
Happy Reading ....
***
Lima bulan kemudian ...
Floryn memberikan beberapa lembar uang lima ribu kepada pengunjung yang baru saja menerima pesanannya.
“Terima kasih. Jangan lupa untuk datang kembali, ya …,” kata Floryn mengiringi kepergian wanita itu.
Saat ini Floryn sudah berada di belakang meja kasir. Tepatnya di café milik Zoel. Kini, nama café itu telah berubah menjadi De’ Lunar. Entah apa yang mendasari perubahan nama itu, tapi begitulah keputusan Zoel.
“Mbak, ini café baru, ya?” tanya salah seorang pelanggan yang sudah muncul di hadapan Floryn.
Floryn tersenyum dan menggeleng dengan sopan. “Tidak … ini masih café yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya namanya saja yang berganti,” terang Floryn kepada pelanggannya yang kesekian.
Ya, setelah semua yang terjadi dengannya dan Zoel, Floryn memutuskan untuk menerima Zoel. Mereka berdua telah melewati banyak hal. Hal yang baik dan buruk. Tidak terhitung berapa kali Zoel sanggup mengorbankan nyawa untuk menolong Floryn.
“Kak, apa kita sudah bisa tutup?” tanya Widuri yang sudah muncul di belakang Floryn. Semenjak Floryn resmi berhenti dari perusahaan, Widuri memilih untuk memanggilnya kakak.
Floryn menoleh. Ia mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Widuri. “Oke, ini pelanggan terakhir malam ini. Kamu dan Jimmi bisa menutup rolling door, kan? Kakak akan merapihkan ini dulu,” kata Floryn kepada Widuri.
“Oke!” sahut Widuri lantang.
Satu lagi hari ia lewati tanpa Zoel. Laki-laki yang berjanji akan segera menikahinya setelah pulang dari Australia. Hampir dua minggu lalu, Zoel pergi ke Australia untuk mengurus cabang baru De’ Lunar yang berhasil melebarkan sayapnya di sana.
Awalanya, Zoel hanya berencana untuk pergi selama satu minggu dalam rangka persiapan hingga soft openingnya. Akan tetapi, antusiasme pengunjung yang begitu besar, membuat Zoel harus menambah jadwalnya di sana. Apalagi katanya, beberapa varian kopi milik Zoel menjadi viral setelah salah satu grup band ternama memuji cita rasa yang dimiliki kopi dari café De’ Lunar milik Zoel.
“Kak … kamu rindu abangku, ya?” tanya Widuri menggoda calon kakak iparnya.
Floryn berpaling dan mencubit pipi Widuri yang menurutnya semakin gembul setelah berhenti bekerja di perusahaan.
“Kengen, lah. Memangnya kamu tidak?” tanya Floryn dengan wajah yang mulai bersemu merah.
“Ha ha ha … ya sudah, Widuri ke belakang dulu!” serunya lantas pergi.
Floryn kembali duduk di belakang meja kasir. Ia mengambil HP-nya dan memandangi wallpaper HP berupa fotonya dengan Alvin dan Zoel. Dengan lembut Floryn mengusap wajah Zoel di layar HP.
Rindu. Memang hanya itu yang memenuhi hatinya saat ini. Sesaat sebelum kepergian Zoel ke Autralia, laki-laki itu ingin mengajak Floryn turut serta, tapi ia tidak mungkin meninggalkan De’ Lunar dalam pimpinan Widuri saja. Adiknya itu tidak punya banyak pengalaman dengan pekerjaan seperti menjaga café. Yang Widuri kuasai hanya menghadapi komputer dan menyusun berkas. Jadilah Floryn tinggal atas keputusannya juga.
__ADS_1
Saat ini Floryn terlalu fokus dengan apa yang ia lihat di layar HP, sampai akhirnya ia baru menyadari jika sudah ada seseorang berdiri di depannya. Floryn bisa melihat sepatu orang itu. Pengunjungnya adalah laki-laki.
Dengan buru-buru, Floryn mengimpan HP yang sejak tadi menyita perhatiannya.
“Maaf, kami sudah tutup. Kebetulan semuanya juga sudah habis …,” kata Floryn kemudian berdiri dan merapihkan gaunnya yang mungkin kumal.
Tidak ada jawaban. Orang di depan Floryn malah meletakkan sebuah kotak kecil berwarna biru di atas meja kasir.
Floryn berhenti merapihkan gaunnya dan mengangkat kepalanya dengan cepat. Sebuah senyuman langsung saja menghiasi wajah Floryn.
“Zoel! Kamu sudah pulang?!” tukas Floryn yang di dalam hatinya penuh dengan berbagai rasa.
Terkejut, senang, terharu, dan tidak percaya. Bisa-bisanya laki-laki itu pulang tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Bukankah Zoel bilang akan pulang akhir minggu nanti?
“Ha ha ha! Serius sekali memandangiku di layar HP,” olok Zoel kepada wanita di hadapannya. “Begitu kangen, ya?”
Floryn yang sudah beranjak dari tempat duduknya di belakang meja kasir, langsung memukul dada Zoel bekali-kali. Ia tidak terima karena ternyata Zoel telah melihat hal tadi itu. Sungguh memalukan!
“Jahatnya … olok saja terus!” sergah Floryn yang kini sudah melipat kedua tangannya di depan dada.
Zoel mendekat ke arah Floryn lalu kemudian mengambil benda yang tadi ia letakkan di atas meja kasir.
