Janji Dua Hati

Janji Dua Hati
Cerita kenangan


__ADS_3

"Lo curang, nggak mau katakan kenangan yang paling berkesan Qu!" Sultan menggoyangkan tangan Qu sambil menuntut dan tertawa. Qu menarik tangannya perlahan sambil tertawa juga.


"Ntar Gue mikir dulu, sambil lihat-lihat laptop, karena terlalu banyak hehehe..." Qu tertawa begitu renyah sambil mengibaskan rambut yang tergerai ke muka dengan tangannya. Rambut lurus hitam panjang di bawah pundaknya yang dulu kalau mau berangkat sekolah masih suka di kuncir sama mama Andin kala Sultan nyamper pergi sekolah, terpaksa Sultan menunggunya sampai kunciran itu selesai dan berpita rapi.


"Ah Lo! gitu aja pake harus mikir segala!" Sultan menggoyangkan tangan Qu yang lagi tertawa. Sama-sama mereka tertawa sampai pengunjung lain pada melihatnya.


"Lo besok berangkat jam berapa?" Qu mengalihkan pembicaraan.


"Pagi banget, karena Gue ambil penerbangan pertama Gue balik mepet banget waktunya jadi hanya punya sedikit waktu biar bisa istirahat sebelum aktivitas." Sultan menjawab sesudah meminum minumannya.


Qu diam hatinya meronta, semua akan kembali seperti biasa, sepi dan kesepian, hanya kenangan dan buku harian yang setia menemaninya.


Setiap notifikasi berharap Sultan yang memberi kabar, walau hanya dibaca saja, karena bingung untuk basa-basi membalasnya.


"Besok gue nggak antar Lo ya, tapi do'a Gue selalu yang terbaik buat Lo!" ucap Qu dengan perasaanya sendiri. Begitu banyak campurannya di situ, sedih, cemas, galau, gelisah dan sederet rasa melo yang Qu rasakan.


"Nggak apa-apa, memang itu yang Gue harapkan." jawab Sultan. Qu melihat ada gurat berat dan sedih di wajah Sultan.


"Kita sama-sama saling do'a, semoga semua cita-cita Kita tercapai." Quinna berusaha tegarkan jiwanya dan mendewasakan hati dan perasaannya juga sikapnya bagaimana harusnya bersikap setelah dewasa.


"Gue suka nunggu lama banget kalau kirim khabar sama Lo, kenapa sih malas banget buka e-mail?" celetuk Sultan akhirnya sampai pada pertanyaan itu.


'Sebenarnya gue orang paling rajin buka e-mail, aplikasi dan sosmed Sultan, tapi untuk membalas curhatan Lo yang bikin sakit hati Gue mending Gue nggak balas.' Hati Qu bermonolog.


"Gue kadang lagi sibuk saja, tapi kalau lagi senggang pasti Gue balas kan? emang ada yang nggak Gue balas?"


"Nggak sih, cuma kadang Gue mikir masa jam segini Lo sudah ngorok?" ejek Sultan tertawa kecil.


"Mungkin juga, karena kalau nggak ada kegiatan Gue mending tidur."

__ADS_1


Sultan mengangkat alisnya sambil tetap tersenyum mendengar alasan Qu.


Lelah rasa hati Qu, dengan perasaannya sendiri, berharap sesuatu yang tak pasti dan tak kunjung ada titik temu yang semakin tak menentu. Sampai kapan waktu memberi kesabaran kepada dirinya bisa bertahan dengan perasaannya? Kenyataannya sultan yang diharapkan Qu sedikitpun sampai saat ini tidak memberikan respon suka sebagai seseorang dengan tanda kutip yang diharapkannya, bisa mengerti sinyal yang diberikan bisa mengerti isi di hatinya.


Kadang Quinna juga berpikir memang sejenius apapun orang tidak akan tahu isi hati seseorang kalau tidak mengatakannya mungkin dirinya seperti itu kena dengan pepatah itu.


Mereka berpisah di teras rumah Sultan dengan membawa dan menyimpan perasaan nya masing-masing.


