Jejak

Jejak
Angin


__ADS_3

Angin kadang datang menyegarkan, namun kadang hingga membuat masuk angin 😂. Itulah kehidupan, anginpun kadang memporak-porandakan segala yang rapi, menggugurkan daun dari ranting-rantingnya.


"Ra, bantu gua dong," Bagas tiba-tiba datang.


"Bantu apa?" tanya Rara.


"Ajarkan gua fisika, gua remedial ni," pinta Bagas memelas.


"Boleh, saat jam istirahat," kata Rara.


"Kalau gua ke rumah lo, boleh gak?" tanya Bagas.


"Boleh," kata Rara.


"Bayarannya apa tu, kalau les privat aja mahal," Putri yang sedari tadi diam, akhirnya bicara.


"Gampang," jawab Bagas.


"Ijin Bima dulu, Gas," kata Putri.


"Iya nanti," kata Bagas.


Minggu depan jadwal remedial fisika, jadilah setiap istirahat, Rara sambil makan sambil ngajarin Bagas, ntah di kantin, ntah di kelas, maka munculah angin tak sedap hingga ke telinga Bima.


"Bim, kayaknya ada yang usaha nikung ni di sebelah," kata Irfan saat jam istirahat.


"Rara tu ajarin Bagas, lagipula selalu ada Putri juga di samping," kata Bima tenang.


"Ohhh, bis tiap istirahat, gak ada cela," kata Irfan.


"Bagas tu sudah dapat, kesempatan terakhir untuk remedial fisikanya, jadi ya dia harus gunakan kesempatan itu," kata Bima.


Bima, sudah hafal apa yang harus dia jawab ke semua orang yang tanya, bagi dia pun gak masalah, karena Rara sudah info ke dia sebelum Bagas mulai belajar, namun Bima jujur keberatan jika Bagas datang belajar ke rumah Rara. Maka, Bagas hanya belajar saat jam istirahat di sekolah.


"Ra, hari ini tiga anak tanya saya soal Bagas," kata Bima saat pulang sekolah.


"Sabar, tinggal besok hari terakhir belajarnya, lusa dah remedial," kata Rara.


"Menurutmu, dia akan berhasil?" tanya Bima.


"Iya, dia sebenarnya bisa, cuma gak ada yang memotivasi," kata Rara.


"Gua, denger dia juga dah gak pernah telat lagi ya?" tanya Bima.


"Iya, karena buat perjanjian dengan wali kelas dan orang tua," jawab Rara.


"Sampai bawa orang tua?" tanya Bima kaget.


"Iya, karena dah keterlaluan, setiap hari telat dari awal masuk sekolah," jawab Rara.


"Parah juga, apa yang buat dia telat ke sekolah?" tanya Bima.


"Bangun telat," jawab Rara.


"Trus, apa yang dia mau kasih ke lo, kalau dia berhasil ujian fisikanya?" tanya Bima.


"Gak tau, dia bilang gampang saat Putri tanya ke dia," jawab Rara.


"Besok, istirahat makan bareng yuk," ajak Bima.


"Ayuk, bekal makan dari gua gimana? enak? masih berkenan?" tanya Rara.


"Masihlah," jawab Bima.


"Keadaan kelas aman?" tanya Rara.


"Aman, cuma seminggu ni ramai tanyain kamu dan Bagas," kata Bima.

__ADS_1


"Ulala, kayak gak ada bahan gosip aja," kata Rara.


Rara, Putri dan Bima makan bareng saat istirahat pertama di esok harinya, Rara juga sambil ajarin Bagas. Semua anak ngelihatin.


"Hai, tumben Lo berdua nunjukin aksi di sekolah," suara besar dari belakang.


"Jojo gak sah teriak-teriak gitu dong," marah Rara.


"Kenapa, ini lagi istrahat Ra, bebas kita bicara," kata Jojo.


Bima ketawa, "Apa kabar Jo?, dah lama gak ngumpul."


"Baik bro, Lu aja yang lagi fokus ASN, jadi gak kut kita kumpul," jawab Jojo.


"Kunyuk, mau bertobat Lo?" tanya Jojo ke Bagas.


"Diam Lo," kata Bagas.


Semua pada ketawa, jam istirahat telah usai, semua masuk kelas, sambil menunggu guru masuk, Putri bicara ke Rara, "Bima, orangnya baik ya Ra, dewasa, dan pinter, dia ajak kita makan saat jam istirahat ini untuk redakan angin soal kalian dan untuk nunjukin ke semua Lo masih sama dia."


"Bisa aja kamu Put," jawab Rara.


"Kamu, dah pernah dikenalin ke orang tuanya Ra?" tanya Putri.


