
Beberapa detik lamanya Floryn hanya bisa menatapi pesan itu. Apa yang harus ia lakukan? Membalas pesan itu atau berpura-pura belum membacanya?
Akhirnya, Floryn menekan gambar telepon di layar HP-nya dan langsung menghubungi Enrik kembali. Ia ingin menjelaskan secara langsung dan mencoba memasukkan alibi yang telah ia ciptakan tadi.
“Hallo …,” sapa Floryn dengan nada suara yang terdengar biasa.
Selama beberapa menit, keduanya ngobrol melalui sambungan telepon. Panggilan berakhir saat terdengar suara panggilan Alvin di belakang Enrik. Setidaknya, Floryn tahu kalau suaminya tidak sedang bersama wanita sundal yang bersarang di rumah mereka.
Dari sana Floryn tahu kalau pembantu Edward-lah yang begitu ember kali ini. Padahal ia sempat berpikir kalau Sintia-lah yang mengadukannya barusan. Walaupun Sintia adalah ibu tiri Enrik, ia pernah dengar jika wanita itu adalah senior Enrik di sekolah menengah atas. Benar-benar hubungan yang begitu tidak biasa.
Floryn memutuskan untuk langsung pulang. Kali ini tidak dengan buru-buru karena Enrik sudah tahu ia pergi ke rumah ayahnya dan Floryn tahu jika Enrik masih berada di rumah Martha, ibunya.
Di dalam perjalanan pulang, Floryn melihat seseorang yang ia kenal. Sosok itu adalah Widuri yang merupakan salah satu karyawannya di kantor. Wanita muda itu terlihat gusar. Ia berdiri di samping mobilnya yang terlihat tidak baik-baik saja di pinggir jalan.
Sebenarnya Floryn ingin langsung pulang. Akan tetapi, ia juga tidak tega dengan pemandangan itu. Jadi, Floryn menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil mungil milik Widuri.
“Eh, Bu Floryn …,” sapa Widuri yang terkejut dengan kehadiran bosnya di sana.
“Mobil kamu kenapa, Wi?” tanya Floryn yang hanya berusaha untuk menjadi atasan yang baik.
“Ini … emm … saya juga tidak tahu, Bu. Mogok dari setengah jam yang lalu,” ungkap Widuri dengan wajah yang terlihat lelah.
Floryn tidak tahu apa-apa tentang otomotif. Ia tidak mungkin mencoba memperbaiki benda itu.
“Apa kamu sudah panggil mobil derek?” tanya Floryn memastikan.
“Eeemm … sudah nyoba dari tadi. Tapi sulit banget, Bu. Mungkin karena weekend, Bu.”
“Loh … terus, kamu nunggu apa? Ya sudah, kamu saya antar saja, ya? Mobilnya ditinggal saja,” usul Floryn.
Akan tetapi, Widuri malah ragu dengan usulan itu. Sepertinya ada satu beban yang masih bersarang di hatinya.
“Jangan, Bu. Saya tunggu montirnya datang saja. Lokasi ini tidak begitu aman. Kalau mobil saya dijarah bagaimana? Ini mobil cicilan, Bu …,” aku Widuri dengan perasaan sungkan. Ia juga lupa jika telah menghubungi Zoel beberapa saat lalu.
Floryn mengangkat tangan untuk melihat jam. Sudah tengah hari dan cuaca lumayan panas. Floryn ingin kembali ke mobilnya yang dingin daripada di sana, tapi jika ia pergi, kesannya akan sangat jahat.
__ADS_1
Saat keduanya tengah sibuk dalam pikiran masing-masing, mereka dikagetkan dengan kehadiran seseorang dari belakang. Sosok itu menepuk bahu Widuri dan Floryn bersamaan.
"Sorry, kalian jadi lama menunggu!" seru suara itu yang ternyata adalah suara laki-laki.
Keduanya berpaling bersamaan dengan air wajah yang berbeda. Widuri kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sedangkan Floryn, ia kaget dan merinding karena ia tidak sedang menunggu siapa-siapa.
Saat keduanya berbalik, kini giliran laki-laki itu yang terkejut dan langsung menjauhkan tangan kanannya dari bahu Floryn.
"A-anda? Maaf ... tadi saya kira temannya Widuri," ungkap Zoel dengan suara yang makin lemah.
"Ah, tidak apa. Anda tidak melakukannya dengan sengaja," sahut Floryn enggan.
"Maaf, Bu. Eem ... Abang saya memang begitu. Dia suka seenaknya," bisik Widuri dengan malu-malu.