Qu pamit, setelah mereka berjabatan tangan erat, tak berani menatap sorot mata Sultan yang dirindukannya ada di hadapannya. Tak ada pelukan perpisahan hanya ada pesan sahabat. Esok mereka berpisah kembali dan hari hari seperti kemarin yang akan di jalani.


Sultan juga seperti menahan lebih lama Qu untuk pulang, tetap membawa Qu ngobrol walau sudah habis topik pembicaraan dan obrolan mereka sampai pada hal-hal kecil mereka obrolkan dan Sultan lebih banyak mendominasi obrolan.


"Gue pulang nanti Lo sudah jadi sekretaris cantik, pasti direkturnya senang punya sekretaris Lo yang cantik juga pintar!" ucap Sultan bangkit mengikuti Qu yang bangkit duluan.


"Lo juga pulang dan sudah sukses dengan rintisan usaha hebat Lo, jangan lupakan Gue kalau Lo sudah sukses!" jawab Qu dengan tegas sambil tegarkan hatinya yang terasa sakit dan sesak.


'Gue senang jadi teman Lo Sultan, senang di repotin, suka dengan jahil Lo yang kadang bikin Gue kesal sampai nangis, suka saat Kita jalan bareng jadi teman ke mana-mana walau terkadang saat tahu Lo pergi sama teman cewek Gue kelimpungan sendiri berpura pura sibuk sendiri.'


'Gue juga nggak mungkin melupakan Lo Sultan, Lo yang mengangkat tubuh Gue dengan pundak Lo saat turun dari pohon dan Kita sama-sama cemas juga takut dengan anjing yang mengejar itu, walau tubuh Lo saat itu belum sekuat sekarang'


'Dan berjuta kenangan lainnya, semua ada dan tercatat rapi dalam diary ku, mungkinkah suatu saat Kita buka dan Kita kenang bersama?'


"Bye Sultan, sampai jumpa lagi, hati-hati di jalan, selamat menjalani aktivitas kembali di sana." Senyum pelepasan Quinna mungkin terakhir Sultan melihat senyum manis itu, Perpisahan yang sangat lama dan panjang juga sangat jauh terbentang di depan mereka.


"Iya Qu cantik, Gue pasti akan semakin kangen sama Lo, kalau sudah sampai nanti Gue kabarin Lo." Sultan menatap tajam sambil mengangkat sebelah tangannya membalas kata perpisahan Qu.


Quinna mengangguk dan melambaikan tangan juga lalu berjalan ke arah rumahnya, ada butiran hangat di ujung bola matanya yang tanpa diundang datang saat hatinya merasakan sedih.


Selamat jalan Sultan mungkin selamat tinggal juga masa kecil walau persahabatan tak pernah lekang oleh waktu tapi kalau harus merealisasikan dengan perubahan cinta mungkin susah.

__ADS_1


Gue juga harus hidup Sultan harus berdiri berjalan dan menata masa depanku sendiri tidak akan hidup bersama kenanganmu lagi di dunia nyata, tidak akan hidup bersama masa kecilku tetapi seiring kedewasaan Gue harus mulai membuka diri dan mencoba menanamkan rasa cinta selain kepadamu Sultan.


Malam merambat naik perlahan membawa raga dalam gelisah di peraduan. Bayangan Sultan begitu menjulang bagai kolase di kepala Qu hadir silih berganti dengan senyuman dengan tawa dengan ledekan dengan ejekan dengan cibiran dengan omelan dengan jahilnya dengan tatapan dengan gandengan semua Qu suka.


Bulan merah jambu menggantung di langit jingga terlihat dari jendela kamar Qu, Qu bangkit karena belum menutupnya. Sesaat Qu berdiri menatap bulan yang benderang.


'Aku suka bulan Sultan, karena begitu indah dan bisa menerangi seisi bumi.'


Masihkan Sultan ingat obrolan masa SMP mereka saat camping dulu? kenapa semakin ke sini semakin semua kenangan tergambar jelas?


Aaargh! kenapa rasa ini begitu menyiksa?


*****


Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :


-Pesona Aryanti


-Biarkan Aku Memilih


-Meniti Pelangi


-Masa Lalu Sang Presdir


-Cinta Di Atas Perjanjian


-Noda Kelam Masa Lalu


By Enis Sudrajat❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2