Janji Dua Hati

Janji Dua Hati
JUJUR PADA TEMAN


__ADS_3

"Jihan, jujur Gue nggak sanggup untuk bicara tentang perasaan Gue pada Sultan, Gue malu dan yang lebih tak sanggup adalah kata penolakan seandainya itu kenyataan yang harus Gue terima." sendu suara Qu saat mereka ngobrol di kantin kampus sekedar menunggu siang agak redup dari panasnya matahari siang menuju sore ini.


Qu membayangkan Sultan mungkin sudah sampai kembali di Australia, dan bertemu pacar bulenya. Hati Qu jadi murung dan mencoba curhat sama teman akrabnya.


"Ya ampuuuuun Quinna, mana mungkin orang lain tahu hati Kita, kalau Kita tak pernah membukanya?" jawab Jihan dengan sok pintarnya.


"Apa yang harus Gue katakan Jihan? sedari awal Gue sadar dan menganggap kalau Sultan itu melihat Gue hanya sebatas sahabat," tukas Qu meyakinkan kalau itu kata hatinya dan meyakininya sampai saat ini tetap seperti itu.


"Tapi itu kata Lo kan? Lo sendiri belum tahu perasaannya Sultan, padahal kemarin itu saat kepulangan Sultan ke Indonesia saat yang paling tepat menurut Gue, Lo nggak akan punya kesempatan sebaik itu lagian Lo tak akan punya beban seandainya Lo katakan perasaan dengan jujur apapun hasilnya karena Lo akan berpisah lagi nggak tiap hari ketemu!" Jihan memberikan alasan dan memang begitu harusnya.


"Jadi Gue harus gimana Jihan?"


"Berhenti bertanya seperti itu! jawaban ada di hati Lo kumpulkan keberanian yang Lo punya suatu saat harus membuka diri mengatakan perasaan yang sebenarnya, baik itu langsung pada Sultan atau kepada siapa saja untuk bisa menyampaikannya." Tegas pendapat Jihan dan begitu mudah kelihatannya tapi tidak bagi Qu yang punya masalahnya.


"Sepertinya hilang kesempatan Gue Jihan."


"Kesempatan selalu ada sekecil apapun pasti akan ada celah diantara kalian Qu, sayang Sultan yang Lo suka nggak kenal sama Gue dan Lo belum sempat kenalin, kalau saja Gue kenal pasti sudah Gue seret ke hadapan Lo tuh Si Sultan biar Dia membuka mata selebar-lebarnya melihat Lo yang begitu cintanya sama Dia!" Kelihatan Jihan merasa gemas saja dengan lembek dan lambannya sikap Quinna.


Qu tertawa mendengar semua jawaban teman akrabnya Jihan.


Semua tak semudah membalikan tangan perlu pertimbangan dan akhirnya hanya diam itu yang di lakukan Qu selama ini.


"Memang seganteng apa sih teman masa kecil Lo itu sampai Lo kurus kering begini mikirin Dia?" tanya Jihan merasa heran saja dengan sikap Qu sahabatnya.


"Ganteng itu relatif Jihan, akan tambah ganteng kalau Kita suka, juga kalau hati Kita sudah terpaut tak mudah bisa menghentikan dan menggantikannya." jawaban pintar Qu akhirnya menjawab dengan bijaksana.


"Lo sendiri yang salah, tak pernah mencoba sama cowok lain kenapa? Lo cantik, begitu menarik menurut Gue, tapi Lo hanya mencintai sesuatu yang tak pasti, ganti tuh Si Sultan yang nggak peka sama Si Andre yang tak kalah ganteng apa Si Agung yang selalu tanyain Lo melulu," ucap Jihan berniat memberi solusi terbaik.


"Gue tak mudah bisa mudah jatuh cinta Jihan, mungkin juga Gue orang aneh, tapi hanya Gue yang merasakan semua ini," jawab Qu memberi alasan itulah prinsipnya.


"Lo tiap hari hanya curhat sama boneka-boneka Lo, semua ungkapan Lo catat dalam diary Lo, lalu kapan Si Sultan tahu perasaan Lo heh? nunggu Lo ubanan? tua dan mati bersama cinta dan perasaan Lo gitu?" cercah Jihan ingin membuat Qu mengerti.

