
Bagaikan bintang yang menyinari malam yang gelap, praktik di kliniknya Ibu Yohana sangat membantu Rara dalam perkuliahan. Ujian praktik di akhir semester dua, semua Rara lewati dengan baik. Ari yang bertemu dengannya saat mengantar ibunya berobat, hanya tersenyum melihat kelincahan Rara.
"Lincah juga dia," Kata Dini.
"Dia kan kerja di klinik," Kata Ari.
"Oh ya, klinik apa?" Tanya Dini.
"Klinik sejahtera," Jawab Ari.
"Kenalan dia banyak juga ya," Kata Dini.
Selesai ujian praktik, Rara tersenyum lebar, hasil ujian dia foto dan kirim ke Mami.
Mamiku sayang, terima kasih sudah beri kesempatan buat Rara praktik di klinik, dan hasilnya ini Rara lulus ujian praktik kedua.
Rara mengirim pesan ke Mami.
Puji Tuhan, Mami tau kamu pasti bisa. Kata Mami.
Rara juga mengucapkan terima kasih kepada Ruby. Kak terima kasih telah banyak mengajariku, hasil ujian praktiknya Rara bagus.
Good job adek. Kata Ruby.
"Kamu diam-diam ternyata kerja di klinik ya Ra?" Tanya Rika.
"Pasti tau dari Ari," Kata Rara.
"Iya," Jawab Rika.
"Yah, banyak bersyukur, saat manusia menutup jalan kita, Tuhan membukakan jalan yang lain untuk kita," Kata Rara.
"Kamu ada apa sih dengan Dini dan kawan-kawan, kok Dini mereka seakan-akan kesel sekali sama kamu?" Tanya Rika.
"Tanya saja mereka," Jawab Rara.
Siangnya saat Rara sedang duduk di depan kantin, sambil menunggu pengumuman tentang mata kuliah kedua
"Ra, selamat ya, bagus dan lincah sekali tadi kamu praktiknya," Suara Ari menyapa Rara.
"Biasa aja Ri," Kata Rara.
"Hari Sabtu, kamu libur gak dari klinik?" Tanya Ari.
"Tidak libur," Jawab Rara.
"Kalau gitu, Sabtu ini biarkan aku yang antar jemput kamu," Kata Ari.
"Kamu perintah, atau minta ijin?" Tanya Rara.
"Perintah dan ijin," Jawab Ari.
"Diktator juga kamu," Kata Rara.
"Ra, soal agama, sudah ku bilang mamaku Katolik, jadi aku gak masalah, biarkan aku ikut hatiku," Kata Ari.
"Kalau kamu dekati aku, nanti dijauhin Dini dan kawan-kawan loh," Kata Rara.
"Gak masalah, aku juga gak terlalu dekat dengan mereka," Kata Ari.
Rara senyum melihat Ari.
Putri, Miki dan Mika sedang mencatat nilai ujian akhir semester dua yang mereka telah peroleh, sambil membandingkan diantara mereka bertiga.
"Put, kayaknya Miki deh yang nilainya rendah,"Kata Mika.
"Wah, Miki dah siap belum traktir kita," Goda Putri.
"Siaplah," Kata Miki.
"Tenang Mik, nanti bagi dua dengan gua," Kata Rangga.
"Yah rejekinya Miki," Kata Mika.
"Biar aja, sekarang kalian tentukan mau makan dimana," Kata Putri.
"Nanti, gua yang atur tempat makan, bayarnyakan bagi dua," Kata Rangga.
"Gua serahkan semua ke Lo Ga, gua ikut aja," Kata Miki.
Putri dan Mika tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Mami, nilaiku tuntas semua," Kata Dewi.
"Ya harus, sudah belajar kok dapat nilai jelek," Kata Mami.
"Cika juga dapat nilai bagus Mi," Kata Dewi.
"Harus bagus, kalau gak, kalian dua stop kuliah, kerja saja," Kata Mami.
"Enak saja Mami ini," Kata Dewi.
Cika hanya senyum.
Hari Sabtu akhirnya tiba, Ari menjemput Rara dan mengantarkannya ke klinik.
Rara bekerja seperti biasa hingga selesai jaga malam itu, ternyata Ari sudah menunggu di luar.
"Ra, temanmu dari tadi sudah tunggu di luar," Kata Kak Ruby.
"Oh ya, dia gak hubungi aku," Kata Rara.
"Gak enak kali hubungi kamu, takut ganggu kamu lagi kerja," Kata Kak Ruby.
Rara hanya senyum, dan pergi ke luar klinik.
"Ri, dari jam berapa di sini?" Tanya Rara.
"Dari setengah jam yang lalu," Jawab Ari.
"Gak laper?" Tanya Rara.
"Nanti kan makan malam sama kamu," Kata Ari.
"Ya sudah, sabar ya," Kata Rara
Rara masuk ke dalam, setelah benar-benar selesai pasien terakhir, dan berbenah membersihkan klinik, semua karyawan klinik pulang.
Rara pulang dengan Ari.
