
Bagas dengan setelan jas senada dengan warna celananya biru muda, mendatangi rumah Dewi dengan keluarganya. Rara dan Putri telah ada juga di rumah Dewi. Cika yang sibuk kesana kemari.
"Cika, duduk disini, kamu temani Mami," Kata Mami.
Cika menggunakan pakaian yang sama dengan Mami.
Iring-iringan mobil telah tiba di depan pagar rumahnya Dewi. Semua anggota keluarga berdiri dan berkumpul untuk menyambut. mereka menutup pintu ruang tamu, ada sesi ucapan salam dan terima. Yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam adalah ayahnya Bagas.
"Shallom, selamat sore," Sapa Ayahnya Bagas.
"Shallom," Dibuka pintu oleh adik ibunya Dewi.
Kedua orang tersebut berjabat tangan dan saling senyum.
"Dari jauh kami pandang, ternyata benar ini rumahnya nona Dewi, maka tak perlulah kami ke khayangan," Kata Ayah Bagas.
"Di langit yang cerah berterbangan merpati, bolehkah kami tau maksud hati?" Tanya pamannya Dewi.
"Anak kami Bagas, ternyata telah lama berpaut hatinya di sini, jadi kami hendak meminta separuh harinya yang disini," Jawab Ayah Bagas.
"Secerah udara hari ini, marilah masuk kita berdiskusi," Kata Pamannya Dewi.
Prosesi tukar cincin dan serah-serahan terlewati dengan khusyuk, Dewi selalu tersenyum.
"Bahagia sekali dia," Bisik Putri ke Rara.
"Iya," Jawab Rara.
Usai lamaran, sebelum berpamitan, Rara langsung minta untuk foto Selfie bareng.
"Ayo Ra, gimana kehidupan cintamu?" Tanya Bagas.
"Aku lagi biasa-biasa saja, belum mikir ke depan, Putri ni yang ntar lagi nikah," Kata Rara.
Putri hanya senyum.
"Kamu yakin Put, nikah dengan Raka?" Tanya Dewi.
"Apa aku bisa berkata yakin atau tak yakin?" Putri balik bertanya.
"Put, kami berdua selalu siap dengar curhatmu," Kata Rara.
"Terima kasih," Jawab Putri.
"Put, ini kan malam Minggu, kita jalan dulu yuk, nanti aku yang antar kamu," Kata Rara.
"Boleh," Jawab Putri.
Rara ajak Putri ke swalayan, mereka melihat-lihat baju, keluar masuk.
Beberapa saat ada yang melintar di depan toko yang mereka sedang lewat, Rara bergegas lari keluar dan lihat, diraih ponselnya dia mencoba telepon, dilihatnya orang itu hanya melihat dan langsung mematikan panggilannya.
"Siapa?" Tanya Putri.
"Kita ke bawah yuk, ke arah sana," Rara langsung berlari, Putri mengikuti. Rara pergi ke arah yang menurutnya pasti akan dilewati orang itu, dan benar saja Ian dengan cewek lain melewati tempat itu. Dengan cepat Rara mengambil gambar mereka, dan diam-diam mengikutinya hingga di parkiran.
Perempuan yang bersama Ian, tampak bahagia sambil membawa belanjaan. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi. "Siapa Ra?" Tanya Putri.
"Pacarku, tapi sepertinya aku hanya simpanannya, pantas saja ku ajak ke acara lamarannya Dewi dia gak mau," Kata Rara.
"Putusin aja Ra, alasan lain, jangan bilang kamu pergoki dia ini," Kata Putri.
"Iya, aku juga gak nyaman," Jawab Rara.
"Ayo kita cari jajanan, aku ingin ngemil," Kata Putri.
Mereka berdua pergi ke tempat jualan ice cream, malam-malam makan ice cream, namun rasanya nikmat sekali, namun di tengah-tengah suasana, Putri nangis, Rara megusap-usap punggung tangannya.
"Aku gak mau nikah sama Raka, aku gak suka dia, aku gak nyaman, aku ingin nikah dengan orang yang aku suka, aku gak percaya sama Raka, dia hanya baik demi perusahaan, demi kekayaan keluargaku," Putri berbicara sambil terisak.
"Aku paham Put," Kata Rara.
"Tapi aku gak bisa buat apa-apa, aku gak punya orang tua kandung, aku gak punya hak untuk bicara," Kata Putri.
"Aku paham Put, aku juga gak tau mau bantu kamu gimana," Kata Rara.
"Aku ingin selesai kuliah dulu, wisuda dulu," Kata Putri.
"Iya Put," Kata Rara.
