Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Hentikan Mobilnya!


__ADS_3

Saat ini Naura hanya bisa menatap tidak percaya kepada sahabatnya dan seorang laki-laki tampan yang datang menjemput. Ia tidak tahu harus apa. Senang atau malah khawatir.


"Ra ... kenalin, ini Zoel. Dia ... teman ... em, saudaranya salah satu karyawanku," ungkap Floryn.


Hal itu membuat Naura semakin melongo . Tapi ia tidak lupa untuk mengulurkan tangannya kepada laki-laki yang menurut Naura masih lebih muda daripada Floryn.


"Naura, sahabat Floryn," kata Naura kaku.


Sebelum Floryn bicara, Naura memberi kode pada sahabatnya itu untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.


Floryn mengikuti permintaan Naura dan meninggalkan Zoel sebentar.


"Apa?" tanya Floryn lirih. Ia tahu jika Naura ingin protes atau bertanya banyak hal tentang Zoel. Dan, ia tidak tahu akan menjawab apa.


"Gila kamu, Flo ... belum juga pisah dari Mas Enrik, tapi sudah punya gandengan baru. Gimana kalau Mas Enrik atau mertuamu melihat ini semua?" tanya Naura bingung.


Floryn memijat kepalanya yang sedikit pusing. Ia memang pernah memikirkan hal itu, makanya ia tidak mau Zoel datang. Akan tetapi, lain dengan malam ini. Ia perlu tumpangan untuk pulang. Dan ia tidak enak karena Zoel khusus datang untuk mencarinya.


"Aku percaya padanya, Ra. Dia tidak akan mengambil keuntungan apa-apa dariku. Dia ... hanya seseorang yang baik," terang Floryn. Sebenarnya dia sendiri ragu dengan apa yang ia katakan.


Mereka berdua menoleh ke arah Zoel yang masih menunggu di depan mobilnya. Ia terlihat cool walaupun hanya berdiri saja.


"Flo, aku hanya berpesan agar kamu menjaga diri. Kamu belum resmi berpisah dengan Mas Enrik. Ia bisa saja memutar keadaan dengan hal ini," ungkap Naura berbisik.


"Iya ... kamu benar sekali. Sebenarnya aku juga tidak mau dia muncul saat ini. Tapi, dia datang karena aku tidak menjawab panggilan dan pesan darinya. Aku jadi tidak enak ...," ungkap Floryn.


Naura mendekat untuk memeluk Floryn.


"Baiklah, kalau memang begitu, kalian pulang saja. Lebih cepat lebih baik. Dan kalau bisa, jangan sampai ada yang menyadari kebersamaan kalian. Apalagi kamu belum berpisah, Flo. Kalau mereka menganggap kamu selingkuh, kamu jadi tidak ada bedanya dengan Mas Enrik," terang Naura. "Jangan lupa obatmu," tambah Naura.


"Iya ...," jawab Floryn menurut. Ia tahu kalau semua itu benar. Makan dari itu, apa yang mereka khawatirkan tidak boleh sampai terjadi.


Akhirnya Floryn dan Zoel pergi dari sana. Meninggalkan Naura yang masih khawatir.


"Dia sahabat yang baik. Anda pasti senang memiliki orang-orang yang selalu membantu Anda seperti itu," kata Zoel.


"Ya. Naura orang baik. Dia yang membuatku bisa menerima pesan-pesan darimu," terang Floryn.


"Benarkah? Kalau begitu saya juga harus berterima kasih padanya. Kalau tidak, mungkin saya akan terjebak di warung itu hingga besok," tambah Zoel.


Floryn manarik baju Zoel yang sudah akan pergi menghampiri Naura. "Jangan, kita tidak boleh lama-lama di sini." Floryn berkata dengan nada datar.

__ADS_1


Zoel yang hampir saja terjatuh, langsung berpegangan pada tangan Floryn yang tadi menariknya. Hal itu membuat mereka berdua hilang keseimbangan. Untungnya Zoel sempat menangkap tubuh Floryn yang sudah akan jatuh terduduk. Hal itu menyebabkan mereka berdua jatuh terduduk dengan posisi Floryn duduk di atas perut Zoel.


"Awch ... lumayan ...," lirih Zoel dengan wajah memerah.


"Eeeh ... Eh, so-sorry ... apa kamu tidak apa-apa?" tanya Floryn panik. Ia buru-buru berdiri dan membantu Zoel untuk bangkit.


Di seberang mereka, Naura hanya bisa geleng-geleng kepala karena tidak percaya dengan kecerobohan dua orang itu.


"Astaga ... semoga aja mereka tidak terlibat masalah lain," ungkap Naura penuh harap.


***


Di dalam mobil yang sedang melaju ke arah kota Jakarta, Floryn mengenakan kaca mata hitam dan topi. Di sampingnya, Zoel sedang berusaha menahan tawa.


"Bisakah kacamatanya dilepas?" tanya Zoel dengan geli.


"Tidak." Floryn menjawab singkat.


"Okey ... saya seperti membawa seorang tuna netra," kata Zoel lagi.


