Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Antar Aku Pulang


__ADS_3

Byur!


Floryn menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Dengan cepat ia berusaha untuk mengambil HP-nya yang sudah tenggelam di dasar kolam. Hatinya sakit sekali saat mengingat perlakuan Enrik padanya tadi. Dengan terang-terangan, laki-laki itu menyakitinya secara fisik dan mental.


Setelah mendapatkan benda pipih itu, Floryn kembali berenang ke permukaan. Pandangannya langsung tertuju kepada pintu pondok yang kembali tertutup. Lalu, Floryn menatapi ponselnya yang sudah tidak bernyawa. Bukan rusaknya benda itu yang menjadi pikirannya saat ini, tapi bukti yang telah ia dapatkan beberapa saat lalu. Semua terlihat sia-sia.


Dengan berat hati, Floryn meninggalkan tempat itu. Ia kembali kepada Naura yang menunggunya sejak awal.


Saat Floryn sudah berjarak beberapa meter saja dari mobil Naura, ia melihat wanita itu berhadapan dengan Bik Iim yang memegang payung untuk melindungi diri dari siraman air hujan. Floryn semakin mempercepat langkah kakinya.


“Flo?! Kamu main hujan-hujanan?” tanya Naura tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia melupakan kehadiran Bik Iim yang tadi datang karena curiga dengan keberadaan mobil Naura.


“Sorry, aku … tidak merencanakan ini semua. Bolehkah aku masuk?” tanya Floryn yang menjadi tidak enak dengan sepupunya. Suaranya bergetar, pakaiannya basah dan ia harus masuk ke dalam mobil itu.


“Ya ampun … masuk, lah. Memangnya kamu tidak ingin pulang?” tanya Naura yang sudah mengabaikan kehadiran Iim di sana. Sejak tadi ia mencoba untuk mengerti perkataan orang itu, tapi sia-sia.


“Terima kasih … aku janji akan membayar biaya pengeringannya …,” ungkap Floryn.


Naura hanya tersenyum sembari terus fokus untuk membawa mobilnya pergi. Ia tahu bagaimana Floryn, jadi percuma saja jika menolak pemberian orang itu. Ia akan terus memaksa hingga menang.


“Kamu ini … oh ya, yang tadi itu siapa?” tanya Naura mengingat sosok Iim yang mencoba untuk bicara padanya.


“Sepertinya dia itu salah satu asisten rumah tangga di Villa ini. Aku kurang mengetahuinya, hanya pernah mendengar saja,” ungkap Floryn.


Wanita itu mengeluarkan isi tas yang lumayan kedap air. Namun tetap saja isinya basah. Floryn menceburkan diri ke dalam kolam renang, bukan?


Rintik hujan yang tidak ingin berhenti, membuat Floryn menggigil.

__ADS_1


"Bi-bisakah suhu AC-nya dinaikkan?" tanya Floryn penuh harap.


Naura menambah suhu AC. Hal itu membuat Floryn sudah tidak semenggigil tadi. Floryn merasa harus bertahan menghadapi semuanya. Ia tidak boleh sampai pingsan hanya karena dingin. Salah satu hal yang membuatnya pernah berdarah-darah mimisan saat bersama dengan Zoel.


***


Perjalanan mereka berakhir di rumah Naura. Wanita itu hanya sendiri karena sang suami sedang dinas di luar kota. Ia langsung membuatkan susu hangat untuk membantu menaikkan suhu tubuh Floryn.


Naura juga meminjamkan sepasang pakaian lengkap luar dan dalam untuk wanita itu. Ia sengaja memilihkan pakaian yang berbahan tebal agar Floryn cepat pulih.


"Kalau dilihat-lihat dari penampilanmu tadi, pertemuan kalian tidak berjalan dengan lancar, ya?" tanya Naura yang tidak bermaksud untuk kepo. Ia hanya memperlihatkan rasa simpatik antar umat manusia. "Sebaiknya kamu menginap di rumahku hari ini."


Floryn berpaling menatap Naura dan menggelengkan kepala. Ia tidak mungkin menginap di sana. Bagaimana dengan Alvin?


"Tapi ...," lirih Floryn. Ia tidak tahu harus bicara apa kepada Naura. Apakah ia harus jujur? Ya, mungkin jujur adalah hal yang paling tepat saat ini. "Tadi aku memergoki suamiku dengan selingkuhannya, Ra." Titik air mata Floryn kembali terbentuk. Dengan cepat Floryn menghapusnya kasar.


"Kamu serius, Flo? Bukankah Villa itu milik ayah mertuamu? Bagaimana kamu mengetahui keberadaan mereka di sana?"


"Mungkin feeling seorang istri teraniaya dan sedikit bantuan teknologi, Ra. Aku sudah mengetahui hubungan itu sejak beberapa waktu lalu. Kemudian ... saat tadi pagi ia pergi untuk dinas luar, aku kembali curiga. Pasalnya, pembantuku juga libur dan sudah tidak ada di rumah ...," ungkap Floryn.


