
Edward memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Entah kenapa ia mau saja saat Floryn memaksanya untuk melihat rekaman yang wanita itu kirim.
Isinya adalah rekaman kegiatan panas yang anaknya dan seorang pembantu lakukan. Ia tidak menyangka jika apa yang Floryn katakan benar-benar nyata. Mungkin ia tidak akan semarah ini jika Enrik melakukannya dengan wanita yang sepantaran status sosialnya. Tapi ini? Pembantu? Ia agak kesal karena tidak percaya lebih awal.
“Floryn tidak berharap apa-apa, Yah. Hanya ingin ayah tahu kalau Floryn tidak mengada-ada. Floryn juga sudah mengajukan perceraian ke pengadilan negeri. Floryn harap, ayah mau paham ….” Sebuah pesan masuk setelah video itu ia lihat.
Sintia yang juga melihal video itu, bingung harus berkata apa. Ia tidak mungkin membela anak tirinya lagi. Kesalahan yang Enrik lakukan sudah sangat fatal. Bukannya berhenti saat dulu sudah sempat ketahuan, orang itu malah terus melakukannya.
Jadinya begini, Floryn berhasil mendapatkan rekaman lain yang jauh lebih jelas dan membuat Enrik berada di dalam masalah.
“Panggil anak itu ke sini sekarang!” perintah Edward yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan anaknya.
“Memangnya apa yang mau Papah lakukan? Sudahlah … toh Floryn juga sudah mengajukan cerai, kan?” Sintia berusaha membujuk.
“Floryn bilang, Enrik masih terus saja mengganggunya. Membuat hidupnya tidak tenang dan mengancam untuk mengambil Alvin. Dia ingin jaminan agar semua berjalan dengan baik hingga proses perceraian mereka usai …,” jelas Edward lemah.
Sintia tersenyum sinis. “Lihat ... kini dia memeras kita …,” lirihnya tidak menyangka sama sekali.
***
Enrik yang baru saja menerima panggilan dari Sintia, langsung pergi ke sana karena katanya penting. Ia tidak punya bayangan apa-apa, tentang hal yang akan dikatakan sang ayah. Sintia hanya bilang kalau semua itu berhubungan dengan proses perceraiaannya dengan Floryn.
Perjalan yang Enrik lalui tidak terasa lama. Ia sudah biasa bolak-balik dari rumahnya sendiri ke rumah Edward.
Setibanya di rumah besar itu, Enrik masuk dan langsung dipersilakan menemui Edward di ruang kerja.
“Apa, sih? Sudah malam juga …,” gumam Enrik sambil kakinya terus melangkah.
Tok tok tok!
Enrik mengetuk pintu ruang kerja ayahnya sebelum ia sendiri mendorong pintu itu hingga terbuka.
Di dalamnya sudah ada Edward yang sedang menghadapi laptopnya yang menyala.
“Malam, Yah …,” sapa Enrik yang masuk ke ruangan itu tanpa tahu apa-apa.
__ADS_1
Edward tidak menjawab salam itu dan hanya melepaskan kaca mata yang ia kenakan.
“Duduk,” katanya singkat.
Enrik mengerutkan kening. Tumben sekali hanya ada ayahnya saja di ruangan itu. Baisanya, Sintia juga akan ikut menemani jika Edward ingin bicara padanya.
“Di mana ibu tiriku?” tanya Enrik basa-basi.
“Kamu tidak usah menanyakan keberadaannya. Lihat ini!” seru Edward yang sudah menyorongkan laptopnya ke arah Enrik.
Enrik yang belum duduk, memilih untuk duduk terlebih dahulu. Ia meraih laptop ayahnya dan membalik benda itu sehingga menghadapnya saat ini.
Yang dilihatnya adalah sebuah video dalam keadaan tidak bergerak. Jemarinya menyentuh tombol space agar video itu berputar kembali.
Itu adalah kamarnya yang kosong. Saat menyadarinya, perasaan Enrik mulai tidak enak. Dan benar saja, tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka dan ia muncul di sana. Tidak hanya sendiri, ia muncul dengan menarik Ambar bersamanya.
Enrik mulai memutar otak untuk mengelak di depan ayahnya. Bagaimana pun juga, ia harus punya alasan yang kuat, kenapa sampai berselingkuh dari Floryn. Sayang sekali, Enrik tidak punya alasan itu. Ia meniduri Ambar hanya karena tergoda dengan kemolekan tubuh wanita yang bekerja padanya. Selain itu, servis yang Ambar berikan tidak pernah mengecewakan untuk diterima.