"Sudah, sekali," jawab Rara.


Bagas berhasil tuntas remedial Fisikanya, dia bahagia banget, "Ra, gua masih bingung mau kasih apa ke Lo, uang gua gak punya banyak, traktir uang jajan gua gak seberapa."


"Dah, gak sah mikir, usaha gak boleh remedial lagi," kata Rara.


"Enak banget Lo," kata Putri.


Bagas tertawa lepas, di hatinya dia suka Rara, tapi dia segan juga sama Bima.


"Hai semua," Sapa Dewi saat mereka bertiga lagi tertawa bahagia melihat hasil remedial Bagas.


"Kamu yang sombong juga, gak kunjungi aku di sebelah," kata Dewi.


"Yah, nyamanan kamu ke kelas kita dong," jawab Putri.


"Gimana Wi, kelas sebelah?" tanya Rara.


"Banyak anak pinter, aku mah ikut pelan-pelan," kata Dewi.


"Kalau istirahat main-mainlah kesini," kata Rara.


"Iya," kata Dewi.


"Gas, kenapa tiba-tiba diam?" tanya Rara.


"Gak, apa-apa, gua ke lapangan dulu ya, anak-anak nunggu," pamit Bagas.


Dewi hanya diam lihat Bagas berlalu, "Ku kembali ke kelas ya Put, Ra," pamit Dewi.


"Ok dah..," jawab Rara dan Putri.


"Put, Dewi dan Bagas gak dekat ya di kelas dulu?"


"Sangat dekat," kata Putri.


"Pacaran mereka?, lalu kenapa kayak diam-diaman gitu?" tanya Rara.


"Iya pacaran, lalu gak tau kenapa putus dan Bagas mulai sering telat ke sekolah dan beribu masalah, dan mereka jadi sangat jarak, saling diam," kata Putri.


"Sebenarnya kalau diam, artinya di hati mereka masih ada rasa sayang," kata Rara.


"Aku juga pernah ngomong gitu ke Dewi," kata Putri.

__ADS_1


"Apa jawab Dewi?" tanya Rara.


"Biar aja diam dulu, nanti lihat sampai kapan,"cerita Putri.


"Ya sudah biarkan saja," kata Rara.


Bima pun turut senang mengetahui Bagas tuntas ulangan fisika, "Kamu sudah bisa buka les Ra," kata Bima.


"Gak ah, ngajar tu sebenarnya gak mudah," kata Rara.


"Tapi kamu berhasil," kata Bima.


"Iya,Bim ada yang ku mau tanya," kata Rara.


"Apa?" kata Bima.


"Irfa gimana di kelas?" tanya Rara.


"Baik, emang kenapa?" tanya Bima.


"Sudah dua Minggu gak pernah hubungi Riris, di WA cuma dibaca," kata Rara.


"Wah parah, putus aja bilang Riris," kata Bima.


"Iya, ku juga sudah bilang begitu," kata Rara.


Sesampainya di rumah, Rara bantu mama semuanya seperti biasa, Riris juga pulang sekolah langsung di kamarnya.


"Ris, bangun keluar mandi, makan," panggil Rara.


"Iya, sabar," kata Riris.


Mereka semua makan malam bersama, tiba-tiba pintu diketuk, "Rinli, buka pintu sana," kata Ibu.


Rinli buka pintu dan "Mbak Ris, Irfan datang," kata Rinli.


Riris yang masih makan, sempat kaget namun dia menyelesaikan makannya dulu, baru dia ke teras rumah.


"Angin apa, tiba-tiba muncul Fan?" tanya Riris.


"Angin timur," jawab Irfan.


"Maaf lama, tadi selesaikan makan dulu, kamu sudah makan malam?" tanya Riris.


"Sudah," jawab Irfan.


Riris enggan bertanya kenapa dua Minggu ni seperti sengaja menjauh.


"Ris, maaf dua Minggu ni gak ada kabar," kata Irfan.


"Gak apa-apa," jawab Riris.


"Ris, kita putus ya," kata Irfan.


"Ok,"Riris langsung jawab, tanpa bertanya.


Irfan pun pamitan.


Riris tidak menangis lagi, air matanya telah habis dua minggu menanti kabar Irfan.


Rara yang nguping dari ruang tamu hanya diam, saat Irfan pergi, Rara keluar, "Kenapa, kamu gak bertanya Ris?"


"Gak sah, dah males, mungkin dia juga sudah males sama gua," kata Riris.


"Ok, tetep semangat Ris," kata Rara.


"Iya Mbak," jawab Riris.

__ADS_1


Angin malam itu pun serasa dingin bagi Riris, angin yang tak kan pernah dilupakan rasanya


__ADS_2