
Entah dari mana Mama Andin harus mulai bicara, semua menyangkut sesuatu yang sangat sensitif dan masalah hati.
Tapi seandainya tak disampaikan mungkin akan jadi ganjalan buat langkah Qu sendiri, tapi kalau disampaikan akankah Mama Rossa menyambut baik? semua tentang perasaan putrinya sendiri.
Akankan Mama Rossa senang seandainya bisa menyampaikan semuanya pada Sultan dan akan bahagia mereka bisa besanan dengan dirinya semua membuat Mama Andin bingung juga.
Sampai di suatu kesempatan Mama Andin mengobrol dengan tema Liburan, Australia, dan Sultan berusaha mengambil kesempatan di sela-sela obrolan mereka dan saat ada celah untuk bicara.
"Qu sama Jeng Andin sudah packing pakaian belum?" Mama Rossa begitu antusias memandang muka sahabatnya saat membuka obrolannya.
"Sudah Jeng, memang Kita akan berapa lama di sana?" jawab Mama Andin sambil memandang Mama Rossa.
"Aku maunya se-betahnya saja, tapi ada batas kalau visa kita adalah visa kunjungan wisata, nggak apa-apa kalau Sultan masih di Australia kita kesana lagi suatu waktu, kalau memang kita belum puas kali ini," jelas Mama Rossa begitu antusias akan pengalaman pertamanya liburan keren dan pasti akan berkesan di Australia sana.
"Sama Papanya Sultan jadi ikut? gimana jadinya Mam?" Mama Andin bertanya lagi.
"Oh nggak, terlalu banyak urusan di kantor lagian mending Kita saja, Mas Haris ribet banget dan serba aturan banget, makanya mending kita saja yang berangkat seminggu cukup kan Kita di sana? atau dua minggu sepertinya kurang kalau cuma seminggu ya?"
"Lama juga ya? cukuplah Jeng seminggu juga tak apa-apa nggak tiap tahun ini." jawab Mama Andin.
"Aduh! lupa tanya Sultan, kalau sekarang di sana lagi musim apa ya? Kita kan harus menyesuaikan DC nya."
"Iya juga, Kita nggak bisa sembarangan bawa baju, harus disesuaikan dengan musim yang ada di sana, jangan-jangan sekarang musim dingin terus kita bawa nya baju yang biasa saja jadi nggak nyambung lah." Mama Andin tertawa menanggapi ucapan mama Rossa yang panik sendiri karena mereka baru pertama akan berkunjung ke negeri 4 musim.
"Hooh Jeng, bawa baju nanti malah mubazir nggak bisa Kita pakai apalagi sekarang musimnya nggak tentu sudah nggak sesuai jadwal." ucap Mama Andin.
"Jeng, apa sudah bilang Papanya Quinna apa nggak ada masalah? takut Papanya nggak izinin gitu."
"Sudah Jeng, Papanya malah bersyukur Kita bisa pergi liburan karena menurut Dia kalau menunggu pergi sama Papanya belum tentu kapan, kalau memang ada kesempatan nggak apa-apa kita manfaatin. Tapi masalahnya bukan di Papanya tapi di Quinna sendiri Jeng," sahut Mama Andin mulai pada masalahnya.
__ADS_1
"Syukurlah, ada apa dengan Qu Jeng?"
"Dari mana ya Aku harus bicara?" Mama Andin malah balik tanya dengan sorot keraguan di wajahnya.
"Jeng! ada apa? masalah apa?" Mamanya Sultan Mama Rossa semakin penasaran dan khawatir. Paling dikhawatirkan Qu nggak bisa berangkat. Itu sudah jadi keputusan Sultan dan perintah kalau Qu adalah bagian dari liburan yang diinginkan Sultan melewatkannya kali ini.
Mama Andin mengambil satu buku warna sampul pink dari kamar Anaknya, lalu membuka dan memberikannya pada Mama Rossa, dengan penuh tanda tanya Mama Rossa lalu menerima buku itu menatap muka Mama Andin dengan penuh tanda tanya tetapi Mama Andin mengangguk sambil membuka telapak tangannya menyuruh Mama Rossa membacanya.
"Jeng baca satu halaman ini saja, Jeng akan mengerti semuanya!" jelas Mama Andin sambil tangannya terasa dingin saat mengambil minumannya berusaha menenangkan diri saat Mama Rossa mulai membaca dan mulai memahami isi dari kata-kata yang ada di buku diary itu.
