
"Katanya mau bawa cewek paling cantik dan memperkenalkannya pada Papa?" ucap Papanya Agung saat suatu sore mereka duduk santai di teras rumahnya.
"Nggak dulu Pap, menunggu semua siap dulu." Agung berusaha menyembunyikan kerenggangannya sama Qu dan berusaha mencari alasan yang bisa di percaya.
"Kok kelihatan malah tidak semangat, kenapa?" tanya Papanya sambil tersenyum melihat sikap putra tersayangnya malah kelihatan tidak antusias lagi.
"Biarin Pa kalau memang begitu keadaannya biarlah Agung mantap dulu dalam pekerjaan mungkin seperti itu permintaan ceweknya." Suara Mamanya Agung terasa menjadi pembela menjadi penengah walaupun Mamanya juga tidak tahu permasalahan yang sebenarnya sedang terjadi di antara Dirinya sama Quinna.
"Oh ya? bukankah semua cewek paling senang saat ada yang meminta serius?"
"Tak semua begitu juga Pa, Agung yang ngomong pada Mama kalau ceweknya mau berkarir dulu katanya, bukan begutu Nak Agung?" tanya Mamanya.
"Iya Pa, jadi Agung berusaha mengikuti keinginannya dulu sampai melihat keyakinan Kami masing-masing sepertinya Qu punya keinginan kuat untuk bisa menerapkan ilmu dari bangku kuliahnya dan mau memasuki dinia kerja di situ Agung merasa tak yakinnya takut malah mengecewakan Mama sama Papa," ucap Agung memang saat dirinya berucap serius Quinna selalu saja nanti nanti saja serius sama orangtua akan ada saatnya suatu saat nanti.
"Bagus sepertinya teman cewekmu begitu punya prinsip tetapi hati-hati juga biar suatu saat sudah berumah tangga jadi karir bagus jangan sampai menelantarkan keluarga dan suami terlebih kalau kalian sudah punya Anak istri malah yang dipikirkannya yang karir saja. Seorang Istri harus siap dengan segala risiko sebagai Ibu rumah tangga dan konsekuensinya.
__ADS_1
Agung memang mencintai Quinna tapi kalau perasaannya masih mengambang dan hanya setengah-setengah Agung merasa percuma memperjuangkan cintanya Biarlah semua dibiarkan seperti itu sampai dirinya juga Quinna bisa berpikir dengan baik sebaiknya apa yang harus mereka lakukan memantapkan hati melangkah bersama atau berhenti sampai di sini.
"Kalau hanya bertemu keluarga boleh-boleh saja mungkin cewekmu terlalu takut saat diajak serius sepertinya Kamu tidak bisa meyakinkannya dan memberikan harapan masa depan yang lebih baik!" ucap Papanya Agung dengan bermaksud memberi masukan saja.
"Mungkin akhir-akhir ini Kami sama-sama sibuk di masa-masa akhir masa kuliahnya sampai di wisuda dan Aku juga begitu sehingga Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing," ucap Agung bela diri yang masik akal.
"Ya sudah nggak apa-apa mungkin suatu saat ke depannya Kamu bisa membawa cewek pilihanmu dan bisa memperkenalkan pada semua rekan di kantor karena Papa telah siapkan semua menyangkut pekerjaanmu dan sebagai estafet kepemimpinan jika Kamu sudah merasa yakin bisa memegangnya cuman harapan Papa sama Mama alangkah lebih baiknya Kamu berumah tangga dulu agar semua menjadi tenang pikiranmu tidak terbagi ke mana-mana kalau sudah berumah tangga seperti Bapak dulu seperti itu jadi yang Kamu pikirkan pekerjaan bukan lagi mencari sosok pasangan.""
"Ya Pap, Aku tahu keinginan Papa juga Mama tetapi tidak mudah juga meyakinkan hati Quinna."
"Pelan pelan saja layaknya menyelam." Papanya hanya mengingatkan.
Mamanya Agung tersenyum sambil mengangguk memandang punggung putranya.
Semua harapan orang tuanya tertuju pada Agung tapi seperti ucapan Quinna beberapa waktu lalu tidak terima saat Quinna merasa kalau hubungan Kita selama ini salah.
__ADS_1
Agung mencoba meresapi semuanya dan apa langkah yang akan diambilnya.
********
Sambil nunggu up JANJI DUA HATI Baca juga ya :
-Pesona Aryanti
-Biarkan Aku Memilih
-Meniti Pelangi
-Masa Lalu Sang Presdir
-Cinta Di Atas Perjanjian
__ADS_1
-Noda Kelam Masa Lalu
By Enis Sudrajat❤️🙏