
"Qu Sayang, pulang dari camping kamu kelihatan ceria banget apa Kamu begitu senang di sana mendapatkan suasana baru dan teman-teman baru?" ucap Mamanya saat melihat Qu bangun pagi dan melakukan aktivitas sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sesuatu yang jarang Mamanya lihat, tapi pagi ini menjelang siang Qu terlihat sangat ceria.
"Sepertinya biasa saja Mam, mungkin karena Qu santai minggu-minggu ini, paling nanti siang mau ke kampus sama Jihan mau jalan cari buku referensi tugas akhir izin ya Mam sepertinya Qu pulang sore," ucap Qu sambil sambil merapihkan meja makan.
"Boleh tapi jangan sampai kemalaman Mama suka ngelihatin pintu terus kalau Kamu belum pulang Nak, eh Tante Rossa tadi dari sini lho," ucap Mama Andin dengan mimik muka sumringah.
"Apa anehnya? itu biasa kalau nggak Tante Rossa ke sini Mama yang ke sana bukan?" jawab Qu tanpa melihat muka Mamanya asyik dengan lap di tangannya dari meja makan pindah ke meja ruang keluarga juga bufet barang pajangan antik dan lemari mainan.
"Iya, tapi tadi ngobrolnya serius banget Sayang tentang rencana liburan Kita ke Australia itu sekalian tengok Sultan kan Kita bisa ikut sekalian." Ucapan Mama Andin seperti mengubah haluan hatinya yang mulai tertata di jalur yang diinginkannya. Selama ini berusaha di perjuangkan semaksimal mungkin tapi apalah daya setiap saat selalu saja ada bahasan tentang keluarga Tante Rossa juga nama Sultan terngiang di telinga Qu berputar-putar sekitar otaknya menjadi Qu pening sendiri.
Deg! hati Qu berdebar, Sultan! satu nama yang ingin diabaikan dari dalam hatinya, tapi begitu sulitnya. Bahkan baru saja dirinya akan melangkah meninggalkan Sultan dan semua kenangan juga harapan masa depan yang mungkin tidak bisa Qu raih, selalu saja ada bahasan soal Sultan dan Sultan lagi, tentang Sultan, masalah Sultan, khabar Sultan dan seabrek lagi tentang Sultan masuk di kehidupannya, masuk di keluarganya seakan-akan Sultan adalah bagian dari keluarganya sendiri.
"Memang Mama mau liburan ke sana?" tanya Qu sambil memandang Mamanya. Berhenti berkegiatan merapihkan semua dan beres-beres isi rumahnya.
"Mama sih terserah Kamu Sayang, tapi kalau Kita nggak ikut juga nggak enak banget sama tante Rossa yang sudah jauh-jauh hari sudah merencanakan semuanya, lagian Tante Rossa juga kasihan nggak ada temannya." Ucapan Mamanya selalu memikirkan perasaan sahabat juga tetangganya terlebih keluarga Sultan.
"Memangnya Tante Rossa nggak bisa pergi sama Om Haris saja? kenapa selalu melibatkan keluarga Kita dalam segala urusannya?" jawab Qu agak ketus merasa semua bukan urusannya.
"Qu, jangan bilang begitu. Tante Rossa sama keluarganya terlalu baik pada Kita sudah seperti keluarga kita sendiri, keluarga Kita juga banyak butuh sama keluarga dia hitung-hitung Kita saling mendukung dalam segala hal selain bertetangga dekat lagian Om Harris nggak bisa ninggalin perusahaan dan kantornya. Mama sama Mamanya Sultan Tante Rossa sudah menganggap pertemanan Kita bertetangga kita adalah sudah seperti saudara sendiri apa salahnya Kita menyenangkan hatinya toh Kita juga enak tinggal duduk saja kok bisa liburan ke Australia, semua Tante sama Sultan yang urus keberangkatan Kita nanti." Mamanya selalu panjang kali lebar kalau sudah memberi pengertian sama Qu.
"Qu ikut baiknya kata Mama saja deh." Sepertinya Qu malas buat adu argumen saat ini sama Mamanya. Memang nggak ada untungnya malah debat untuk hal yang seperti ini. Satu lagi tak akan menang selalu harus mengalah kalau urusan soal Tante Rossa dan Sultan.
