Jejak

Jejak
Facebook dan Sunset


__ADS_3

Jam Istirahat kedua pun berbunyi, Putri kembali segera bergiat menyelesaikan hukumannya, walau tangannya sudah pegel banget, Rara dengan setia menemani teman sebangkunya itu. Dewi dan Lilis pun datang, "lagi sibuk ngapain si Put?" tanya Dewi.


"Lagi sibuk nyalin jawaban PR Fisika, tadi dapat marah dari Bu,Yuni, sebab gua lupa kerjain PR," jawab Putri.


"Yaelah, bisa-bisanya lupa kerja, kemarin sampai tadi pagi Lo sibuk ngapain si? gak seperti biasanya, tadi pagi buru-buru sampai kejadian itu," ceramah Dewi.


"Yah, gua khilaf," Putri jawab dengan nada pelan.


"Lis, gimana kabar kelas sebelah?" tanya Rara.


"Biasa, gak ada perubahan, Irfan aja yang paling cerewet sekarang disebelah," kata Lilis.


"Cerewet? yang bener, biasanya dia gak cerewet," Kata Rara.


"Sekarang Irfan cerewetnya gak kepalang, seluruh guru yang masuk hanya sibuk panggilin nama dia," cerita Lilis.


"Baru kelihatan aslinya," kata Rara.


"Iya, kamu sendiri disini gimana? enakan disebelah atau disini?" sambung Lilis.


"Saya senang disini," kata Rara.


"Why?" tanya Dewi dan Lilis barengan, mentang-mentang lagi les bahasa Inggris, yang ada speak dikit-dikit gunakan bahasa Inggris.


"Karena dia yang sendiri lebih pinter," Putri asal cepat menjawab.


"Ngawur aja, gak, disini tu lebih santai, tenang, mungkin karena bawaan anak-anaknya juga santai-santai," kata Rara.


"Bener, disini santai-santai, kalau di kelas sebelah, kalau telat paham dikit pelajaran ketinggalan jauh, semua sudah pada lari duluan otaknya, jadi tegang saat belajar, usaha dengar guru serius dua ratus persen," ujar Dewi.


"Wah, sia-sia dong Rara disini, harusnya dia tetap di kelas lama, disini dia sendiri gak ada saingan, gak ada pemotivasi diri," kata Lilis.


"Gak juga, disini dia berguna, dia jadi guru bagi kita semua," kata Putri.


"Wah, Lo gak niat jadi guru Ra?" tanya Lilis.


"Gak ah, bosen dari kecil masuk gerbang sekolah," jawaban Rara mengundang tawa mereka berempat.


Bel Istirahat kedua berbunyi, Putri telah usai menyalin catatannya, tangannya direnggangkan ke atas, Dewi dan Lilis segera berlari menuju kelas. Disaat tangan Putri yang lagi lelah, rasanya Enggal belajar memainkan Gitar karena setelah istirahat kedua kelasnya Rara dan Putri adalah Seni Budaya, mereka lagi mendalami belajar memainkan gitar.


Bu Asni masuk kelas, "Rian, bantu ibu ya ambil gitar di ruangan musik, ambil tiga," pinta Bu Asni.


"Siap Bu," jawab Rian.


"Duh, gitar mana tanganku lagi sakit ni," gerutu Putri.


Ternyata gerutunya itu terdengar hingga di meja guru, "tanganmu sakit kenapa Put? sakit sejak kapan?" tanya Bu Asni.


"Baru saja Bu, karena banyak nulis tadi," jawab Putri.


"Oh, ya, yah yang sabar-sabar," jawab Bu Asni.


"Iya Bu," balas Putri.


Jadilah mereka latihan bermain gitar, beberapa murid pun dengan sukarela membantu teman-temannya. Selesai jam Seni Budaya, Putri langsung berlari menuju ruang guru, dilihatnya dari depan pintu Bu Yuni sedang duduk, Putri menarik napas panjang, lalu masuk,"Selamat siang Bu," sapa Putri.


