Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Wanita Berhanduk


__ADS_3

Hai, Gaes! Sebisa mungkin author akan up rutin setiap hari. Kalau gak ketahan, InsyaAllah akan selalu landing dengan sempurna.


Semoga kalian terhibur dan makin rajin mampir ke sini.


Dan juga, jangan lupa Like dan Komentar di kolom komentar, ya. Bagi hadiah dan vote seiklasnya untuk judul ini. Bantu share di FB, supaya lebih banyak yang kesel sama kelakuan Enrik dan Ambar.


Sekali lagi, selamat membaca :'D


***


Sintia masuk ke ruang kerja Floryn dengan terburu. Dia tidak peduli dengan keamanan yang melarangnya untuk masuk ke dalam ruangan, sebelum mendapat izin dari Floryn terlebih dahulu.


"Kamu orang baru? Kamu tidak tahu siapa saya? Saya Sintia! Istri dari pemilik perusahaan ini! Kamu mau saya pecat?" tantang Sintia yang tidak peduli pada beberapa orang karyawan, yang sudah berkumpul untuk melihati mereka.


Sintia ada di sana untuk mencari Floryn. Rencananya ia ingin bicara dengan wanita itu, tapi perlakuan petugas keamanan saja sudah membuatnya kesal.


Floryn yang menyadari ada keributan di divisinya, memilih untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Tepat saat Floryn keluar dari ruangan, ia melihat wanita itu buru-buru melangkah ke arahnya dengan kemarahan yang sangat terlihat jelas.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Floryn, bahkan sebelum ia membuka mulutnya untuk bertanya.


"Ka-kamu?!" protes Floryn seraya memegangi pipinya yang perih.


"Sstth! Diam kamu! Mulai sekarang, berhenti mengirimkan video-video tentang suamimu dan kegilaannya! Urus masalah kalian sendiri dan jangan bawa-bawa kami lagi! Kamu tahu, videomu itu hampir saja membuatku menjadi janda!" tukas Sintia dengan tangan yang terus menunjuk di depan wajah Floryn.


Floryn yang tadinya ingin marah, malah terdiam mendengar penjelasan itu.


Sementara Floryn terdiam, Sintia memilih untuk pergi dari sana. Ia menepis tangan petugas keamanan yang masih mempersilahkannya untuk keluar.


"Bu, apa Anda tidak apa-apa?" tanya Widuri yang melihat semua kejadiannya dengan jelas.


Floryn kembali tersadar dan menoleh ke arah Widuri sekilas. "Ya, saya tidak apa-apa." Floryn memilih untuk kembali masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Ia duduk kembali di belakang meja kerjanya dan termenung memikirkan perkataan Sintia barusan.


"Apa yang terjadi dengan ayah, ya?" tanya Floryn kepada dirinya sendiri.


Tanpa berpikir panjang, Floryn mengeluarkan HP-nya dan berniat untuk menghubungi Enrik.

__ADS_1


Untungnya ia cepat sadar dan mengurungkan niatan itu. Bagaimana bisa ia berniat untuk menghubungi Enrik, karena mungkin merekalah penyebab Edward hampir meninggal.


Detik berikutnya, Floryn memegangi pipi yang sejak tadi terasa berdenyut. Ia kembali merogoh isi tasnya dan mengambil sebuah cermin kecil yang ada di sana.


Seperti apa yang ia duga, pipinya memerah dan sedikit bengkak. Rupanya Sintia tidak menahan diri saat menamparnya tadi. Wanita itu benar-benar sedang marah kepadanya.


"Semoga ayah tidak apa-apa. Bukan salahnya karena telah memiliki anak yang super kurang ajar seperti Enrik ...," gumam Floryn.


Floryn memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya hari ini. Ada sebuah laporan yang harus ia selesaikan. Dia juga harus mengisi beberapa berkas yang diminta oleh bank sebelum jam dua siang ini.


Entah kenapa, pekerjaannya untuk beberapa hari kedepan sudah sangat padat. Akan tetapi, Floryn tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena dengan begitu ia bisa melupakan masalah yang juga meliputinya beberapa minggu belakangan.


***


Sementara itu, di perusahaan yang sama dengan tempat Floryn berada, ada Enrik yang sedang sibuk dengan urusannya sendiri.


Bukan sibuk dengan pekerjaannya yang mulai menumpuk, tapi sibuk dengan panggilan teleponnya kepada seseorang di rumah. Siapa lagi kalau bukan Ambar, si selingkuhan.


