
Sudah berjam-jam lamanya Zoel memandangi gelas es jeruk yang sudah tidak dingin lagi. Gelas itu adalah gelas yang diberikan Floryn untuknya tadi siang.
Kemudian, di sana juga ada selembar sapu tangan berwarna abu-abu yang merupakan milik Floryn. Entah kenapa, fokus Zoel tidak bisa beralih dari sana. Padahal kemarin ia yang berencana membuat Floryn tertarik padanya dengan ketampanan yang ia banggakan, tapi kenapa saat ini ia yang tidak bisa mengalihkan pikirannya dari wanita itu?
“Kenapa aku tidak bisa melupakannya?” tanya Zoel kepada dirinya sendiri.
Zoel mengambil sapu tangan itu dan membukanya lebar-lebar. Tidak ada sesuatu yang special di sana. Sama seperti saputangan biasa yang bisa ditemukan di toko-toko.
Dengan cepat Zoel mengambil saputangan itu dan menyimpannya di dalam saku celana. Ia berencana mengembalikan benda itu jika ada kesempatan. Walaupun di dalam hati kecilnya, Zoel hanya mau menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
Karena sudah sangat malam, Zoel berniat untuk pulang lebih awal. Ia akan mempercayakan café-nya pada Stu yang merupakan orang kepercayaannya di café. Zoel membawa gelas es jeruk itu dan menyimpannya di dalam lemari pendingin. Ia tidak berniat untuk meminumnya. Hal itu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan cepat.
“Stu!” panggil Zoel dari dalam ruang kerja miliknya yang hanya berukuran empat kali tiga meter. Sebuah ruangan kecil yang ia gunakan sebagai ruang kerjanya di café miliknya sendiri.
Stu datang dengan cepat. Laki-laki muda itu datang dengan sebuah kotak di tangannya.
“Iya, Bang?” sahut Stu yang usianya tidak jauh dari Widuri.
“Aku mau pulang. Apa ada hal lain yang harus dilakukan?” tanya Zoel yang selalu mempercayakan semuanya kepada Stu. Lagi pula, sudah sangat malam dan sebentar lagi cafenya akan tutup. Mungkin jam satu atau jam dua nanti.
Stu mengerutkan kening. “Sepertinya tidak ada. Memangnya, Abang sakit? Belum juga jam dua belas …” katanya yang langsung saja menaruh curiga.
Zoel menggeleng. “Enggak. Aku mau pulang aja. Mau istirahat,” ungkap Zoel serius.
“Oooh ….” Stu mengikuti langkah kaki Zoel yang sudah beranjak meninggalkan ruangannya.
Seperti biasa, Zoel akan mengunci pintu ruang kerjanya dan memberikan kunci itu kepada Stu. Ruangannya tidak boleh dibuka kalau tidak ada hal mendesak. Selain itu, Stu boleh membukanya setelah meminta ijin dengan Zoel.
“Kalau ada yang mencari Abang, saya bilang apa?” tanya Stu sebelum Zoel benar-benar pergi dari sana.
“Bilang saja saya sudah pulang untuk istirahat. Kalau keperluannya mendesak, bisa langsung menghubuungi ke nomor pribadi. Tapi ingat, jangan asal memberikan nomor pada orang lain,” jelas Zoel mengingatkan.
Sekali lagi Stu mengangguk paham. Ia ikut mengantar kepergian Zoel hingga pintu utama.
Zoel sendiri masih tidak tahu akan pergi ke mana. Apakah langsung pulang atau pergi ke tempat lain. Pikirannya masih berputar di sekitar Floryn dan hal itu membuatnya kehilangan fokus.
***
Saat ini Zoel sudah duduk di belakang kemudi. Sebelum menjalankan kendaraan roda empat tersebut, ia mengeluarkan HP yang sejak tadi tidak bersuara. Sepinya sudah menyerupai kuburan pada tengah malam buta.
__ADS_1
Baru saja membuka benda pipih tersebut, netranya langsung fokus pada sebuah pesan dari nomor tanpa nama yang masuk. Pesan itu masuk sekitar sepuluh menit yang lalu. Kenapa ia tidak mendengarnya?
Dengan penasaran, Zoel membuka pesan itu. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui jika pengirim pesan itu adalah orang yang sejak tadi ia pikirkan. Belum lagi dengan isi pesan yang terlihat berbahaya.
“Ada apa ini? Sebaiknya aku langsung ke sana. Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak, ya?” monolog Zoel.
Laki-laki itu menjalankan mobilnya keluar dari halaman café miliknya pribadi. Dengan perasaan yang semakin khawatir, laki-laki itu berdoa di dalam hati agar ia tidak terlambat dan Floryn baik-baik saja.
***
Tidak lama kemudian, mobil yang Zoel kemudikan sampai di daerah yang dikatakan Floryn. Hatinya mulai panik saat melihat keberadaan mobil Floryn yang telah parkir lebih dulu di sana.
“Apa yang Anda lakukan di tempat seperti ini, hah?” tanya Zoel pada angin.
Kakinya melangkah ke arah mobil Floryn untuk memastikan keberadaan wanita itu. Namun, ketiadaan Floryn di belakang kemudi membuatnya mulai berpikiran yang tidak-tidak.