"Siang,"Jawab Bu Yuni.


"Ibu, saya mau kumpul PR fisika tadi sudah lengkap di slalin dua," Putri menjelaskan dengan tenang ke Bu Yuni.


"Ok, lain kali jangan ulangi lagi ya," kata Bu Yuni sambil menerima PRnya Putri.


"Terima kasih Bu, saya pamit pulang dulu," jawab Putri sesopan mungkin.


"Ok, hati-hati ya," pesan Bu Yuni.


Putri segera ke parkiran, di parkiran sisa beberapa kendaraan yang masih ada, "Hai, kamu," suara dari belakang Putri.


Putri menoleh dan menjawab, "Ya, ada apa lagi?"

__ADS_1


"Soal tadi pagi, Lo gak pernah rasa bersalah gitu?" tanya Irfan.


"Ya ampun, ini masih bahas yang tadi pagi, ok saya salah, maaf, tapi kan sudah dapat balasannya saya, saya yang jatuh, mobil kamu gak terlalu parah," balas Putri.


"Gak bisa semudah itu minta maaf," kata Irfan.


"Lalu maunya apa?" tanya Putri.


"Nanti saja, nama kamu Putri kan?" tanya Irfan.


"Iya, namaku Putri," Putri langsung naik ke motornya.


"Ok, jika saya butuh sesuatu, kamu harus bantu, itu bukti maafmu," kata Irfan.


"Ok, deal, saya pulang dulu," Putri langsung menstater motornya dan pergi jalan.


Irfan hanya diam melihat, dia sebenarnya khawatir keadaan Putri, jatuh dari motor, kena mobilnya, apa badannya ada yang luka, namun dilihat Putri kuat juga.


Rara sudah sampai di rumah, dilihatnya Rinli lagi main game online,"Rinli, pelajaran kamu gimana?"


"Aman," jawabnya.


"kalau ada PR sini ku bantu," kata Rara.


"Bener?" tanya Rinli.


"Iya, makanya stop main game sekarang dan keluarkan PR mu,"kata Rara.


Rinli segera memberhentikan gamenya dan mengambil buku PR dan mulai Rara mengajarinya satu per satu soal Matematika.


Riris sendiri lagi tidak ada PR, dia lagi main Facebook, dilihatnya profil teman baru dikelasnya, namanya Dedi. Dari awal Riris senang aja lihat Dedi, seperti misterius, diam banget, tak mau berteman dengan siapa-siapa, terkesan jutek.


"Ros, jangan Facebookan Mulu, belajar gi, kerjaan rumah semua sudah beres, makan malam juga sudah ada," kata Rara menegur adiknya.


"Lagi GK ada PR, belajarnya ntar malam," kata Riris.


"Iya, mama jam berapa pulang?"Tanta Riris.


"Ibadah keluarga biasa jam 6 sore baru kelar," kata Rara.


Riris kembali membuka semua foto-foto Dedi Di Facebook ternyata banyak foto cewek, Rara kembali mengajari Rinli.


Seperti biasa, Rara selalu menunggu kepulangan ayahnya dari kerja, mamanya sudah pulang duluan dari ibadah, papanya pulang, mereka semua makan malam bersama.


"Pa, malam Minggu Bima ajak Rara jalan, boleh gak?" tanya Rara.


"Kemana?,"tanya Papa.


"Belum tau," kata Rara.


"Kasih tau dulu tempatnya, baru papa putuskan boleh atau tidak," kata Papa tegas.


"Iya pa," jawab Rara.


"PR kalian gimana Rara,Riris dan Rinli?" tanya Papa.


"Sudah Pa, semuanya," Rinli jawab.


"Tumben semua sudah, beneran?," mama gak percaya.


"Bener ma, tadi kak Rara yang bantu Rinli kerja PR, Riris lagi gak ada PR, tapi sudah belajar, ntar lanjut lagi belajar," kata Riris.


"Kalau aku, PR semua sudah selesai, Les dan sekolah semua aman," jawab Rara mengakhiri penjelasan adik-adiknya.


