
Sintia melihat HP-nya yang bordering sekali. Hal pertama yang ia lihat adalah waktu yang tertera di sana. Masih jam delapan malam dan ia sudah merasa sangat mengantuk.
Permainan Edward sungguh membuatnya kewalahan dan tidak pernah mengecewakan. Ia tidak pernah menyesal sedikit pun, ketika menerima lamaran Edward kala itu. Selain jauh lebih mapan dari pada Enrik, Edward juga jauh lebih matang di segala hal. S3sk contoh salah satunya.
Sintia mengerutkan kening saat melihat nama Enrik di layar HP-nya. Untuk apa laki-laki itu mengiriminya pesan malam-malam begini?
"Bisakah kita bertemu? Aku ingin minta tolong denganmu," kata Enrik dalam pesannya.
Rasanya ia masih malas untuk sekedar berdiri dari sisi Edward. Namun, ia tahu jika ia tidak bisa menolaknya. Enrik ... dia punya sesuatu yang membuat Sintia harus patuh.
Dengan enggan Sintia bangkit dari sana dengan sangat perlahan. Ia tidak ingin membangunkan Edward dan memancing banyak pertanyaan.
Seletah membersihkan dirinya dan berpakaian, Sintia pergi ke luar kamar. Ia hanya membawa dompet dan HP-nya saja.
Sebelum benar-benar menutup pintu kamar, Sintia kembali melihat ke arah tempat tidur. Edward masih lelap di sana dan ia bisa pergi dengan aman.
Di luar, Sintia berpesan kepada asisten rumah tangganya tentang kemana ia pergi. Mana tahu saja Edward terbangun dan menanyakan perihal kepergiannya itu.
***
Di Sebuah Café.
Sintia tiba dan langsung menuju ke sebuah meja, di mana Enrik terlihat duduk sendirian. Laki-laki itu menyesap rokok, hal yang tidak biasa bagi mata Sintia.
"Kamu merokok?" tanya Sintia saat ia sudah duduk di hadapan Enrik.
Sesaat setelah Sintia duduk, seorang pelayan manghampiri untuk mencatat pesanan wanita itu. Kamu tahu, tidak mungkin duduk di sebuah tempat makan tanpa memesan sesuatu. Bagi Sintia, hal itu sangat memalukan.
"Bukan urusanmu." Enrik mematikan rokoknya dan menunggu hingga Sintia selesai memesan minumannya.
"Oke, jadi ada apa?" tanya Sintia saat pelayan café sudah menjauh pergi.
__ADS_1
Sintia tidak ingin lama-lama berada di tempat itu. Nanti Edward marah karena suaminya itu tidak suka saat istrinya pergi sendirian, apalagi terlalu lama.
"Bagaimana ayahku? Apa kalian membicarakan kami?" tanya Enrik penasaran. Rupanya ia hanya ingin tahu bagaimana ayahnya setelah keributan hari itu di kantor.
"Ayahmu bilang, kalau mau cerai, ya cerai saja," jelas Sintia singkat.
"Begitu? Lalu bagaimana dengan cucunya? Apa ayahku tidak peduli?"
"Katanya, kalau masalah cucu, ia akan bicara baik-baik dengan Floryn. Ia tetap akan menganggapnya cucu pertama di keluarga Bimasakti," jelas Sintia.
"Apa dia marah padaku?"
"Ck! Kamu ini, ya ... kenapa tidak datang saja ke rumah dan menanyakannya langsung pada ayahmu? Gara-gara masalahmu dengan Floryn, aku juga ikut repot seperti ini!" tukas Sintia kesal.
Enrik menangkap tangan Sintia yang baru saja menunjuk-nunjuk ke arahnya.
"Hei! Aku bertanya baik-baik padamu! Kalau aku mau, kamu dan ayahku bisa saja berpisah! Tidak akan sulit sama sekali, kau tahu?" sentak Enrik yang sepertinya baru saja mengalami hari yang buruk.
Floryn bilang kalau mulai sekarang, mereka akan hidup masing-masing. Floryn tidak takut sama sekali dengan anaknya yang mungkin tidak terima dengan keputusan tersebut.
