Jejak

Jejak
Tentang Kita 2


__ADS_3

Aku tak tau sejak kapan aku mulai menyukaimu, mungkin sejak kau menjemput ku di bandara, saat Desember lalu untuk pertama kali kita berdua foto bersama, mungkin saat hujan dan banjir sehingga kita menginap di hotel, atau saat setiap malam kita berjalan bersama menuju tempat les, atau saat pertama kali melihatmu menggunakan seragam SMA, atau pertama kali kita bertemu saat kita kelas dua SMP. Aku benci saat melihatmu berduaan dengan Bima, aku benci saat melihat kamu hancur ketika putus dengan Bima. Aku gak suka melihat Joshua dan kamu, makanya aku bilang Mami, buatkan baju seragam keluarga juga untukmu. Aku senang ketika mendapatkan cerita dari Putri bahwa pacarmu yang dokter itu selingkuh. Aku sangat marah dan shock saat lihat nama Ari terus memanggilmu di ponsel, apalagi saat Dewi mengatakan dia mantanmu, dan kamu jalan dengannya. Aku tidak bisa lagi menahan dan menutupi perasaanku.


Aku mencintai semua yang kita lewati akhir-akhir ini, bukan karena kamu yang satu-satunya berada di sampingku saat aku jatuh seperti ini. Aku tak pernah melihat sorot mata mengasihani ku dari matamu. Sudah lama terlalu lama ternyata hatiku ini sebenarnya hanya diisi olehmu. Kau tak tau seberapa banyak aku mencoba menguji perasaanku, hingga tak tertahankan lagi saat malam perpisahan SMA aku memberanikan menarikmu dalam pelukanku dan menciummu rasanya malam itu aku ingin membuka topengku supaya kamu tau itu aku. Ra, aku gak bisa lagi menutupi semuanya.


Rara tiba-tiba merasa pusing setelah membaca pesan yang dikirim Jojo, dia lagi bertugas jaga malam di ruang bersalin. "Ra, ada yang mau melahirkan!" Teriak Suster Lisa.


Rara meletakakan ponselnya di dalam tas, dan segera mempersiapkan ruangan bersalin. Dokter yang bertugas datang bersama pasien yang mau melahirkan. Setelah melewati proses yang panjang akhirnya ibu itu melahirkan juga dengan normal. Rara mendapatkan tugas menggendong bayi itu dan memasukannya ke dalam box bayi yang hangat. Rara memandang bayi itu dengan senyum.


"Mau difoto? biasa kalau magang dan bayi pertama yang ditangani akan jadi kenanganloh," Kata Dokter yang menangani lahiran.


"Saya tidak bawa ponsel dok," Kata Rara.


"Sini saya yang foto, nanti aku kirim," Kata Dokter itu.


Rara akhirnya berfoto dengan bayi itu, dan memberikan nomor hpnya kepada dokter kandungan itu.


"Namamu Rara?" Tanya Dokter itu.


"Iya dok," Jawab Rara.


"Ian cerita katanya ada perawat magang di sini yang dia kenal, akhirnya kita bertemu," Kata Dokter itu.


"Iya dok, saya kerja di klinik yang sama dengan dokter Ian," Cerita Rara.


"Oklah, nanti aku kirim fotonya," Kata dokter itu.


"Terima kasih dok," Ucap Rara.


Rara kembali ke ruang jaga, setelah minum sebotol air mineral yang menyegarkan dirinya. Ponselnya menyala ternyata dokter itu mengirimkan fotonya.


Kamu gak tanya namaku siapa Ra.


Rara baru sadar ketika dokter menulis pesan itu maka dia membalas. Nama dokter siapa?


Nama saya Galang.


Terima kasih ya dok. Balas Rara.


Kapan-kapan kita makan bareng ya. Kata dokter Galang.


Baik dok. Jawab Rara.


"Kamu akhir-akhir ini sering melamun Ra," Kata Suster Lisa.


"Banyak pikiran," Jawab Rara.


"Pikiran apa? Skripsimu?" Tanya Suster Lisa.


"Gak terlalu," Jawab Rara.

__ADS_1


"Kalau gitu soal pacar?" Tanya Suster Lisa.


*"Bukan juga, aku gak punya pacar, tapi," Rara menarik napas. *


"Tapi apa?" Tanya Suster Lisa.


*"Coba baca WA ini," Rara memberikan ponselnya untuk dibaca Suster Lisa. *


"Wah romantis banget dia Ra, kalian sudah kenal sejak kelas dua SMP, lalu kenapa Ra?" Tanya Suster Lisa.


"Aku gak yakin tentang perasaanku kepadanya, beberapa kali aku putus membuat aku malas membuka hatiku lagi untuk orang lain, dan aku malas berharap, namun ada dihatiku berpikir gak masalah yang penting dicintai," Rara menjelaskan.


*"Selama kamu dekat dengannya gimana?" Tanya Suster Lisa. *


"Yah begitu, aku pernah suka dia, cewek siapa yang gak akan suka sama Jojo, dia ganteng, pintar main basket, kaya," Kata Rara.


