Jejak

Jejak
Ngampus


__ADS_3

Seakan seluruh dunia berubah, Rara tak lagi bertemu dengan semua temannya, pengurusan rapot dan ijazah semua akhirnya beres juga. Mereka cuma masih saling komunikasi lewat WA grub yang hanya terdiri dari Dewi, Rara dan Putri.


Rara.


Hello selamat malam, a**pa kabarnya kalian berdua? WA Putri kepada Dewi dan Rara.


Baik, jawab Rara di WA grub.


Baik juga, kalian kapan ospek? tanya Dewi


Minggu depan jawab Rara.


Sama minggu depan kata Dewi.


Aku deg-degan takut hadapin Kakak tingkat kata Putri.


Santai saja, siapa tau bisa diajak kencan kata Dewi.


Putri masih belum bisa move on dari Irfan goda Rara.


Irfan masih chat gua, cuma gak intens cerita Putri.


Lambat laun akan ilang lanjut Dewi.


🤣🤣🤣 Putri membalas chat Dewi dengan icon tertawa.


Dah ngantuk saya, pamit dulu ya kata Rara


Ok deh, dah sayang sayang sayang Dewi.


Bagas pun tak ada kabar dia sibuk mendaftar menjadi abdi Negara TNI Angkatan Darat.


Dewi tetap dengan pilihannya guru Paud, sedangkan Cika akhirnya milih jadi guru PPKN. Rara yang menjalani pilihannya di Akper untuk menjadi perawat, sudah niat sekali bahkan sudah membeli baju perawat.


Putri, kuliah perkantoran jurusan sekretaris, dia lebih banyak diam, sebab tuntutan keluarga yang keras, sangat berharap dia harus selesai dan cepat kerja di kantor ayah mereka.


Hari Ospek pun tiba, ikat rambut yang harus sesuai tanggal lahir pun harus terlaksana, Rara yang sibuk sejak dini hari karena harus mengikat rambut kepalanya sebanya empat belas ikatan, tentu di bantu Riris.


"Jangan sampai telat Ra, nanti kamu di marah sama kakak tingkat," kata Mama.


"Iya ma," Rara langsung meminum susunya dan berlari keluar rumah.


"Ra, kamu lupa bawa sapu lidinya," kata mama sambil.berlari keluar.


"Oh iya ma," Rara balik mengambil sapu lidi.


"Dah ma," kata Rara.


"Dah sayang, hati-hati." Kata mama.


"Rara saja di bilang sayang, aku dan Rinli mana pernah di panggil sayang," keluh Riris.


"Mama tu juga sayang kalian Ris," kata Mama.


"Ya ya ya," kata Riris.


"Bedanya kalau mbak Riris cerwet, mbak Rara kalau mama bicara diam, makanya kalau mau di sayang jangan terlalu cerewet," kata Rinly.


"Sudah-sudah kalian berdua siap ke sekolah, nanti telat di hukum guru," kata Mama.


Dewi dan Cika saling membantu karena masih sama-sama FKIP, peraturannya masih sama, gak ada kuncir rambut, hanya papan nama, dan baju putih hitam. Papan nama tidak boleh salah ukurannya.


Putri, ospeknya lebih parah, karena pegawai kantoran harus bermake up, namun make up-nya harus yang menor kayak badut. Yang makeupkan tantenya.


Ospek hari pertama biasanya sangat melelahkan, hanya mendengarkan ocehan kakak tingkat, dan dosen yang memberikan arahan Tentang aturan-aturan kampus.

__ADS_1


Hari kedua Ospek sesi perkenalan, harus meminta tanda tangan kakak tingkat sebanyak sepuluh orang. Rara sudah kesel dengan kejadian ini, kakak tingkatnya sengaja diperbanyak jadi bukan kakak tingkat kurungan perawat aja, tapi dari jurusan apoteker, analis darah, semuanya.


Beberapa kakak tingkat yang menggunakan masker, Rara berusaha menghindari mereka, dia rela di kerjain sama kakak tingkat perempuan, yang penting gak ke kakak tingkat yang cowok-cowok itu, ada teman ceweknya nekat banget minta tanda tangan tu kakak tingkat cowok-cowok sok cool pakai masker, dicuekin abis, gak di kasih tanda tangan.


Rara berhasil mendapat sepuluh tanda tangan kakak tingkat.


Seorang kakak tingkat bernama Dian memeriksa bukunya Rara, "Tanda tangan yang kamu kumpulkan semua cewek, memang gak ada kakak tingkat yang cowok apa?"


Semua mata memandang ke arah Rara dan Dian.


Rara hanya diam.


"Jawab dong, jangan diam," kata Dian.


"Saya tidak sadar bahwa semua yang saya datangi kakak tingkat cewek kak," kata Rara tegas namun dengan nada datar.


"Gak sadar, yang penting sepuluh tanda tangan ya," kata Dian.


"Iya kak," jawab Rara.


"Ok lah, semoga kamu sadar saat meriksa pasien cewek atau cowok," kata Dian.


Semua langsung tertawa.


Rara tidak tertawa dia hanya diam dan menutup matanya.


