
Sentuh like-nya dulu, Kakak Cantik :')
Sudah? Selamat membaca...
***
Mobil Zoel berhenti di depan rumah Martha. Ketika wanita itu menghubunginya, Zoel langsung meninggalkan Cafe tanpa berpikir dua kali.
Ting tong!
Suara bell terdengar samar di telinga Zoel sendiri. Tidak lama kemudian, seorang wanita yang Zoel kenal sebagai pembantu di rumah itu, membukakan pintu.
"Mas Zoel, sudah ditunggu ibu di dalam. Silakan masuk!" kata Dian mempersilakan tamunya.
"Ya, terima kasih, Bik." Zoel masuk ke dalam rumah ibu Floryn dan mengikuti langkah kaki Dian.
Wanita itu langsung mengarahkan Zoel ke ruang tengah. Di sana sudah ada Martha, Floryn, dan Alvin.
"Tan ...," sapa Zoel dengan senyum merekah.
Ia ingin sekali menyapa Floryn, tapi tidak enak dengan keberadaan Alvin dan Martha di sana.
“Nak Zoel … kamu datangnya cepat sekali …,” kata Martha yang merasa baru saja menghubungi Zoel.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Zoel menjadi salah tingkah. Apakah ia terlihat sangat terburu-buru? Ah, ia tidak peduli. Yang Zoel inginkan hanyalah bertemu dengan Floryn. Sehari saja tanpa meihat wanita itu, rasanya akan hambar.
“Tidak, Bu. Kebetulan saya ada di jalan tadi. Jadi, langsung saja ke sini setelah Ibu menghubungi saya …,” terang Zoel dengan sedikit kebohongan di dalamnya.
Martha tersenyum dan memilih untuk tidak mengganggu tamunya lebih jauh.
“Kalau begitu, silakan duduk. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu dan Floryn,” terang Martha. Ia mulai memasang wajah serius di depan mereka semua.
“Ah, Ibu … serius sekali, seperti sedang mempersiapkan sidang kemerdekaan …,” gumam Floryn lirih.
Ibu Martha hanya melirik. Hal itu membuat Floryn tersenyum tipis dan kemudian menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka semua siap untuk mendengarkan apa yang Martha ingin katakan.
***
Satu jam telah berlalu. Martha dan Alvin sudah masuk kembali ke kamar wanita itu. Martha mengajak Alvin untuk pergi mandi. Memang sudah sore, tapi Floryn tahu kalau hal itu hanyalah alasan ibunya agar ia bisa berdua saja dengan Zoel.
__ADS_1
Eh, benarkah?
“Well … sebenarnya, kamu tidak perlu setuju dengan permintaan ibuku. Rasanya, dia agak berlebihan, bukan?” Floryn membuka pembicaraan.
Zoel tersenyum. Ia mendapatkan kesempatan dan tidak akan melepaskannya begitu saja.
“Kalau aku juga ingin melakukannya bagaimana? Setidaknya, sampai penjahat itu tertangkap saja. Aku tidak ingin wanita yang kucintai terluka …,” bisik Zoel pada akhir kalimatnya.
Mendengar hal itu, pipi Floryn bersemu merah. Ia malu dengan apa yang baru saja Zoel katakan. Kenapa rasanya seperti Floryn itu anak gadis yang sedang bertemu dengan cinta pertamanya? Ada apa dengan dengan dirinya?
“Sadarlah, Flo … kamu itu ibu beranak satu. Kenapa pakai acara malu-malu kucing seperti ini segala?” batin Floryn mengolok dirinya sendiri.
Floryn menggelengkan kepala. Ia berpaling dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Zoel yang pandangannya tidak lepas sedikit pun dari Floryn.
“Eh? Enggak … aku gak apa-apa. Jangan khawatir,” sahut Floryn meyakinkan.
“Ya sudah … kalau kamu gak mau diantar kemana-mana, berarti kamu bekerja di rumah saja. Bagaimana?” tanya Zoel dengan pertanyaan yang super tidak masuk akal. Memangnya bisa bekerja di rumah, sementara semua orang sibuk di kantor?
“Kamu bercanda. Mana ada yang kerja di rumah. Kamu kira sedang ada pandemi?” kilah Floryn.
Floryn membulatkan matanya. Ia tidak percaya laki-laki itu bicara tanpa ada rasa malu.
“Diamlah. Kamu bisa membuat ibuku berpikiran macam-macam …,” terang Floryn.
