
Hai pembaca setia JANGAN SALAHKAN AKU! Terima kasih karena sabar menunggu up JSA beberapa hari belakangan. Dikarenakan author ada kesibukan lain, jadi sebisa mungkin tetap update di sini walaupun gak bisa lagi setiap hari.
Tetapi jangan pindah ke lain hati, ya. JSA sudah mau tamat!
Author sedang mempersiapkan ending yang akan membuat Kakak semua deg-degan saat membacanya (*´˘`*)♡
Salam hangat dari Author ꉂ(ˊᗜˋ*)♡
***
“Kamu jangan bercanda, Flo … mana bisa aku menunggumu sampai melahirkan nanti,” ungkap Zoel terhadap kekecewaannya.
Floryn tersenyum kecut. Lima bulan memang bukan waktu yang sebentar. “Lalu mau bagaimana lagi? Kita tidak punya banyak pilihan bukan?” tanya Floryn dengan lemas.
Zoel lah yang memulai pembicaraan ini. Pada dasarnya, Floryn sudah tahu hal ini akan terjadi saat ia menyadari dirinya hamil. Zoel tidak akan bisa menikahinya walaupun ia sudah resmi bercerai dengan Enrik.
“Apa tidak bisa … aku menikahimu saja?” mohon Zoel.
“Gak bisa, Zoel. Kamu memang harus bersabar. Bagaimana kalau sementara ini kita jalan sebagai teman? Selain itu … ada hal lain yang harus kulakukan setelah resmi berpisah dengan Mas Enrik.”
Zoel mengerutkan kening. Ia ingin protes, tapi tidak akan berguna. Floryn memang bukan wanita yang paling taat dengan agama. Akan tetapi, hal seperti itu tidak hanya untuk keluarganya. Apa yang Floryn lakukan, akan dilihat juga oleh orang lain yang ada di sekitar mereka.
“Hal lain apa?” tanya Zoel penasaran.
Namun, belum sempat Floryn menjelaskan masalah itu, ibunya lebih dulu muncul dari arah kamar.
“Eh, apa ibu mengganggu?” tanya Martha yang mendapati keduanya tengah memasang wajah serius.
“Eh, Tante … tidak, kok,” sahut Zoel. Setelah beberapa kali pertemuan, Zoel memutuskan untuk memanggil ibu dari Floryn dengan sebutan ‘tante’. Ia merasa aneh saat memanggil 'ibu' kepada mereka berdua.
Martha duduk di samping anaknya. Ia penasaran dengan rencana kedua orang itu untuk kedepannya.
__ADS_1
“Jadi? Apa sudah ada keputusan?” tanya Martha kemudian mengalihkan pandangan ke arah Floryn dan Zoel bergantian.
Sebagai orang tua, Martha punya hak untuk mengetahui hal-hal seperti ini. Ia tidak akan ikut campur, tapi harus tetap mengawasi keputusan keduanya.
“Tan … Bu Floryn tidak mengijinkan saya untuk menikahinya. Padahal, saya sudah menunggu selama ini …,” keluh Zoel kepada wanita itu. Ia sudah menganggap Martha seperti ibunya sendiri. Begitu pula dengan Martha yang senang akan kehadiran Zoel.
“Benarkah begitu, Nak? Sebenarnya, anak ibu tidak salah … wanita hamil mungkin masih bisa dinikahi. Akan tetapi, wanita yang diceraikan saat hamil? Seorang laki-laki yang berniat untuk mempersuntingnya, harus menunggu hingga wanita itu melahirkan. Itu sudah ketentuannya, Nak,” jelas Martha kepada Zoel.
Mungkin hal ini bukan perhatian bagi para laki-laki di luar sana, tapi merupakan hal mutlak untuk diketahui bagi para wanita. Ada beberapa hal yang harus dipahami tentang masa iddah, karena hal itu berhubungan langsung dengan banyak hal kedepannya nanti.
Zoel terlihat kecewa, tapi kemudian tersenyum pada keduanya. “Saya paham. Ada beberapa hal yang memang tidak bisa dipaksakan, seberapa keras pun kita menginginkannya …,” kata Zoel.
Martha tersenyum. Ia senang jika pemuda itu mau paham. “Ibu yakin, kalian akan sampai pada saat itu. Yang sabar, ya ….”
***
Beberapa hari kemudian ….
“Apa kamu yakin, Flo?” tanya Edward sekali lagi.
