
Hai kalian yang masih setia di sini, author mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian. Tanpa kalian, apalah arti tulisan ini :')
Love kalian sekebon pisang ( *3*)
***
Tidak bisa bergerak. Itulah hal pertama yang Zoel rasakan. Sepertinya ia baru saja terbangun dari pingsan. Ya, tentu saja ia pingsan. Buktinya, Zoel tidak ingat dengan apa yang terjadi padanya. Lalu, di mana dia sekarang?
Zoel kembali mencoba untuk menggerakkan tangannya. Namun hal itu percuma. Sepertinya kedua tangan Zoel terikat ke belakang. Mau melihat pun tidak bisa. Rupanya ada orang yang menutupi kepalanya dengan sebuah kain hitam.
Rasa panik mulai muncul dan memaksa Zoel untuk berontak. “Lepaskan aku!” teriak Zoel.
Zoel kembali mengingat apa yang terjadi padanya sebelum sampai ke tempat itu. Ternyata, ia kalah saat berkelahi dengan seorang laki-laki yang mencoba untuk membiusnya.
Tunggu, apakah ia kalah begitu saja? Akan tetapi, ingatan Zoel yang perlahan semakin jelas, mengingatkan lagi padanya kalau saat perkelahian tadi, tiba-tiba saja ia merasa ada sebuah sengatan listrik yang membuatnya kaku tidak bisa bergerak.
Zoel baru ingat jika ada orang lain di sana. Seorang wanita dengan stun gun di tangan. Wanita itu tersenyum sebelum menyetrum pinggangnya dengan alat berbahaya itu.
“Sttthh ….” Terdengar sebuah suara dari arah belakang. Zoel berusaha untuk duduk, tapi juga tidak bisa.
Ia mencoba untuk berpikir secara rasional. Apa mau orang itu menculiknya? Ia bukan orang kaya raya yang bisa memberikan uang tebusan hingga milyaran rupiah. Lalu … apakah mereka sebuah sindikat penjualan organ tubuh? Kalau begitu mereka salah orang. Masih ada jalan halal untuk mendapatkan organ tubuh yang dijamin kesehatannya.
“Oke …,” lirih Zoel. “Apa yang kalian inginkan?” tanya Zoel dengan suara yang sudah jauh lebih tenang. Ia tidak ingin membuang-buang tenaganya untuk sesuatu yang belum jelas.
“Kami tidak ingin apa-apa. Hanya ingin bersenang-senang sekalian menyampaikan salam dari seseorang untukmu,” terang sebuah suara milik wanita.
“Seseorang?” tanya Zoel penasaran. Apakah ada orang yang ingin mencelakainya? Membunuhnya?
Di balik kain yang menutupi wajahnya, Zoel mulai tersenyum. Sepertinya ia tahu siapa orang yang telah menculiknya. Pasti semua itu ada hubungannya dengan Floryn. Ternyata, wanita itu memang sangat mahal. Begitu berharga hingga nyawa Zoel menjadi taruhannya.
“Kalian suruhan laki-laki pengecut itu, ya? Siapa namanya … Enrik?” tanya Zoel menebak. Ia tahu kalau orang-orang itu tidak akan membunuhnya. Jika hal itu sampai terjadi, polisi bisa langsung tahu siapa dalang dari semua ini.
“Kamu tidak punya hak untuk berdiskusi dengan kami,” kata suara lainnya yang merupakan suara laki-laki.
__ADS_1
“Padahal Enrik itu sedang di dalam pengawasan polisi. Akan tetapi, kalian mau saja bekerja untuknya. Bukankah itu terlalu beresiko?” tanya Zoel yang sedang mencoba untuk mempermaikan psikis para penjahat. Mana tahu saja usahanya berhasil dan mereka melepaskan Zoel tanpa syarat.
Sementara itu, kedua penjahat yang tadi masih senyum-senyum, kini hanya bisa saling pandang dan terdiam.
“Apa kamu tahu kalau dia sedang diawasi polisi?” tanya penculik wanita dengan suara berbisik. Begitu pelan sampai Zoel tidak bisa mendengarnya.
Si penculik laki-laki menggeleng. “Mana aku tahu. Ini klien pertama setelah kita lama menghilang. Aku bahkan lupa caranya mengetahui ciri uang asli atau palsu jika menemukan keduanya!” sergah penjahat itu.
Zoel yang tidak bisa mendengar apa-apa, menebak jika mungkin kedua orang itu sedang memperdebatkan sesuatu. Satu hal yang sangat baik. Dengan begitu, ia bisa mengulur waktu, untuk apa saja yang akan terjadi.
“Sttth ... Sudahlah! Kita bicarakan itu nanti. Bagaimana kalau lekas saja kita selesaikan perintah orang itu? Setelah cukup parah, kita pergi. Aku yakin kalau ia akan kapok dan tidak mau berurusan dengan klien kita lagi …,” bisik si penculik wanita.