Dewi dan Cika tidak terlalu banyak perploncoan, karena aturannya masakh melatih seorang guru dengan plonco, gimana ngajar ke muridnya.


Dewi yang kelihatan tazir dari bawaan tasnya dan harum parfumnya, menjadi banyak sorotan dari teman dan kakak tingkat, namun tak banyak yang berani mengerjainnya.


Lain lagi Putri, dia merasa seperti badut selama dua hari ini, dia yang susah berteman, hanya banyak diam dan bermain HP saat jam istirahat. Hingga, "Hai, sendirian?" tanya Seorang pria yang sedang ikut ospek juga mendekatinya.


"Iya," jawab Putri.


"Boleh," jawab Putri.


"Boleh kenalan?" tanya cowok itu.


"Putri," sambil mengulurkan tangannya.


"Rangga," jawab cowok itu sambil menjabat tangan Putri.


"Gak ada temanmu yang kuliah disini? dari kemarin ku lihat kamu sendirian?" tanya Rangga.


"Iya gak ada, dan aku memang susah berteman," kata Putri.


"Jurusan apa?" Tanya Rangga.


"Sekretaris, kamu sendiri?," Jawab Putri.


"Managemen perkantoran," jawab Rangga.


"Kamu juga gak ada teman disini?" tanya Rara


"Aku lulus SMA tahun lalu, Aku anak SMA Mandala, nganggur setahun nyoba daftar angkatan tapi gagal, akhirnya banting stir ke sini," kata Rangga.


"Jadi ku panggil kakak ni?" tanyaPutri.


"Gak sah, panggil Rangga saja," kata Rangga.


"Gak ada yang kamu kenal juga disini?" tanya Putri.


"Ada," jawab Rangga.


"Lalu, kenapa kamu kesini?" tanya Putri.

__ADS_1


"Kamu terus terang banget si, yang aku kenal kamu makanya aku kesini," jawab Rangga.


Putri hanya tersenyum, Pluit tanda mereka harus kumpul kembali, Rangga dan Putri segera berdiri dan berlari ke lapangan.


Putri malas tau, dia gak percaya Rangga tak ada kenalan, apalagi anak SMA Mandala, terkenal anak-anak ganteng, borju, anak-anak motor, yang paling suka tebar pesona.


Akhirnya OSPEK pun selesai, esoknya Rara, Putri, Dewi dan Cika langsung sibuk mengisi KRS ( Kartu rencana Studi), dan menyerahkannya ke dosen.


Rara mengisi datanya dengan perlahan, dia mengantri dengan beberapa teman yang dia mulai dekati ada yang namanya Rika, anaknya gak terlalu macam-macam. segerombolan kakak tingkat cowok bermasker pun masih ada, mereka juga antri mengumpulkan kartu rencana Studi, ternyata mereka jurusan analis darah jadi beda loket dengan Rara.


"Ra, penasaran wajah mereka," bisik Rika.


"Biasa aja, tetap mata dua, hidung satu," kata Rara.


"Siapa tau hidung dua," kata Rika.


"Hidung belang dong," balas Rara.


Mereka berdua tertawa.


Dewi dan Cika pun telah pisah loket untuk penyerahan KRS, Cika berusah tetap kuat, dia benar-benar tak menyangka diurus selakyaknya anak kandung oleh maminya Dewi.


Putri, masih dengan kesendirian, dia cuma intip, temannya yang satu warna amplop, dan tulisan di depan sama sekretaris.


"Jangan sendiri-sendiri, cari teman," suara dari samping Putri.


Putri menoleh, satu orang cowok dan satu orang cewek tersenyum padanya.


"Miki dan Mika," kata mereka.


"Putri," jawab Putri juga dengan ramah.


Miki dan Mika adalah saudara kembar.


"Ayo Put, kita antri, minta no hpmu, biar dimasukin ke grub," kata Mika.


Putri menyebutkan nomor ponselnya.


Dewi selesai menguru semua KRSnya, dia melihat ke jadwal perkuliahan yang mulai di tempel di Mading, difotonya.


"Bu guru, kalau sudah selesai foto minta tolong di share dong," kata seseorang di belakang.


"Sini, minta no hpmu," kata Dewi.


"081244XXXXXX, namaku Lina, salam kenal," senyumnya.


"Dewi," jawab Dewi.


Hallo Cika, sudah selesai? tanya Dewi di telpon.


Sudah Wi, ku tunggu di pintu masuk parkiran ya kata Cika di sebrang.


Ok jawab Dewi.


Dewi dan Cika pulang bareng, "Wi, mulai besok biar aku pakai angkot aja, gak sah sama kamu, soalnya jadwal kita kan beda-beda," kata Cika.


"Pagi kamu kuliah jam berapa?" tanya Dewi.


"Jam delapan," jawab Cika.


"Sama, kita sama-sama saja pagi, pulangnya yang pisah, soalnya kan beda kadang satu mata kuliah kadang dua, kadang tiga," kata Dewi.


"Oklah, terima kasih ya Wi," kata Cika.


"Sip lah, semngat kuliah," kata Dewi.

__ADS_1


__ADS_2