
Panasnya matahari siang ini seakan sama dengan panas hatinya Cika setelah kejadian tadi pagi di samping toilet. Ketika perkuliahan berlangsung Cika berusaha fokus walau wajahnya tetap saja mencerminkan kegelisahan.
"Kamu kenapa Cika, ada masalah?" tanya Santi di sebelahnya.
"Gak ada," jawab Cika singkat.
"Kamu sakit?" tanya Santi lagi.
"Tidak," jawab Cika.
Santi akhirnya memilih diam.
Rara yang hari itu kuliah perdana untuk belajar menyuntik, di mulai dari cara menyedot obat cair ke dalam tabung jarum suntik dan belajar mendorong keluar, lalu di tes ke dalam buah yang sudah di bawa dari rumah masing-masing.
Rara lumayan cepat tanggap dan cekatan untuk menyuntik, langsung saja teman-teman sekelasnya mendekatinya untuk melihatnya.
Setelah jam istirahat, Dini teman sekelasnya datang ke Rara dan bertanya.
"Ra, kamu mau gak kita latihan tambahan di luar jam sekolah, latihan praktik menyuntik, pasang infus, supaya pas di pelajaran kita sudah lihai," kata Dini.
"Maulah, dimana, pasti bayar ya? berapa dulu biayanya?" tanya Rara.
"Bayar Rp. 50.000,00 per latihan, di klinik ku, aku lagi cari teman-temani kalau ada lima orang saja cukup, kalau gak ya yang ada," Dini menjelaskan.
"Saya mau, yang penting jelas, tanggal ini latihan ini, tanggal ini latihan apa," jawab Rara.
"Pastilah jelas," kata Dini.
"Saya boleh gak ikut?" tanya Rika.
"Bolehlah," jawab Dini.
"Kenapa tanya boleh gak, dia aja masih nyari lima orang," jawab Rara.
"Karena tadi nawarinnya hanya ke kamu," jawab Rika.
"Baperan banget si kamu Ka," kata Dini.
"Nanti gua info tanggal dan rekening untuk transfernya ya," kata Dini.
"Ok," Jawab Rara.
Putri yang sedari tadi duduk-duduk di bawah pohon sambil belajar Tata Krama seorang sekretaris, yang sebentar akan di ujiankan, tiba-tiba terkaget dengan seseorang yang menutup matanya dari belakang, Putri ingin menyebut langsung satu nama, namun malu jika ketahuan mikir orang itu, ataupun terlalu hafal bahkan wangi parfumnya saja Putri hafal, sengaja Putri menyebutkan nama-nama lain dari teman-temannya.
"Miki, Mika, Desi," kata Putri.
Akhirnya Putri berkata, "Rangga."
Kedua tangan yang menutup mata Putri melepaskan, "Masakh gak kenal saya," kata Rangga.
Wajah Putri memerah, pertama kali, Rangga menyentuh wajahnya di depan umum.
"Tumben baru kelihatan," kata Putri.
"Kangen?" tanya Rangga sambil senyum.
"Gak juga," jawab Putri.
"Lagi sibuk banyak kerjaan," kata Rangga.
Handphone Rangga berdering, tertera Nastiti menelpon.
__ADS_1
"Sorry Put, gua angkat dulu telponnya," kata Rangga.
Putri menggangguk mengijinkan Rangga mengangkat telepon.
"Hallo Ti," kata Rangga.
Kamu dimana? aku lapar. Kata Nastiti di sebrang sana.
"Sabar ya, aku ke sana." kata Rangga.
Rangga langsung mamatikan teleponnya.
"Pacar kamu?" tanya Putri.
"Iya," jawab Rangga.
"Ok, hati-hati, jangan terlalu kelihatan kita berduaan, jika gak ada Miki dan Mika, aku gak mau di curigai pacarmu," kata Putri.
Rangga hanya senyum, dan pergi.
Putri menarik napas dalam-dalam dan kembali menekuni belajarnya siang itu.
Jam istirahat, Cika memilih tidur dan tak mau makan dan minum, dia menutup wajahnya pada kedua lengannya.
"Cika, gak makan? aku bawa roti bakar ni," kata Santi.
"Masih kenyang," kata Cika.
Santi menemani Cika sambil main games di handphone, datanglah Rian.
