
Selamat Tahun Baru Semua! Semoga tahun 2022 menjadi tahun yang baik untuk kita semua.
Aamiin (*´˘`*)
***
Zoel berusaha fokus dengan jalan di depannya. Tidak lama lagi mereka akan kembali memasuki kota Jakarta. Di sampingnya ada Floryn yang tengah tertidur pulas. Mungkin wanita itu begitu lelah seharian ini.
Saat Zoel memperlambat laju mobilnya, Floryn bergerak. Wanita itu seperti sadar dengan keadaan yang terjadi di sekitarnya.
“Hhmm … apakah kita sudah sampai?” tanya Floryn penuh harap.
“Belum. Tapi aku perlu segelas kopi. Apa kamu juga mau?” tawar Zoel kepada Floryn. Saat ini mobil Zoel sudah benar-benar berhenti di depan sebuah supermarket dua puluh empat jam. Zoel akan membeli segelas kopi untuk membuatnya tetap sadar.
“Boleh …,” sahut Floryn seraya mengambil tissue dan menyeka wajahnya. Ia tidak ingin orang-orang menyadari jika ia baru saja bangun dari tidur.
Kedua orang itu turun dari mobil yang sudah parkir dengan benar. Lalu masuk ke dalam supermarket dan langsung pergi untuk mendapatkan kopi. Untungnya, jenis kopi arabika yang biasa Zoel minum tersedia di sana. Baristanya juga mau melayani permintaan Zoel terkait cara mengolah minuman tersebut.
Tidak lama mereka berada di tempat itu. Setelah mendapatkan kopi yang Zoel perlukan dan beberapa roti, keduanya kembali ke dalam mobil. Floryn menolak ajakan Zoel untuk mampir makan. Ia berpikir hal itu hanya akan membuang waktunya saja. Jika ia beruntung, ia masih bisa bertemu dengan Edward sesampainya di Jakarta.
“Maaf, ya. Kurasa roti ini cukup untuk mengisi perut …” kata Floryn. “Kamu tidak benar-benar lapar, kan?” Floryn memastikan.
“Sebenarnya ….”
“Aku tidak begitu lapar. Kalau kamu berpikir hanya untuk menjadi orang baik, sebaiknya tidak usah mampir-mampir lagi. Please …,” mohon Floryn. Ia khawatir jika Zoel hanya tidak enak padanya. Sumpah, ia baik-baik saja.
“Oke kalau begitu. Kita akan langsung saja,” ungkap Zoel pada akhirnya.
Zoel sedang tidak ingin berdebat. Terlepas jika wanita itu perlu makan atau tidak, Zoel yakin jika Floryn pasti punya alasan kuat, kenapa ia ingin cepat sampai di Jakarta.
***
Sudah setengah jam berlalu sejak mereka berhenti untuk mendapatkan kopi. Floryn menolak saat Zoel berniat mengantarkannya langsung ke tempat yang ia tuju. Ia lebih memilih Zoel mengantarnya ke rumah Martha sang ibu.
Saat Floryn turun dari dalam mobil Zoel dan ingin mengucapkan terima kasih, Floryn merasa jika laki-laki itu terlihat agak pucat. Akan tetapi, sebelum Floryn sempat bertanya, ponsel laki-laki itu berdering.
__ADS_1
“Maaf, Bu. Ini adik saya … mungkin ia khawatir karena saya belum pulang pada jam segini,” terang Zoel.
“Oh … kalau begitu, aku masuk saja. Maaf, aku juga tidak bisa menawarkan diri untuk menawarkanmu masuk. Ada hal lain yang harus kukerjakan saat ini juga,” kata Floryn. Di dalam hatinya, ia tidak sabar melihat mobil Zoel pergi dari sana. Ia benar-benar harus pergi ke rumah ayah mertuanya.
“Oh, oke. Kalau begitu, saya pamit, dulu …,” akhir Zoel.
Mobil laki-laki itu beranjak menjauh dari halaman rumah Martha. Meninggalkan Floryn yang langsung saja mengetuk pentu rumah ibunya.
Tidak lama kemudian, pintu rumah di depan Floryn terbuka. Ibunya muncul dengan syal putih yang ia kenakan. Floryn ingat sekali jika syal itu adalah pemberian Enrik pada malam tahun baru hampir setahun yang lalu.
“Nak …,” lirih ibunya saat melihat keadaan Floryn yang tidak baik-baik saja.
Tanpa menjawab ibunya, Floryn memeluk wanita itu. Ia kembali menangis tapi tidak untuk waktu yang lama.
“Bu … apakah Mas Enrik menghubungi ibu?” tanya Floryn ingin tahu.
“Ya … tapi pagi, tidak lama setelah kamu pergi. Tapi ibu bicara seperti katamu. Ibu bilang kamu ada di sini …,” terang Martha.
Floryn menghapus air matanya. Ia sedih karena harus membuat ibunya berbohong. Apalagi, tadinya ia berencana membuat Enrik terkejut, tapi laki-laki itu terlihat biasa saja. Enrik malah memamerkan kemesraannya dengan Ambar.
