
Hai, Semua! Akhirnya sampai juga di hari ini. Saya akan mengumumkan komentar terpilih yang berhak atas pulsa @10k. Sebenarnya ada banyak yang komentar yang bagus dan manarik. Akan tetapi saya sudah memilih komentar menarik yang lebih dulu masuk. Akun yang beruntung adalah milik Kakak Tuti Yustina dan Mom's Rafkaputra Syarif. Untuk yang namanya tertera, langsung konfirm lewat private chat. Pastikan kita sudah saling follow. Congrats, ya! Untuk yang lain, jangan berkecil hati (๑˃̵ᴗ˂̵)و
***
Di depan 'Villa Joerang Bening' milik Edward yang dibeli untuk Sintia ....
“Tuan … apa Tuan yakin kita akan menginap di sini?” tanya Ambar saat melihat sebuah bangunan kayu yang ada di hadapan mereka saat ini. Papan nama bertuliskan 'Villa Joerang Bening' itu begitu apik dengan dominasi warna cokelat yang berasal dari furniture berbahan kayu.
“Iya, di dalam juga sudah ada seorang bibi yang akan menyiapkan semua kebutuhan kita selama dua hari di sini. Kamu suka?” tanya Enrik kepada Ambar. Padahal Ambar hanyalah pembantu, kenapa ia bertanya seperti itu seakan-akan Ambar adalah kekasih yang paling ia cintai?
Ambar mengangguk dan langsung bergelayut manja pada lengan laki-laki itu. Akan tetapi, ia lalu menahan tangan Enrik yang sudah ingin melangkah masuk ke dalam.
“Ada apa lagi? Aku tidak sabar ingin berenang air hangat di dalam,” tanya Enrik bingung.
“Kata Tuan, di dalam ada seorang bibi? Bagaimana jika ia melaporkan kita kapada Nyonya Floryn atau Tuan Edward?” tanya Ambar khawatir.
Enrik tersenyum dan mendekati wajah Ambar untuk mengecupnya sekilas. “Itu tidak akan mungkin terjadi. Bibik itu sangat kuno. Ayahku membawanya dari kampung dan tidak mengenal yang namanya teknologi. Kami harus mengajarkannya dengan sangat ekstra. Tapi kami sepakat untuk tidak mengajarkannya menggunakan HP. Lagipula, dia itu tuli. Kamu jangan khawatir …,” tambah Enrik.
Mendengar semua itu, Ambar merasa bingung. Kenapa bisa ada orang seperti bibik itu? Memangnya, setua apa bibi itu sampai-sampai tidak mengenal teknologi? Atau, dari mana asalnya hingga bisa sampai sekuno itu?
Ambar memilih untuk memikirkannya nanti. Rintik hujan yang tadi sudah reda, kini kembali terasa di kulit lengannya yang tidak tertutup pakaian. Ia buru-buru masuk ke dalam sembari membawa sebuah tas belanjaan dan tas pakaian yang ia bawa dari rumah.
Di depan pintu utama, mereka disambut oleh Bik Iim yang menderita tuna rungu. Berusia hampir setengah abad. Artinya Bik Iim lebih tua daripada Tuan Edward.
Bik Iim ini tidak pernah melihat istri Enrik dan saat melihat Ambar, ia mengira jika wanita itu adalah istri dari anak majikannya. Dulu, sekali saat Enrik membawa Floryn untuk menginap di sana, Bik Iim sedang kembali ke kampung. Ada orang lain yang membantu Edward menjaganya selama dua minggu.
Ambar benar-benar tidak menyangka jika Enrik dan keluarganya mempunyai sebuah villa di Bogor. Walaupun bukan tepat berada di puncak, tetap saja vibes-nya kurang lebih sama. Apalagi, cuaca beberapa hari belakangan yang selalu saja menurunkan gerimis ringan.
Enrik menepuk bahu Bik Iim dan menunjuk tas yang mereka bawa, lalu menunjuk ke arah kamar yang ada di atas. Setelah itu, si bibik langsung mengacungkan kedua ibu jarinya. Ia mengerti apa yang majikannya minta.
Bangunan itu terdiri dari dua lantai. Yang membuat villa itu spesial adalah satu bangunan kayu yang ada di helakang bangunan utama. Di sana ada sebuah pondok yang hanya seperti satu kamar terpisah. Di depannya ada sebuah kolam renang mini dengan aliran air hangat.
Di depannya ada gazebo yang dilengkapi alat panggang yang dibeli Enrik sendiri. Ia pernah membawa Floryn ke sana saat Alvin masih berusia satu tahun. Mereka menitipkan Alvin untuk bulan madu lagi.
__ADS_1
Dan satu hal yang membuat semuanya menjadi lebih indah adalah aliran sungai di samping kolam renang. Walau terpisah oleh sebuah pagar besi, keindahan pemandangannya tidak berkurang.
Kembali pada sepasang anak manusia yang bukan sepasang suami istri di dalam, setelah Bik Iim masuk dengan membawa tas-tas majikannya, Enrik langsung memeluk tubuh Ambar dari belakang. Menyibak rambut wanita itu dan menyesap tengkuk Ambar sangat dalam. Sehingga sebuah tanda merah terukir di sana.
“Jadi … apakah villa ini jarang ditempati?” tanya Ambar yang masih ada di dalam rangkulan Enrik.
