Janji Dua Hati

Janji Dua Hati
Mulai berpikir berpaling


__ADS_3

"Pokoknya Lo harus rubah haluan Qu! Gue jadi kasihan sama Lo. Mulai besok Lo Gue kenalin sama Agung ya, Dia baik banget nggak kalah pintarnya, ganteng, aktif, dan postur jago basket nggak di ragukan jadi apalagi? Dia naksir Lo sudah lama banget titip salam melulu tanyain Lo melulu kalau bertemu dan satu lagi Dia tajir melintir luar biasa lihat saja penampilannya malah Gue pernah ke rumahnya! jangan lewatkan kesempatan langka ini. Biarkan semua cewek yang ngantri ngeces lihat nanti Lo jadian sama Dia!" ucap Jihan begitu bersemangat mensupport sahabatnya ini.


"Jihan, Gue takut tak seperti yang Lo harapkan." Qu meragu. Sorot matanya tetap muram memperlihatkan kegelisahan hati dan perasaannya.


Qu bingung antara perasaan dan kenyataan yang di hadapinya, sedang yang ada di depan matanya Sultan tak sedikitpun memberikan signal mengerti isi hatinya.


Banyak laki-laki yang mengharapkan perhatiannya itu diakui Qu tapi entah kenapa tak merasa tertarik entah selalu di bandingkan dengan pesona Sultan? sehingga semua nampak kurang menarik di mata Qu.


"Emang yang Gue harapkan apa dari Lo Qu? Gue mau Lo buka diri bukan cuma pada Agung atau Andre saja coba jalan aja dulu soal rasa dan cinta akan datang belakangan, Gue nggak muluk Qu, asal Lo bisa keluar dari permasalahan Lo yang terus saja berpikir mengharap sesuatu yang nggak jelas Gue care sama Lo sebagai sahabat Gue kalau Lo orang lain bahkan sahabat Gue bodo amat malas ngapain ngurusin dan mendukung urusan orang lain?" Jihan menegaskan kalau dirinya merasa itu masalah yang harusnya ada jalan keluarnya.


Quinna diam, memang benar semua yang Jihan katakan, Dirinya mengharapkan satu rasa dari Sultan dan ingin Sultan membalas perasaannya tetapi dirinya tak pernah mengatakan, apa mungkin semua itu menjadi satu kenyataan?


Qu sedikit mulai terbuka hatinya dan memang harus mencoba apa salahnya walau kalau nanti benar saja Dirinya pacaran pasti akan mendapat interogasi dari Mama Andin.


"Menutup diri dari semua laki-laki itu bukan sesuatu yang baik, karena Kita cocok dengan satu orang lantas tidak ada teman yang lain itu juga salah.


Qu, banyak-banyak lah teman nanti akan tahu karakter masing-masing jangan hanya melihat kebaikan satu orang Sultan saja dan yang lain diabaikan nggak balance dan seimbang sungguh itu pandangan salah bagi Gue." Semua yang Jihan ucapkan benar diakui Qu. Memang selama ini Qu tak banyak teman hanya sebagian kecil dari teman sekolahnya karena jauh juga tapi kalau sama Sultan selain bertetangga cukup dekat sekolah mereka selalu di sekolah yang sama.


Qu kembali diam, mengakui kalau yang di katakan sama temannya Jihan itu sedikitpun tidak ada salahnya. Timbul keinginan Qu merubah haluan hidupnya dengan secercah harapan walau masih semu.


"Lo mau ya, Gue kenalin besok sama Agung? Gue nggak maksa Lo harus pacaran tapi belajar menerima teman laki-laki lain dalam hidup Lo." Sekali lagi Jihan meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Terserah Lo Jihan, tapi Lo jangan kelihatan sengaja kenalin Gue buatlah seperti nggak di sengaja." Qu mulai memperlihatkan respon baik.


"Lo takut banget Qu, Agung itu baik teman Gue juga, semoga kalian akan cocok. Lo tenang saja Gue atur semuanya." Jihan kelihatan senang dengan perubahan muka Qu yang mulai beranjak dari murungnya.


