Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Rencana Lain


__ADS_3

Saat ini Floryn sedang menyiapkan pakaian untuk Alvin. Ibunya ingin agar Alvin tidur dengannya malam ini. Katanya, sepi tidak ada Alvin. Setelah kematian kakek Alvin empat tahun silam, kehadiran Alvin seperti pelepas rindu untuk wanita itu.


Floryn tidak pernah keberatan dengan hal itu. Begitu juga dengan Enrik. Ia tidak pernah mempermasalahkan Alvin yang kerap menginap di rumah neneknya. Sementara Alvin belum sekolah, maka tidak masalah. Waktu kebersamaan mereka pasti akan berkurang saat Alvin sudah sekolah nanti.


Floryn sendiri sudah mengajak ibunya untuk mau tinggal di rumahnya dengan Enrik. Namun Martha tidak mau. Ia beralasan jika tidak ingin mengganggu rumah tangga anak dan menantunya. Selain itu, ia tidak ingin meninggalkan rumahnya sendiri. Ia bilang, masih banyak kenangan indah yang bisa ia rasakan di sana.


Sementara ini, Martha hanya tinggal dengan seorang asisten rumah tangga yang selalu membantu wanita itu dalam segala hal. Martha sendiri masih punya penghasilan dari satu rumah kontrakan yang ia miliki. Untungnya, keluarga yang menempati rumah itu masih sangat betah di sana. Lokasi yang strategis membuat rumah itu banyak peminatnya.


“Apa Alvin sudah siap?” tanya Enrik yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


“Sudah, Mas. Kamu akan mengantarnya, kan?” tanya Floryn memastikan lagi.


Enrik mengangguk dan meletakkan handuk yang sudah selesai ia kenakan. Hari ini adalah hari minggu, mereka semua punya waktu seharian untuk dihabiskan.


“Sayang tidak ikut?” tanya Enrik bingung saat melihat istrinya masih mengenakan piyama tidur.


“Entahlah … aku kurang enak badan. Sepertinya kamu saja yang mengantarnya, Mas. Bisa, kan?” tanya Floryn memastikan.


“Bisa, sih. Lalu, sayang mau diantar ke dokter sekalian?” tanya Enrik yang sudah mengenakan pakaian yang telah disiapkan Floryn.


“Tidak usah, Mas. Aku akan minta Bik Mira atau Ambar memijatku saja. Mungkin aku hanya kelelahan karena kemarin,” ungkap Floryn.


Sebenarnya ia tidak sakit, ia punya rencana lain untuk dilakukan. Ia ingin pergi ke rumah mertuanya. Hal itu tidak akan bisa terlaksana kalau suaminya ada di rumah, bukan? Ia tidak mau meninggalkan Enrik berdua dengan wanita sundel berkedok manusia yang ada di rumah mereka.

__ADS_1


“Ooh … Sayang yakin hanya mau dipijat saja?”


“Hah? Apa makksud, Mas?”


“Maksudku, sayang tidak mau dibawa ke rumah sakit gitu?" tawar Enrik.


“Mas, ini hari minggu. Mana ada rumah sakit yang buka,” sahut Floryn.


“’Kalau begitu ke klinik. Kalau tutup juga, kita ke dokter praktek. Mana tahu saja … kamu isi lagi, Sayang …,” ungkap Enrik.


Floryn tersenyum dengan terpaksa. “Hamil katamu, Mas? Yang benar saja … saat kamu sedang mabuk dengan wanita lain, mana mungkin aku mau hamil lagi denganmu. Bagaimana nasib anak kita nantinya? Apa kamu kira aku bodoh?” batin Floryn ngeri.


“Kamu tenang saja, Mas. Palingan juga masuk angin. Nanti, kalau setelah dipijat masih sakit juga, aku akan ke rumah sakit hari senin besok, oke?” tawar Floryn kemudian. Ia tidak ingin memperlambat kepergian Enrik ke rumah ibunya. Saat ini sudah jam sepuluh dan ia takut jika Pak Edward akan pergi ke suatu tempat. Pasalnya, ia belum menghubungi orang itu. Ia takut Pak Edward malah mengatakan kedatangannya pada Enrik dan rencananya jadi gagal.


“Sudah, Mas. Buruan ….” Floryn mengingatkan.


Floryn menggendong Alvin di dalam dekapan. Di belakangnya, ada Enrik yang sedang menjinting tas ransel milik Alvin. Sebelah tangannya sibuk melihat ke arah benda pipih yang ia pegang. Sesekali Enrik tersenyum saat melihat layarnya. Namun, beberapa saat kemudian kembali serius. Floryn yang ada di depannya, tidak ingin tahu apa yang orang itu lihat atau baca. Mungkin saja hal penting atau malah hal tidak penting. Sekali lagi, Floryn tidak peduli.


“Kalau sudah sampai, langsung telepon Bunda, ya …,” kata Floryn saat anaknya sudah masuk ke dalam mobil.


“Iyaa …,” sahut Alvin dengan senyum merekah.


“Jangan lupa cuci kaki dan tangan setelah sampai di rumah nenek. Ingat, jangan buat nenek marah dan capek.” Floryn mengingatkan lagi.

__ADS_1


Alvin mengangguk dan melambai ke arah bundanya. Mobil yang membawa Alvin beranjak menjauh. Setelah mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, ia pergi menuju ke dapur untuk menemui dua asisten rumah tangganya.


Di dapur, ada Ambar dan Bik Mira yang sedang sibuk memasak. Mereka berdua memang akan sibuk pada jam-jam seperti ini.


“Bik, apa Bibik bisa memijat?” tanya Floryn. Ia sangat berharap kalau wanita itu tidak bisa, agar ia punya alasan untuk pergi ke luar.


Mira terlihat menghentikan pekerjaannya dan mencuci tangan. “Pijat apa dulu, Nyah? Kalau pijat pegel saya bisa. Tapi kalau pijat salah urat begitu … saya tidak berani. Takut salah-salah,” ungkap Mira.


“’Ooh …,” Floryn menyahut. “Bagaimana denganmu, Bar?” tanya Floryn enggan.


“Eh, saya? Saya tidak bisa, Nyah … gak ada bakat,” sahut Ambar dengan cengengesan.


Persis seperti yang Floryn duga dan itu baik. Itu artinya, ia punya alasan untuk pergi ke luar dan mendatangi Pak Edward.


“Kalau begitu, saya mau keluar dulu, ya. Saya mau pijat di tukang pijat rekomendasi teman saya. Kebetulan dia sudah menjawab pesan saya …,” ungkap Floryn yang pura-pura membuka pesan di dalam HP-nya.


Ambar dan Mira mengangguk bersamaan. “Iya, Nyah ….”


Floryn tersenyum dan pergi dari sana. Ia tidak sabar untuk menemui bapak mertuanya dan mengatakan semua hal buruk yang Enrik lakukan padanya, pada keluarganya. Seperti kata salah satu sahabat Floryn, mereka tidak akan tahu apakah Edward mendukungnya atau Enrik, sebelum Floryn bicara. Ia harus punya keberanian itu, kalaupun harus berpisah dengan Enrik, ia tidak ingin ada masalah dengan mertuanya. Ia ingin semuanya baik-baik saja ….


Bersambung.


Notes: Jangan lupa LIKE dan KOMEN-nya, ya …. Terima kasih!

__ADS_1


__ADS_2