
Maaf karena kemarin bolos Up. Selamat membaca!
***
"Bundaaaa!" seru Alvin saat melihat kedatangan Floryn di rumah neneknya.
"Sayang Mamah ...," sambut Floryn yang langsung saja menyambut anaknya itu dengan sebuah pelukan.
"Bunda kenapa lama? Alvin kangen ...," rengek Alvin yang sudah ada di dalam pelukan bundanya.
Di belakang anak itu ada Martha, yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kehadiran sang anak.
"Dari mana saja, Nak? HP gak aktif. Gak ngubungin ke rumah juga ... buat kami kepikiran!" seru Martha yang kesal karena Floryn membuat mereka cemas.
"Bu ... Floryn menginap di rumah Mas Enrik. Ada sesuatu yang harus Floryn lakukan. Sekarang, Mas Enrik ada di penjara ...," terang Floryn dengan suara berbisik.
Martha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ada apa dengan kalian? Kalian sudah mau cerai, tapi kamu masih nginap di rumahnya! Nak?" Martha semakim bingung.
Floryn meletakkan jari telunjukknya di depan mulut. Meminta agar ibunya berhenti panik, karena Alvin mulai memperhatikan apa yang mereka bicarakan.
"Nanti Floryn ceritakan detailnya, Bu. Sekarang ... Floryn mau mandi dulu. Floryn harus ke rumah Zoel. Laki-laki itu telah terluka karena Floryn," terang Floryn yang berusaha membuat ibunya paham.
Martha mengangguk dan mengajak Alvin untuk kembali bermain dengannya. Floryn perlu waktu untuk mandi dan mengganti pakaian.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Martha sebelum ia pergi dari sana.
"Belum, Bu. Nanti Floryn pesan makanan saja. Oh ya, Kalau boleh Floryn mau mengajak Alvin ke rumah Zoel sekalian," ungkap wanita satu anak itu.
Martha tersenyum. "Iya. Kalau begitu, ibu akan gantiin baju Alvin," sahutnya.
Floryn merasa sangat beruntung, karena ibunya begitu mendukung apa yang akan ia lakukan. Tidak begitu mempertanyakan keputusan Floryn dan percaya jika apa yang anaknya lakukan bukanlah hal buruk.
Setelah hampir setengah jam lamanya, Floryn dan Alvin sudah siap untuk pergi. Keduanya pamit kepada Martha, dan tanpa membuang waktu segera berangkat.
Floryn sengaja tidak menghubungi Zoel terlebih dahulu, karena ia ingin memberikan kejutan kepada laki-laki itu. Nyatanya, rencana yang laki-laki tersebut hasilkan kemarin, berjalan dengan lancar. Semua itu sanggup membuat Enrik tertahan di penjara.
***
"Bun, di mana ayah?" tanya Alvin saat mereka sudah sampai di depan rumah Zoel dan Widuri.
__ADS_1
"Ayah? Ayah ada di rumah Kakek. Kenapa?" tanya Floryn, yang merasa tidak boleh memberitahukan kondisi ayahnya Alvin dengan jelas sekarang saat ini.
"Kenapa ayah tidak mau bermain dengan Alvin lagi? Apa karena Alvin menumpahkan susu di atas meja makan?" tanya Alvin khawatir.
Floryn menurunkan Alvin dari dalam mobil. Lalu ia menundukkan tubuhnya agar setara dengan sang anak.
"Tidak ada yang marah dengan apa yang Alvin lakukan di rumah nenek. Yang penting, Alvin mengucapkan kata 'maaf' dan tidak akan mengulangi hal itu lagi. Nenek pasti akan memaafkan Alvin," terang Floryn.
Alvin mengangguk. "Iya. Alvin sudah bilang 'maaf' kepada nenek dan nenek bilang 'tidak apa-apa'. Jadi, ayah meninggalkan Alvin bukan karena Alvin nakal?"
"Bukaaan ... Alvin anak pandai. Tidak ada yang membenci anak pandai," terang Floryn.
Kini mereka sudah berada di depan pintu rumah Zoel. Belum sempat Floryn menekan bel, pintunya sudah terbuka terlebih dahulu.
Floryn dan Alvin melihat Widuri ingin keluar dengan penampilan yang sudah rapi.
"Eh? Ibu Floryn ...," kata Widuri kepada wanita di hadapannya.
"Wi ... apa abangmu ada di atas? Dia tidur?" tanya Floryn memastikan.
"Wah, enggak, Bu. Tapi abang kesal karena sepagian ini tidak bisa menghubungi Ibu," ungkap Widuri.
Mereka bertiga sudah berada di dalam rumah. Widuri yang tadinya ingin pergi, mengurungkan niatan itu dan kembali masuk ke dalam rumah, mengantarkan Floryn dan Alvin.
