Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Memutar Omongan


__ADS_3

“Kamu sudah selingkuh dari aku, Mas!” tukas Floryn dengan penekanan pada kata ‘selingkuh’.


Mereka harus berterima kasih pada arsitek bangunan itu, karena telah membuat sebuah ruang meeting yang kedap suara. Tidak akan ada yang menyadari apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu. Mereka bebas meneriakkan apa saja, seperti yang tengah Floryn lakukan saat ini. Akan tetapi, mereka tetap terpantau CCTV. Dan Edward bisa menyuruh pengawas CCTV untuk langsung menghapus rekamannya setelah mereka selesai.


Sementara itu, Edward masih tidak merespon perkataan Floryn. Ia masih ingin melihat apa yang akan Enrik katakan sebagai pembelaan.


“Selingkuh? Apa aku tidak boleh melakukan dinas di luar kota? Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama, Flo? Kenapa kamu harus securiga itu padaku? Aku kerja untuk kita. Untuk kamu dan Alvin!” tegas Enrik yang masih sedang memutar otak agar ayahnya tidak percaya begitu saja.


Enrik paham betul dengan setiap pesan yang telah dikirimkan Sintia beberapa saat lalu. Artinya sang ayah telah melihat semua bukti perselingkuhannya dengan Ambar. Akan tetapi, Enrik merasa jika ayahnya mungkin mendengarkan kata Sintia. Mereka ingin tahu semua cerita versi lengkapnya dari dua arah. Tidak hanya cerita yang diberikan Floryn, tapi cerita Enrik juga. Ia tahu kalau ia punya celah itu untuk dimanfaatkan.


“Ya … karena aku dinas di luar kota dengan salah satu staff-ku. Dan aku tidak selingkuh dengan siapa-siapa!” Floryn mulai tidak bisa duduk tenang. Bahkan ia hampir berdiri dari kursinya saat mengatakan hal tersebut.


“Apa ada yang bisa mengkonfirmasinya? Sayang … kamu berdua dengan staff-mu, tapi kalian tidak tidur di kamar yang sama, kan? Lalu, siapa yang mengetahuinya?” tanya Enrik lagi.


Floryn tersenyum di tempatnya. “Jadi, Mas Enrik mengira aku sudah selingkuh? Wow! Hebat sekali kamu, Mas. Memutar omongan seperti ini … apa kamu punya bukti?” tanya Floryn dengan nada suara datar. “Kalau kamu mengatakannya hanya berdasar tuduhan tak jelas, kamu hanya membuat dirimu malu.”


Enrik mulai terlihat tidak tenang dan berkeringat. Padahal ruangan itu full AC dan tidak ada pintu yang terbuka. Floryn tahu jika suaminya sudah tidak punya apa-apa untuk melawan. Ia juga tidak bisa berbohong lagi.


“Kamu pasti sudah gila karena menuduh suami sendiri selingkuh, Flo.” Enrik menatap lurus ke arah Floryn yang juga tidak berkedip.


“Gila? Aku gila, Mas? Bukannya kamu yang gila, ya? Tidur dengan pembantu di rumah kita sendiri. Padahal aku ada di rumah loh, saat itu!” sahut Floryn yang tidak ingin terlihat lemah.


Edward terlihat melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ya, kamu gila. Aku ini suamimu, Flo! Kenapa begini, sih?" Enrik masih saja menghindar.

__ADS_1


"You are a fucking liar!" umpat Floryn pada akhirnya.


"Hei! Jaga bicaramu, Nyonya!" tukas Enrik yang sudah berdiri dari bangkunya sambil menunjuk Floryn.


Floryn tersenyum sinis. Ia merogoh saku balzer-nya dan mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam sana. Ia mengangkat benda itu sebentar, lalu memberikannya kepada Edward. Di depan laki-laki itu masih ada sebuah laptop yang menyala, mungkin Edward tahu kalau Floryn mungkin ingin memperlihtakan rekaman yang tadi malam ia perlihatkan di rumahnya.


"Itu. Itu adalah bukti perselingkuhan yang kamu coba hancurkan, Mas. Sayangnya benda itu masih ada dan kamu tidak mungkin berbohong lagi." Floryn mengatakannya tanpa melihat ke arah Enrik. Ia mulai muak dengan orang itu. Entah mengapa semua cinta yang pernah ia miliki untuk Enrik, langsung memudar setelah ia mengatakan semuanya di depan Edward.


Edward menerima flashdisk itu dan langsung menyolokkannya ke port USB pada laptop perusahaan yang ada di atas meja.