"Gue bukan takut Jihan, tapi Gue merasa belum siap untuk membuka diri," jelas Qu mengharapkan Jihan maklum keadaannya. Tak mudah memulai semuanya.


"Lalu kapan Lo siapnya? Nunggu cowok yang Lo tunggu-tunggu itu nikah duluan sama orang lain? lalu Lo makan hati di pojokan sana? Itu bukan kepastian Qu! Konyol namanya kalau menurut Gue. Sesingkat itu hidup Lo dalam mengambil keputusan buat masa depan Lo sendiri? terus baru Lo mulai memikirkan diri Lo sendiri setelah tahu cowok yang Lo idamkan di pelukan orang lain gitu? Qu, Qu! Lo itu sama saja dengan mencintai bayangan." Jihan begitu bisa menghakimi dan begitu mudah menilai padahal bagi Qu begitu sulit menjalani pilihannya itu.


'Maafkan Gue Sultan. Gue harus bangkit membuka diri pada laki-laki lain, walau begitu berat yang Gue rasakan. Tapi hidup Gue juga harus tetap berjalan tak hanya menghabiskan waktu cuma menunggu Lo' Hati Qu berperang dengan kejujuran hati dan cintanya yang begitu dikhayalkan indah bersama Sultan tapi sadar saat Sultan tak memperlihatkan rasa yang sama.


Lirih suara hati Qu, 'Sultan apa yang harus Gue lakukan? apa dengan cara ini Gue bisa menghibur hatiku? bisakah menjalaninya begitu bahagia seperti bahagianya saat Kita bersama?' Sedih rasa hati Qu saat dirinya memutuskan berpaling dan berkhianat pada perasaanya sendiri merasa semua adalah kelancangan. Terlalu tulus rasa yang di peruntukkan Qu pada Sultan. Satu rasa yang begitu dalam tapi belum tersampaikan akan di khianati oleh satu pembelajaran dalam cinta.


"Sudah nggak usah murung! Sultan itu mungkin bukan jodoh Lo bisa juga jadi jodoh Lo, tapi datangnya terlambat. Dia pacaran malah gonta ganti kata Lo, lo juga pacaran lah! kan Kita nggak tahu jodoh kita siapa?" jelas Jihan merasa prihatin.


"Lo yakin Sultan itu yang terbaik?"


"Setidaknya yang Gue kenal sejak kecil."


"Itu karena Lo nggak pernah membuka diri buat cowok lain, nggak pernah akrab, bahkan nggak pernah pacaran. Yang Lo kenal dekat teman Lo Sultan itu, pandangan dan penilaian baik Lo sudah jatuh sama Dia, itu penilaian tak seimbang Qu!" ucap Jihan terasa itu sebagai ucapan menghakimi pada perasaannya. Tapi Qu menerima memnag semuanya benar adanya malah Quinna berterima kasih pada sahabatnya ini kalau Dirinya telah di bukakan dari tertutupnya pandangan selama ini.


"Gue salah ya?"

__ADS_1


"Nggak salah juga, tapi cara berpikir Lo sudah di bentuk sama image seseorang yang Lo suka jadi Lo begitu berkhayal tingkat tinggi sama Dia, terobsesi hanya pada Dia saja, bahaya itu! Lo bisa patah hati sendiri tanpa berhubungan."


Deg! Quinna menyadari kekeliruannya, semua yang dikatakan Jihan itu tak sedikitpun salah, 'Gue hanya mencintai bayangan, sedang Sultan tak pernah tahu isi hati gue'


'Patah hati sendiri tanpa berhubungan' kata terakhir yang diucapkan Jihan begitu menakutkan bagi Qu, Dirinya harus bangkit mulai menata dirinya menjemput impian masa depannya sendiri.


Bersambung ….


******


Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :


-Pesona Aryanti


-Biarkan Aku Memilih


-Meniti Pelangi


-Masa Lalu Sang Presdir


-Cinta Di Atas Perjanjian

__ADS_1


-Noda Kelam Masa Lalu


By Enis Sudrajat❤️🙏


__ADS_2