Jejak

Jejak
Menimbang-Nimbang


__ADS_3

Angin tak dapat dilihat namun dapat dirasa, namun terkadang siapa yang dapat merasa atau tak terasa, yah mungkin tak terasa, itu yang terjadi dalam diri Irfan.


"Irfan,ngapain melamun?" tanya Bude.


"Gak apa-apa Bude," kata Irfan.


"Jangan melamun, nanti kesambet," kata Bude.


"Bude, menurut Bude, Putri tu cantik gak?" tanya Irfan.


"Kamu, sama seperti mama kamu, hanya melihat orang dari paras dulu, Putri cantik, sepertinya dia cuek ya anaknya," kata Bude.


"Dia lagi sakit Bude, kemarin waktu ke pasar, memang dia bilang di lagi rasa lelah, tadi jatuh saat pelajaran olahraga," kata Irfan.


"Ya ampun, bagaimana kondisinya?" tanya Bude.


"Belum tau, untuk sampai malam ini," kata Irfan.


"Yah, kamu yang perhatianlah, peduli, jangan cuek juga," kata Bude.


Irfan hanya memandangi HPnya, gengsi menghubungi duluan itu yang menguasai diri Irfan.


"Dewi, mama gak pulang malam ini," kata mamanya.


"Kenapa?" tanya Dewi.


"Kakak-kakak kamu itu harus di pantau, kalau gak mereka akan seenaknya, lagipula mama harus periksa keuangan cafe," kata mamanya Dewi.


"Ma, mama bisa gak stop kerja begini, kita pindah, buka kios biasa?" tanya Dewi.


"Nanti, ada saatnya, tapi kamu tau untuk bangun club' kita ini dari nol kita mulai Dewi," kata mamanya.


"Iya, mama bisa kasih orang lain, mama hanya urus club', keuangan, jangan urus kakak-kakak lagi," kata Dewi.


"Nanti Dewi, ada saatnya," kata mamanya lalu pergi.


Di sekolah, hanya Bagas yang tau bahwa dia anak seorang germoh, namun selain germoh mamanya juga yang memiliki usaha club' malam, tanah dan gedung. Dewi khawatir sekali jika sampai ketahuan siapa mamanya, dia sendiri tak pernah tau siapa ayahnya.


Setelah mamanya pergi, Dewi mencoba menghubungi Putri,


"Hallo Dewi," tantenya Putri yang angkat.


"Hallo Tante, bagaimana kabar Putri?" tanya Dewi.


"Tante dan Om memaksa dia untuk opname di RS, ternyata dia kena demam berdarah," kata Tante.


"Opname di RS mana Tante?" tanya Dewi.


"RS, Dian Harapan, Ruang St.Clara," kata Tante.


"Ok, Tante terima kasih infonya," Jawab Dewi.


Dewi langsung info ke Rara.


"Ra, Putri Opname, DBD, di RSDH ruang St.Clara," Chat Dewi.


""Ya ampun, ok trims infonya, besok kita jenguk yuk, you bawa motor atau mobil dong," goda Rara.


"Ok, nanti gua usahakan besok ya," kata Dewi.


Rara langsung info di grub kelas,

__ADS_1


"Hallo Gaiss...Putri Opname di RSDH, DBD, dia di ruang St.Clara," Chat Putri.


"Jatuh, langsung DBD," balas Bagas.


"Gas, emang kayak Lo, jatuh langsung ribut," balas Kiki.


"Sudah-sudah, kapan kalian mau jenguk? kalau aku besok," kata Rara.


"Ayo Atur, patungan, plus dengan walkes juga," kata Widi.


"Tumben Widi nyambung," kata Bagas.


Keesokan harinya, Dewi dan Rara bisa jenguk Putri, Dewi minta tolong mamanya, dan mamanya minta tolong kepada satu anak buahnya, Kak Meli.


"Kak Meli yang jemput," kata mama ke Dewi, saat Dewi telpon.


"Hallo kak, kakak saudaranya Dewi?" tanya Rara.


Kak Meli melirik Dewi, di sebelahnya," Bukan, aku hanya anak buah mamanya," kata Meli.


"Dewi, tadi mami kasih uang untuk beli roti atau buah untuk temanmu yang sakit," kata Meli.


"Iya Kak, terima kasih ya," kata Dewi.


Rara dan Dewi sampai juga di RS, Putri masih lemas.


"Put, kamu rasanya gimana?" tanya Rara.


"Demam, lemas," kata Putri.


"Ya sudah, gak sah mikir yang aneh-aneh, macam-macam, istirahat dulu," kata Dewi.


