
Happy Reading ヾ(❀╹◡╹)ノ゙
***
“Cepat siapkan oksigen bertekanan tinggi! Wanita ini memerlukannya!” seru salah satu paramedic yang terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.
Beberapa detik yang lalu, ia sangat yakin kalau wanita itu sudah tidak bernapas lagi.
Mendengar perintah itu, dua orang yang tadi hanya bisa tertegun, langsung melakukan apa yang diperintahkan. Selang beberapa saat, mereka mengangkat tubuh Floryn yang terlihat masih lemah untuk naik ke ambulance. Dengan segera, Floryn mendapatkan pertolongan dari para petugas paramedic.
***
Beberapa hari kemudian ....
Floryn berusaha menggerakkan tangan, tapi sesuatu membuatnya harus berhenti mencoba.
“Apa ini … sakit …,” keluh Floryn saat menemukan sebuah selang infus sudah tersambung ke pergelangan tangannya.
Zoel yang ada di sana sejak tadi, langsung bangkit dan mendekati Floryn. Laki-laki itu tersenyum kepada Floryn. Ia senang karena wanita itu akhirnya sadar.
“Kamu sadar …,” lirih Zoel yang baru saja mengatakannya dengan berbisik.
“Aku di rumah sakit? Zoel … kamu menyelamatkanku?” tanya Floryn tidak percaya. Sebuah senyuman lega tersungging di wajahnya. Namun, senyuman itu pudar saat menyadari Zoel memiliki sebuah perban di kepalanya. “Apa yang terjadi dengan kepalamu?” selidik Floryn.
Zoel tersenyum dan meraih tangan Floryn yang tidak ada infusnya. Laki-laki itu mengecupnya beberapa kali.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit terbentur saat membawa kita keluar dari sana. Dokter sudah menjahitnya,” sahut Zoel pelan.
Floryn terlihat iba, tapi kenapa Zoel masih begitu khawatir? Apa ada hal yang belum Floryn ketahui?
Rupanya Zoel takut. Ia takut, jika saat mengatakannya Floryn tidak bisa menerima.
Sayang sekali, Floryn terlalu peka, ia menyadari hal itu. Floryn menarik tangan Zoel agar semakin mendekat kepadanya.
__ADS_1
“Apa ada yang salah?” tanya Floryn kemudian. Ia tahu ada yang salah. Tapi tidak berani menebak-nebak. Floryn memperbaiki posisinya berbaring. Rasa sakit di tubuhnya mulai terasa lagi. “Kenapa tubuhku sakit sekali?” tanya Floryn bingung.
Zoel tertunduk. Sungguh, ia tidak bisa mengatakannya kepada Floryn. Kenapa Floryn harus sadar saat Martha dan Alvin pulang untuk menggambil baju? Sayangnya, Zoel tidak bisa mengalihkan pikiran Floryn lebih lama lagi. Meskipun dikatakan nanti, Floryn tetap akan mengetahuinya juga. Lalu, jika Zoel tidak mengatakannya langsung, Floryn pasti akan marah, merasa dibohongi, dan banyak hal lainnya.
“Flo … aku harap kamu kuat dengan berita ini …,” bisik Zoel yang masih belum sanggup menatap netra Floryn.
Floryn tersenyum, tapi keningnya berkerut. Ujung netranya telah membentuk cairan bening yang siap meluncur. Ada perasaan tidak enak terhadap berita yang akan dikatakan Zoel.
Refleks tangan Floryn menyentuh perutnya. Saat itulah, Floryn menyadari jika perutnya sudah tidak sebesar sebelumnya. Meskipun tidak benar-benar ramping, tapi perbedaan itu bisa ia rasakan.
“Perutku … bayiku? Apa yang terjadi dengan bayiku, Zoel?!” tanya Floryn mulai panik.
Saat itulah pintu kamar terbuka. Seorang dokter dengan kacamata tebalnya masuk dan lengsung menempelkan diaphgram stetoskop di dada Floryn. Rupanya Zoel sudah sempat menekan tombol nurse bell yang ada di dekat tempat tidur Floryn. Ia tahu jika ia tidak bisa mengatakan semuanya sendiri.
“Dok? Di mana bayiku?” tanya Floryn penuh kesedihan.
“Harap tenang dulu, Bu … sebelumnya, kami minta maaf. Karena, janin Anda tidak bisa diselamatkan. Plasenta yang terhubung ke janin Anda, tidak bisa menyalurkan oksigen dengan baik, sehingga bayi Anda tidak dapat bertahan. Hal ini terjadi karena banyaknya asap yang terhirup oleh Anda pada kebakaran beberapa hari lalu,” terang dokter yang datang dan memeriksa Floryn.
Floryn merasakan sesak di hati. Ia tidak menyangka jika akan kehilangan bayi di dalam perutnya. Bayi itu darah dagingnya sendiri!
