Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Jatuh Pingsan


__ADS_3

Floryn kembali lagi! Jangan lupa sentuh tombol like hingga menjadi biru, sebelum mulai membaca.


Terima kasih ( °3°)


***


Seorang laki-laki terlihat sedang gelisah di sebuah warung kopi pinggir jalan. Berkali-kali ia melihat layar ponsel yang diletakkan saja di atas meja.


Di sampingnya ada secangkir kopi hitam, yang sebenarnya tidak pernah dia minum. Namun, hari ini ia memesannya dan sudah minum hingga tersisa setengah.


Laki-laki itu terus saja gelisah sampai akhirnya, dering pada ponsel membuatnya kembali bersemangat.


"Ya, hallo?"


"Kami ada di mobil hitam yang baru saja berhenti. Masuklah, kita bicara di sini," kata suara dari seberang panggilan.


"Oke. Aku segera ke sana."


Panggilan itu diakhiri. Laki-laki penikmat kopi segera menyeruput habis kopi hitamnya dan meninggalkan selembar uang dua puluh ribu di samping cangkir. Tanpa berkata-kata, ia pergi meninggalkan warung itu.


Ternyata benar, di luar sudah ada sebuah mobil hitam yang parkir tepat di belakang mobilnya. Sebelum ini, si penikmat kopi yakin sekali kalau tidak ada mobil hitam yang parkir di sana.


Pintu mobil itu terbuka. Lalu, seorang laki-laki bermasker muncul dari dalamnya. Laki-laki itu memberikan isyarat agar si penikmat kopi menghampiri.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


"Kemana kita? Mobilku ada di sana ...," terang si penikmat kopi yang mulai menaruh curiga.


"Santai, Mas. Kita hanya akan ngobrol sambil jalan," sahut pengemudi mobil yang ternyata seorang perempuan. Ia mengenakan masker yang sama dengan si laki-laki.


Si penikmat kopi mengangguk.


"Oke, tell me. Apa yang Anda inginkan dengan laki-laki di foto ini? Anda ingin kami membunuhnya?" tanya orang misterius di dalam mobil hitam.


Si penikmat kopi menggelengkan kepalanya dengan serius. "Jangan! Aku ingin kalian meneror dia. Kalau bisa, sampai ia berpikir untuk pergi dari kota ini. Buat dia malu, buat dia sakit, atau apa apa saja. Yang aku inginkan, istriku terluka karena orang ini pergi!" jelas si penikmat kopi dengan semangat berapi-api.


Laki-laki misterius di dalam mobil hitam tersenyum. Ternyata kliennya kali ini lumayan smart dan berhati-hati.


Padahal, tinggal dibunuh saja urusan akan selesai. Istri yang berselingkuh pasti akan langsung menyesal.

__ADS_1


"Baiklah ... permintaan Anda lumayan banyak. Apakah sesuai dengan harga yang bisa Anda bayarkan?" tanya si laki-laki misterius.


Si penikmat kopi mengangguk. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kantung hitam yang terikat simpul.


Dari dalamnya, si penikmat kopi mengeluarkan sebuah kalung berlian. "Ini sebagai uang muka. Harga benda ini tujuh puluh juta saat pertama kali dibeli. Aku cukup yakin kalau harganya sudah naik saat ini. Sisanya akan kuberikan jika laki-laki di foto itu tidak pernah kembali lagi dan memperlihatkan diri di depan istriku." Si penikmat kopi memberikan kalung itu kepada laki-laki misterius.


Wanita yang mengemudikan mobil langsung menepikan mobilnya. Ia berbalik dan menerima kalung yang diberikan si laki-laki misterius.


Nampaknya, wanita yang mengemudikan mobil mengetahui lebih banyak hal tentang perhiasan. Dengan sangat teliti, ia memperhatikan setiap detail yang ada pada kalung itu. Beberapa saat kemudian, wanita itu mengangguk dan mengembalikan kalung tadi kepada laki-laki misterius.


"Oke. Bos sudah memberi keputusan. Kami akan melakukan apa yang Anda minta. Kalau begitu, silakan turun karena kita memang harus berpisah," terang si laki-laki misterius kepada si penikmat kopi.


Si penikmat kopi melihat keadaan di luar. Ternyata mereka sudah kembali lagi di depan warung kopi.


"Bagaimana aku tahu kalau semua telah beres?"