“Bu Floryn!” panggil Zoel dengan pandangan yang tidak diam. Ia melihat ke seluruh lokasi untuk menemukan keberadaan wanita itu.
Karena tidak ada jawaban, Zoel memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ia mendekati kolong jembatan yang terlihat lebih gelap daripada biasanya. Seharusnya ada dua lampu penerangan di sana.
“Apa yang terjadi dengan lampunya?” tanya Zoel seraya melihat ke atas. Namun ia tidak bisa melihat apa-apa.
Zoel menundukkan kepala dan melihat pecahan lampu di bawah kakinya. Itu berarti lampu penerangan itu baru saja dipecahkan oleh sesorang.
Perasaan tidak enaknya semakin menjadi. Zoel nekat mengitari tempat itu sampai ia mendengar suara seseorang yang tertahan. Seperti suara orang yang mulutnya dibekap dengan tangan.
Zoel menajamkan pendengarannya. Ia berusaha mencari asal suara.
Netra Zoel memicing saat ia akhirnya mengetahui asal suara. Dengan cepat, Zoel mendekati lokasi yang cukup tersembunyi. Di belakang tumpukan kotak yang terlihat meninggi.
Zoel membulatkan mata saat melihat Floryn yang sudah hampir kehilangan pelindung tubuh yang ia kenakan. Kedua tangan Floryn terikat asal, posisinya menyatu dengan kaki.
“Bu Floryn?” tanya Zoel kaget. Dengan cepat Zoel melepaskan jaket yang ia kenakan dan mencoba untuk menutupkannya ke arah tubuh Floryn.
Floryn yang menyadari kehadiran Zoel, menjadi lebih panik. Ia melototkan mata dan mengeluarkan suara seperti ingin memberi tahu sesuatu. Mulut yang terikat dengan kain, membuatnya tidak bisa bicara dengan jelas.
Bugh!
Sebuah pukulan membuat Zoel tersungkur. Untung saja hal itu tidak langsung membuatnya hilang kesadaran. Zoel berbalik sembari memegangi bahunya yang sakit.
__ADS_1
Floryn menutup mata. Ia tidak ingin melihat hal berikutnya yang akan terjadi. Jika terjadi apa-apa dengan Zoel, semua itu salahnya. Ia lah yang membuat Zoel datang ke tempat itu.
“Brengsek! Apa yang kamu lakukan padanya?!” sentak Zoel yang mulai terlihat geram. Bahkan Floryn tidak pernah melihat seseorang semarah itu.
“Bukan urusanmu. Kamu sendiri siapanya? Jangan ikut campur urusan kami!” sahut sosok yang merupakan orang, yang mengaku-ngaku sebagai Cika.
“Aku? Aku yang akan menyelamatkanya. Dasar brengsek!” tukas Zoel yang sudah siap menghadapi orang jahat itu.
Di depan Floryn yang ketakutan, kedua laki-laki itu baku hantam. Perkelahian semakin mengerikan saat sosok yang mengikat Floryn mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celana.
"Brengsek kamu ... katakan selamat tinggal pada dunia!" seru penjahat itu seraya maju dengan pisau yang siap mencari korban.
Zoel tidak begitu pandai bela diri. Tapi musuhnya juga terlihat biasa saja. Dari segi postur tubuh, lawannya memang jauh lebih besar. Hal itu yang membuat gerakannya terlihat lamban.
Bugh! Wuussh!
Pukulan Zoel mengenai wajah musuhnya. Untung saja ayunan pisau yang lawannya bawa tidak sampai mengenai bagian tubuh Zoel.
Darah segar mengalir dari ujung bibir si penjahat. Wajahnya terlihat marah, napasnya seperti kelelahan. Tidak Zoel sangka, laki-laki itu memilih untuk kabur dari sana dengan mobil Floryn. Rupanya ia telah mendapatkan kunci mobil wanita itu sebelumnya.
Zoel tidak ingin mengejarnya. Ia lebih memilih untuk menyelamatkan Floryn dan membawa wanita itu pergi dari sana.
Dengan cepat, Zoel menghampiri Floryn dan membuka ikatan di yang membelenggu wanita itu.
"Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Zoel.
Akan tetapi, bukannya menjawab pertanyaan itu, Floryn lebih dulu menyusup ke dalam pelukan Zoel.
"Ja-jangan lihat ... please ...," lirih Floryn malu. Pakaiannya yang terkoyak, membuat Floryn sangat malu.
Zoel menepuk-nepuk punggung Floryn. Ia mencoba menenangkan wanita itu. "Tidak apa, aku akan menutup mata. Sebaiknya kita pergi dari sini. Hujannya semakin deras," ajak Zoel.
Floryn mengangguk. Zoel mulai menutup matanya, dengan begitu Floryn bisa lepas dari pelukan Zoel. Setelah Floryn menjauh, Zoel memberikan jaket yang belum sempat ia berikan kepada Floryn tadi.
Suara zipper membuat Zoel sadar kalau wanita itu telah mengenakan jaketnya. Ia kembali membuka mata.
"Sebaiknya kita mengantamu pulang, Nyonya."
Bersambung.
__ADS_1