
Dua minggu Sultan liburan ada di Indonesia membuat hati Qu terombang-ambing dengan perasaannya sendiri.
Bahagia? jelas bahagia dan senang bisa bertemu muka mengobati kerinduan yang selama ini menyesakkan dada. Sedih berpisah lagi? Paling sedih mungkin hanya bisa melewatkan pertemuan mereka tanpa ada peningkatan rasa dan ungkapan serius padahal Quinna berharap lain pada kedatangan Sultan kali ini.
Rasa kangen yang terobati dan kebersamaan yang terlalu cepat berlalu juga tak ingin di tinggal pergi lagi, sendirian pada akhirnya dalam penantian yang tak pasti dalam ketidak pastian waktu membuat Qu merasakan galau sendiri.
Hanya berharap tapi tak ada aksi apapun itu mustahil! Seperti menuai angin saja! atau melukis di atas air semua pupus dan hilang tak berbekas.
Bahagia, dan cemas hati juga bimbang menjadi satu, hati yang mencinta tak bisa ditolak dari dalam perasaannya. Bagaimana mencari celah untuk masuk pada hati Sultan, Qu tak mendapatkan solusinya alhasil akhirnya semua hanya tersimpan dipendam dalam hatinya saja. Semua hanya Qu yang tahu suara hatinya sendiri tanpa bisa punya tempat curahan sekedar meringankan beban perasaannya sendiri tidak Sultan juga teman akrab kuliahnya.
Sampai Sultan mau berangkat lagi, suara hatinya tetap jadi rahasianya sendiri. Betapa berat rasa hati Quinna menanggung perasaannya sendiri tanpa bisa berbagi dengan siapapun. Itu konsekuensi dari menutup diri tanpa berani membuka nya.
Tak berani berharap, hanya bersandar pada sang waktu yang akan memberi jawaban, dan menikmati rasa yang disimpan dengan rapi di hatinya, menelan semua cerita Sultan yang mengasyikkan, dan mencari alasan selalu berbohong tentang pacarnya, tentang cowoknya, juga tentang pacarannya saat Sultan menyinggungnya, karena memang pada kenyataannya Qu tak pernah punya pacar.
"Qu, Gue balik lagi besok, terimakasih buat waktunya jujur Gue bahagia bisa jalan-jalan lagi sama Lo, bahkan Gue bisa traktir Lo dari hasil kerja Gue." ucap sultan dengan mimik sedih.
Hati Qu sakit menahan rasa sendiri, sebenarnya ingin Qu ungkapkan semua perasaan nya yang telah bermetamorfosa menjadi rasa cinta yang begitu dalam di hatinya.
Mungkin tak ada kata perpisahan yang tak sedih dan berbekas di hati tapi semua mau tidak mau harus di jalani itu hukum alam berpisah dan ketemu lagi dalam kebahagiaan pertemuan.
Mereka duduk berdua di teras rumah Sultan, sambil Qu sedikit memberi oleh-oleh yang menurutnya sangat berarti, sebuah pengingat waktu yaitu satu beker kecil tapi ada foto termanis Qu di balik kaca dan jarum jamnya.
Sultan menggenggam beker itu dan sesekali melihatnya, meneliti dan melihat poto Qu yang tetap tersenyum di dalamnya.
"Sama, Gue juga pasti kangen Lo. Gue pengen banget jalan-jalan di sana sama Lo semoga ada waktu dan rezeki nya biar Gue bisa tengok Lo ke sana sambil liburan." Parau suara Qu. Berpisah adalah hal yang paling menyedihkan bagi siapapun terlebih dengan seseorang yang selalu ada di hatinya setiap waktu.
"Pasti Qu, Gue tunggu jangan sampai nggak, harapan Gue bisa buat Lo senang dan bahagia juga tersenyum melihat keindahan Australia nanti, jangan hanya dari cerita Gue juga baca di media." Sultan menatap Qu penuh harap.
"Tapi kalau Gue nggak kesampaian liburan ke Australia sana, Gue tunggu kepulangan Lo jadi direktur di sini dan Gue jadi sekretaris Lo!" Ucapan Qu membuat Sultan tersenyum, padahal Qu berharap Sultan mengerti yang diinginkannya adalah jadi pasangan yang sebenarnya. Bukan partner dalam hal lain.