"Alvin sudah tidur ... masuk, Nak ...," ajak Martha.
Akan tetapi, Floryn sudah membulatkan tekadnya. Ia ingin semuanya selesai dengan segera. Jadi, Floryn meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke rumah Edward.
Sang ibu yang memang tidak tahu apa-apa, hanya bisa meminta anaknya untuk hati-hati. Ia begitu percaya dengan sang anak tunggal. Ia cukup yakin kalau Floryn tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh.
“Hati-hati …,” kata Martha seraya melambai pada Floryn yang sudah melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah sang ibu. Wanita itu kembali masuk dan mengunci pintu dengan benar.
Di dalam mobilnya, Floryn mengeluarkan sebuah make up kit yang selalu tersimpan di dashboard mobil. Make up kit yang akan digunakan dalam keadaan darurat. Walaupun ingin melaporkan kejahatan anaknya, Floryn tidak ingin terlihat berantakan di depan sang mertua dan istri mudanya. Hal itu akan sangat memalukan.
Floryn juga sudah memastikan jika ia membawa notebook miliknya di jok belakang. Ia tidak punya HP untuk saat ini. Untungnya, Naura sudah menyimpan semua file yang Floryn perlukan di dalam sebuah flashdisk drive.
Malam ini waktunya. Ia akan memperlihatkan semua yang telah Enrik lakukan dengan Ambar kepada Edward. Ia tidak peduli dengan rasa malu yang akan mencoreng mukanya sendiri. Apa pun alasannya, perselingkuhan adalah sesuatu yang salah. Mungkin Floryn tidak tahu apa alasan suaminya selingkuh, tapi ia tidak peduli.
***
__ADS_1
Setelah melewati sebuah perjalanan yang tidak cukup lama, mobil Floryn berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang sudah terlihat sepi. Rasa ragu muncul tiba-tiba. Bagaimana jiak orang-orang itu sudah tidur? Apakah ia akan menganggu mereka?
Namun, hati kecil Floryn menuntut wanita itu untuk mencoba terlebih dahulu. Apa pun hasilnya, bisa dilihat nanti.
Ting tong!
Suara bel terdengar lirih dari dalam rumah. Karena tidak ada jawaban, Floryn memutuskan untuk menekannya sekali lagi. Dan saat itulah ia mendengar seseorang memintanya menunggu dengan kesal.
Tidak lama kemudian, sosok Sintia muncul di hadapannya. Rupanya, Floryn kurang beruntung karena mertua tirinya lah yang membukakan pintu. Floryn hanya bisa berharap jika Sintia tidak mempersulitnya kali ini.
“Kamu? Apa yang kamu pikirkan? Bertamu pada jam … jam setengah sebelas malam?” tanya Sintia setelah ia berpaling dan melihat jam yang bediri indah di ujung ruangan.
“Maaf … tapi ada sesuatu yang harus kuperlihatkan kepada Pak Edward. Apa ayah mertuaku ada?” tanya Floryn memastikan.
“Ada. Tapi kami sudah bersiap untuk tidur. Kamu bisa bicara dengannya besok pagi!” sahut Sintia dengan ketus. Wanita itu sudah akan menutup pintu rumahnya, tapi dengan cepat Floryn menahan pintu di depannya dengan kaki. Alhasil, ia merasa kesakitan tapi tetap menahan itu semua. Sakit itu tidak sebanding sengan sakit hatinya atas perselingkuhan Enrik.
“Sebentar saja. Ayah mertaku juga belum tidur, kan?” tuntut Floryn.
“Ck! Kamu ini kenapa—"
“Siapa, Mah?” tanya sebuah suara yang begitu Floryn kenal. Pemiliknya adalah Edward Bimasakti yang merupakan ayah dari suaminya.
Laki-laki itu berdiri tegas di ujung tangga. Sepertinya tidak menyangka dengan kedatangan seorang tamu yang terlampau malam. Sedikit rasa penasaran mulai muncul.
“Huh … kamu mebuatku kesal!” tukas Sintia dengan suara berbisik. “Ini Floryn, Pah. Katanya ada hal penting yang ingin ia perlihatkan. Mamah sudah bilang untuk kembali lagi besok pagi, tapi—“
“Biarkan dia masuk, Mah. Aku akan turun,” kata Edward yang lagi-lagi memotong kata-kata sang istri.
Di depan pintu, Sintia memutar bola mata. Ia tidak percaya jika suaminya mau saja menemui sang menantu padahal sudah begitu larut.
“Masuklah dan jangan berharap aku menawarkan minum. Pembantu kami tidak ada dan kamu terlihat tidak sedang haus,” ungkap Sintia yang begitu ketus dan memuakkan.
Di situ Floryn paham jika Sintia mungkin hanya kelelahan. Ia tersenyum dan duduk dengan baik. Sebelum Edward datang, Floryn menghidupkan notebook-nya dan memastikan jika apa yang ingin ia perlihatkan sudah siap di sana.
“Semuanya akan selesai malam ini … setelah itu aku tidak akan menganggu kalian lagi ….” Floryn hanya bisa membatin.
__ADS_1
Bersambung.