Mama Rossa mulai membaca dengan rasa penasaran, tak mengerti sebenarnya ada apa pada awalnya, dalam kepanikan memnag sulit mencerna isi dan makna dari tulisan tangan di hadapan.
Apa Aku ini pintar? Tapi kenapa untuk ucapkan satu kata saja tak bisa?
Apa Aku ini bodoh? Tak bisa melihat laki-laki lain yang begitu baik dan begitu perhatian?
Kenapa hanya ada satu nama dan kenangan itu di otakku?
Hai pengembara! Apa yang harus Aku lakukan agar Kamu tahu isi hatiku?
Hai sahabat masa kecilku! sampai kapan Kamu menyiksa hati dan perasaanku ini? Apa Kamu tak melihat Aku sudah dewasa? Pandanglah secara dewasa!
Dunia boleh berputar, siang dan malam silih berganti dan masa telah mendewasakan hati dan perasaan Kita, tapi ada yang harus Kamu tahu hatiku telah bermetamorfosa tanpa bisa Aku bendung 'Aku mencintaimu!' Semua itu menjadi beban terberat ku, karena Kamu tak mengerti rasa ini semakin kuat bertahta di hatiku.
Aku benci setiap curhatan tentang kekasih-kekasihmu, Aku benci setiap khabar tentang ganti pacarmu, Aku benci semuanya! Aku ingin merobek photo wajah ganteng mu, tapi Aku takut nanti menyesal dan nangis sendiri saat tak bisa menyatukan kembali sobekan itu menjadi wajah ganteng mu.
Pandanglah Aku secara dewasa!
"Oh alah Qu, Tante malah sudah melihat perubahan di mata Kamu sejak lama Sayang, Tante malah nggak mengerti hatimu Sultan kenapa tak melihat semua itu? malah sibuk dengan duniamu sendiri tak melihat harapan Mamamu yang begitu suka dan cocok dengan kepribadian Qu!" Mama Rossa seperti bergumam sendiri dan bicara pada Anaknya yang jauh di sana.
__ADS_1
Mamanya Sultan seperti berbicara pada buku itu. Mama Andin hanya tertegun melihatnya. Lalu tersenyum pada sahabatnya tak mengerti apa yang harus mereka lakukan.
"Jeng akhirnya kita tahu salah satu hati Anak Kita tinggal bagaimana caranya Kita menyampaikan supaya keduanya bisa saling memahami Aku yakin Anakku Sultan juga punya perasaan yang sama cuman mereka lebih menjaga gengsi dan persahabatan mereka di bandingkan segalanya." Ucapan Mama Rossa membuat Mama Andin diam bagaimana mencari cara biar semuanya bisa saling terbuka.
Mama Andin hanya tersenyum sambil mengangguk walau semua masih samar bagaimana tanggapan Sultan pada kenyataannya.
"Jeng akhirnya Kita akan besanan seperti apa yang Kita harapkan dari dulu, ya ampun sepertinya kisah anak-anak Kita layak diabadikan dalam cerita novel atau sinetron, Rasanya nggak sabar menimbang cucu Kita yang pasti lucu-lucu cantik dan ganteng kayak mama papanya."
"Ssssst... Jeng jangan terlalu jauh dulu bahagianya, bagaimana meyakinkan hati putramu Sultan bagaimana sambutannya pada perasaan putriku yang sebenarnya? lalu kalau semua ditolak Sultan bagaimana? ambyar semuanya mungkin Quinna yang akan menarik diri dari persahabatan yang Kita bina ini."
Jangan sampai Jeng! biarlah Quinna tidak tahu usaha Kita ini, Aku yang akan meyakinkan hati Sultan Anakku bagaimanapun caranya Jeng Andin sama Qu diam saja seolah tidak tahu semuanya."
"Aku serahkan saja semuanya, hanya titip Anakku satu-satunya."
Bersambung ….
*******
Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :
-Pesona Aryanti
-Biarkan Aku Memilih
-Meniti Pelangi
-Masa Lalu Sang Presdir
-Cinta Di Atas Perjanjian
__ADS_1
-Noda Kelam Masa Lalu
By Enis Sudrajat❤️🙏