
"Ih Mama apaan sih, cuman pergi dua malam saja." Qu merasa Mamanya memperhatikan dirinya terlalu berlebihan begitu dan melihat reaksi sahabatnya hanya tersenyum saja.
"Qu, namanya orangtua pasti semua juga merasa khawatir pada Anaknya, masih kecil, khawatir karena kecilnya juga sudah dewasa khawatir karena dewasanya, ini baru pertama Kami pergi jauh Nak. Kalau sama Sultan mungkin Mama lebih bisa tenang." Mama Andin berusaha memberi pengertian pada Qu yang merasa malu sama temannya.
Hadeuuuh, Sultan lagi Sultan lagi nama itu yang selalu ada seliweran di rumahnya juga di kehidupan Qu. Mengisi ruang kesepian hati Qu siang dan malam.
Saat dirinya mau mulai berpaling saat semuanya sudah mau di lepaskan tapi oleh orang di sekelilingnya mengingatkan dan mengingatkan selalu semua menjadikan Qu menarik nafas sangat dalam dan tidak bisa berkomentar apapun.
Qu menelan perasaannya sendiri mungkin sudah menjadi nasibnya hidup selalu di rongrong dan dibayangi sama orang yang sampai saat ini belum bisa Qu gapai hatinya.
Di mana Sultan, dengan siapa dan lagi ngapain selalu saja ada di pikiran Qu tapi semua harus ada dalam benaknya saja. Terkadang berlari menghampiri laptop setelah pergi berkegiatan berharap Sultan mengabarinya atau cerita apapun tentang dirinya kecuali yang Qu tidak suka yaitu cerita tentang pacar-pacarnya.
"Iya Tante, tenang aja Aku tinggalkan nomor ponsel Aku sama Agung biar Tante tenang dan bisa menghubungi kami setiap saat," jawab Jihan menanamkan kepercayaan pada Mama Qu.
Jihan mengerti kalau Qu Anak emas juga kesayangan jadi sangat wajar gerak langkahnya di batasi atas nama kasih sayang. Walau semua itu dirasa nyaman-nyaman saja selama ini tetap begitu belajar dewasa semua itu begitu membebaninya di saat Qu ingin melangkah menuju kemandirian.
"Makasih Jihan, bukannya Tante nggak percaya, tapi Tante biar tenang saja melepas Qu sama kalian. Qu juga mungkin harus biasa dititipkan dan di percayakan tidak hanya pada Sultan saja yang sudah sangat Tante percaya," sahut Mama Andin sambil tersenyum.
Qu hanya diam mendengar ucapan Mamanya yang sepertinya mengidolakan Sultan juga.
"Aku mengerti Tante, Mamaku juga sama begitu," tukas Jihan tetap memandang sikap Tante Nadin dalam batas wajar.
Qu yang sudah memeriksa semua perlengkapan di ranselnya menghampiri Jihan sama Mamanya.
"Sudah beres Qu?" tanya Jihan bertanya duluan.
"Sudah, seingat ku sudah semuanya tapi nggak tahu kalau ada yang kelewat," jawab Qu.
"Agung, ransel Qu nih masukin bagasi!" ujar Jihan pada Agung.
__ADS_1
"Siap, selesai semua?" Agung yang lagi melihat ponselnya di teras masuk mengambil ransel Qu. Agung memandang Qu yang selalu tampak begitu cantik dimatanya dengan stelan yang tak biasanya Agung lihat di kampus.
"Yups! sepertinya sudah." Jihan berdiri di susul Qu.
"Tante, sekali lagi Kita pamit ya." Jihan sama Agung menyalami Mamanya Qu, Qu memeluk Mamanya dan mencium pipinya juga mencium tangan Mamanya.
"Ya Sayang, hati-hati aktifkan ponsel kalian," ujar Tante Andin mengingatkan ke sekian kalinya.
"Iya Mam," sahut Qu sambil mengangguk meyakinkan Mamanya.
Mereka keluar diantar tatapan khawatir orang tua terhadap Anaknya. Tapi kalau tidak begitu tidak ada pendewasaan bagi siapa saja yang terus mengekang anaknya tidak membiarkan punya teman, tidak membiarkan gaul di dunia luar, mungkin itu juga satu kesalahan dan yang akan merasakan semua itu adalah Anaknya sendiri.
Mama Andin mungkin baru pertama kali melepas Anaknya keluar dari rumah, Itu juga kalau bukan sama teman dekatnya Jihan tidak akan dirinya izinkan, tetapi pertentangan di dalam hatinya mengingat Anaknya sudah dewasa perlu teman perlu sosialisasi dengan dunia luar, untuk menanamkan kemandirian tidak akan selamanya orang tua mendampingi seorang anak akan ada saatnya Anaknya hidup diluar bersama orang lain.
Agung membukakan pintu bagi Qu di sebelah depan, dan Jihan masuk dari pintu samping bagian belakang.
Mobil mulai berjalan, Qu melambaikan tangan pada Mamanya, mengucapkan salam, begitu juga Agung dan Jihan.
"Emang kenapa? kan nanti Jihan juga ada cowoknya, mungkin juga teman yang lainnya ada yang numpang juga," jawab Agung sambil tersenyum memaklumi hati Qu yang begitu halus sampai memikirkan hal sepele begitu.
"Oh, begitu ya?" Qu pura-pura biasa saja, padahal dirinya pengen tahu cowok Jihan yang sekarang.
"Lo Qu nggak diajak cowoknya sekalian?" tanya Agung berpura-pura. Padahal Agung hanya ingin meyakinkan kalau sebenarnya masih belum ada yang punya.
"Gue nggak ada cowoknya, masih dalam penantian." Qu menjawab apa adanya.
"Sama dong berarti, hehehe ...."
"Kalau sama-sama jomblo, belajar dong menerima." sungut Jihan, sambil melirik Qu yang hanya senyum.
__ADS_1
"Gue selalu belajar, tapi Gue nggak pintar-pintar Jihan kalau dalam urusan cinta." jawab Qu dengan lugasnya juga apa adanya.
"Belajar lo kebanyakan teori, harusnya praktek dong." jawab Jihan sambil terkekeh.
"Qu, Gue ajak teman cowok ya, Qu jangan merasa terabaikan, karena Gue juga mengerti, Lo nggak akan sendiri pada dasarnya kita refresh otak dan cari bahagia nya bersama."
"Nggak apa-apa Jihan, tenang saja kan ada satu cowok yang sama-sama jomblo di samping Gue ini." Qu melirik Agung di sebelahnya.
Kelihatan Qu mulai pede
"Nah, begitu yang gue inginkan, jadilah teman yang baik dulu, saling mengisi saling menerima apa adanya,bisa mengerti satu sama lain, carilah kecocokan dari pertemanan kalian." panjang kali lebar Jihan menasehati dan memasukkan paham pada Agung juga Qu.
Agung sama Quinna tersenyum, walau jauh di lubuk hati Qu merasa sedih. Serasa dirinya masuk dunia lain yang baru saja di jajaki nya.
Bersambung ….
******
Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :
-Pesona Aryanti
-Biarkan Aku Memilih
-Meniti Pelangi
-Masa Lalu Sang Presdir
-Cinta Di Atas Perjanjian
__ADS_1
-Noda Kelam Masa Lalu
By Enis Sudrajat❤️🙏