"Sekarang masih suka?" Tanya Suster Lisa.


"Setelah aku pacaran dengan Bima, aku sadar yang utama bukan ganteng dan kaya, tapi yang baik banget, perhatian, dan selalu menemaniku," Kata Rara.


"Lalu saat ini, saat kamu bersama dengan Jojo gimana perasaanmu?" Suster Lisa kembali menanyakan perasaan Rara.


"Aku sayang dia, aku sayang sekali, saat dia jatuh gak bisa jalan hingga sudah bisa walau tertatih semua cewek yang dulu didekatnya gak ada yang mau menemaninya, aku gak suka jika dia dihina, aku cuma belum menguji apa perasaanku kepadanya sayang seperti yang aku rasa ketika aku dengan Bima," Kata Rara.


"Setelah membaca pesan darinya apa yang kamu rasa?" Tanya Suster Lisa.


"Aku mau nangis, karena aku antara bahagia dan takut, takut jika aku mengatakan suka, sayang namun ternyata perasaan ini karena aku lagi di masa kesepian, semua temanku sudah nikah. Aku juga takut jika bilang gak suka dia, takut aku mengambil keputusan yang salah," Kata Rara.


"Baik, akan ku pikir dan rasakan suster," Jawab Rara.


Besok paginya Rara segera ke kampus menguru semua skripsinya, Dini datang kepadanya dan berkata.


"Ra, kamu tau apa akibat perbuatan kamu?" Tanya Dini.


"Maksud kamu apa?" Tanya Rara.


"Ari ambil cuti," Kata Dini.


"Apa sangkut pautnya dengan saya?" Tanya Rara.


"Kamu tolak dia kan," Kata Dini.


Rara mengerutkan keningnya, darimana dia tau semua ini.


"Terserah kamu bicara apa, yang penting semua ini bukan karena saya!" Untuk pertama kalinya Rara membentak Dini, dan segera pergi menjauh, mendaftar untuk tanggal maju sidang.


Rara lanjutkan perjalanannya ke rumah dosen untuk bimbingan skripsi yang terakhir. Rara mencoba menelpon Ari, langsung diangkat oleh mamanya.


Ra, kamu bisa ke rumah?. Tanya mamanya Ari.

__ADS_1


Bisa Tante selesai dari rumah dosen.


Selesai dari rumah dosen, Rara segera ke rumahnya Ari, mamanya Ari mengantarnya masuk dan melihat Ari sedang duduk di dalam kamarnya sambil main laptop.


"Selamat siang Ri," Sapa Rara.


"Wah, ajaib Rara bisa ada di dalam kamarku," Kata Ari.


"Ri, kenapa?" Tanya Rara.


"Kenapa apa?" Tanya Ari.


"Kenapa kamu gak daftar untuk maju sidang?" Tanya Rara.


"Aku gak mau wisuda bareng kamu," Kata Ari.


"Ari, itu tindakan bodoh, kamu harus wisuda secepatnya, kerja, nikah secepatnya dengan wanita yang lebih dari aku, dan tunjukin ke aku kamu bahagia," Kata Rara.


"Aku sudah ajukan cuti," Kata Ari sambil kembali menatap laptopnya.


"Ari, belum terlambat, masih bisa ditarik ajuan cutimu, ayo kita lulus bersama," Rara mendekatinya sambil memegang tangannya.


"Lulus bersama dan kita langsung nikah, kamu mau?" Tanya Ari.


"Ari, pernikahan bukan semudah yang kamu kira, Ari kembali ke akal sehatmu," Kata Rara.


"Apa mencintaimu bukan termasuk dalam akal sehatku?" Tanya Ari.


"Ari, ingat orang tuamu yang kuliah kan kamu, bukan aku," Kata Rara.


"Pergi sana, jika kamu juga pada akhirnya tak akan menikah denganku," Kata Ari.


"Ari, agama kita berbeda!" Rara akhirnya berteriak.


"Aku sudah bilang kita nikah di luar negeri, kita gak akan ada yang pindah agama!" Ari juga berteriak.


"Aku gak mau rumah tangga yang dua agama seperti yang kamu rasakan, kamu sendiri merasa sedih melihat mamamu pergi Gereja sendiri, kamu tega melihat aku sendirian ke Gereja?" Tanya Rara.


"Kalau ada anak perempuan, kan ada temanmu," Kata Ari.


"Ya Tuhan Ari, kita jangan memaksakan segalanya hanya demi penilaian sesaat," Rara akhirnya menangis.


"Perbincangan ini akhirnya apa, kamu tetap gak mau menikah denganku, pergilah aku bukannya putus kuliah, aku akan wisuda tapi semester depan," Kata Ari.


Rara membalikan badannya dan pergi.


"Maafkan saya Tante, maafkan saya om," Rara meminta maaf hingga membungkukkan badannya.


"Iya nduk, gak masalah, biar luka ini akan mendewasakan Ari," Kata Mamanya.

__ADS_1


Rara pulang ke rumah, di rumah hanya ada Riris, Rara berlari memeluknya dan menangis.


__ADS_2