"Ra, aku ingin kabur tapi sayang kuliahku," Kata Putri.
"Put, ada kalanya hidup itu tak sesuai harapan kita," Kata Rara.
Putri sempat terdiam beberapa menit lalu lanjut berbicara, "Aku tau Ra, tapi kenapa harus aku, orang lain bisa jalani kehidupan sesuai keinginan mereka," Kata Putri.
Rara tak bisa lagi bicara, hanya akhirnya dia ikut menangis dengan Putri.
Sesuai Rara mengantar Putri pulang, Rara pun pulang ke rumahnya. di tempat tidur Rara berpikir apa yang harus dia buat dengan foto itu, jelas terlihat bahwa wanita itu bukan saudaranya, jika sepupu pasti perlakuannya tak akan seperti itu. Akhirnya Rara memberanikan diri mengirim pesan kepada Ian.
Selamat malam. Pesan Putri.
__ADS_1
Malam, tadi telepon pas aku sibuk, lagi ada pasien. Balas Ian.
Rara terdiam membaca pesan itu, lalu akhirnya dia memutuskan mengirim foto itu ke Ian, Ian langsung membuka pesannya, sehingga melihat foto itu.
Sepuluh menit kemudian, Ian menelponnya.
Ra, lagi buat? tanya Ian.
Lagi nunggu penjelasan dari yang kulihat. Kata Rara.
Oklah, dia pacarku. Kata Ian.
Ok, kita putus. Rara langsung memutuskan.
Ok. Jawab Ian.
Rara langsung memutuskan panggilan, hatinya terasa marah, namun tak bisa ungkapkan, dia keluar dari kamarnya mencari air es.
"Malam-malam minum es, awas pilek," Tegur Riris yang ternyata belum tidur masih nonton.
"Panas Ris," Kata Rara.
"Udaranya gak terlalu panas kok, makan apa di acara sampai rasa panas?" Tanya Riris.
Rara hanya diam dan kembali ke kamarnya.
Rara mencoba tidur namun susah, baru kali ini dia merasakan marah yang luar biasa. Ponselnya kembali bergetar, pesan dari Jojo.
Besok pulang Gereja ke rumah ya.
Iya. Balas Rara.
Esoknya Rara ke rumah Mami.
"Hallo sayang, kenapa mukamu kusut?" Tanya Mami.
"Kurang tidur Mi," Jawab Rara.
"Kenapa bisa kurang tidur?" Tanya Mami.
"Banyak pikiran," Jawab Rara.
"Kamu hari ini temani Jojo ke terapi tapi bukan klinik, ke tempat tradisional," Kata Mami.
"Baik Mi," Jawab Rara.
"Jo, sudah siap?" Tanya Mami.
"Sudah Mi," Jawab Jojo.
"Iya sayang gak apa-apa," Kata Mami.
"Gak mau, aku gak mau antar," Kata Jojo.
Mami tertawa, Jojo dan Rara akhirnya pergi ke tempat terapi tradisional, sambil menunggu gilirannya, Jojo bertanya, "Kenapa gak bisa tidur?"
"Aku tahan marah," Jawab Rara.
"Sama siapa?" Tanya Jojo.
"Pacarku," Jawab Rara.
"Kenapa marah?" Tanya Jojo.
"Aku pergoki dia dengan cewek lain, dia gak pungkiri bahwa itu pacarnya, jadi sepertinya aku ini yang jadi selingkuhannya," Kata Rara.
Jojo tersenyum.
"Gua cerita, ku malah senyum lagi," Kata Rara.
"Pengalaman, sebenarnya sudah terlihat jika dia gak mau kamu ajak jalan, waktu jalan berdua kalian hanya sekali dalam sebulan, susah diajak telepon," Kata Jojo.
"Iya pengalaman tapi rasanya aku ingin marah benar," Kata Rara.
"Lalu gimana si Bagas, ganteng ya difoto," Kata Jojo.
"Lancar, Dewi senyum terus, pulang dari acara aku dan Putri nongkrong, Putri yang nangis, gak mau nikah sama Raka, tapi gak bisa melawan keluarga," Kata Rara.
"Menurut kamu apa itu pernikahan Ra?" Tanya Jojo.
"Sebuah komitmen dan kolaborasi," Jawab Rara.
"Dimana di dalamnya ada pengkhianatan, keributan dan sakit hati," Lanjut Jojo.
"Serem banget si gambaran pernikahan menurut Lo Jo," Kata Rara.
"Ya, gak semua begitu si, gua cuma pikir itu sejak kecelakaan, gak ada yang mau dekatin gua, Lo juga karena digaji kan," Kata Jojo.
