tempat. Dasar licik!” omel Floryn yang tidak akan mungkin bisa kemana-mana karena tidak ada mobil dan uang. “Lagian … dia kemana, sih? Ck!”
Floryn mungkin tidak masalah jika tidak bisa pergi ke mana-mana, tapi tidak ada HP membuatnya begitu buta akan semua hal. Tidak bisa menanyakan informasi dan memberikan informasi. Seandainya ia ingat nomor HP seseorang, mungkin Floryn sudah menghubungi orang itu dan meminta bantuannya. Sayang sekali Floryn tidak mengingat satu pun. Bahkan nomor ibunya sendiri ….
__ADS_1
Bersambung.