"Iya, tidak apa-apa."
Rupanya Zoel datang untuk melihat keadaan mobil Widuri. Karena Floryn tidak tahu harus apa di sana, ia memilih untuk pergi ke kedai minuman yang ada di dekat mereka dan membeli tiga gelas es jeruk.
Floryn memberikan dua gelas lainnya kepada Zoel dan Widuri. Ia berharap setelah itu bisa langsung pergi ke sana. Ia sudah bilang pada Enrik, jika ia akan langsung pulang setelah urusannya di rumah Edward selesai.
"Sepertinya Widuri juga sudah ada yang menemani. Sebaiknya saya pulang saja. Saya masih ada urusan lain," ungkap Floryn dengan suara agak nyaring. Kendaraan-kendaraan yang lewat membuatnya harus bersaing suara agar bisa didengar.
Widuri sendiri sedang berada di dalam mobil untuk mencoba menghidupkan mesin mobil atas perintah Zoel.
"Kenapa pergi secepat itu?" tanya Zoel kecewa.
Floryn mengalihkan pandangannya ke arah Zoel. Tidak ingin, tapi ia tidak mau dianggap tak punya sopan santun.
Saat melihat tampilan Zoel di depannya, ia ingin tertawa. Namun Floryn berhasil menahan hal itu. Ia menelan saliva dan mencoba tenang.
"Itu ... ada sesuatu di ... situ," kata Floryn sembari menunjuk ke arah wajah Zoel. Pada kenyataannya, memang ada sesuatu di sana dan Zoel tidak menyadarinya.
"Apa?"
"Ada noda," tambah Floryn.
__ADS_1
Kening Zoel berkerut. Ia menyeka posisi yang Floryn tunjuk dengan punggung tangannya. Hal itu membuat Floryn tertawa karena noda yang ada malah semakin bertambah banyak.
"Wah, Anda mentertawakan saya. Apa nodanya sudah hilang?"
Floryn menggelengkan kepala. "Tidak," katanya singkat.
Dengan cepat, Floryn mengeluarkan sebuah saputangan berwarna abu dari saku blouse-nya dan menyeka noda itu agar menghilang dari pandangan.
"Lucu sekali. Anda bisa saja tidak menyadarinya dan mungkin Widuri akan membiarkan hal itu. Saya cukup melihat bagaimana hubungan kalian berdua," ungkap Floryn tanpa ia rencanakan.
Melihat hal itu, Zoel tidak bisa berkata-kata. Jantungnya tiba-tiba terasa sesak dan berbunga dalam waktu bersamaan.
"Apa ini? Kenapa aku merasa aneh? Hei ... dia sudah punya keluarga dan aku tidak berhak menganggu mereka," batin Zoel.
Widuri memang memintanya untuk mendekati Floryn, tapi hanya untuk mendekati dan membuat Floryn merasa nyaman berteman dengan mereka. Bukan hal lebih lainnya.
Zoel menangkap tangan Floryn dan mengambil saputangan itu dari tangan lawan bicaranya.
"Saya bisa membersihkannya sendiri." Zoel berbalik dan berjalan mendekati kaca spion mobil. "By the way, thank ... you?" Nada bicara Zoel berubah saat ia tidak bisa melihat keberadaan Floryn di sana.
Wanita itu telah menghilang seperti bayangan di siang hari bolong. Zoel kembali berbalik saat mendengar suara mesin mobil dihidupkan. Ternyata Floryn telah membawa pergi mobilnya dari sana. Zoel hanya bisa melihat.
"Kenapa, Bang?" tanya Widuri yang masih duduk di belakang kemudi sembari memperhatikan abangnya.
"Tidak. Eeem ... sebaiknya ... coba hidupkan lagi mesinnya. Mungkin sekarang sudah bisa," terang Zoel.
Widuri angkat bahu dan memutar kunci mobil seperti perintah Zoel. Mesin mobil itu berhasil menderu dan membuat senyum di wajah Widuri merekah.
"Thank you, Bro!" Widuri mengacungkan kedua ibu jarinya dan kemudian melambaikan tangan. Zoel hanya tersenyum sembari mencoba menenangkan degub jantungnya yang masih tidak stabil.
"Akh!"
Bersambung.
Author Notes: Hai semua, maaf karena beberapa hari ini gak update. Penulis ada kesibukan lain dan tidak ada kesempatan untuk menulis (/□\*).
__ADS_1
InsyaAllah besok dan seterusnya akan kembali aktif seperti biasa.
Terima kasih atas pengertian kalian semua (*´︶`*)ฅ♡