"Kalian tahu kan, Papa tu cuma minta kalian rajin belajar," kata Papa.


"Iya Pa," Rara, Riris dan Rinli bersamaan menjawab.


Mama lanjut bercerita tentang kesaksian ibu-ibu tadi saat ibadah keluarga, serta membagikan Firman Tuhan bagi anak-anaknya.

__ADS_1


Selesai makan malam, Rara Video Call dengan Bima, "Bim, papaku akan putuskan saya boleh pergi atau gak malming nanti jika you kasih tau tempatnya."


"Bilang Om, kita ke lantai dua puluh lima di kantor ayahku," jawab Bima.


"Ngapain ke kantor ayahmu?" tanya Rara.


"Foto sunset, gua mau kasih lihat Lo indahnya pemandangan di atas, semoga gak hujan," kata Bima.


"Ok, besok pagi gua kasih tau Papa," kata Rara.


Malam Minggu pun tiba, dari sore Rara sudah siap-siap tunggu di jemput sama Bima, papanya mengijinkan


"Cie, yang lagi nunggu jemputan," goda Rinli.


"Yah, sekali-sekali juga, inikan sudah selesai ujian AKM, jadi bolehlah jalan-jalan," Rara sambil tertawa menjawab godaan adiknya.


"Ya,ya,ya,"kata Rinli.


Riris hanya diam main Facebook, akhir-akhir ni dia sering banget eksis di Facebook.


"Ros, you main Facebook, jangan terpengaruh orang loh, jika di ajak ketemuan, jangan mudah di ajak pacaran," kata Rara.


"Gak,kak," kata Riris.


"Gua pantau terus FB Lo, kapan-kapan gua periksa HP mu," kata Rara.


"Iya kak," jawab Riris.


Riris dan Rinli termasuk adik yang dengar-dengaran dengan Rara, jadi Mama sangat tenang, percaya ketiga anaknya saling menjaga.


Bima muncul di depan pagar, "Selamat sore," sapanya.


"Sore kak," sapa Rinli.


"Ada Tante atau om?"tanya Bima.


"Mama dan papa lagi keluar kak, jadi kami yang melihat kakak jemput mbak kita tersayang," kata Rinli.


"Ok, Kakak ijin ya bawa mbakmu ini jalan sore ini," pamit Bima.


"Ok kak, hati-hati ya," Kata Rinli.


"Jangan kemalaman pulang, kalau bisa jam 7 malam sudah di rumah," Riris tiba-tiba bersuara.


"Siap," kata Bima.


Rara ketawa, "Mbak, pergi ya, kalian jangan berantem, gak ada yang boleh keluar rumah, hp mbak aktif terus," kata Rara.


Rara dan Bima langsung melaju ke kantor papanya Bima.


Bima sudah membawa bekak sebungkus popcorn, dan dua botol Coca cola.


"Ra, ntar lagi kita kelas tiga," kata Bima.


"Iya gak rasanya," jawab Rara.


"Kamu, tau mau lanjut kuliah dimana?"tanya Bima.


"Belum Bim, itu juga gua lagi pikir," kata Rara.


"Pertama, adalah utamakan jurusan adalah minatmu, dua kemampuan orang tua, ketiga persetujuan orang tua," kata Bima.


"Kamu sendiri sudah tau akan lanjut kemana?" tanya Rara.


"Sudah, aku ambil Kedokteran, ngelanjutin klinik ibuku," kata Bima.


Rara hanya diam, sebenarnya banyak yang dia belum kenal dari Bima, dia hanya tau ayahnya seorang pengusaha dan ibunya dokter, orang tua Bima cuma sekali bertemu dengannya.


Sunset sore itu bagus sekali, meninggalkan jejak terindah dalam diri Rara dan Bima, cinta anak SMA, Bima mengabadikan semua itu dalam jepretannya, termasuk fotonya dengan Rara. Pertama kali Bima mengecup kening Rara, untuk di foto. Rara hanya malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2