"Selamat Siang," suara berat dari pintu.


"Hai, Ra," Sapa Rio.


"Tau darimana, Putri Opname?" tanya Rara.


"Aku telpon Putri, tantenya yang angkat," kata Rio.


"Wah, sudah saling tukar nomer HP?" tanya Rara.


"Aku, sudah pernah minta no hpnya waktu dia jaga bazar," kata Rio.


"Oh ya..ya..ya," kata Rara.


Dewi memberi kode ke Rara untuk pulang, dan beri waktu Rio dan Putri.


"Ra, kamu les kan hari ini?" tanya Dewi.


"Gak, cuma hari ini ada buat poster tugas sejarah Indonesia, di rumahku," kata Rara.


"Ya udah, kita pamit dulu ya Put, cepat sembuh, hati yang gembira adalah obat yang manjur," kata Dewi sambil menarik Rara.


Putri hanya diam, dia sudah ingin tidur siang sebenarnya.


"Gila, Kak Rio yang ganteng itu jenguk Putri," kata Dewi.


"Kayaknya dia suka Putri ya," kata Rara.


"Iya, kelihatan dari wajahnya, gua gak sangka Ra," kata Dewi.

__ADS_1


Meli hari itu mengantar Rara dulu lalu mengantar Dewi, "Terima kasih kak Meli," kata Rara.


"Ok, sayang," kata Meli.


"Makasih ya kak, mau antarin aku," kata Dewi saat perjalanan pulang.


"Iya, ini kan mobilmu, makanya kamu belajar nyetir," kata Meli.


"Mama gak ijinkan," kata Dewi.


"Nanti, kakak yang bilang ke mami," kata Meli.


"Put, gimana kabarnya hari ini?" tanya Rio.


"Masih lemes kak," kata Putri.


"Kalau ngantuk, tidur dah, aku temani, nanti saat jam jenguk habis, aku pulang," kata Rio.


Putri langsung menutup matanya dan tidur.


Irfan di depan pintu kamarnya Putri, dan melihat bahwa ada Rio, dia tak jadi masuk, AC Rumah sakit yang dingin tak terasa dingin bagi Irfan siang itu, karena hatinya yang panas melihat Rio dan Putri.


Tapi apakah benar perasaannya untuk Putri, atau hanya karena sering bersama? Irfan terus bertanya di dalam hatinua, menimbang-nimbang perasaannya saat berjalan keluar Rumah Sakit.


Sore itu, kelompoknya Rara kumpul di rumahnya Rara untuk mengerjakan tugas Sejarah Indonesia, Rara, Frangky, Kiki, dan Widi.


"Jangan buat begitu Widi, harus begini, letak kepalanya di sana," Rara.


Rara usaha sabar mengahadapi Kiki dan Widi yang lelet.


Frangky memperhatikan sekeliling rumah Rara, sepertinya suasananya hangat.


"Selamat sore kak," sapa Rinli yang baru pulang sekolah.


"Kok pulang sore Rin?" tanya Rara.


"Eskul kak," kata Rinly.


"Ya sudah, baju kotor langsung taruh di mesin, makan, lalu siapkan buku untuk besok," kata Rara.


"Mbak Rara, baju Putihku dimana?" bisik Riris dari balik pintu ruang tamu.


"Di lemarimu, di gantung, periksa baik-baik," kata Rara.


"Ra, kamu yang urus semua adik-adikmu?" tanya Frangky.


"Iya, mamaku kan kerja, jadi untuk siapkan makan malam, dan lain-lain yang bisa ku urus, semuanya kuurus," Kata Rara.


"Makanya Bima suka sama kamu," kata Frangky.


"Apa maksudmu?" tanya Rara.


"Kamu dewasa, bisa urus semua, dapat diandalkan, beda dengan adikku yang manja," kata Frangky.


"Rara, juga sabar," kata Widi.


"Sabar ngajarin kamu," kata Kiki.


Semua tertawa, selesai juga poster mereka, Rara keluarkan kue yang dia beli, dan teh panas,"makan dulu baru pulang," kata Rara.


"Thank You Ra," kata mereka.

__ADS_1


Frangky sambil makan namun otaknya berpikir, hatinya menimbang-nimbang, dia ingin Rara lebih open dengannya, karena dia lihat Rara masih tertutup menghadapinya, walau dia sudah usaha selama ini, mungkin bukan untuk jadi pacar namun untuk jadi teman karib, teman ngobrol, dia rasa nyaman di rumahnya Rara.


__ADS_2