"Tapi Gue mau, Lo bisa jalan-jalan dulu di sana Qu, pokoknya tunggu lamanya setahun sedikitnya enam bulan Gue kirim Lo tiket semua pasti terealisasi." Janji Sultan seperti semua begitu mudah. Tapi kenapa berucap satu kata suka atau cinta atau juga sayang yang akan merubah semuanya begitu sulit?
__ADS_1
"Berarti Gue akan menghabiskan gaji Lo beberapa bulan dong?" tawa Qu di sambut tawa Sultan juga.
"Buat Lo apapun Gue lakukan."
Deg! Serasa ada angin segar yang masuk di hati Quinna. Qu merasa Sultan ada sedikit masalah juga dengan perasaannya karena tidak pede atau pura-pura sebagai laki-laki bisa memendam dan tidak memperlihatkan semuanya?
'Katakan cinta, sayang, kangen dan ingat selalu Sultan! Akankah satu kata itu keluar dari mulut dan hatimu untukku?'
'Katakan kamu kangen, tapi bukan sebagai sahabat, Gue begitu lama menantinya'
Qu merasa tak mampu membendung perasaannya tapi tak berdaya untuk mengatakannya, juga memperlihatkan kalau dirinya suka dan hatinya mendamba.
"Paling Lo ingat apa kenangan Kita?" Tiba-tiba Sultan bicara yang tak terduga. Qu begitu sibuk memikirkannya mempersiapkan jawaban yang pantas di keluarkan sebagai obrolan santainya.
"Terlalu banyak, tapi ada satu yang tetap akan Gue ingat karena dianggap paling berkesan." Qu seperti menerawang saat itu. Qu berharap Sultan juga menjadikan momen itu dan menjadikan satu kenangan manisnya.
"Oh ya? yang mana?" Sultan begitu antusias.
"Kok? Lo main rahasia rahasiaan segala?" Sultan kelihatan nggak senang dan ingin mendengar lalu mengomentari kenangan mereka yang dianggap paling berkesan menurut Qu.
"Bebas lah, emang kenapa?"
"Kan Gue pengen tahu, apa selama Kita bersama ada momen yang paling berkesan? Tapi menurut Lo, karena belum tentu yang berkesan menurut Lo berkesan juga bagi Gue."
"Lo sendiri ada nggak?" Qu balik tanya.
"Gue bingung, karena semua berisi kenangan yang semuanya juga berkesan hahaha .…"
"Kan Lo bilang yang paling!"
"Iya ya, mungkin Gue paling berkesan masa-masa SD." Sultan dengan datar menjawab membuat Qu menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kesal.
__ADS_1
'Masa SD? Apa kesannya? ya ampun Sultan! Kenapa nggak lo bilang masa SMA Kita? Saat latihan mau lomba upacara Gue pusing hampir pingsan, Lo bopong Gue ke ruangan UKS, wajah kita begitu dekat hanya ukuran centimeter saja, semua itu membuat jujur dada Gue deg-degan habis, mungkin mulai saat itu dada Gue selalu deg-degan kalau dekat sama Lo.'
"Mungkin saat Kita pulang sekolah, waktu itu Kita dikejar anjing lalu naik ke pohon, anjingnya pergi Lo nangis nggak bisa turun!" Sultan mengingat yang memang kejadian itu waktu mereka SD.
"Itu yang paling Gue ingin lupain!" Quinna berlagak cemberut.
'Apa istimewanya? Takut anjing, naik pohon, nggak bisa turun lalu nangis? Itu hal paling lucu tapi konyol memang.'
"Hahaha …. tapi begitu berkesan buat Gue." Sultan tertawa matanya memicing mungkin mengingat semuanya.
Quinna terhenyak, semakin jauh dan sulit rasanya menjangkau hati Sultan, apalagi besok akan berangkat lagi begitu jauh dan akan lama. Menjemput Impian masa depan mereka yang entah seperti apa.
Di sini Qu hanya mampu merindu dan menghibur hatinya sendiri dan selalu berkhayal kapan saat indah itu datang padanya.
Bersambung ….
*****
Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :
-Pesona Aryanti
-Biarkan Aku Memilih
-Meniti Pelangi
-Masa Lalu Sang Presdir
-Cinta Di Atas Perjanjian
-Noda Kelam Masa Lalu
__ADS_1
By Enis Sudrajat❤️🙏