Qu tak bisa bayangkan liburan ke Australia, berkenalan dengan cewek bulenya Sultan akan seperti apa perasaannya selama itu? apa Aku ajak Agung aja? mungkinkah? biar Sultan juga bisa melihat kalau dirinya juga bisa pacaran dan jalan bareng sama cowok ganteng tapi apa Mama sama Mama Sultan mengizinkan? yang jelas tak akan ada orang lain yang notabene orang luar masuk dalam agendanya.
__ADS_1
Lagi-lagi Sultan dan keluarganya, keluarga itu sudah seperti keluarga selebritis saja layaknya ada aja yang jadi topik pembicaraan yang di bawa Mamanya atau yang di anterin Tante Rossa atau jadi topik bahasan mereka berdua di sini atau di rumah Sultan.
"Ya, kalau gitu syukurlah biar nanti Mama yang bilang sama Tante Rossa pasti Sultan nya juga senang."
Qu mau masuk lagi ke kamar tapi suara Mamanya membuat langkah Qu terhenti dan balik badan memandang Mamanya.
"Qu, tunggu dulu! khabar baik satu lagi kalau Sultan sudah kerja di sana, bahkan tiket buat keluarganya sama Kita akan di pesankan Sultan jadi Kita tinggal duduk saja di pesawat." Terlihat senyum lebar di muka Mamanya saat memberitahukan khabar itu.
"Oh ya?" Qu pura-pura kaget. Padahal Qu sudah tahu Sultan sendiri yang cerita waktu itu.
"Hebat banget ya Sultan, tak nyangka sedikitpun kalau Sultan bisa mendapat pekerjaan sambil menyelesaikan kuliahnya itu prestasi yang luar biasa." gumam Mama Andin tak pernah berhenti mengagumi Si Playboy yang satu itu membuat Qu menarik nafas.
"Iya Mam, Sultan bisa banget memanfaatkan peluang yang ada juga Sultan terbilang cerdas dan pandai bergaul," jawab Qu apa adanya.
Hati Qu semakin ciut saja, pupus sudah semuanya, kini tinggal menjaga dan memupuk persahabatan dan pertemanan dirinya dengan Sultan juga Mamanya sama Mama Rossa selebihnya Qu sudah pasrah, membiarkan hatinya tak bertuan walau sudah ada Agung di sisinya hati Qu tak bisa dibohongi kalau Sultan begitu kuat bertahta di hatinya.
Quinna tak bisa mengabaikan Agung begitu saja, sekali mengambil keputusan dirinya harus bisa konsekuen dengan keputusannya. Agung juga bukan boneka yang bisa diperlakukan seenaknya, justru di situ terkadang Quinna merasa serba salah.
Agung serius mengharapkan hubungan tanpa sisa cinta yang lain diantara mereka, sedang hati Qu masih saja bercabang antara hati dan kenyataan.
Sekarang Qu menjalani hubungan yang sangat manis, hasil dari susah payah berusaha membuka hatinya bagi cinta yang datang, tapi lagi-lagi khabar Sultan tak bisa hilang dari kehidupannya. Bahkan Mamanya sama Mama Sultan berencana liburan ke Australia bersama yang tak mungkin tanpa dirinya.
Kebimbangan melanda hati Qu, hatinya muram dan nggak semangat dilema dalam dirinya membuat Qu malas ngobrol dengan siapapun.
__ADS_1
Agung maafkan Aku yang tak bisa hatiku sepenuhnya mencintaimu seperti harapanku selama ini, Kamu telah salah melabuhkan dan menitipkan harapan padaku yang penuh kebimbangan ini.
Qu masuk kamar duduk di meja belajarnya memandang laptop yang sering di bukanya hanya untuk satu khabar menyebalkan dari Sultan.
Bersambung ….
******
Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :
-Pesona Aryanti
-Biarkan Aku Memilih
-Meniti Pelangi
-Masa Lalu Sang Presdir
-Cinta Di Atas Perjanjian
-Noda Kelam Masa Lalu
By Enis Sudrajat❤️🙏
__ADS_1