
Floryn turun dari dalam mobilnya dengan terburu. Ia langsung panik saat tahu kalau suaminya tersayang sudah sampai di depan rumah ibunya. Floryn tahu, pasti suaminya ingin menemui Alvin.
“Mas!” panggil Floryn saat melihat mobil sang suami sudah terparkir asal di depan rumah ibunya.
Namun sayang sekali, tidak ada jawaban dari yang dipanggil. Floryn memilih untuk langsung masuk ke dalam rumah ibunya.
“Bu?” panggil Floryn yang berharap jika ibunya langsung menjawab. Sayang sekali, tidak ada jawaban sama sekali.
Dengan langkah terburu, seorang wanita muda menghampiri Floryn. Orang itu adalah Dian yang merupakan pembantu rumah tangga yang bekerja dengan Martha.
“Iya, Nyah …,” kata Dian dengan kepala tertunduk.
“Ibuku mana? Apa Alvin ada sama ibu?” tanya Floryn tidak sabaran.
“Mereka ada di belakang, Nyah … ibu lagi nelpon,” terang Dian tanpa berani melihat wajah Floryn. Sepertinya wanita itu takut salah biacara atau sejenisnya.
Tanpa berpikir lagi, Floryn pergi ke tempat yang di maksud. Dan benar saja, ia melihat ibunya dan Alvin sedang duduk dengan kesibukannya masing-masing. Sepertinya Alvin sedang mewarnai sesuatu dan ibunya tengah menghubungi seseorang.
“Di mana Mas Enrik? Bukankah mobilnya ada di depan?” tanya Floryn pada dirinya sendiri.
“Maaf, apa Nyah?” tanya Dian yang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Floryn tanyakan.
Floryn berpaling dan menggeleng. Dian pergi karena tidak ingin dianggap kepo dengan urusan orang lain apalagi majikannya.
Floryn memutuskan untuk menghampiri Alvin yang ternyata tidak menyadari kehadirannya di sana.
“Ehem … lagi ngapain?” tanya Floryn saat sudah sangat dekat dengan meja di mana mereka berdua duduk.
Alvin yang mendengar suara sang bunda, langsung mengangkat kepala dan tersenyum lebar. “Bunda …,” sapanya senang. Senyum mengembang juga tidak lepas dari keceriaan itu.
“Anak Bunda …,” kata Floryn yang sudah memeluk sang anak.
“Nak … kamu datang ….” Martha meletakkan HP-nya di atas meja.
__ADS_1
“Iya, Bu. Oh, ya … di depan ada mobil Mas Enrik. Apa dia ada di sini?” tanya Floryn yang tahu pasti kalau suaminya itu ada di rumah ibunya.
“Itu ….”
Tiba-tiba saja terdengar suara Enrik yang bernyanyi di belakang Floryn. Hal itu membuat Martha dan Alvin tersenyum semakin lebar.
“Happy birthday … to you ….” Lagu itu berakhir setelah beberapa saat dinyanyikan. Entah mengapa saat melihat hal itu, Floryn menjadi semakin emosi.
“Mas?! Kamu—” Floryn tidak bisa menyelesaikan kalimatnya sendiri. Ia hampir lupa kalau mereka ada di hadapan ibu dan anaknya. “Kamu mengingatnya …,” kata Floryn pada akhirnya.
Sebenarnya, kemarin Floryn ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, setelah kejadian tadi malam, Floryn langsung melupakan semuanya. Yang tersisa diingatannya hanya fakta jika ia sangat membenci Enrik.
“Tentu saja aku mengingatnya. Karena itulah aku buru-buru pergi tadi. Kamu tidak marah, kan?” tanya Enrik dengan sangat baiknya.
Floryn menggeleng. Ia menyambut kue tanpa lilin yang diberikan Enrik padanya. “Terima kasih, Mas …”
Alvin yang melihat itu semua sejak tadi, langsung memeluk ayah dan bundanya. Tanpa ragu Enrik menggendong anak itu di atas pundak.
“Hei … hati-hati, Nak …,” ingat Martha. “Sebaiknya kita masuk. Dian pasti sudah menyiapkan makanan untuk kita,” ungkap ibu Floryn dengan senyum merekah.
Floryn membulatkan matanya tidak percaya. Namun kemudian ia mengangguk dan mengikuti langkah Enrik yang masih menggendong Alvin. Untungnya Martha sudah paham betul sifat blak-blakan Enrik. Mendengar hal itu, Martha merasa jika hubungan keduanya sudah lebih baik.
Sementara itu, di dalam hati, Floryn sedang menelaah apa yang terjadi dengan Enrik. Apakah orang itu punya niat tersembunyi padanya, atau memang sudah kembali menjadi Enrik yang dulu. Sayangnya, Floryn tidak akan percaya jika Enrik telah berubah.
