
Oke, sentuh like-nya dan silakan membaca ....
***
Pagi-pagi sekali Zoel sudah datang ke rumah Martha. Tentu saja hal itu membuat Floryn menjadi salah tingkah. Belum lagi ibunya, yang langsung saja mengajak Zoel untuk ikut sarapan bersama.
“Bu … ngapain di ajak sarapan bareng, sih?” tanya Floryn yang baru saja selesai mengenakan jam tangannya. "Dia pasti sudah sarapan di rumahnya sebelum ke sini ...."
“Ya biar saja, Nak … kasihan dia kalau hanya menunggu di mobil saja. Kamu tega?” tanya Martha. Setelah mengatakan hal itu, Martha keluar dari kamar Floryn dan kembali ke kamarnya sendiri untuk melihat keadaan Alvin. Anak itu masih tidur dan Martha tidak ingin mengganggunya.
Hari ini adalah sidang Floryn yang ke tiga. Jadwalnya adalah untuk mediasi lagi. Kalau Enrik datang dengan pengacaranya, semua akan berjalan lancar. Tapi kalau orang itu tidak datang, mungkin sidang akan semakin panjang. Floryn tidak mau lama-lama digantung seperti ini.
Di meja makan, Zoel yang memang sudah sarapan, hanya mengambil selembar roti tawar dan mengolesinya dengan butter. Sedangkan Floryn, ia memilih untuk menyantap nasi goreng kampung favoritnya. Nasi goreng putih yang bumbunya hanya bawang merah, bawang putih, dan garam. Entah kenapa, makanan itu selalu bisa membuat kangen.
"Nak Zoel ini ... bekerja di cafe? Apa tidak apa-apa kalau sering ijin?" tanya Martha basa-basi.
Floryn menggeleng-gelengkan kepala. Ia malu karena belum memberi tahu ibunya tentang pekerjaan Zoel.
"Eemm ... tidak, Bu. Kebetulan cafe-nya punya saudara sendiri. Jadi saya yakin dia tidak akan marah," terang Zoel.
Martha tersenyum. Namun tidak dengan Floryn. Apakah Zoel baru saja berbohong pada ibunya? Sungguh tidak benar!
Floryn berniat untuk menanyakan perihal itu nanti. Mungkin di mobil. Sekarang ia harus fokus pada sarapannya atau Floryn akan terlambat. Rencananya, ia akan mampir ke kantor dulu sebelum pergi ke pengadilan.
"Sudah, yuk. Aku sudah selesai ...," ajak Floryn sesaat setelah ia meletakkan sendok dan garpunya.
"Oke ...." Zoel berdiri dan mengikuti langkah Floryn.
Mereka berdua pamit pergi. Tidak lupa keduanya mencium punggung tangan Martha. Floryn yang biasanya hanya mencium pipi sangat ibu, kini mau tidak mau mengikuti apa yang Zoel lakukan. Ia tidak mau dicap negatif oleh laki-laki itu.
***
Kantor Polisi Beringin Raya
Ambar hanya bisa duduk termenung saat ini. Sarapan yang disajikan seorang petugas, tidak membuatnya tertarik sama sekali. Untung saja tadi malam ia memakan nasi goreng yang diberikan padanya.
__ADS_1
Sudah cukup lama ia ditahan di salah satu sel milik kantor polisi tersebut. Kalau ia tidak salah ingat, besok adalah sidangnya. Pada sidang itu, Ambar akan mendapatkan keputusan.
Ia sangat berharap untuk dibebaskan. Namun, tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Maka dari itu, Floryn hanya berharap kalau hukuman penjaranya tidak akan berlangsung lama.
"Aaararrrggghh!! Kenapa kamu tidak menemuiku, Tuan?!" pekik Ambar tiba-tiba.
Hal itu membuat beberapa petugas yang ada di sana merasa kaget. Salah satunya yang paling dekat dengan sel Ambar, langsung memukul jeruji besi di samping Ambar dengan sebatang tongkat karet.
"Diam dan habiskan sarapanmu. Kalau tidak habis, aku tidak akan memberi ijin padamu untuk ketemu dengan pengacara!" tukas Salah satu petugas polisi bernama Aryo.
"A—" Ambar baru saja ingin mengatakan sesuatu, tapi buru-buru menghentikannya. Ia malah mengangguk dan mengambil bungkusan di depan pintu sel.
Dengan enggan, Ambar membawa bungkusan itu ke atas dipan. Untungnya, tidak ada orang lain di sana, sehingga Ambar tidak perlu merasa kesulitan dalam berbagi tempat.
Ada sedikit rasa senang di hati Ambar, karena Enrik telah menyiapkan seorang pengacara untuk membantunya menghadapi semua itu.
Ambar tahu kalau pengacara yang akan datang, bukanlah pengacara mahal, tapi setidaknya ada perhatian Enrik di sana.
Setelah selesai sarapan, Ambar dibawa keluar dari selnya. Polisi itu membawa Ambar ke ruang interogasi untuk bertemu dengan seorang pengacara yang ditunjuk Enrik.
