
Rara masih terdiam di teras Dini, "Gua tau semua cerita Lo dan Bima, Ra," kata Dini.
"Gua gak tau harus bicara apa Din, gua gak mau LDR, gua gak suka," kata Rara.
"Nanti aku bantu jelaskan ke Bima," kata Dini.
"Iya Din, cuma Lo tau kan Bima tu baik banget sebenarnya, gua tadi aja hanyut bener sama dia, gua nyaman banget, namun gua gak mau sakit hati, gua gak mau cemas," jelas Rara.
"Gua paham Ra," kata Dini.
"Din, gua pulang dulu," pamit Rara.
Sepanjang perjalanan pulang Rara teringat waktu pertama kali mereka di laboratorium tempat latihan mereka, Rara melihat seorang yang mirip dengan mamanya Bima. Ternyata benar itu mamanya Bima.
Sesampainya Rara di rumah, dia langsung bersih-bersih rumah, dia males banget lihat ponsel, dia masih rasa nyesal kenapa tadi dia mau aja dicium Bima. Yang ada hati Rara terasa kecemasan.
Putri dan budenya sudah siapkan rumah mereka, menerima tamu, sesekali Putri menatap ponselnya dan tak dilihatnya tanda-tanda Kak Rio menghubunginya.
Malam itu datanglah satu keluarga ke rumah Putri, Pak Budiman adalah teman sekolahnya pakde, katanya selalu rutin komunikasi setiap hari Minggu.
"Hallo Budi, apa kabar," sapa Pakde.
"Hallo Sugeng, Puji Tuhan baik, wah kamu kelihatan bahagia," kata Pak Budiman.
Pak Budiman bersalaman dengan Bude, lalu dengan Putri.
"Ini yang anak perempuan itu?" tanya Pak Budiman.
"Iya, anak kakakku," kata Pakde.
"Sudah mirip kamu, seperti anak kandungmu Sugeng," Kata Pak Budi.
"Ayo masuk duduk dulu," ajak Bude.
Putri bersalaman dengan kedua anaknya Pak Budi, Arya dan Dinda.
"Arya sudah bekerja di bank, Dinda masih kuliah, kalau Putri?" tanya Pak Budi.
"Kuliah pak, baru semester satu," jawab Putri.
"Boleh untuk pejajakan, teman ngobrol," kata istrinya Pak Budi.
Semua dalam ruangan itu tertawa, kecuali Putri dan Arya.
Kerja di Bank, masakh gak ada teman ngobrol Putri bicara dalam hati.
__ADS_1
"Putri, tadi bude lupa beli sirup, bisa pergi dulu?" kata Bude.
"Bisa Bude," jawab Putri, segera Putri berdiri dan mengambil kunci motornya.
"Gak usah bawa motor, Arya, temani Putri, bawa mobil," kata Pak Budi.
Arya langsung mengambil kunci mobil dan berdiri.
Putri segera berjalan ke pintu, dan keluar, di bukanya pagar.
Putri masuk ke dalam mobil dan berkata "Mas, dari sini lurus, lalu belok kiri lurus, sampai ujung ada toko."
"Ok," kata Arya.
Mereka hanya diam dari awal pergi hingga kembali.
sesampainya di rumah, para orang tua sudah di ruang makan, sengaja diatur tempat duduk di meja makan, Putri berhadapan dengan Arya.
Acara makan malam itupun berjalan baik, mulai bulan ini keluarga Pak Budiman pindah di kota ini, maka semakin dekatlah silahturahmi keluarga ini.
"Put, kamu sudah libur kan?" tanya istrinya pak Budiman.
"Sudah Bu," jawab Putri.
"Kalau gitu besok bantu ibu ya, belanja untuk buat kue kering, nanti ibu yang jemput kamu," kata Bu Budi.
Putri melihat dari jauh saat menutup pagar, mobil keluarga Pak Budiman telah hilang dari pandangan, hatinya dipenuhi kecemasan.
Dewi yang sedang di latih oleh Cika agar tak terlalu cemas dengan Bagas, "Kita ajak Putri dan Rara kumpul yuk," kata Cika.