“I-ini … aku bisa menjelaskannya, Yah …,” lirih Enrik seraya menghentikan video itu lagi.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Enrik. Laki-laki itu terkejut dan memegangi pipinya yang panas.
“Yah!” protes Enrik yang tidak terima diperlakukan seperti anak kecil.
“Brengsek kamu … ayah pikir mungkin Floryn salah. Ayah pikir mungkin kamu dijebak … tapi ini? Ini di rumahmu sendiri, Rik? Dan … kamu melakukannya benar-benar dengan seorang pembantu?” tanya Edward tidak percaya.
“Yah, aku tahu ini salah. Tapi setidaknya dengarkan dulu penjelsanku …,” ungkap Enrik memohon agar ayahnya paham.
“Diam kamu!” tukas Edward geram. “Mulai sekarang, jangan dekat-dekat Floryn dan cucuku! Ingat, Rik … jangan macam-macam atau aku akan mencoretmu dari daftar ahli waris!” ancam Edward yang sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi anaknya.
Kalau tidak dengan cara itu, Enrik tidak akan mendengarnya. Sejak kecil, Enrik adalah anak yang keras kepala. Hanya akan mendengar jika diancam terlebih dahulu. Edward sendiri tidak pernah mengancamnya jika tidak benar-benar harus.
“Apa Ayah baru saja mengancamku?” tanya Enrik tidak percaya.
“Ya. Aku tidak bisa menanggung malu jika sampai istrimu membeberkan masalah ini kepada orang lain. Apa lagi ia sudah mengajukan cerai ke pengadilan. Kamu kira … berapa lama lagi sampai kolega-kolega Ayah mendengar berita ini, hah?” tanya Edward putus asa.
__ADS_1
Anak yang selama ini ia banggakan, sudah mencoreng wajahnya dengan kotoran. Bagaimana mungkin tidak mengancam?
“Jadi, apa mau Ayah sekarang? Aku akan bercerai dengan Floryn dan menjauhinya. Lalu apa lagi? Sudah cukup, bukan?”
“Jauhi pembantu itu! Dia membuatku malu!” tukas Edward. Ia kesal karena anaknya tidak juga paham. Yang membuatnya malu bukan perceraian yang akan terjadi, tapi dengan siapa Enrik berselingkuh.
Wanita karir atau pejabat? Edward mungkin hanya menyuruh Enrik menceraikan istrinya baik-baik. Tapi ini? Ia tidak bisa membiarkannya.
Enrik mengepalkan tinju. Ingin marah, tapi tidak mungkin marah dengan ayahnya. Sebuah ide jahat muncul di kepala Enrik yang panas. Mungkin rencananya dengan Sintia untuk melakukan sesuatu kepada Floryn akan sulit dilakukan, tapi ada hal lain yang mungkin bisa membalaskan rasa sakit hatinya.
“Aku pulang.” Enrik berkata ketus terhadap ayahnya. Tanpa menoleh lagi, ia menjauh dari ruang kerja itu.
Sementara itu, di belakang Enrik yang sudah melangkah meninggalkan Edward, laki-laki tua itu memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Tangannya terulur ke depan untuk menjangkau Enrik, sayangnya tidak ada suara yang keluar. Kakinya mulai lemas. Dengan susah payah ia duduk kembali di atas kursinya yang empuk.
“E-Enrik ….”
***
Sintia menangis tidak henti. Ia tidak tahu apa yang suami dan anak tirinya bicarakan, sampai-sampai laki-laki tua itu mendapat serangan jantung. Untungnya ia lekas tiba dan bergegas memanggil dokter pribadi Edward.
Sintia memutuskan untuk tidak menghubungi Enrik karena takut akan ada masalah lainnya. Ia juga meminta para pembantu dan satpam, untuk tidak buka mulut perihal serangan jantung yang dialami suaminya malam ini.
“Bagaimana, Dok?” tanya Sintia saat Dokter Ibra melepaskan stetoskop dari telinganya.
“Sudah stabil, Bu. Untungnya Anda lekas memanggil saya. Terlambat lima menit saja, ada cerita lain dari kejadian ini …,” terang Dokter Ibra dengan suara rendah.
“Terima kasih, Dok. Eeemm … sudah lama sekali semenjak suami saya mendapatkan serangan jantung. Ini kedua kalinya setelah kami menikah …,” terang Sintia yang terlihat sudah jauh lebih tenang.
“Pasti ada hal berat yang menjadi beban pikirannya. Jauhkan semua itu, Bu. Jangan sampai Pak Edward mengalami serangan lainnya …”
Sintia tersenyum getir. “Baik, Dok! Saya akan mengingatnya ....”
Bersambung.
__ADS_1