
Bagaikan masa ospek, Putri rasa ini lebih berat dari ospek, belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan Bude Tarmi. Putri selalu berusaha bangun sebelum bude bangun dan segera ke dapur, karena pada hari kedua Putri bangun pukul enam pagi, "Selamat siang tuan putri," Sapa Bude Tarmi di meja makan.
Putri hanya diam, segera mandi dan ke dapur, dia sarapan dengan muka tebal, baru bekerja membersihkan semua meja makan dan dapur.
Hari itu jadwalnya Putri pergi melihat perusahaan keluarganya ditemani Raka. Dari pagi Putri sudah masak, dan cuci pakaian. Raka datang menjemput Putri tepat waktu pukul delapan pagi. "Bude kamu langsung jalan ya," Pamit Raka.
"Iya hati-hati," Jawab Bude.
"Pergi dulu Bude," Pamit Putri.
"Iya, kamu tu ya senang-senang, ke sini kan liburan, kok wajahnya lebih banya cemberut, tadi malam Pakde tanya Bude, apa yang kamu inginkan," Kata Bude.
"Iya Bude," Jawab Putri.
Raka melihat serius ke Putri ketika mendengar perkataan Bude.
Putri masuk ke dalam mobil, dia langsung menurunkan sandaran kursi, dan memejamkan matanya.
"Kamu lelah?" Tanya Raka.
"Aku lagi gak mood bicara," Jawab Putri.
Raka langsung diam, baru pertama kali Putri berani mengutarakan perasaannya.
Putri sangat mengantuk tapi tak bisa terlelap seperti harapannya, Raka memberhentikan mobil di parkiran, Putri membuka matanya, diambilnya cermin, dia melihat pantulan wajahnya seperti orang yang tak ada harapan.
Putri membuka pintu mobil, Raka yang sudah setengah berlari hendak membukakan pintu mobil, menghentikan langkahnya.
"Sudah siap?" Tanya Raka.
"Siap," Jawab Putri.
Hari ini Raka banyak dikejutkan dengan segala tindakan Putri. Mereka berjalan memasuki gedung kantor perusahaan keluarga yang konon dirintis oleh kakeknya Putri.
Dimulai dari menjadi agen penjualan minyak hingga akhirnya memiliki lahan tambang di Kalimantan. Mereka naik ke lantai tiga dan memasuki ruangan besar yang letaknya di pinggir.
"Selamat pagi Pagi Pakde," Sapa Raka.
"Selamat Pagi, hallo Putri, ayo kita lihat, usaha kakekmu dan ayahmu," Kata Pakde.
Pakde langsung berdiri dan berjalan keluar ruangannya, Putri dan Raka berjalan mengikuti Pakde. Mereka ke pendopo timur, dari atas terlihat sebuah bangunan seperti aula.
"Put, awalnya kantor ini adalah gedung itu," Kata pakde.
"Tadi Pakde bilang usaha papaku?" Tanya Putri.
"Ayahmu dan Kakek yang ke Kalimantan, dan membangun usaha ini, ayahmu bertemu ibumu di sini dan mereka pindah ke Jakarta untuk menikah," Cerita Pakde.
"Mama juga berasal dari sini?" Tanya Putri.
"Mamamu kerja di kantor ini juga, dia merantau ke Kalimantan dan akhirnya bertemua ayahmu," Kata Pakde.
"Pakde bawa kita ke tempat penyulingan minyak," Pinta Raka.
"Ayo, kita jalan," Kata Pakde.
Siang itu Raka dan Putri berkeliling perusahaan, hingga mereka makan di ruang makan perusahaan juga bersama para karyawan. Putri meminta kopi hitam, untuk menghilangkan kantuknya, Raka menarik gelas kopinya Putri dan membuang setengah, Putri menoleh dan hendak memarahi Raka.
"Jangan minum terlalu banyak, bisa menyerang lambungmu, nanti tidur saja di mobil, aku cari tempat untuk bisa tidur siang," Kata Raka.
Putri menutup matanya untuk menahan amarahnya.
Selesai sudah perjalanan di perusahaan keluarganya, Putri kembali mencoba tidur di dalam mobil, dan akhirnya bisa tertidur.
Putri terkaget bangun dan mendengar suara deburan ombak, dan aroma laut telah tercium.
Dilayangkan pandangannya ke samping, Raka sedang tidur siang juga.
Putri menaikan sandaran kursinya, dan melihat ke arah pantai. "Sudah bangun?" Tanya Raka.
"Baru saja," Jawab Putri.
"Kamu bangun jam berapa setiap pagi, liburan ini?" Tanya Raka.
"Jam lima," Jawab Putri.