"Pembantu? Pembantu katamu, Flo? Astagaa ... apa Enrik sudah buta?" kecam Naura yang tidak percaya akan pengakuan itu.


Floryn mengangguk. "Ini masih sore ... sebaiknya antar aku ke terminal agar bisa mengejar satu bus kembali pulang," kata Floryn yang kuekeh untuk pulang.


Sebelum Naura menyetujui permintaan itu, ia menempelkan tangannya untuk mengecek suhu tubuh Floryn. Dan sesuai tebakan Naura, wanita itu sedikit demam.


“Kamu deman, Flo. Mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian … lalu, aku juga tidak bisa mengantar karena nanti malam suamiku pulang,” terang Naura. “Sebaiknya menginap, ya …,” bujuk Naura lagi.

__ADS_1


Floryn terdiam. Ia tidak tahu harus apa. Pada saat seperti sekarang ini, ia juga tidak bisa mengambil keputusan dengan baik. Ia memang ingin pulang, tidak ingin berlama-lama di kota itu. Kota yang sama dengan keberadaan Enrik dan Ambar.


Dengan tatapan sendu, Floryn menatap sebuah benda pipih yang mati dan rusak tampilannya. Benda itu mati dan masih mengeluarkan air.


“Apa ada cara agar HP-ku bisa hidup kembali? Ada hal penting di dalamnya …,” lirih Floryn yang tidak terlalu berharap.


“Tunggu sebentar. Aku akan menyimpannya di dalam beras. Mungkin saja airnya bisa terkikis dan menyelamatkan benda itu,” kata Naura seraya beranjak dari sisi Floryn. Ia mengambil sebuah mangkok yang cukup besar dan mengeluarkan beberapa liter beras dari dalam rice box miliknya. Sebelum Naura meletakkan benda pipih itu ke dalam mangkuk beras, ia memastikan semua air yang bisa keluar sudah habis.


“Seharusnya kita menyimpan benda itu semalaman di sana, tapi untuk sementara ini tidak masalah.” Naura sudah kembali bersama Floryn. “Sebaiknya kamu istirahat di kamar dulu. Aku akan memesan makanan dan obat untukmu.”


Floryn yang masih sedikit pusing, tidak menolak saran itu. Ia memang perlu berbaring agar tidak tumbang. Kalau diingat-ingat, sebentar lagi periodenya tiba, pantas saja ia menjadi lebih lemah dan emosional saat menghadapi masalah itu. Hormonnya mulai bergejolak.


Di dalam kamar Naura, Floryn membaringkan diri. Naura menyelimutkan sebuah selimut bergambar bunga mawar ke atas tubuh Floryn. Ia juga menghidupkan sebuah lilin aroma teraphy agar wanita itu bisa rileks.


“Ra … terima kasih, ya …,” kata Floryn saat Naura meletakkan lilin itu di dekatnya. Aroma yang lembut dan manis membuat indra penciuman Floryn mengirimkan respon ke otak sehingga Floryn merasa tenang.


“Sama-sama. Kamu istirahat saja dulu. Nanti aku coba cek HP-mu, mungkin aku bisa bertanya dengan seorang teman tentang itu,” terang Naura berusaha menenangkan.


Floryn menagngguk dan membiarkan Naura pergi dari kamarnya sendiri. Pintu kamar itu tertutup bersamaan dengan kepergian Naura. Floryn mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa saat tadi. Ia menutup mata dan berusaha untuk istirahat.


Di dapur, Naura mengeluarkan HP-nya dari saku celana dan mencoba untuk menghubungi seseorang. Yang ia hubungi adalah Reza, salah satu temannya yang bekerja di sebuah counter HP dan service center. Setidaknya, ia bisa membantu Floryn meringankan masalah wanita itu. Itu pun jika maksud baiknya bisa dilaksanakan.


Setelah bicara selama beberapa saat, akhirnya panggilan itu berakhir. Ia mengeluarkan HP Floryn dari dalam beras dan menghidupkan notebook miliknya yang ia ambil dari ruang tengah.


Atas arahan dari Reza, Naura berhasil melakukan beberapa hal yang mungkin bisa membatu Floryn. Ia merasa kasihan kepada wanita itu. Mungkin kisahnya dulu sebelum menikah dengan suaminya sekarang, tidak setragis Floryn. Dan apa yang pernah ia rasakan saja sudah begitu sakit, lalu bagaimana dengan perasaan Floryn sekarang? Mungkin jika hati manusia terbuat dari kaca, benda itu telah hancur berkeping-keping tanpa bisa dirangkai kembali.


“Nice. Semoga saja masih bisa berfungsi dengan baik ….”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2