Rara melihatnya dan diam, kemudian nama Jojo dipanggil dan mereka melakukan terapi.
Dalam perjalanan pulang, Rara bertanya, "Kamu lapar gak Jo?"
__ADS_1
"Lapar, tapi kamu mau makan denganku dalam keadaan begini?" Tanya Jojo.
"Gak masalah, kamu yang mau gak?" Tanya Rara.
"Aku pengen dah lama gak rasa nasi goreng di taman kota," Kata Jojo.
"Ayuk ke sana," Kata Rara.
"Pak, kita singgah taman kota dulu ya," Kata Jojo kepada supirnya.
Jojo dan Rara akhirnya pergi ke taman kota, Rara sambil tersenyum menurunkan Jojo dari mobil, didorongnya kursi roda Jojo dan mereka ke tenda nasi goreng langganan mereka.
"Nasi goreng tiga Bu," Kata Rara.
Semua orang melihat mereka.
"Kita kan bisa makan di mobil Ra," Kata Jojo.
"Gak masalah," Kata Rara.
"Kamu gak malu?" Tanya Jojo.
"Gak, kamu yang harus belajar kuatkan hati, ini juga terapi mentalmu," Kata Rara.
"Baiklah, aku menghibur orang yang lagi marah akibat dikadalin pacarnya," Kata Jojo.
"Mulai deh," Kata Rara.
Jojo tertawa, malam itu Rara dan Jojo akhirnya bisa saling ngobrol dan lebih santai daripada biasanya.
Seminggu kemudian.
Hari pernikahan Putri pun tiba, acara begitu syahdu, dengan segala bujukan, Jojo akhirnya mau ikut, Rara datang bersama Jojo, dan duduk di samping Jojo, Lalu datanglah Cika, Dewi, Bagas dan Rian.
"Jo, apa kabarmu?" Kata Bagas.
Bagas langsung memeluknya.
"Baik, buktinya aku disini," Kata Jojo.
"Hai Jo," Sapa Dewi.
"Selamat ya kalian dua, maaf gua gak datang," Kata Jojo.
"Gak apa-apa nanti pas nikah Lo sudah harus bisa berdiri atau jalan," Kata Bagas.
"Berdiri sudah bisa, jalan yang masih pelan-pelan," Kata Bagas.
"Suster Rara lambat banget urusnya," goda Bagas.
Jojo melihat Cika, "Ini Cika?" Tanya Jojo.
"Iya, lupa ya," Kata Cika.
"Gak lupa, kamu aja yang udah banyak berubah," Kata Jojo.
"Ini Rian, pacarnya Cika," Dewi memperkenalkan Rian.
"Jojo," Sapa Jojo.
"Rian," Balas Rian.
"Lihat Ra, Putri gak ada senyum-senyumnya, malah tu cowok yang senyum," Bisik Dewi.
"Kita bantu doa supaya Putri sabar dan kuat," Kata Rara.
Putri tidak mengundang Miki dan Mika dia gak mau ada kehebohan di kampusnya, untungnya Miki sudah gak bekerja di kantornya Putri. Sesi foto bersama teman-temannya Putri pun tiba, mereka semua naik ke pelaminan, hanya di saat itulah Putri senyum.
Usai pernikahan, Putri langsung tinggal dengan Raka di apartemen yang selama ini Raka tempati. Raka langsung mandi dan tidur. Putri masih belum bisa tidur, dipandangin pemandangan malam kota itu dari dalam kamarnya mereka.
Bude Sri sepanjang malam itu menangis, "Sudah to jangan nangis," Kata Pakde.
"Aku tau, Putri gak mau nikah sama Raka, lihat tak ada senyum sepanjang acara tadi," Kata Bude.
"Tapi harus, apa bisa melawan keinginan masuk di Kalimantan itu," Kata pakde.
Putri tetap tak bisa tidur, akhirnya Raka terbangun juga.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Raka.
Putri hanya diam menghadap jendela, "Aku tanya dijawab Put," Suara Raka bernada tinggi.
"Gak bisa tidur," Jawab Putri.
"Tidurlah, apa kamu mau melompat dari jendela?" Tanya Raka.
"Kalau bisa," Jawab Putri.
"Aku tak akan menyentuhmu, sampai kau selesai wisuda, jadi tidurlah," Kata Raka.
"Aku akan tidur diluar," Kata Putri.
__ADS_1
"Terserah," Balas Raka.
Baru beberapa jam, sudah bernada tinggi bicara padaku. Kata Putri di dalam hatinya.