"Kamu belum ketemu orang tuaku, besok ya, sekalian aku bawa kamu lihat sekolahku di sini," Kata Raka.
"Ok, info ke Bude dan Pakdemu," Kata Putri.
"Pastilah, ini langsung ku kirim pesan ke Bude dan Pakde," Kata Raka.
"Katanya kamu mau cerita kenapa kamu bisa dekat dengan Bude dan Pakde," Kata Putri.
"Oh iya, jadi gini, saat aku SD, orang tuaku pergi ke Papua, aku gak mau ikut, karena gak mau pindah sekolah, nah aku tinggallah dengan Pakde Agus dan Bude Tarmi, dari SD kelas empat hingga tamat SMP," Cerita Raka.
"Wah itu dekat sekali," Kata Putri.
"Lalu aku kuliah, aku gak mau pergi, biar saja di sini, toh gajinya sama dengan orang yang pergi keluar kota, ku ingat saat semester tiga, Pakde berkata kepadaku, Pakde punya ponakan cewek di Jakarta namanya Putri, siapa tau berjodoh," Kata Raka.
"Wah, segitunya saat aku saja belum mengenalmu," Kata Putri.
"Disambut baik oleh keluargaku, ku lihat Pakde Sugeng juga setuju kecuali Bude Sri," Kata Raka.
"Bude, menyerahkan sepenuhnya kepada pilihanku," Kata Putri.
"Gak sah terlalu maksa, kita ngalir saja, saling mengenal, dan memahami," Kata Raka.
__ADS_1
Putri memperbaiki duduknya dan menatap mata Raka, Raka kembali terkaget melihat tingkah Putri.
"Aku mau tanya serius, kamu setuju atas perjodohan ini dan kamu gak ada pacar?" Tanya Putri.
"Setuju, makanya aku ke Jakarta, dan aku memang lagi gak punya pacar," Jawab Raka.
Putri menarik napas dan kembali menatap pantai .
"Menurut kamu, aku orangnya gimana?" Tanya Raka.
"Sulit ditebak dan sulit dibaca, untuk pekerjaan giat," Jawab Putri.
Raka tertawa mendengar jawaban Putri.
"Tipe cowok kamu seperti apa si?" Tanya Raka.
"Aku sudah jelaskan, namun yang membuat aku nyaman di sampingnya, nyaman untuk ngobrol," Jawab Putri.
"Kamu nyaman gak di samping aku?" Tanya Raka.
Putri kembali memperbaiki duduknya untuk dapat menatap matanya Raka.
"Untuk di Jakarta aku selalu merasa kamu pimpinan aku, ketika di sini aku belum bisa berkata nyaman, namun yang ku tau bahwa kamu adalah orang yang nurut orang tua dan di usung oleh keluargaku untuk jadi pasanganku," Jawab Putri.
"Jadi intinya belum terasa nyaman," Kata Raka.
"Bisa dibilang seperti itu," Kata Putri.
"Kita cari makan yuk, laper banget," Kata Raka.
Putri tidak lagi tidur, dia mulai membuka jendela dan membiarkan angin membelai-belai wajahnya. Raka diam-diam meliriknya, dalam hatinya ia berkata kamupun susah ditebak Put.
Mereka sampai di sebuah warung makan sederhana, Raka saja yang makan dia memesan nasi,m ikan goreng dan sayur. Putri hanya minum teh.
"Suami istri ya nak, baru datang liburan?" Tanya penjaga warung.
Putri terkaget mau menjawab tapi keduluan Raka, "Baru calon Bu, doakan ya semoga jadi nikah," Kata Raka.
"Amin, nikah itu ibadah, jangan asal milih, jangan cuma lihat paras, tapi yang membuat hati dan diri nyaman, jika yang baik sudah di depan mata, jangan cari yang lain jangan lihat sebelah, nanti menyesal," Ibu penjaga warung itu memberikan nasehat panjang dan lebar.
"Iya Bu," Jawab Raka.
"Jangan milih-milih, kadang yang kita pikir jelek ternyata itu yang baik, rumah tangga kan dari diri kita juga, apakah kita bisa buat bahagia rumah tangga, bukan hanya pasangan kita," Kata Ibu itu.
Raka akhirnya menyelesaikan makannya.
"Terima kasih Bu nasehatnya," Kata Raka.
"Iya, hati-hati ya di jalan," Kata Ibu itu.
Putri hanya diam, sesampai di dalam mobil dia berkata, "Gila banyak banget nasehatnya.
Akhirnya mereka telah sampai ke rumah, "Selamat malam Bude," Sapa Raka.
"Selamat malam nak, akhirnya kalian sampai juga, Putri langsung istirahat, besok mau ketemu orang tuanya Raka," Kata Bude.
