
"Qu Kita lihat-lihat dulu filmnya, baru kita putuskan bersama gimana?" ajak Sultan sambil tetap menggenggam tangan Qu.
"Oke, yuk!" Qu berdiri duluan. sedikit menarik tangannya dan melepaskan pegangan Sultan yang memang nggak sadar itulah kebiasaan mereka sejak kecil.
Kembali Sultan menggandeng tangan Qu dan menariknya perlahan ada rasa hangat dalam hati Qu, perasaan nyaman dan tenang saat ada di dekat Sultan semakin menguasai perasaannya sebelum semua lebih jauh hati Qu merasa gundah sendiri.
Itulah salah satu poin dari sekian poin yang Qu begitu suka dari Sultan, perhatiannya, perlakuannya yang lembut juga melindunginya selalu diskusi dan meminta persetujuannya apapun yang akan mereka lakukan bersama.
Mereka sepakat akan menonton salah satu film dengan bintang asal Australia, Nicole Kidman. Begitu bangganya Sultan pada satu negara ini seperti layaknya negara keduanya saja. Sampai pada saat mau menentukan pilihan apa yang akan ditontonnya mau nonton tapi harus yang dibintangi artis Australia.
Quinna manut saja apa yang di pilih Sultan, walau kenyataannya Qu hanya menikmati perasaannya saja.
Entah seperti apa perasaannya Sultan saat ini itulah pertanyaan Qu setiap saat.
"Quinna? Sultan?" Satu suara mampir di telinga Qu sama Sultan.
"Vina?" Qu langsung cipika-cipiki dan berpelukan dengan sumber suara tak jauh dari mereka.
"Hai Sultan!" Vina menyodorkan tangannya pada Sultan yang tersenyum melihat Vina teman sekelasnya masa-masa SMA mereka dulu.
"Hai juga Vin, Lo sama siapa?" tanya Sultan sambil celingukan mencari seseorang yang mendampingi Vina sahabatnya.
"Itu!" Vina menunjuk seorang laki-laki yang berjalan menuju ke arah mereka berada.
Seorang tampan tersenyum menyalami Sultan dan Qu. Setelah Vina kenalkan kalau Qu sama Sultan adalah sahabat masa SMA nya.
"Lo sama Qu awet banget sih, apa Lo nggak pernah yang namanya bosan nggak? Juga berantem kek kali-kali. Sepertinya imej yang kalian sandang dari dulu sampai sekarang berarti masih berlaku 'dimana ada Qu di situ ada Sultan." Vina menatap Sultan dan Qu sambil tertawa.
"Mau bosan gimana? lha rumah kita deket banget. Kalau salah satu Mama kami nggak masak kita langsung ketuk pintu rumah Qu atau sebaliknya, tapi seringnya Gue yang buka tutup saji dan buka kulkas rumah Qu" Sultan spontan menjawab. Seperti merasa bangga pada persahabatan mereka.
Mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Lo nonton film yang mana Qu?" tanya Vina.
"Yang itu, kalau Lo?" Quinna menunjuk satu poster film yang menempel di dinding.
"Yaaaaaah .... sayang kita beda pilihan. Gue yang ini." Vina menunjuk film yang akan ditonton nya.
"Qu, Sultan, Gue jalan duluan ya, kalau satu studio Kita bareng, enak juga kita bisa ngobrol walau bisik-bisik, hehehe …." ucap Vina sambil tertawa.
"Yang asyik kan bukan filmnya tapi sebelahnya." Sultan nyengir begitu enteng dia jawab menggoda Vina.
Qu hanya bisa membayangkan gimana asyiknya nonton sama seorang pacar, karena pada kenyataannya dirinya belum pernah melewatkan yang satu itu.
Rasa minder kembali menyergapnya, Qu merasa jadi cewek yang paling menyedihkan walau pada kenyataannya banyak cowok yang cari perhatian dan melakukan pendekatan tapi hati Qu seperti tertutup dan akhirnya semua cowok yang mendekatinya menjadi putus asa dan mundur secara pelan-pelan saat tahu tanggapan Quinna begitu dingin.