Alvin berpikir sejenak. Kemudian, ia mengangguk dan tersenyum. “Tante ini yang ada di kantor Bunda, ya?” tanyanya memastikan.
Widuri mengangguk senang, karena ternyata Alvin bisa mengingatnya. “Wah … kamu pintar sekali! Eh, apa kamu mau cokelat?” tanya Widuri riang.
Alvin tidak menjawab. Ia melihat ke arah Floryn yang berdiri di sampingnya.
Floryn tahu kalau anaknya sedang meminta persetujuan. Floryn mengangguk kepada sang anak. Hal itu membuat Alvin bersorak kesenangan.
“Yeyy! Bunda ijinin …,” ungkap Alvin kepada Widuri.
“Oke! Kalau begitu, kamu mau ikut tante? Kita ambil cokelatnya di dapur,” ajak Widuri kemudian.
Wanita muda itu memang mempunya persediaan cokelat di dalam lemari pendingin. Ia penggila cokelat. Setiap pergi kerja, ia tidak lupa membawa satu bungkus cokelat sebagai jajannya pada jam kerja.
“Eh, Bu … apa saya boleh membawa Alvin sebentar?” tanya Widuri yang hampir saja lupa meminta ijin.
“Iya, boleh. Tapi, Alvin harus ingat, tidak boleh banyak-banyak makan cokelat,” ingat Floryn kepada mereka berdua.
__ADS_1
Kedua orang berbeda usia itu mengangguk paham.
“Ibu ke atas aja. Bang Zoel pasti lagi istirahat di kamar,” ungkap Widuri yang sudah beranjak pergi dari sana.
Floryn baru saja ingin bilang kalau ia akan menunggu Alvin kembali, tapi nampaknya Widuri akan lama bermain dengan Alvin. Hal itu membuat Floryn memutuskan untuk naik sendirian ke atas.
Di atas, tepatnya di depan kamar Zoel yang terbuka, Floryn menghentikan langkah. Ternyata, tebakan Widuri salah. Laki-laki itu tidak ada di atas tempat tidurnya. Dengan sedikit ragu, ia melangkah masuk.
“Apa Zoel ada di dalam kamar mandi, ya?” tanya Floryn pada dirinya sendiri.
Di dalam kamar Zoel, Floryn menajamkan pendengaran. Ia ingin tahu, apa laki-laki itu memang ada di dalam kamar mandi atau tidak.
Sayangnya, Floryn tidak bisa mendengar apa-apa. Tangannya sudah terulur untuk memastikan jika Zoel ada di sana. Akan tetapi, ia kembali menarik tangannya karena takut dianggap lancang.
“Loh, kenapa tidak dibuka?” tanya sebuah suara dari belakang Floryn.
“Gak berani, lah. Gimana kalau dia lagi naked?” sahut Floryn malu.
Detik berikutnya, Floryn membulatkan mata. Ia buru-buru berpaling dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ha ha ha ha ha! Apa kamu malu jika melihatku polos?” tanya Zoel yang sudah berada di sana.
Laki-laki itu terlihat jauh lebih baik dari malam itu. Lebam di wajahnya sudah memudar, begitu juga dengan lebam yang ada di lengannya. Apa pun obat yang ia gunakan, nampaknya sangat manjur dan berharga mahal.
“Ka-kamu sudah sembuh? Kenapa keluyuran, hah?” tanya Floryn yang berbalik marah. Bagaimanapun juga, Zoel belum pulih benar.
Zoel mendekati Floryn. Floryn refleks mundur hingga punggungnya pintu kamar mandi. Tangan Zoel sudah berada di kiri kanan tubuh Floryn, mengurung wanita itu agar tidak pergi dari sana.
“Sudah. Aku sudah sembuh. Kamu lihat sendiri, kan?” tanya Zoel dengan tatapannya yang seperti menelanjangi sang lawan bicara.
Floryn menelan saliva. “I-iya. Aku … ke sini ….”
“Ssttth … aku sedang menikmati pemandangan indah di depan mata. Jangan biacara lagi,” bisik Zoel yang jarak wajahnya hanya beberapa inci saja dari Floryn.
Lagi-lagi Floryn menelan saliva. Ia sadar kalau tidak datang sendirian. Bagaimana jika tiba-tiba saja Widuri datang dengan Alvin dan melihat semuanya?
“Seriously, a-aku dangang dengan Alvin …,” bisik Floryn padahal ia takut membuka mulut di depan laki-laki itu. Jaraknya begitu dekat!
“Bun ….” Sebuah suara membuat tubuh Floryn mematung dan dingin seketika.
Begitu juga dengan Zoel yang langsung saja membulatkan netranya.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal? Gawaaat …,” batin Zoel panik. Ia bingung akan beralasan apa pada anak itu setelah ini.
Bersambung.