“Ya. Ditempati jika kami sedang liburan. Tapi … aku sudah lama tidak mengajak Floryn ke sini. Kamu tahu lah … kami berdua begitu sibuk,” terang Enrik.
Ambar tersenyum senang. Ia suka, jika ada hal yang memperlihatkan kalau ia lebih penting daripada Floryn. Ia hanya bisa bersorak di dalam hati. Selain itu, ia juga tidak sabar untuk mulai menggoda Enrik yang sejak tadi seperti tidak sabar dengan tubuhnya.
"Luar biasa. Aku tidak sabar lagi," kata Ambar seraya berjalan mengitari tempat itu.
Tidak sengaja ia melihat sebuah bayangan dari arah sebuah ruangan di samping mereka. Dengan sedikit ragu, Ambar mengikuti bayangan itu tadi.
"Kamu mau ka mana? Jangan jauh-jauh dariku," kata Enrik yang kini sudah mengeluarkan HP untuk menerima panggilan masuk.
"Sebentar saja, Tuan. Sepertinya saya melihat sesuatu ...," sahut Ambar. Namun Enrik sudah tenggelam dalam kesibukannya dari balik telepon. Ia tidak lagi melihat ke arah Ambar.
Ambar tidak peduli. Ia pergi karena penasaran. Ternyata bayangan itu membawanya ke arah dapur. Dapurnya sederhana dan terlihat agak tradisional. Tidak ada rice cooker, oven, atau dispenser. Hanya ada sebuah lemari pendingin dan kompor gas bermata dua. Ternyata Bik Iim itu mamang begitu kuno dan kolot.
Kleng!
Ambar tersentak kaget saat sebuah kaleng terjatuh di belakangnya. Tiba-tiba saja tengkuk Ambar meremang. Apakah Villa ini berhantu?
Dengan hati-hati Ambar berpaling dan menemukan seorang anak perempuan sedang bersembunyi di samping lemari pendingin. Anak itu tertunduk dan tidak berani bergerak.
"Siapa kamu? Anak bibik itu ya?!" tanya Ambar dengan ketus. Ia kesal karena anak itu telah membuatnya terkejut. Baru juga sampai.
Akan tetapi, anak itu tidak menjawab. Ambar mulai berpikir kalau mungkin anak itu juga tuli seperti ibunya atau malah bisu.
Dengan cepat Ambar mendekati anak itu dan manariknya agar keluar dari sudut tempat persembunyiannya.
"Sini!" perintah Ambar.
__ADS_1
Dengan ragu anak itu keluar dari sana dan berdiri tertunduk.
"Kamu bisu?" tanya Ambar lagi. Lalu kemudian anak itu menggelengkan kepala. Itu artinya ia juga tidak tuli.
"Bagus. Kalau begitu, siapa kamu? Anak dari bibik itu bukan?" tebak Ambar.
Anak itu mengangguk. Hal itu membuat Ambar semakin emosi. Kenapa ia tidak menjawab dan hanya mengangguk atau menggelengkan kepala? Apa karena ia bukan Nyonya Bimasakti? Tidak mungkin karena hal itu. Mereka tidak tahu siapa istri dari Enrik sebenarnya.
Selang beberapa detik, Enrik dan Bik Iim datang dari arah depan. Membuat Ambar dan anak kecil itu menoleh bersamaan.
"Sayang, ada apa? Siapa anak itu?" tanya Enrik bingung.
Akan tetapi, sebelum ada yang menjawab, Bik Iim maju dan merangkul anak kecil tersebut. Karena tidak mungkin anak berusia sekitar delapan tahun itu adalah anaknya, Enrik menebak jika anak itu mungkin cucu atau anak angkatnya saja.
"Ini anak Bibik?" tanya Enrik sembari mengayunkan tangannya di depan dada, seperti menimang bayi.
"Iya, Tuan. Ini anak angkat saya," sahut Bik Iim dengan pelafalan yang kurang jelas. Bik Iim memang bukan seorang tuna wicara, akan tetapi karena ia tuli, Bik Iim tidak bisa bicara dengan jelas pula. Untung saja Enrik masih bisa memahaminya sedikit.
"Oh ... ini anak angkatnya," kata Enrik.
Mengabaikan hal itu, Enrik meraih tangan Ambar dan membawanya untuk pergi dari sana. Enrik membawa wanita itu ke luar ke halaman belakang. Di sana Ambar kembali terkejut saat melihat kolam renang dan gazebo cantik yang sudah menunggu mereka.
Melihat keterkejutan Ambar, Enrik merasa senang. Ia memalingkan wajah wanita itu dan menempelkan bibir mereka berdua. Menyesapnya dengan lembut dan semakin dalam.
"Eemmhh ... aku tidak sabar menikmati semua itu bersamamu, Tuan ...," bisik Ambar setelah pangutan mereka berakhir.
"Jangan panggil 'Tuan' di depan mereka."
"La-lalu bagaimana, Tuan?"
"Panggil aku 'Sayang', aku menyukainya ...," bisik Enrik di samping cuping telinga Ambar. Wanita pembantu itu tersenyum. Ternyata tubuhnya yang indah, s3ksi, dan proporsional sanggup memikat majikannya hingga begitu tergila-gila.
"Sayang ... kapan kita mulai?" Ambar membasahi bibirnya dengan perlahan. Membuat Enrik mulai bereaksi dan semakin tidak sabar.
__ADS_1
"Bagaimana jika sekarang?"
Bersambung.