"Anggap saja begitu. Aku tidak ingin mengambil resiko dan membuat kita berdua berada di dalam masalah," terang Floryn.


Zoel memutar bola matanya tidak percaya. Memangnya, siapa yang akan memergoki mereka di tengah jalan pada malam hari buta seperti ini? Tidak ada siapa-siapa, bukan?


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Floryn tanpa antusias.


"Kenapa Anda ada di sini? Rasanya, baru tadi pagi Anda bilang akan pergi, terus sekarang memaksa pulang saat ini juga. Saya cukup yakin kalau sahabat Anda tadi telah menawarkan agar Anda menginap dulu. Anda masih demam, kan?" tanya Zoel.


"Ya, dia memintaku. Sayangnya aku memang harus pulang sekarang. Aku harus menemui mertuaku dan memperlihatkan sesuatu," terang Floryn. Ia masih tidak mau menjelaskan masalahnya dengan lebih spesifik.


"Oke ... sebuah rahasia lain. Maaf, ya. Mungkin Anda pikir saya begitu kepo dengan urusan hidup Anda. Sungguh, saya hanya tidak habis pikir kenapa saya malah melibatkan diri kepada Anda. Tapi, dua kali menemukan Anda dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, membuat saya berpikir kalau kita mungkin memang jodoh," kata Zoel akhirnya.


Kalimat itu disambut oleh sebuah lirikan tajam dari Floryn.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Aku tidak sedang mencari jodoh. Walaupun pernikahanku terlihat gagal, aku—” Floryn menghentikan kalimatnya sendiri.


Ia tidak sadar saat mengatakan hal itu. Apa ia baru saja membuat pengakuan? Dasar bodoh!


Mendengar hal itu, sebuah senyuman tipis telihat membingkai wajah Zoel. Floryn yang menyadarinya, merasa jika orang itu mungkin memiliki maksud lain.


"Hentikan mobilnya!" perintah Floryn tiba-tiba.

__ADS_1


Zoel yang tadi asik tersenyum, kini hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.


"Apa?"


"Hentikan mobilnya!" ulang Floryn dengan kalimat yang sama persis.


"Tapi untuk apa?"


"Berhenti atau aku akan lompat dari sini!" tukasnya lagi.


Zoel tidak tahu kalau Floryn bisa semarah itu. Apalagi ia tidak tahu sudah bicara apa sehingga wanita itu marah.


Mau tidak mau, Zoel menghentikan laju mobilnya. Sebelum Zoel sempat bicara, Floryn membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


"Bu Floryn!" panggil Zoel yang tidak dipedulikan lagi oleh Floryn.


Akhirnya Zoel ikut turun dari mobilnya untuk mengejar Floryn. Padahal ia merasa tidak bicara apa-apa, tapi Floryn marah.


Zoel menarik tangan Floryn yang jalannya cukup cepat. Untungnya rintik hujan yang tadi menemani kepergian mereka dari rumah Naura, telah berhenti.


"Bu Floryn? Apa masalah Anda?" tanya Zoel bingung. Saat ini ia merasa jika Floryn seperti anak-anak.


"Lepasin!" kata Floryn sembari mencoba untuk menepiskan tangannya. Akan tetapi, tenaga Zoel jauh lebih kuat. Floryn tidak bisa lolos dan tangannya mulai terasa sakit. "Lepasin ... tanganku sakit ...," lirih Floryn sedikit memohon.


Mendengar hal itu, Zoel melepaskan pegangan tangannya. "Sorry, Bu. Anda jangan bersikap begini. Kita ada di tengah jalan dan di kanan kiri ini hutan ... saya tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan salah satu dari kita," terang Zoel.


"Kenapa kamu tersenyum, Zoel?"


"Tersenyum?"


"Ya! Saat aku bilang jika pernikahanku gagal, kenapa kamu malah tersenyum?!" tanya Floryn dengan suara yang mulai bergetar. Rasanya ia tidak sanggup menghadapi kenyataan itu. Benarkah ia telah gagal dalam menbina rumah tangganya? Apa tidak ada jalan lain selain perpisahan? "Kamu bahagia dengan musibah itu? Apa yang kamu inginkan dariku, Zoel?!" sentak Floryn lagi.


Aaauuuu ....


Sebuah lolongan anjing atau serigala membuat Floryn terkejut. Ia memutar tubuhnya, khawatir jika makhluk itu mungkin ada di belakang punggungnya saat ini.


"See ... ini bukan tempat yang cocok untuk bertengkar. Sebaiknya kita masuk dan membahasnya nanti ...," ajak Zoel seraya mengulurkan tangan.


Floryn berpikir sejenak. Apa yang Zoel katakan banyak benarnya. Ia terlampau emosi sehingga mengabaikan fakta jika mereka berada di tempat yang salah. Jalan kosong itu bukan lokasi yang cocok.


Floryn mengangguk dan menghapus setitik air mata yang terbentuk di ujung netra. Ia menyambut uluran tangan Zoel dan melangkah kembali ke arah mobil.

__ADS_1


"Tenang saja. Saya tidak akan mengambil kesempatan pada Anda, Bu Floryn ...."


Bersambung.


__ADS_2