Kalau pun laki-laki itu taubat dan telah berubah, keputusan Floryn tidak akan pernah berubah. Ia tetap akan meminta cerai dari laki-laki itu. Sudah cukup dengan semua hinaan yang diberikan padanya. Apa pun alasan Enrik untuk berbaikan padanya, Floryn tidak peduli.
***
Sementara itu, di rumah Edward dan Sintia, ada pembicaraan yang terjadi dan pembicaraan itu sifatnya sangat serius.
“Biarkan saja mereka bercerai, Mah … anak itu memang sudah kelewatan,” kata Edward dengan suara yang terdengar jauh lebih tenang.
“Lah … Papah ini bagaimana? Apa tidak malu dengan kolega bisnis Papah?” tanya Sintia tidak percaya. Satu-satunya hal yang ia pikirkan saat ini hanyalah pandangan orang lain.
__ADS_1
“Mah … kalau mereka tidak jodoh, ya sudah. Mau dipaksa juga, tidak akan jadi apa-apa …,” jelas Edward seraya merangkul pinggang sang istri.
“Hmm … ya sudah. Mamah juga sudah lelah dengan mereka berdua. Tapi … bagaimana dengan Alvin? Dia cucumu, Pah ….” Sintia mengingatkan.
Edward mengecup tengkuk Sintia yang begitu mulus dan selalu menggoda. “Cucu tetaplah cucu. Papah akan bicara pada Floryn. Asalkan kita bisa bicara baik-baik, Papah yakin Floryn tidak akan mengekang keinginan kita untuk menemui anaknya …,”terang Edward.
“Baiklah … kalau begitu, nanti Papah bicara pada Enrik. Kalau dia memang mau berpisah dengan istrinya, ya pisah. Tapi Mamah juga tidak mau kalau Enrik sampai menikahi pembantu itu. Ish, amit-amit!” tukas Sintia seraya mengetuk-ngetuk meja di depannya.
“Itu, Papah juga tidak akan setuju. Nanti Papah pikirkan lagi. Sekarang … Papah mau dipijat. Boleh, kan?” request Edward yang merasa lelah sejak pulang dari kantor tadi.
Sintia tersenyum dan memeluk suaminya. Tentu saja ia mau melakukan hal itu. Karena, biasanya Edward akan membalas Sintia dengan pijatan yang lebih panas dan menggoda.
Edward, laki-laki berusia 49 tahun itu masih terlihat sangat perkasa. Ketampanan memang sudah sedikit memudar, tapi kharisma yang ia ciptakan masih bisa memikat banyak wanita. Sebut saja Sintia, kakak kelas anaknya yang bisa ia dapatkan dengan mudah.
Sebenarnya, kala itu Sintia baru mulai menyukai Enrik. Ia kerap diajak ikut pergi ke rumah Enrik, saat salah satu sahabatnya ada tugas untuk dikerjakan bersama.
Sintia yang kuliahnya satu tahun di atas mereka, banyak membantu tugas-tugas Enrik dan temannya yang lain. Hari demi hari, Sintia menjadi sangat menyukai pemuda itu. Sampai suatu hari, ia berencana menyatakan perasaannya. Akan tetapi, entah bagaimana Edward muncul tiba-tiba.
Enrik yang takut ayahnya marah, langsung pergi meninggalkan Sintia yang tertunduk dan sudah siap bicara. Salahnya Sintia, ia tidak menyadari kepergian Enrik. Dengan gugup ia menyatakan perasaannya.
Jika mengingat saat itu, mereka akan tertawa karena merasa lucu. Setelah Sintia menyatakan cintanya, Edward langsung menarik Sintia dan m3lum4t bibir gadis itu dengan ganas. Membuat empunya kaget dan tidak sempat berbuat apa-apa.
Rasa malu dan ingin marah, berubah menjadi erangan nikmat yang tiada henti. Kepiawaian Edward dalam berciuman memang tidak bisa dipungkiri.
Berawal dari hal itu, mereka menjalani tiga tahun berpacaran dan kemudian hidup bersama sampai sekarang.
Mungkin, hal itu juga lah yang membuat Sintia tidak menyukai Floryn. Wanita yang menikah dengan orang yang awalnya ia suka. Sintia memang mencintai Edward, tapi rasa gengsinya membuat Sintia merasa kalah.
Harusnya perpisahan Enrik dan Floryn membuatnya senang. Namun ternyata, semuanya telah berubah. Ia lebih memikirkan pandangan orang-orang atas keluarga mereka yang kacau balau.
Sepertinya ia tidak akan punya muka untuk sekedar muncul di acara arisan, setelah anak tirinya itu resmi berpisah nanti. Membuat susah saja ....
Bersambung.
__ADS_1
Note: Sentuh jempolnya dan berikan komentar.