“Oke ….” Zoel mengalah. Ia merasa kalau apa yang tadi ia katakan juga cukup kelewatan. Ia tidak mau Floryn menjadi ilfill kepada dirinya.
Puluhan menit lamanya, mereka habiskan untuk membicarakan prosedur antar jemput yang Martha maksud. Tidak jarang keduanya terlibat perdebatan kecil karena salah satu dari mereka tidak setuju dengan keinginan yang lain.
“Aku tidak ingin kamu menungguiku di kantor, Zoel. Apa kata orang nanti?” tanya Floryn saat laki-laki itu menawarkan diri untuk menjadi bodyguard sekalian.
“Ha ha ha ha … tenang saja, Bu. Aku juga hanya bercanda saat mengatakannya …,” aku Zoel.
Hal itu membuat Floryn kesal. Ia memukul perut Zoel hingga orang itu meringis kesakitan.
“Aww … jahatnya …,” lirih Zoel sembari memegangi perutnya yang terkena pukulan Floryn.
Tadinya Floryn berlagak cuek. Namun, ketika Zoel tidak juga bicara, Floryn merasa ada yang tidak beres.
__ADS_1
“Astaga! Bukankah lambungnya bermasalah?!” batin Floryn yang langsung saja dilanda kepanikan. “Hei! Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Floryn seraya duduk mendekat ke arah laki-laki tersebut.
Zoel menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Sakit …,” keluhnya.
Floryn menjadi semakin panik. “Hei … berbaringlah di sini. Aku … aku akan memanggil dokter!” tukas Floryn yang tidak punya pemikiran lain.
Floryn mengeluarkan HP-nya dari dalam saku celana. Dengan buru-buru, jarinya mulai mengetik sebuah nama yang merupakan dokter kenalannya. Rumah dokter itu juga tidak jauh dari rumah Martha.
“Bu Floryn …,” panggil Zoel lirih.
“Ya? Sebentar, aku akan memanggil dokter!” sahut Floryn tanpa berpaling sedikitpun.
Kini giliran Zoel yang panik. Ia hanya ingin bercanda, tapi kenapa Floryn menjadi sepanik itu? Tanpa berkata-kata lagi, Zoel mengambil HP yang ada di tangan Floryn, melihat layarnya sekilas, dan langsung mengakhiri panggilan yang belum terhubung.
“Hei?!” protes Floryn.
Sebelum Floryn kembali bicara, Zoel lebih dulu menyusupkan tangannya ke tengkuk Floryn dan menariknya agar lebih mendekat.
Sungguh, Foryn tidak sempat menolak atau menghindar. Detik berikutnya, bibir mereka berdua telah bersatu.
Lembut, manis, dan hangat. Itulah hal pertama yang Zoel rasakan. Untuk sejenak, Zoel hanya fokus pada apa yang ia rasakan setelah sekian lama.
Selama beberapa detik lamanya, Zoel dan Floryn bertahan dalam keadaan itu. Zoel tidak mengijinkan Floryn pergi dari sana. Tangannya melingkar di pinggang Floryn dan yang satunya lagi masih bertahan di tengkuk ibu satu anak itu.
Floryn sendiri tidak tahu harus bagaimana. Ada perasaan takut dan ingin, yang sedang berbaur menjadi satu. Floryn takut ketahuan ibu dan anaknya, tapi ia menginginkan laki-laki itu entah sejak kapan.
Setelah cukup yakin kalau ia memang menginginkan Zoel, Floryn mendorong laki-laki itu dengan enggan. “Stop it …,” bisik Floryn. Ia mencoba untuk mengatur napasnya agar tidak ada yang menyadari. Termasuk Zoel yang jaraknya sangat dekat dengannya kini.
“Why?” tanya Zoel enggan. Ia masih ingin merasakan rasa manis itu dengan bibirnya. Kenapa sudahan?
“Semua akan ada waktunya, Zoel …,” lirih Floryn.
“Maka dari itu … aku butuh kepastian … apakah kita bisa bersama?” tanya Zoel dengan suara pelan. Ia tidak ingin ada yang mendengar hal itu selain Floryn.
Bingung. Apa yang harus ia katakan? Apakah ia benar-benar menginginkan untuk bersama dengan Zoel, atau perasaan itu hanya tumbuh karena ia butuh sosok Zoel sebagai pelindungnya?
Bersambung.
***
__ADS_1
Menurut Kakak gimana? (@・Д・@)??