"Capek loh nungguin aku, lain kali kalau mau jalan cari pas hari libur, atau siang," Kata Rara.
"Kita makan dulu ya," Kata Ari.
"Ri, kamu gak punya pacar?" Tanya Rara.
"Gak," Jawab Ari.
"Kamu pernah pacaran sama Dini?" Tanya Rara.
"Tidak," Jawab Ari.
"Kenapa kamu gak suka Dini?" Tanya Rara.
"Sifat dan tingkahnya tidak sinkron denganku," Kata Ari.
"Jadi harus sinkron ya," Kata Rara sambil senyum.
"Aku sama Dini, gak pernah ngobrolnya nyambung, rasanya garing, aku dan kamu saja sudah sering ngobrol waktu awal bertemu dulu, ku hitung bisa sejam kita saling ngobrol dan nyambung," Kata Ari.
"Kalau kamu gak bisa kasih kepastian ke Dini, usaha jangan kasih harapan palsu," Pesan Rara.
"Yah gak lah, aku sudah terang-terangan bilang gak suka sama dia," Kata Ari.
"Kamu sebenarnya nyaman orangnya Ri, tapi memang aku paling was-was soal keyakinan," Kata Rara.
"Jalani saja dulu, aku tau kamu pun nyaman, kamu lebih nyaman denganku dari pada dengan Joshua, dengan Joshua itu tameng kamu untuk aku menjauh," Kata Ari.
"Tapi di hatiku ada sedikit kegelisahan, apa nanti pendapat Joshua dan Dini," Kata Rara.
Biar saja, sini lihat sini. Ari mengajak Rara Selfie.
"Kamu posting RI?" Tanya Rara.
"Iya, di status WhatsApp , Facebook," Jawab Ari.
"Oklah, aku siap," Kata Rara.
Ari tersenyum lebar.
Tanpa sebuah perkataan aku suka kamu, aku ingin jadi pacarmu, namu semua berjalan seperti air saja. Ya seperti itulah yang diinginkan Rara dan Ari. Kesamaan keinginan itu yang membuat akhirnya mereka bisa berjalan bersama merajut kasih di bangku kuliah.
Dini yang melihat status WhatsApp nya Ari, sangat sakit hati, Joshua tak habis pikir ada terbuka cela dimana yang tak terlihat oleh mereka.
__ADS_1
Rara pun memasang foto mereka berdua di status WhatsApp.
Yang benar? Rika langsung bertanya di WA pribadi.
Benar. Balas Rara.
Bima ternyata masih menyimpan nomor ponselnya, namun tak ada komentar sama sekali.
Di grub Everything It's Ok Putri mulai heboh.
Putri bertanya dengan sederet pertanyaan.
Namanya siapa?
Orang apa?
Semester berapa?
Jurusan apa?
Kenalan di mana?
Tinggalnya di mana?
Pelan Bu.... Dewi membalas pertanyaan Putri.
Putri membalas dengan icon tertawa..
Namanya Ari, orang Jawa, semester empat, satu jurusan denganku, tinggalnya dekat kampus, kenalan waktu kuliah. Rara menjawab semua pertanyaan Putri di WhatsApp.
Wuih Rara Ari , ada cocok-cocoknya juga si Balas Putri.
Kayak peramal aja lu, cocok-cocokin nama. Kata Dewi.
Dewi menceritakan ke Cika tentang percakapan mereka.
"Memang benar kecocokan nama juga penting," Kata Cika.
Cika segera melihat statusnya Rara.
"Ganteng," Kata Cika.
"Menurut kamu ganteng?" Tanya Dewi.
"Iya, mirip Jojo," Kata Cika.
"Tipe-tipenya Rara," Kata Dewi.
Putri, Miki, Mika dan Rangga akhirnya makan di cafe di tengah kota, Putri senang sekali wajahnya.
"Kelihatan senang sekali kamu Put," Kata Mika.
"Iya, sebab tempatnya bagus, ayo kita foto, biar ku pasang di statusku," Kata Putri.
Sambil nunggu makanan, mereka sambil ngobrol.
"Put, kalau boleh tau ni, jadi kamu sekarang ada pacar?" Tanya Miki.
"Gak ada," Jawab Putri.
"Cowok yang waktu itu ketemu di resto sama kita?" Tanya Mika.
"Gak ada kabar, biarlah." Kata Putri.
"Yang dijodohkan keluargamu?" Tanya Miki.
"Dijodohkan?" Tanya Rangga.
"Sudah batal, Budeku memahamiku jadi dibatalkan," Jawab Putri.
"Putri di jodohkan Ga, semester lalu," Miki menjelaskan.
"Kalau kamu Ga?" Tanya Miki.
"Saya lagi gak ada pacar," Jawab Rangga.
"Ok, mari kita bersulang, hidup kebebasan," Ajak Miki.
Mereka berempat tertawa bersama.
Mereka pantas mengakhiri semester dengan kegembiraan. setelah sekian banyak hal yang mereka lakukan untuk memperoleh nilai yang baik dalam perkuliahan mereka.
__ADS_1