“Apa itu?” tanya Floryn saat keduanya sudah sangat dekat dan saling tatap. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa agak sulit untuk bernapas.
Penjelasan itu membuat Floryn geli. Dari tempatnya, Floryn bisa menebak jika benda di dalamnya mungkin sebuah cincin. Akan tetapi, yang di hadapannya ini adalah Zoel. Laki-laki itu suka sekali mejahilinya beberapa bulan belakangan. Jadi, Floryn tidak mau ge-er dan mengira jika isinya adalah sebuah cincin.
“Apakah bisa dimakan?” tanya Floryn dengan pandangan curiga.
“Eem … sepertinya bisa. Ya, tentu saja bisa,” sahut Zoel dengan yakin.
Detik berikutnya, Zoel membuka kotak itu dan sebuah cincin terlihat sangat berkilau di dalam sana.
Floryn tersenyum. Ia tidak mengira jika kali ini laki-laki itu serius. “Apa ini?” tanyanya lirih.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Zoel menjauh satu langkah dari Floryn kemudian berlutut di depan sang pujaan hati.
Floryn yang tidak pernah melihat Zoel seperti itu, hanya bisa membulatkan netra dan menutup mulut tidak percaya. “Zoel … ngapain?”
“Sstth … jangan rusak moment ini. Floryn, dengarkan aku … sudah beberapa bulan ini kita lalui dengan sangat baik. Selama itu juga, kamu membuat hatiku semakin mantap untuk memutuskan, jika kamu adalah sosok yang tepat untukku. Menjadi pasanganku untuk menghabiskan hidup.”
__ADS_1
Setitik air mata mulai terbentuk di ujung netra Floryn. Siapa yang bisa menahan haru pada moment seperti itu?
“Aku tau, kamu bisa mendapatkan calon suami yang jauh lebih mapan dan lebih dewasa dari pada diriku ….”
“Zoel ….”
“Tapi, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku ingin kamu menjadi pendampingku hingga maut memisahkan kita. Menjadi pelengkap di dalam hidupku yang jauh dari kata sempurna. Aku harap, kamulah tulang rusukku yang hilang, Florynku tersayang ….”
Tidak. Floryn tidak lagi bisa menahan haru yang tercipta malam itu. Air matanya terjatuh tanpa bisa ia cegah.
“Zoel … berdirilah. Aku mendengarkan,” pinta Floryn. Entah kenapa ia merasa malu, padahal tidak ada siapa-siapa di sana.
Zoel tersenyum seraya menghapus air mata Floryn yang mengalir di pipi. “Floryn, apakah kamu bersedia menikah denganku?” tanya Zoel pada akhirnya, masih dalam posisi yang sama.
Air mata yang terbentuk semakin menjadi. Floryn mengingat kembali semua hal yang telah terjadi padanya. Hal-hal yang membuatnya sakit hati dan hampir membuatnya enggan untuk bahagia. Namun, saat itu jugalah Zoel muncul. Mendampinginya dari jauh, menolongnya di saat ia butuh.
Floryn mengangguk seraya menghapus air matanya sendiri. “Iya … aku bersedia …,” lirihnya di sela isak tangis.
Zoel segera berdiri dan mengambil cincin yang ada di dalam kotak. Dengan lembut, ia menyisipkan benda melingkar itu di jari manis Floryn.
Seketika Floryn memeluk sosok itu, Zoel yang merasa senang karena lamarannya diterima, langsung mengecup bibir Floryn sekilas.
Plop! Plop!
Dua buah konfeti pecah memenuhi ruang café. Tentu saja hal itu membuat Floryn terkejut. Ia menghapus lagi air matanya yang susah sekali untuk berhenti. Ia berpaling dan melihat sudah ada Widuri, Jimmi, Raihan, Felix, Andin, Alvin, dan ibunya. Floryn bahkan tidak menyadarinya sama sekali jika sudah menjadi tontonan banyak orang.
“Kalian ada di sini? Bukankah tadi sudah pulang deluan?” tanya Floryn tidak percaya. Di sampingnya ada Zoel yang merangkul pingganganya tidak mau lepas. “Ibu … kenapa bisa ada di sini juga? Alvin tidak ngantuk, Nak?” Floryn mencoba mengalihkan pembicaraan agar hatinya berhenti berdebar-debar.
“Aku datang bersama ibu dan Alvin. Sorry, selama ini mereka ada di dapur dengan anak-anak yang lain. Sepertinya bakso yang tadi kita pesan sudah habis …,” terang Zoel kepada calon istrinya.
Floryn menyambut Alvin yang menghampirinya minta digendong. Namun, Zoel mengambil alih Alvin dan menggendong anak itu.
“Bunda lelah setelah seharian kerja, Alvin sama om saja, ya?” kata Zoel kepada calon anak sambungnya.
Alvin mengangguk dan langsung memeluk leher Zoel. Rupanya ia sudah sangat mengantuk dan tidak bisa menahan lagi.
“Sebaiknya kita semua pulang, ibu juga pasti sudah lelah. Kamu ada-ada saja, Zoel …,” lirih Floryn tidak percaya.
Zoel membawa Alvin mendekati Martha. “Maaf, Bu. Sudah merepotkan Ibu seperti ini,” bisik Zoel kepada wanita itu.
__ADS_1
“Asalkan anak ibu bahagia … ibu akan mendukung kalian, Nak ….”
Bersambung???