Namun sayangnya, Alvin terlihat biasa saja. Anak itu memang belum paham dengan apa yang Floryn jelaskan kepada mereka. Ia mengira jika ayahnya hanya akan pergi untuk sesaat.
"Malam ini Alvin tidur dengan nenek lagi?" tanyanya dengan senyum merekah.
Enrik jengkel karena anak itu tidak bersedih sama sekali.
Di situ ia berpikir, mungkin ia memang kurang dekat dengan keluarganya sendiri. Akan tetapi, bukankah selama ini ia hanya melihat mereka? Bekerja semata-mata untuk mereka?
***
Sintia menyeruput lemon tea pesanannya yang baru saja diantarkan. Ia ingin cepat pulang, tapi Enrik masih terus bicara.
__ADS_1
Wanita itu memperhatikannya dengan bete, sampai Enrik mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Hah? Apa?" tanya Sintia memastikan pendengarannya lagi.
"Aku ingin memberikan sedikit pelajaran untuk Floryn," kata Enrik mengulang perkataannya tadi.
Sintia tersenyum sinis. "Kamu gila atau gimana? Kalau ayahmu sampai tahu, ia akan benar-benar marah besar. Jangan gila, Rik!" Sintia mengingatkan.
"Apa kamu terima semua keburukan yang Floryn ciptakan? Aku yakin kamu tidak terima. Kamu wanita sosialita dengan banyak teman sosialita. Bagaimana menghadapi semua ini?" selidik Enrik.
"Tetap saja ... untuk apa balas dendam? Aku tidak mau cape-cape membuat tanganku kotor," elak Sintia.
"Kamu tidak perlu melakukan banyak hal. Hanya satu hal, dan aku sisanya. Aku janji tidak akan melukai siapa pun."
Sintia sangat tidak setuju dengan keinginan Enrik. Menurutnya laki-laki itu terlalu berlebihan. Jika ia selingkuh, artinya ia memang tidak cinta lagi dengan Floryn. Lalu untuk apa balas dendam? Bukankah ia sendiri penyebabnya? Di situ Sintia mulai khawatir. Apa jangan-jangan ada yang salah dengan anak tirinya itu?
Sintia berdiri dan mengambil tasnya. “Kamu sudah gila! ‘Tidak akan melukai siapa pun’? apa yang kamu pikirkan?!” tanya Sintia yang sudah bersiap pergi dari sana.
Saat Sintia sudah akan pergi dari sana, tangan Enrik menahannya. Beberapa orang sudah mulai melihat ke arah mereka.
“Hei! Duduklah! Aku tahu kalau sejak dulu kamu tidak menyukai istriku itu, kan? Lalu kenapa sekarang menjadi sok suci? Kalau kamu tidak suka, ya tidak suka saja … berarti kamu bisa membantuku …,” ungkap Enrik dengan suara yang merendah pada akhirnya.
Sintia kembali duduk dengan malas. Ia tidak mengira jika akan melewati hari seperti ini pada akhirnya. Semua gara-gara anak tiri dan istrinya yang tidak tahu diri.
Sudah punya istri, masih mencari kesenangan dengan wanita lain. Sintia sendiri masih penasaran, apa yang membuat Enrik selingkuh dari Floryn. Alasan yang sebenar-benarnya. Karena, tidak mungkin tiba-tiba Enrik selingkuh tanpa ada alasan yang kuat.
“Please lah, Rik. Kalau Edward tahu, aku berada di dalam masalah …,” terang Sintia yang sudah tidak fokus dengan Enrik di depannya.
Yang ia inginkan hanya pulang dan kembali bersama sang suami. Apa pun yang direncanakan Enrik, ia tidak ingin mendengarnya. Sudah cukup dengan masalah yang dulu pernah ia lakukan dengan Enrik, ia tidak ingin ada hal lain yang bisa digunakan Enrik untuk memerasnya seperti ini.
Yang dulu merupakan suatu kesalahan. Ia tidak ingin kali ini terjebak di dalam masalah yang sama. Ia bukan anak kecil lagi dan ia tidak ingin bermasalah dengan Edward, bahkan sampai kehilangan laki-laki itu. Ia tidak akan sanggup …
__ADS_1
Bersambung.