Ternyata, hanya ada satu file di dalamnya. Tanpa bertanya lagi, Edward langsung membuka file itu dan membesarkan gambarnya.


Edward mendengkus kasar. Floryn terlihat tersenyum sinis dengan tatapan yang menusuk Enrik.


Enrik beranjak dari kursinya untuk melihat rekaman yang dimaksud. Seharusnya ia sudah tahu isi rekaman tersebut, karena ia pada saat itu Floryn masuk dan memergokinya dan Ambar sedang bercinta.


"Apa ayah percaya dengan rekaman amatir seperti ini? Ini sama sekali tidak benar!" elaknya lagi. "Bisa saja Floryn membayar orang untuk mengubah wajah laki-laki yang ada di video itu! Bisa saja, kan? Zaman semakin maju, tidak ada yang tidak mungkin!" Enrik semakin marah.


Enrik berani berkata demikian karena salah satu rekannya, pernah mengolok-oloknya dengan sebuah cuplikan film horor dengan wajahnya ada di sana. Enrik tahu hal seperti itu bisa dilakukan. Dan ia sedang mencoba meyakinkan sang ayah.


"Kalau kamu memang ingin berpisah dariku, tidak perlu merusak nama baikku seperti ini, Flo! Secara tidak sadar, kamu merusak reputasi ayahku!" tukas Enrik frustasi. Play as a victim memang sangat berguna. Dengan sedikit air mata, mungkin saja Edward bisa percaya dengan kata-kata Enrik pada akhirnya.


Floryn menahan tawa. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan semua yang Enrik katakan.


"F*ck you ...," lirihnya pelan.

__ADS_1


Edward melirik ke arah Floryn. "Floryn, jaga ucapanmu. Ada ayah di sini," katanya mengingatkan.


Floryn menoleh dan melihat ayah mertuanya dengan tidak percaya. "Jadi, ayah percaya dengan kata-kata Mas Enrik daripada kata-kataku? Apa karena dia anak Ayah dan aku hanya menantu?" tanya Floryn sedih.


"Flo ...."


"Oke, Fine! Ayah masih mau bukti lain? Oke. Floryn akan bawakan semua bukti yang ayah mau!" Floryn mencabut flashdisk itu dengan kasar dari tempatnya.


Dengan langkah berat, Floryn pergi dari sana. Ia tidak percaya jika ternyata video itu saja tidak cukup membuat Edward percaya dengan semua yang ia katakan.


"Flo, aku tidak selingkuh ...," kata Enrik lagi saat Floryn sudah ingin membuka pintu ruang meeting itu dan pergi. Ia mengatakannya dengan lemah.


Langkah kaki Floryn terhenti dan ia berbalik menghadap keduanya. Floryn memberikan sebuah senyuman yang manis.


"Aku punya mataku sendiri, Mas. Dan karena aku tidak bodoh, aku pergi dari rumah membawa Alvin. Kami akan pindah dari sana sampai masalah kita selesai. Setidaknya sampai pengacaraku berhasil mendapatkan hakku dan Alvin. Mungkin rumah itu dan beberapa properti lainnya. Ingat, aku tidak akan membiarkan Mas Enrik dan Ambar bahagia. Tidak setelah semua ini ...," jelas Floryn sejelas-jelasnya.


Floryn keluar dari ruangan itu dan langsung naik ke lantai tiga di mana kantornya berada. Ia berencana untuk pulang, tapi sepertinya ada satu hal yang ingin ia lakukan terlebih dahulu. Ia ingin memastikan keadaan Zoel. Apakah sakitnya separah itu, hingga Widuri tidak masuk kerja hari ini.


"Gana, tolong catatkan nomor ponsel Widuri," kata Floryn saat ia sudah tiba di depan meja salah satu staff-nya.


"Oh, oke. Tunggu sebentar, Bu." Gana mulai menulis dan memberikan selembar post it kepada atasannya. "Ini, Bu."


"Terima kasih." Floryn memasukkan post itu itu ke dalam tas tangannya. "Saya pulang dulu. Kalau ada yang mencari, bilang saja saya pulang lebih awal. Saya merasa kurang enak badan. Kalau Pak Edward atau Pak Enrik yang mencari, bilang saja tidak tahu. Oke?"


Gana tidak boleh mengecewakan atasannya pada saat sekarang ini. Penilaian Floryn untuk kinerjanya sangat penting.

__ADS_1


"Baik, Bu. Saya mengingatnya!"


Bersambung.


__ADS_2