"Coba WA mereka," kata Dewi.
Cika segera mengirim pesan di WhatsApp grub
Hai Rara dan Putri, besok malam kita dinner bareng yuk ajak Cika.
Rara membaca pesan itu pukul sepuluh malam,
Bisa, ada juga yang ingin gua cerita.
Bisa Cika aku juga ada yang ingin ku cerita jemput aku nanti ya kata Putri.
Besok pagi, Ibunya Arya sudah menjemput Putri, mereka belanja keperluan membuat kue kering, untung Putri rajin membantu budenya.
Tak disadari seseorang melihatnya dari jauh di depannya, begitu Putri mengalahkan kepala mata mereka bertatapan, Irfan di depannya dengan kaos putih dan celana jins.
__ADS_1
Senyum serasa susah di munculkan, Putri yang ingin nangis pun berusaha menahan. Irfan hanya diam dan melihat Putri, tak lama Irfan berbalik dan pergi. Putri tak menyangka melihat tingkah Irfan yang menyapa saja tidak.
Putri berusaha fokus melihat dan meladeni semua pembicaraan mamanya Arya, sambil melihat ke arah luar, Putri ingin tau Arya ke sini dengan siapa, tantenya, orang tuanya atau siapa.
Selesai belanja, Putri dan mamanya Arya telah masuk di dalam mobil, tampaklah Irfan dan seorang cewek di dalam mobil lewat. Air mata jatuh di wajah Putri, segera dihapusnya sebelum terlihat mamanya Arya.
Sorenya Dewi dan Cika menjemput Rara dan Putri, Rara langsung bersandar di kursi mobil dan menutup mata dan berkata, "Kalian tau, Dini punya sepupu adalah Bima, dan kemarin kami bertemu, dan aku terhanyut, mau aja dicium Bima."
Sempat sunyi, namun langsung serentak mobil itu gempar, "Cium dimana?" tanya Dewi.
"Kok bisa?" tanya Putri.
"Bima kok berani sekarang?" tanya Cika.
"Aku seperti terhipnotis ketika melihatnya datang, akupun langsung memeluk dirinya, mungkin memang jujur aku rindu Bima, dia cowok yang baik banget," kata Rara.
"Ya sudah coba jalani saja, jangan langsung memutuskan," kata Dewi.
"Aku gak mau LDR, aku gak mau memiliki perasaan dan pikiran yang macam-macam, semua pesan Bima belum ada yang kubuka sampai saat ini," kata Rara.
"Kalau kamu Put, mau cerita apa?" tanya Cika.
"Aku dijodohin tanteku, dan tadi aku ketemu Irfan di toko, namun hanya bertatapan, dan dia langsung membalikan badan dan pergi, ku lihat dia pergi dengan cewek lain," cerita Putri.
"Langsung balik badan?" tanya Rara.
"Iya," Jawab Putri.
"Segitunya," kata Cika.
"Biar saja Irfan, lalu yang dijodohkan sama kamu, namanya siapa?" tanya Dewi.
"Namanya Arya, kerja di Bank, gak tau Bank apa, aku segan tanya jawab, aneh orang tuanya dan Tante omki gethol banget jodohin kita," kata Putri.
"Lalu Kak Rio?" tanya Rara.
"Gak ada kabar sampai hari ini," kata Putri.
"Cueklah, kita nikmati saja liburan, selesaikan kuliah, dan nikmati masa kuliah ini," kata Dewi.
"Lalu Bagas gimana kabarnya Wi?" tanya Putri.
"Gak jadi ke sini lagi pengamanan, makanya Dewi lemas, makanya aku ajak kita jalan, supaya dia bisa terima kenyataan Bagas gak bisa pulang ke Jakarta Natal tahun ini," Cika menjelaskan panjang lebar.
"Gua sampai males makan, gua rasa sedih banget," Kata Dewi sambil mengusap air mata yang menetes di wajahnya.
__ADS_1
"Ini contoh aku gak mau LDR," kata Rara.
Semua tertawa di dalam mobil, seakan kesedihan teman dan kesedihan diri sendiri tak berat saat semua diceritakan.