__ADS_1


Qu hanya diam memang cara yang ditempuhnya salah tapi seandainya dirinya berterus terang. Qu begitu takut Sultan tak mencintainya semua itu pasti sedikit banyak akan mempengaruhi atmosfer persahabatan mereka itu yang Qu takutkan.


Akan lebih memalukan lagi saat dirinya katakan cinta nembak duluan, mending kalau Sultan menerimanya kalau nggak? akan di taruh di mana mukanya, dan pertemanan mereka jadi ambyar tak memberi arti lagi. Sekian tahun arti persahabatan mereka menguap hilang begitu saja oleh kata cinta yang terjun bebas meluncur diucapkan tanpa kendali, Qu tak mau seperti itu perasaannya terlalu halus kalau harus menerima kata penolakan mending tidak sama sekali.


Belasan tahun mereka bersahabat dari mulai boleh mandi bareng, ke sini-sini dilarang karena sudah masuk sekolah SD, dan mereka tetap lengket menjaga persahabatan mereka. Paling ada sedikit perbedaan paham semua bisa diselesaikan dengan baik. Semua berjalan normal dan sangat baik fase perjalanan di lalui dengan momen sangat manis sampai masa SMA Qu mulai merasakan perasaan yang berbeda pada Sultan.


Sama-sama anak tunggal yang sangat di manja dan di damba dalam keluarganya masing-masing.


Keduanya jelas punya prioritas masing-masing di dalam keluarga.


Papanya Qu adalah seorang pelaut yang pulang setahun sekali paling sedikit enam bulan sekali membuat Qu hampir kurang mendapat kasih sayang dan sentuhan seorang Bapak.


Akhirnya mereka sering bersama dengan Papanya Sultan dan figur Sultan yang menjadi idolanya kini setelah dewasa.


Lain dengan Sultan yang sehari harinya bisa berkumpul dengan kedua orangtuanya karena Papanya adalah seorang pengusaha di di bidang ekspor impor, walau belum terbilang usahanya besar tapi semakin maju saja.


Sultan kuliah di ekonomi Bisnis Internasional yang dipilihnya pasti ada kontribusi orang tuanya yang ingin mewariskan bisnis keluarganya terhadap anak semata wayangnya.


Gue memang lemah Jihan tapi itu yang terbaik bagi Gue daripada merusak hubungan persahabatan dan keluarga Gue juga sultan yang sudah terjalin lama.


"Tapi masa iya tak ada solusinya begitu perasaan itu harus diperjuangkan Qu semua tidak akan bisa dimengerti kalau hanya diendapkan di dalam hati kalau Lo tidak bisa langsung mengungkapkan carilah orang yang bisa menyampaikan perasaan Lo untuk menyiratkan kalau Lo itu merasa tertarik begitu."


"Tapi siapa? tak mungkin orang tua Gue Mama Gue atau Tante Rossa yang jadi perantara?"


"Ya itu perlu pemikiran bisa begini susah karena Lo yang bikin sudah sendiri, di sini siapa teman dekatnya cowok cewek lain selain Lo kalau bisa nitip pesan sama Dia?"


"Teman Sultan ya Gue!"


"Masa iya nggak ada yang lain?"


"Ada tapi tak sedekat itu. Teman sekolah pada jauh yang akhirnya karena Kami berdekatan jadi otomatis paling akrab ya Kita berdua."

__ADS_1


"Nanti kalau pulang lagi Lo kenalin Gue sama teman Lo itu biar nanti bisa Gue sampaikan perasaan Lo."


"Dia pulang mungkin dua tahun lagi Jihan."


"Jadi selama itu Lo mau menunggunya terus ? ya ampun Qu capek deh!"


"Gue tak berharap apapun kini, mungkin benar kata Lo tadi Gue sudah terlambat."


"Sabar Qu, orang sabar yakin akan ketinggalan kereta tapi menurut Gue kalau sudah jodoh tak akan kemana mungkin yang bisa lakukan ditambah mulai sekarang berdoa semoga hati Sultan terusik dengan do'a Lo dan perasaan Lo tersampaikan dan turun Ilham dari langit kalau cinta Lo berdua bisa bersatu."


"Aamiin..." Qu tertawa gelisah.


Bersambung ….


******


Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :


-Pesona Aryanti


-Biarkan Aku Memilih


-Meniti Pelangi


-Masa Lalu Sang Presdir


-Cinta Di Atas Perjanjian


-Noda Kelam Masa Lalu


By Enis Sudrajat❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2