Floryn menggelengkan kepalanya. Ia mencoba untuk menjadi tegar. “Lalu … apa yang kalian lakukan?”
“Maaf, Bu Floryn … kami harus melakukan proses dilatasi dan kuretase kepada janin Anda,” jelas dokter itu. “Setelah cukup kuat, Anda sudah boleh pulang. Kondisi tubuh Anda saat ini sudah stabil,” terang dokter yang baru saja memeriksa kondisi Floryn.
Floryn tidak menyahut. Ia berpaling ke arah Zoel dengan pertanyaan-pertanyaan yang singgah di kepalanya.
“Terima kasih, Dok,” kata Zoel kemudian.
Dokter dan seorang perawat yang datang bersamanya, pergi dari kamar Floryn. Bersamaan dengan kepergian sang dokter, Martha dan Alvin datang. Mereka berdua tersenyum senang karena Floryn telah sadar.
“Nak! Alhamdulillah kamu sadar …,” ungkap Martha yang langsung membawa Alvin untuk menemui bundanya.
Alvin yang melihat bundanya menangis, langsung memeluk wanita itu dan ikut-ikutan sedih.
__ADS_1
“Bunda jangan sedih …,” lirih Alvin.
Floryn mengangguk. “Iya, Sayang … Bunda sedikit sedih. Dedeknya Alvin tidak bisa bertahan …,” ungkap Floryn seraya menyeka air matanya dengan tissue yang diberikan Zoel.
"Dedek bayi tinggal dengan malaikat. Malaikat baik menjaganya di surga?" Alvin memastikan. Ia mengingat apa yang dikatakan sang nenek saat Floryn menjalani kuret.
Martha mengusap rambut Alvin. “Yang sabar, Nak …,” kata Martha kepada anak perempuannya.
Floryn mencoba tersenyum walau gagal. Ia mengangguk lagi. Paham jika semua itu pasti akan terjadi dengan kondisinya yang terkurung di dalam kobaran api dan ruangan yang dipenuhi asap. Selain itu, Tuhan-lah yang memutuskan hidup dan mati seseorang. Bagaimanapun manusia berharap dan berusaha, Tuhan yang punya kuasa.
“Bu … kapan Floryn dikuret? Kenapa tidak menunggu Floryn sadar saja?” tanya Floryn yang sedang berusaha mencari tahu hal itu.
“Kuretnya kemarin pagi. Kamu … sudah pingsan selama tiga hari, Nak. Kami sempat khawatir karena kamu tidak bangun-bangun ….” Martha mengusap puncak kepala sang anak.
“Pingsan tiga hari? Serius, Bu?” Floryn tidak percaya.
“Iya, Flo. Lalu, dokter bilang janinnya harus lekas dikeluarkan. Kalau tidak, berpotensi menimbulkan penyakit karena merupakan jaringan mati …,” terang Zoel. “Kami tidak bisa menunggumu bangun dan melakukan kelahiran secara normal, karena usia janinmu juga belum cukup,” tambah Zoel.
Pandangan Floryn menatap jauh ke luar jendela. Rintik gerimis yang terlihat di luar sana, seakan menegaskan jika Floryn sedang merasakan kesedihan mendalam.
“Nak … Ibu tahu kamu bisa melewati ini semua dengan baik,” tambah Martha yang selalu optimis untuk anaknya. Sejak awal perselisihannya dengan Enrik pun begitu.
“Iya, Bu. Floryn akan berusaha … lalu … bagaimana dengan penjahat itu? Apakah ia menghilang lagi?” tanya Floryn dengan pandangan ke bawah, memandangi selimut rumah sakit yang berwana biru langit.
Jack begitu jahat. Tega sekali meningalkan Floryn yang terikat sendirian di tengah kobaran api. Apakah Jack memang berniat melenyapkannya?
Zoel meraih tangan Floryn dan mengecup punggung tangannya sekali. “Jack tertangkap dengan perhiasan dan pematik, yang diduga digunakan untuk memicu api di rumah almarhum temanmu, Flo. Kamu bisa tenang sekarang. Aku sudah menyewa pengacara hebat untuk membuatnya mendekam di penjara dalam waktu lama,” terang Zoel penuh keyakinan.
“Really? Syukurlah … semoga ia membusuk di penjara. Seorang psycho seperti dia, tidak pantas hidup di tengah masyarakat! Cukup janinku saja korbannya …,” sesal Floryn.
Zoel dan Martha tahu Floryn sungguh kuat. Kehidupan yang keras telah ia lewati dengan cukup tabah. Mungkin, sekarang waktunya wanita itu mendapatkan kebahagiaan. Sudah cukup dengan kesedihan selama ini.
“Aku berjanji akan selalu menjagamu mulai saat ini, Flo. Jangan menolak, karena … aku juga tidak akan sanggup tanpamu ….”
__ADS_1
Bersambung?