Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Calon Ayah Baru


__ADS_3

Ambar meneguk es jeruk yang disajikan Tomas hingga kandas. Ia begitu haus karena cuaca panas siang itu. Biasanya, pada jam-jam segini ia akan santai di dalam kamarnya yang ber-AC sambil memainkan game kesukaannya di HP.


Akan tetapi, hari ini ia khusus datang ke kompleks itu untuk menemui Tomas. Ambar ingin meminta bantuan mantan kriminal itu untuk melakukan sesuatu.


“Kamu meminumnya seperti tidak pernah minum air selama berhari-hari … kamu baik-baik saja?” tanya Tomas yang memang selalu perhatian kepada Ambar. Sejatinya, Ambar adalah mantan kekasihnya. Pada laki-laki itulah, Ambar menyerahkan keperawanannya dulu.


“Gerah …,” sahut Ambar singkat.


“Dasar pembantu orang kaya … baru panas dikit aja udah ngeluh,” kata Tomas yang kini sudah duduk di samping Ambar. Ia melingkarkan tangannya di pundak wanita itu.


“Ck! Gerah, Tom … jangan pegang-pegang!” tukas Ambar sembari berusaha menghindar.


Tomas menjauhkan tangannya karena tidak ingin ribut. Ia penasaran, ada hal penting apa, sampai-sampai wanita yang sudah hidup enak itu, mau repot-repot datang menemuinya.


“Oke … kalau di sini gerah, lantas kenapa datang? Pasti ada maunya, kan?” tanya Tomas hanya sekedar menebak.


Akan tetapi, sebelum Ambar mulai bercerita, ia terlebih dahulu mengeluarkan HP dari dalam tasnya. Ambar membuka galeri dan mencari sebuah foto yang menurutnya paling terlihat jelas. Foto yang ia cari adalah foto Floryn.


“Kamu lagi ada kerjaan, gak?” tanya Ambar basa-basi.


Tomas menggeleng dan mengambil HP yang tadinya ada di tangan Ambar.


“Kenapa? Kamu mau nyuruh aku ngelakuin sesuatu lagi? Boleh … kebetulan aku lagi gak sibuk dan butuh uang banyak,” terang Tomas bahkan sebelum Ambar bilang apa keinginannya.


“Cocok banget … kamu memang paling bisa diandalkan!” tukas Ambar yang merasa kalau usahanya akan berjalan dengan sangat lancar.


Pembicaraan itu berlangsung cukup lama. sayangnya, Tomas meminta hal lain selain uang yang Ambar janjikan. Ia ingin Ambar melayaninya untuk mengingat masa lalu.


Akan tetapi, Ambar takut jika Enrik mengetahui hal tersebut. Ia hanya ingin berjaga-jaga saja. Biasanya, laki-laki bisa meraskan hal seperti itu. Pasti Enrik akan marah kalau tahu ia melakukannya dengan orang lain.

__ADS_1


“Eem … bagaimana, ya … apa tidak ada cara lain?” tanya Ambar yang hanya bisa menolak hal tersebut. Sebenarnya ia mau saja, tapi kembali lagi, ia tidak ingin ketahuan. Tuannya pasti akan sangat marah.


Akhirnya, Tomas memberikan kelonggaran kepada Ambar. Ia ingin wanita itu melayaninya dengan cara lain. Apa pun caranya, asalkan bisa membuatnya puas.


Siang itu adalah siang yang cukup panas. Panasnya bertambah semakin besar karena kegiatan yang Ambar lakukan dengan Tomas. Sayangnya Ambar tidak punya pilihan lain. Demi menyenangkan Enrik dan menjamin posisinya di rumah sang majikan, ia akan melakukan apa saja …


***


Floryn menyuguhkan segelas limun kepada Zoel. Ini adalah kali pertamanya Zoel benar-benar datang ke rumah ibu Floryn.


“Jadi … ini pemuda yang sudah sering kali menolong anak ibu?” tanya Martha sesaat setelah Zoel meletakkan gelasnya kembali di atas meja.


“Saya, Bu …,” sahut Zoel yang terlihat segan dengan Martha.


Di dapan mereka, Floryn tidak hentinya tersenyum. Sebenarnya ia sedang menahan geli karena tidak pernah melihat Zoel seperti itu selama beberapa lama mereka kenal. Selama ini, Zoel terlihat cool dan tegas. Tidak seperti saat ini. Sedikit malu-malu dan lebih pendiam.