"Cika, makan dulu, nanti kamu sakit," kata Rian.
Cika tidak bergeming, di tetap tak mau meangkat kepalanya.
Rian akhirnya diam dan pergi.
Sore itu, Rara pergi ke kliniknya Dini, dia beranikan mengendarai motornya, Dini telah menunggunya dengan Ari dan dua orang temannya yang tergabung dalam geng bermasker, Rika masih menyusul.
Kenapa lagi mereka yang datang, kata Rara dalam hati.
"Selamat sore," sapa Rara.
"Sore Ra, seneng ternyata kamu datang, berarti tinggal tunggu Rika, kalau lama kita belajar duluan ya," kata Dini.
"Ok," jawab Rara.
"Kenalan dulu yuk Ra, Ini Yosua, ini Alex dan ini Ari," kata Dini.
"Namaku Rara," kata Rara kenalkan dirinya.
"Hai," Yosua yang wajahnya senyum lebar dan langsung memberikan tangannya ke Rara.
Rara menyambutnya juga dengan hangat.
Tiga menit kemudian Rika datang, akhirnya pembelajaran dimulai, belajar memahami penggunaan jarum suntik, berdasarkan ukurannya diperuntukan sesuai umur manusia.
Lalu lokasi suntik sesuai penyakit yang diderita manusia.
Rara merasa pembelajaran hari ini sangat berfaedah. Selesai pembelajaran, Rara langsung pamitan pulang, "Gua pulang duluan ya."
"Ok Ra hati-hati ya," kata Dini.
__ADS_1
"Aku juga jalan ya," Rika juga pamit.
"Sampai jumpa dipertemuan berikut, nanti gua buat WA grub deh untuk kita," kata Dini.
"Thanks ya Din," kata Rika.
Rara yang tak terlalu memperhatikan sekeliling, langsung saja pulang, tiba-tiba terkaget dengar suara Dini.
"Ri, makan malam dulu dong di sini," Teriak Dini.
Rika spontan balik badan karena Dini hanya memanggil dengan nama belakangnya Ari.
Yosua langsung berkata, "Ri, sayangnya panggil kok gak dihirau."
"Bang Yos jangan ganggu dong," kata Dini sambil bersemu malu.
"Gak sah malu, nanti kalau Ari kecantol yang lain, nyesel lagi," kata Alex.
"Din, lain kali ya," tolak Ari dengan sopan.
"Oklah, hati-hati ya," kata Dini.
Rara langsung melakukan mobilnya, berpapasanlah dengan sebuah mobil sedan, seakan Rara kenal mobil itu, namun dia pikir salah lihat orang di dalam mobil itu.
Sesampainya Rara di rumah, "Gimana lesnya Ra?" tanya Mamanya.
"Baik ma, bagus, langsung praktek, tempat lesnya bagus," kata Rara.
"Kamu bantu mama jualan ya, besok antar pesanan, uangnya untuk bayar les kamu," kata mama.
"Pasti ma," Jawab Rara.
"Riris sudah kerja PR mu? kalau bingung tanya kak Rara," kata mama.
"Sudah ma, aku gak bedalah sama Kak Rara, aku juga pintar," kata Riris.
"Jangan sombong," kata Rara.
Handphone Rara berbunyi, nomor baru, Rara membuka pesan.
Shallom Ra, ini Yosua pesan Yosua.
Shallom bang, ok di save numbernya. Balas Rara.
Gua langsung aja ya, bukannya kamu sudah kenal Ari, dia kan satu kelas di mata kuliah? tanya Yosua.
Iya sudah kenal jawab Rara.
Kenapa tadi seolah-olah belum kenal? tanya Yosua.
Aku lihat Ari juga pura-pura belum kenal, ya aku ikut saja dramanya, jawab Rara.
Wah, kalian berdua bahaya kata Yosua.
Gak bahaya, menurutku justru aman, ku lihat Dini sepertinya suka sama Ari. Balas Rara.
Yeah... ditolak berkali-kali pantang mundur, kata Yosua.
Oklah Bang, selamat tidur, kata Rara.
Nice dream pesan Yosua.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Dini telah memasukan Rara ke dalam grub lesnya mereka, Dini memberikan nama We Can do.
Rara masuk ke kamarnya dan tidur.