Di hadapannya, Floryn kembali mengangguk dengan tegas. “Saya yakin, Yah. Saya juga merasa tidak akan bisa bertahan lama di kantor itu lagi.” Floryn menjelaskan.
“Huuuuuh ….” Edward menghela napasnya dengan berat. “Jadi kamu sudah sangat memikirkannya, ya? Bukankah dengan absennya Enrik dari kantor, kamu tidak perlu khawatir lagi?” Edward menambahkan.
Floryn tertunduk. Bagaimanapun juga, Enrik pernah menjadi suaminya. Dengan perkataan Edward barusan, Floryn merasa tiba-tiba tidak enak. Bisa dibilang, karenanya lah Enrik sampai mendekam di penjara.
“Bukan hanya tentang itu, Yah. Tapi … Floryn lebih ke arah penataan mental saja. Floryn ingin menjauh dari semua hal yang berhubungan dengan Mas Enrik. Apalagi, saat ini Floryn sedang hamil,” ungkap Floryn berusaha untuk tidak menyinggung.
“Ya. Ayah paham. Lalu, bagaimana dengan rumah kalian? Jika kamu tidak menempatinya, rumah itu tidak akan terurus,” terang Edward.
Floryn tertunduk. “Floryn berencana untuk menjualnya, Yah. Uangnya akan Floryn bagi dua dengan Mas Enrik,” terang Floryn tanpa ragu. Ia sudah memikirkan hal itu sejak lama.
__ADS_1
Edward tersenyum. “Sebenarnya, kamu tidak perlu menjual rumah itu. Jika kalian berpisah, seharusnya rumah itu jadi milikmu dan Alvin. Alvin itu anak laki-laki Enrik, kan …,” terang Edward kemudian.
Floryn tahu jika apa yang mantan ayah mertuanya katakan sangat benar. Hanya saja, ia sudah memikirkan hal itu sejak lama. Floryn tidak ingin merasa berhutang apa-apa dengan Enrik. Walaupun memang hak Alvin, Floryn tidak ingin mengambil resiko itu.
Lagi pula, Floryn tidak akan bisa tinggal di rumah itu lagi. Walaupun tidak akan ada Enrik dan Ambar, tetap saja kenangan buruk itu tidak akan lekas hilang.
“Entahlah, Yah. Floryn tidak berpikir dan tidak berencana untuk kembali ke sana. Semua kenangan itu terlalu menyakitkan untuk Floryn,” jelas Floryn sejelas-jelasnya.
Edward mengangguk paham. Sudah tidak mungkin lagi ia menghalangi niat Floryn. Lagi pula, beberapa tahun yang akan Enrik jalani di penjara, akan mengubah semuanya.
“Ya sudah. Kalau begitu, kamu sebaiknya mengurus apa saja yang diperlukan sebelum benar-benar keluar dari sini. Untuk penganti, biar kantor yang mencarinya. Kamu, urus data dan job desk sementaranya saja,” pinta Edward.
Floryn mengangguk paham. Untungnya semua itu sudah ia persiapkan selama beberapa hari yang lalu. Sekarang ia hanya harus menjelaskan beberapa hal penting kepada staff-staff yang ia tinggalkan.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Yah …,” kata Floryn seraya pergi dari sana.
***
Seorang laki-laki nampak gusar. Ia sudah berada di lokasi itu sejak setengah jam yang lalu. Akan tetapi, ia ragu untuk masuk ke dalam sana.
Saat orang itu berniat untuk pergi dari tempat tersebut, netranya menangkap sesuatu yang begitu mengejutkan. Melihat hal itu, sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Dengan sangat yakin, ia keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung berjalan menjauhi rumah, yang menjadi target pengawasannya selama beberapa waktu lalu.
“Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Padahal, aku sudah akan pergi, tapi kemudian mendapat kejutan seperti ini,” katanya pada diri sendiri. Langkah kakinya terasa lebih santai dari pada biasanya.
Otak jahatnya mulai bereaksi. Ada beberapa skenario yang langsung saja terpikirkan oleh sosok itu.
Ada beberapa hal yang ingin ia lakukan di depan target, yang sudah masuk ke dalam pagar rumah yang ia intai. Salah satunya adalah mengambil kunci rumah yang ada pada sosok itu.
“Rupanya kamu yang memegang kunci rumah itu, ya? Wah, kebetulan sekali … setelah menyapamu, aku akan mengambil barang yang kusimpan di dalam sana. Sampai ketemu lagi ... Nyonya ....”
Bersambung.
__ADS_1