Saat Ambar masuk ke dalam ruangan itu, ia cukup terkejut karena pengacara yang akan membantunya di pengadilan adalah seorang perempuan. Sebagai orang awam, Ambar menjadi agak ragu. Ambar lebih sering melihat pengacara laki-laki saat melihatnya di TV. Akan tetapi, tentu saja ia tidak punya pilihan.
Ambar hanya balas tersenyum dan tidak menyahut.
"Jadi ... kenalkan, nama saya Paulina. Saya adalah pengacara yang akan mendampingi Anda pada sidang besok ...," ungkap Paulina.
Ambar menyambut ukuran tangan itu. "Ambar. Senang bertemu dengan Anda," sahutnya.
Selama beberapa menit lamanya, mereka membicarakan semua hal yang terjadi dan Ambar lakukan kala itu. Ia juga tidak melewatkan bagian di mana Enrik menyetujui semua yang akan Ambar lakukan.
"Jadi, semua ini bukan perintah Pak Enrik?" tanya Paulina memastikan.
Ambar menatap HP Paulina yang sedang merekam obrolan mereka.
Ambar menggeleng. "Bukan. Tuan hanya mengijinkan saya melakukan hal itu ...," ungkap Ambar.
__ADS_1
"Baiklah ... lalu, apa Pak Enrik memberikan sokongan dana untuk melakukan aksi ini? Karena jika iya, hal itu sama artinya dengan keterlibatan. Kalau benar begitu, saya akan meminta pihak berwenang untuk melakukan panggilan resmi kepada Pak Enrik Bimasakti. Anda bisa membuatnya menjadi tersangka. Jika buktinya kuat, dia bisa dipenjara. Namun jika tidak ... ya, dia akan bebas," terang Paulina.
Mendengar hal itu, Ambar menjadi bingung. Memenjarakan Enrik? Apakah ia sudah gila? Enrik telah memberinya pengacara. Hal itu membuat Ambar mulai panik.
"Apa saya tidak bisa keluar dari sini saja? La-lalu ... bagaimana dengan Tomas? Apa dia juga dipenjara seperti saya?" Tiba-tiba saja Ambar penasaran dengan hal itu. Yang ia tahu, Tomas ditangkap sama sepertinya.
"Ya. Tomas terbukti bersalah dan telah dijatuhi hukuman beberapa hari lalu. Sidangnya lumayan cepat. Kalau menurut saya. Itu karena Tomas tidak memiliki pengacara dan harus menerima pengacara yang disediakan untuknya. Anda pasti tidak akan mau menjadi seperti dirinya, yang mendapat hukuman maksimal. Kalau saya tidak salah, Tomas dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Lumayan ...," lirih Paulin.
Ambar bergidik ngeri. "Enggak ... jangan biarkan saya membusuk di penjara!" tukas Ambar.
Paulin mengambil HP yang sejak tadi sibuk merekam. Dengan satu sentuhan, rekaman itu berhenti.
"Dengar, saya tidak akan merekam pertanyaan dan pernyataan saya berikutnya. Jadi, simak dengan seksama ...," kata Paulina dengan suara pelan.
Ambar mengangguk dan mulai cemas. "Oke," sahutnya.
"Jangan pernah katakan hubungan semua ini dengan Pak Enrik di pengadilan. Mereka sudah tahu kalau setelah menemuu Tomas, kalian melakukan hubungan badan. Data yang ada pada saya, mengkonfirmasi jika semua yang Tomas lakukan adalah berasal dari Anda. Anda membayar semuanya dengan tubuh Anda."
"Ya ... tapi Tuan Enrik memberiksn uang untuk Tomas."
"Tidak. Anda yang memberikannya. Pak Enrik tidak pernah bertemu Tomas."
Ambar ingin membuka mulut dan kembali menyangkal. Namun sayangnya, semua itu benar. Kini ia mulai menyesal, kenapa saat itu mau tidur dengan Tomas. Ia tidak tahu kalau semuanya akan ketahuan dengan sangat mudahnya.
"Lalu ... apa pilihan yang saya punya?"..
"Mengaku jika Anda adalah otak dari semua itu dan bersikap baik di pengadilan. Saya akan mengusahakan hukuman minimal untuk Anda. Mungkin tiga atau empat tahun saja ...," jelas Paulina.
Tanpa ia sadari, Ambar menitikkan air mata. Ia tidak mungkin berada di jalan itu. Penjara sudah menanti di depannya. Ia menyadari jika bukan siapa-siapa di sini. Enrik yang ia cintai, membantunya hanya sebatas itu. Bahkan, Enrik menyuruh pengacara tersebut, untuk membuatnya mengaku.
"Ka-kalau saya bersikeras jika Tuan Enrik otak semua kejahatan ini?" tanya Ambar dengan suara bergetar.
"Pak Enrik tidak akan membayar saya untuk menolong Anda. Mungkin ia malah menyuruh saya mengangkat kejahatan Anda yang lainnya," jelas Paulina.
Ambar terlihat bingung. "Kejahatan lain?"
__ADS_1
"Contohnya, mencuri perhiasan mantan istri Pak Enrik. Nominalnya cukup besar untuk menambah beberapa tahun Anda di dalam penjara. Jadi ... pikirkan lagi apa yang akan Anda katakan ...."
Bersambung.