Atau melihat kedekatan antara Qu sama Sultan mungkin semua cowok jadi segan bersaing dengan seorang Sultan yang selalu ada di dekatnya. Padahal diantara mereka tidak ada apa-apa selain persahabatan.
Dari dulu hanya Sultan yang mengajak Qu nonton, itu juga saat Sultan nggak punya pacar atau lagi putus, menyedihkan memang! Tapi mungkin disitulah peran sahabat di perlukan, ya sebagai teman namanya juga.
"Oh, eh, buat apa? Lo mau berduka cita? ucapin bela sungkawa maaf sudah nggak terima, udah kadaluarsa," Qu berlagak nggak suka.
"Ya mungkin Lo mau konsultasi sama Gue, atau minta saran apa aja kenapa Lo nggak pernah lama kalau pacaran?" jawab Sultan terlihat biasa saja.
"Saran? Emang Lo buka konsultasi gratis khusus soal itu? Gue nggak akan konsultasi sama Lo soal yang satu ini, karena rekam jejak Lo itu jelek tahu! merasa nggak?" Ucapan Qu seperti mewakili emosi dalam hatinya yang tak bisa mengungkapkan perasaan pada sosok di sampingnya ini.
"Hahaha .... Gue akui memang rekam jejak Gue jelek tapi Gue belum pernah di kenalin sama cowok Lo dari dulu, tahunya jadian dan putus aja." Tawa Sultan seperti sembilu di hati Qu begitu mengiris perasaannya.
"Lo sadar nggak? hitung dari SMA siapa aja yang pernah jadi pacar Lo kalau di daftar pasti panjang banget kenapa putus? Kemana sekarang yang namanya Lala, Desy, Fia, Ayu, Diana, Puji, Dewi, Irana, Emma, Tiara, Emi, Elma, Jenny, Kumala, Jessy, Tita, Reni, Angel, Tanti dan lain-lain lagi?" semprot Qu pada Sultan.
"Hahaha.... Lo tahu aja! juga ingat semua! kasus Gue kebanyakan ceweknya nggak sesuai sama kriteria yang Gue mau, maunya yang pintar, mandiri nggak manja, nggak lama-lama kalau dandan tapi cantik, nggak lama-lama menyiksa Gue harus nungguin belanja pilih ini pilih itu akhirnya nggak jadi, pintar masak, keibuan dan bisa mengingatkan Gue kalau lagi lupa sesuatu." jelas Sultan sambil nyengir sendiri.
"Elo sih kebanyakan kriteria, susah jadinya. Cari yang sempurna? kalau gitu cintai robot-robot masa kecil Lo, di jamin dia mau Lo apa-apain dan Lo atur atur!"
__ADS_1
"Hahaha ... dasar Lo!"
'Sultan, semua kriteria yang Lo inginkan ada di Gue, kenapa Lo begitu buta? Qu hanya menghela nafas dan ingin teriakkan semuanya, apa Sultan se-buta itu? tak sedikitpun melihat sinyal di mata guye?'
Mereka masuk studio dan nonton seperti biasa, Sultan masih saja percis beberapa tahun yang lalu mereka nonton sambil diam asyik menyimak film dan nanti akan ada bahan diskusi mereka, kadang jadi bahasan saat mereka pulang.
Filmnya bagus apa jelek, ceritanya seru, cowoknya romantis, perannya bagus dan pemerannya gini gitu hanya seperti itu saja, Qu berharap ada perubahan dari waktu ke waktu. Tapi sepertinya untuk saat ini semua biasa saja, masih seperti dulu.
Harapan di hati Qu semua sirna, semua berjalan sama seperti beberapa tahun ke belakang, Sultan tetap menganggapnya seorang sahabat. Menonton seperti biasa tak ada bisikan mesra dan genggaman tangan mesra.
Quinna berharap dan tetap berharap semoga esok, lusa atau waktu kedepannya masih bisa dirinya berharap akan ada keajaiban.
Mungkinkah? entahlah.
Bersambung Cuy!❤️
******
Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :
-Pesona Aryanti
-Biarkan Aku Memilih
-Meniti Pelangi
-Masa Lalu Sang Presdir
-Cinta Di Atas Perjanjian
-Noda Kelam Masa Lalu
__ADS_1
By Enis Sudrajat❤️🙏