"Kamu akan paham saat istrimu kembali. Saat itu, kami akan datang untuk menagih sisa bayaran kami. Tapi ingat, kami ingin sisanya dalam bentuk uang cash. Agak sulit menjual benda ini. Anda paham, kan?" tanya si laki-laki misterius sebelum kliennya benar-benar turun


"Ya. Aku paham."


Keduanya berjabat tangan dan berpisah. Si penikmat kopi mengawasi kepergian mobil hitam. Kemudian, ia sendiri masuk ke dalam mobilnya yang terparkir. Mobil itu pergi dari sana. Perjalanan pulang akan sangat jauh, tapi ia tidak peduli.


***


"Jadi, bos besar ingin data lengkapnya di meja beliau besok pagi. Apa kita belum menemukan sumber kesalahannya?" tanya Floryn kepada staff keuangan yang terdiri dari tiga orang. Sebagai staff inti, harusnya mereka memiliki semua data uang yang keluar dan masuk. Jika semua data disatukan, harusnya keganjilan itu langsung terlihat.


Widuri mengangkat tangan. Ia ingin mengatakan sesuatu.


"Ya?" Floryn mempersilakan.


"Kami akan membuka file tahunan, Bu. Saya harap, sebelum sore ini kita sudah bisa menemukan kesalahan itu," terang Widuri.


Hal itu disetujui oleh dua staff yang lain.


"Baiklah. Lakukan apa yang kalian pikirkan mungkin berhasil. Saya juga akan membuka lagi rekap data yang kalian kirimkan tiap bulan. Berikan saya informasi apa pun!" tegas Floryn. "Bubar."


Rapat itu berakhir. Floryn duduk di kursinya sembari memijat kepala yang mulai sakit kembali.


Dengan langkah gontai, Floryn mencari sesuatu yang bisa diminum untuk meringankan sakit kepalanya. Ia mendekati kotak obat yang terpasang di dekat pintu ruangannya.

__ADS_1


Akan tetapi, kepala Floryn sudah tidak lagi bisa menahan. Rasanya semakin berat dan Floryn terjatuh setelah sempat berpegangan pada tirai vertical blind ruang kerjanya. Tirai itu ikut jatuh tertarik. Membuat siapa saja yang ada di luar bisa melihat jelas, apa yang terjadi dengan Floryn di dalam.


"Bu Floryn!" Panggilan Widuri barusan, membuat karyawan yang lain ikut panik.


Salah satunya, sudah akan menghubungi Enrik. Namun, Widuri yang menyadarinya, langsung menghentikan usaha itu.


"Jangan! Ibu Floryn sedang dalam tahap perceraian dengan Pak Enrik. Orang pertama yang ingin ia beri tahu pasti bukan dia," bisik Widuri kepada rekan kerjanya.


"Lalu hubungi siapa?"


Mereka terdiam. Tidak tahu harus memberi tahu siapa.


Namun mereka tetap masuk ke dalam ruangan Floryn dan menolong bos mereka yang masih tidak sadarkan diri. Mengangkatnya ke sofa dan melepaskan sepatu Floryn. Membuka satu kancing teratas kemeja Floryn agar jalan napasnya semakin baik.


"Ibu Floryn memang terlihat pucat, ternyata beliau memang sakit," lirih Widuri.


Ia ingin sekali mengabari abangnya. Namun, Widuri khawatir kalau hal itu malah menimbulkan gosip tidak enak.


Jadi, mereka memutuskan untuk menghubungi seorang dokter, yang kebetulan masih kerabat dari salah satu staff Floryn.


***


"Bos kalian tidak apa-apa. Hanya kelelahan dan banyak pikiran," ungkap Dokter Rima kepada Widuri dan temannya yang lain.


"Lalu ... kapan ia akan sadar?" tanya Widuri khawatir. Mereka tidak ingin menimbulkan kegaduhan divisi lain.


"Berikan saja wangi-wangian menyengat. Minyak angin atau aroma terapi. Dia akan sadar," jelas Dokter Rima.


"Eemm ... apakah dia sakit?" Widuri memastikan lagi.


Dokter Rima menggelengian kepala. Ia lalu mendekati Widuri dan membisikkan sesuatu padanya.


"Bosmu ini hamil. Sebaiknya lekas hubungi si suami ...."


Bersambung.


***


Oke, jadi ... gimana ini, readers-ku tersayang? Apa Floryn rujuk aja, sama Enrik? :')

__ADS_1


__ADS_2