Netra Floryn membulat melihat kelakuan ibunya yang begitu lucu. Apa maksudnya mengerlingkan mata seperti itu tadi? Ibunya ingin memberikan kode seperti apa padanya?


“Ibu Anda … baik,” kata Zoel yang sepertinya tidak bisa menemukan kata lain yang lebih tepat.


“Ya … kenapa kamu tidak mengatakannya saat ada ibuku tadi?” tanya Floryn penuh tantangan.


“Mungkin lain kali. Saya perlu waktu lebih lama untuk menaklukan hati ibu Anda. Tapi saya janji, suatu hari nanti, ibu Anda akan merestui hubungan kita …,” bisik Zoel yang tidak ingin kalimatnya di dengar oleh Martha. Ia takut kalau wanita itu mengusirnya sebelum Zoel sempat melakukan pendekatan kepada Floryn.


“Kamu pandai sekali bicara … apa … semua wanita pernah mendengar rayuan itu?” tanya Floryn yang sudah lupa dengan tujuan utamanya mengundang Zoel datang ke rumahnya.


“Ha ha ha ha … saya hanya pernah memiliki satu mantan. Sepertinya, saya kurang laku ketimbang laki-laki lain yang Anda kenal. Bisa jadi, Anda adalah wanita kedua dan terakhir yang akan tinggal di hati saya,” ungkap Zoel yang juga tidak paham, kenapa kalimat-kalimat gombalannya bisa mengalir dengan lancar seperti saat ini.


“Kamu sangat pandai menggombal, Tuan.”

__ADS_1


“Thanks. Saya anggap itu sebagai pujian ….”


Beberapa menit lamanya, mereka berdua hanya ngobrol ringan. Sampai akhirnya Alvin datang dan ikut bergabung dengan keduanya. Anak itu terlihat bingung dengan kehadiran Zoel.


“Ini Pak Polisi?” tanya Alvin memastikan.


“Bukan. Nama saya Zoel. Kamu bisa memanggil saya ‘Paman’ …,” sahut Zoel yang merasa jika Alvin begitu imut saat bicara. “Calon ayah baru …,” lirih Zoel dengan suara yang begitu pelan.


Namun tetap saja, Floryn bisa mendengar hal itu. Ia ingin marah, tapi tidak di depan anaknya.


“Aduh ... jangan begitu pede, Tuan …,” lirih Floryn kemudian.


“Itu namanya usaha, Bu. Tidak salah, kan?” sahut Zoel membalas.


Akhirnya, Floryn kembali mengingat tujuannya memanggil Zoel untuk datang sore itu. Ia mengatakan jika besok adalah sidang perdananya dalam kasus perceraian dengan Enrik. Floryn ingin minta tolong kepada Zoel, untuk menjaga ibu dan anaknya pada hari itu.


Floryn tidak mau membawa mereka ke pengadilan. Ia tidak ingin memberikan kenangan buruk kepada sang anak.


Kalau saja tidak ada kasus yang menimpa almarhum sahabatnya, mungkin Floryn tidak perlu meminta bantuan Zoel. Akan tetapi, setelah apa yang terjadi kemarin, Floryn semakin yakin kalau orang jahat itu mungkin ada di dekatnya. Floryn hanya ingin jaminan yang lebih pasti.


Polisi memang telah berjaga di dekatnya. Namun, polisi-polisi itu masih memiliki jarak dari ibunya dan Alvin. Floryn tidak ingin membayangkan hal buruk kepada dua orang yang paling ia cintai saat ini. Ia tidak ingin terkecoh dan menyesal kemudian.


Untungnya, Zoel menyanggupi permintaan itu. Ia bilang, besok akan datang ke rumah ibu Floryn lagi dan membatu Floryn menjaga Martha dan Alvin.


“Aku tahu kamu bisa diandalkan, Zoel. Bilang pada Widuri, aku akan memberikan rekomendasi yang ia perlukan pada akhir bulan ini. Aku jamin ia akan menjadi karyawan permanen di divisiku …,” jelas Floryn kemudian.


Zoel tersenyum mendengar hal tersebut. Akan tetapi, ia tidak tahu harus bilang apa kepada Floryn. Apakah ia harus bilang kalau adiknya tidak menyetujui hubungan mereka? Sungguh, seharusnya Widuri mendukungnya dalam segala hal. Bukannya berdebat dan bertengkar seperti waktu itu ….


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2