Rekannya mengangguk tanda setuju.
Detik berikutnya, pukulan demi pukulan mengenai tubuh Zoel. Laki-laki itu hanya bisa meringkuk karena kaki dan tangannya yang terikat. Sakit.
Bugh! Bugh! Bugh!
Si penculik tahu kalau mereka tidak boleh memukul bagian kepala dan alat reproduksi, karena mungkin saja bisa langsung membunuh Zoel. Perintah yang diberikan adalah untuk meneror orang itu, jadi tidak ada nyawa yang harus melayang.
Punggung dan perutnya terasa begitu sakit luar biasa. Dari apa yang ia rasakan, hanya satu orang saja yang sibuk memukulinya sejak tadi. Ia harus bersyukur karena hal tersebut, tapi tetap saja semua itu akan meninggalkan bekas luka yang tidak sedikit dan memerlukan waktu lama untuk pulih.
***
“Oke.” Laki-laki itu menutup pintu mobil yang kembali melaju meninggalkan jalan sepi di belakangnya.
Sementara itu, sesosok manusia dengan tubuh yang dipenuhi lebam bekas pukulan, tergeletak tidak sadarkan diri.
Untuk beberapa saat lamanya, tidak ada yang lewat dan menyadari hal tersebut. Rupanya, kedua penculik tadi sengaja meninggalkan tubuh Zoel di jalanan sepi yang jarang dilewati kendaraan umum.
Sampai akhirnya ….
“MAYAAAAAT!!” pekik seorang ibu-ibu yang kebetulan melewati jalanan itu dengan sepedanya.
__ADS_1
Ibu-ibu itu berhenti dan mengamati sosok yang tidak bergerak sedikitpun. Karena takut, ia memilih untuk kembali mengayuh sepedanya dan pergi dari sana.
Setelah beberapa saat, ada pengandara motor dan polisi patroli datang menghampiri tempat tersebut.
Semuanya kaget karena ternyata apa yang ibu-ibu tadi katakan benar adanya.
“Jangan terlalu dekat …,” kata polisi yang sudah turun dari motornya. Polisi itu langsung menghubungi pusat untuk memberikan informasi tersebut. Informasi yang tadinya dikira bohongan saja.
Saat polisi itu mencoba mendekat dan membuka penutup kepala korban, tubuh Zoel bergerak. Tentu saja hal itu membuat mereka semua terkejut. Ternyata, sosok yang dikira mayat, masih bergerak dan hidup.
Mengetahui hal tersebut, seorang polisi dan rekannya langsung saja menolong Zoel dengan membuka penutup wajah berupa kain hitam. Mereka kahwatir jika mungkin jalan napas Zoel terhalang. Namun, untungnya hal itu tidak sampai terjadi.
Berikutnya, polisi-polisi itu membuka lakban yang menutupi mulut Zoel. Kemudian, mereka mengangkat Zoel untuk berbaring di tempat yang jauh lebih baik dan rata permukaannya.
“Tolong air mineral!” pinta salah satu polisi yang sedang mencoba membuat Zoel tetap sadar.
Tidak lama kemudian, seseorang memberikan botol air mineral yang masih disegel kepada polisi tersebut. Polisi itu langsung saja membuka penutupnya dan menyodorkan botol tersebut ke arah Zoel. Laki-laki itu membuka mulutnya dengan begitu susah payah.
“Segera panggilkan ambulance. Orang ini bisa saja cidera parah!” perintah salah satu polisi kepada siapa saja yang ada di sana.
Salah satu orang yang kebetulan sedang memegang HP langsung saja menghubungi rumah sakit. Mereka semua berharap jika sosok Zoel bisa bertahan dan menceritakan semua kejadian pada akihrnya nanti.
***
Beberapa menit setelah Zoel mendapat penanganan, kini giliran polisi-polisi itu yang bertugas untuk mendapatkan informasi dari Zoel.
“Selamat sore, Pak! Kami senang Anda baik-baik saja,” katanya dengan tegas.
“Saya yang berterima kasih, Pak. Saya bersyukur kalian mau datang dan menolong saya,” sahut Zoel dengan suara lemah.
“Baiklah … tadinya, kami bermaksud untuk menghubungi adik Anda. Namun ternyata, nomor itu berada di luar jangkauan. Kira-kira, siapa yang bisa kami hubungi selain dia?” tanya polisi itu sebelum mulai menanyakan hal inti.
Zoel menggeleng. “Tidak ada, Pak. Saya akan baik-baik saja setelah keluar dari rumah sakit nanti. Sebaiknya … bapak tanyakan hal lain saja. Saya harap kita bisa menangkap pelakunya secepat mungkin ….”
__ADS_1
Bersambung.