"Apa kamu yakin? Bisa saja dia melaporkanmu ke polisi ...," ingat Enrik yang masih belum siap jika ditinggal selingkuhannya untuk saat ini.


"Tenang saja, Tuan ... saya punya teman yang bisa membantu saya dalam hal ini. Tuan jangan khawatir ...," terang Ambar yang merasa senang karena diperhatikan oleh Enrik.


"Iya, Tuan ...." Ambar meyakinkan lagi.


"Kalau begitu, mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja di rumah. Biarkan saja Mira yang melakukan semuanya. Kamu jangan capek, kerjamu khusus untuk melayani ku, oke?" tawar Enrik yang tentu saja tidak mungkin ditolak oleh Ambar.


"Benarkah, Tuan? Apakah boleh?" Ambar tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia tidak mengira jika usahanya selama ini akan berbuah manis pada akhirnya.


"Tentu saja. Aku tidak akan berbohong kepadamu," terang Enrik.


Panggilan itu berakhir. Enrik meletakkan HP-nya begitu saja di atas meja kerja. Ia menyandarkan tubuh dengan nyaman. Sekarang, ia hanya harus menunggu, kabar buruk apa yang akan ia dengar dalam waktu dekat ini. Begitu menyenangkan, saat ada yang mau melakukan banyak hal untukmu.


Sementara Enrik bersantai, Ambar bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian.


Saat keluar dari kamar ia berselisih jalan dengan Mira. Wanita itu bingung saat melihat Ambar tidak lagi memakai baju kerjanya.


"Ish, mau ke mana kamu?" tanya Mira tanpa bisa ditahan.

__ADS_1


"Aku ada urusan di luar. Selamat masak dan bersih-bersih rumah ...," katanya seraya berlenggang meninggalkan Mira yang masih kebingungan.


"Pasti karena Tuan Enrik ... sudah kuduga, semua ini pasti kejadian juga ...," gumamnya kesal.


Mira memilih untuk kembali ke dalam pekerjaannya. Ia tidak bisa menyalahkan Ambar, karena majikan mereka tergoda dengan barang baru.


Semua itu merupakan kesalahan sang majikan laki-laki, yang tidak bisa menahan keinginan bercinta saat istrinya tidak ada di rumah. Mungkin karena hal itu jugalah, seorang wanita lebih baik fokus dengan keluargamya ketika telah menikah. Menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, seperti tergodanya suami dengan wanita lain.


***


Ambar turun dari angkot dan memilih untuk jalan kaki, karena harus melewati gang sempit yang hanya cukup dilewati oleh sebuah sepeda motor.


Ia berniat mendatangi seorang laki-laki yang pernah membantunya melakukan sesuatu, saat ia belum bekerja dengan Enrik dan Floryn dulu.


Setibanya di sebuah rumah kontrakan berukuran 4 x 5 meter, Ambar mengetuk pintunya agak keras. Ia tidak punya waktu seharian dan mulai merasa gerah berada di tempat itu.


Pintu terbuka, tapi bukan pintu rumah yang ia ketuk, melainkan pintu rumah di sebelahnya. Maklum, rumah kontrakan tiga pintu itu begitu kecil, hingga penghuni lain bisa merasa jika ketukan itu ada di pintu rumah mereka.


"Cari siapa?" tanya seorang wanita yang hanya menutupi tubuhnya dengan sebuh lilitan handuk pendek.


Ambar merasa kikuk dengan penampilan orang tersebut. Akan tetapi, ia mencoba untuk cuek dan fokus dengan tujuan awalnya.


"Aku mencari Tomas. Apa dia ada di rumah?" tanya Ambar menunjuk pintu rumah kontrakan di depannya.


"Oh, ada," sahut wanita itu yang kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya.


Ambar hanya geleng-geleng kepala. Tidak mengira jika ada orang yang urat malunya hampir tidak berfungsi sama sekali seperti itu.


Tok tok tok!


Ambar kembali mengetuk pintu rumah di hadapannya agar Tomas segera keluar.


"Iya ... iya! Sabar, lah ...," sahut Tomas yang muncul dari balik pintu rumah wanita tadi.


Tentu saja hal itu membuat Ambar terkejut setengah mati. Apakah ia tidak salah lihat? Tomas baru saja keluar dari rumah wanita yang hanya menggunakan handuk saat keluar rumah?


"Ambar? Kamu datang mencariku? Kamu kangen, ya?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2