"Iya Bude," Putri segera ke kamar mandi mandi dan ke kamarnya. Pakaian yang tadi pagi dia cuci telah terlipat rapi di atas kasur, Putri mengambil dan meletakan di dalam koper, setelah itu dia berbaring dan langsung terlelap.
Keesokan harinya kembali Putri bangun pukul lima pagi, langsung menyiapkan sarapan dan bersiap untuk dijemput Raka.
"Orang tuanya Raka itu baik, gak sekeras Bude, mereka orang kerja, kamu jangan langsung nolak, awal yang terlihat buruk biasanya sangat bagus di kemudian hari," Pesan Bude saat sarapan.
"Iya Bude," Jawab Putri.
Kembali hari itu Raka menjemputnya tepat waktu, "Bude aku pinjam dulu Putri ya, agak lama karena kita mau pesat kebun," Pamit Raka
"Iya gak apa-apa," Jawab Bude.
"Kamu bawa baju ganti, nanti jika keringat," Kata Raka.
Putri langsung menuju kamarnya dan membawa baju ganti.
"Aku pergi dulu Bude," Pamit Putri.
"Iya hati-hati, pintar-pintar membawa diri, tapi tetap jadi dirimu sendiri," Pesan Bude.
"Iya Bude," Jawab Bude.
Perjalanan ke rumah Raka ternyata lebih jauh dibandingkan ke perusahaan, Bude Sri ada mengirim pesan kepadanya.
Bude sudah kangen, cepat pulang.
Aku juga kangen Bude, ini lagi perjalanan ke rumah Raka, mau ketemu orang tuanya. Balas Putri ke pesannya Bude.
Ok hati-hati santai saja, jalani saja. Pesan Bude.
Baik Bude. Balas Putri.
"Siapa yang hubungi?" Tanya Raka.
"Bude Sri," Jawab Putri.
Raka hanya diam.
Rumah Raka biasa saja, lebih besar rumah Bude Sri di Jakarta.
"Selamat pagi Mbak," Sapa mamanya Raka.
__ADS_1
"Selamat pagi Bu," Balas Putri.
"Mari masuk," Sapa mamanya Raka.
Putri dengan cepat dengan sekali sapuan matanya memandang rumah Raka, tampak kosong tak banyak hiasan dinding, namun terkesan luas di dalam, dan ada air pancuran mini serta ikan, sehingga terasa dingin.
"Yah inilah rumahnya Raka, bapaknya lagi kerja, jadi hanya ibu, Raka hanya memiliki satu saudara, laki-laki juga, lagi kuliah di Singapura, gimana kerja sama Raka?" Tanya ibunya Raka.
"Baik Bu, Pak Raka disiplin," Jawab Putri.
"Di luar panggil saja Mas Raka, jangan Raka atau bapak," Kata ibu.
"Baik Bu," Jawab Putri.
"Nak Putri sendiri berapa bersaudara?" Tanya Ibu.
"Aku sendiri Bu, aku yatim piatu, orang tuaku meninggal sejak aku SD, namun Pakde dan Budeku baik sekali," Kata Putri.
"You are strong woman," Kata Ibunya Raka.
Putri hanya senyum.
"Kok diam-diaman?" Tanya Raka sambil senyum.
"Nantilah pelan-pelan tanyanya, ayo Put kita jalan-jalan ke belakang," Ajak Ibunya Raka.
Mereka berkeliling rumah, benar dugaan Putri, rumah itu tidak sebesar rumah Bude Sri, namun terasa sejuk.
"Raka itu dulu pernah punya pacar, ibu gak suka, tapi dia jalani dari SMA, pas kuliah katanya pacaran jarak jauh, Raka selalu kirimkan pulsa, uang, katanya untuk nabung nikah, eh memang untuk nikah tapi bukan dengan Raka, ceweknya hamil dengan cowok lain," Cerita ibunya Raka.
"Bukan jodohnya, uangnya gak minta kembali?" Tanya Putri.
"Raka mau minta, ibu larang, biar saja buang soal, jadi bebannya perempuan itu, nah itu akibat gak dengar orang tua," Kata ibunya Raka.
"Ibu ketemu bapaknya Raka, pacaran atau dijodohkan?" Putri memberanikan bertanya sebab jika tidak bertanya pertemuan ini serasa gersang.
"Kami awalnya dipertemukan, tapi tidak dibilang kalian akan dijodohkan, lalu karena seringnya bertemu ketika acara-acara, akhirnya semakin mengenal, dan apa salahnya jika sepakat menikah," Jawab Ibunya Raka.
"Akhirnya karena saling mengenal, jadi suka gitu? lalu jatuh cinta?" Tanya Putri lagi.
Ibunya Raka sempat saling tatap dengan Raka dan tersenyum.
"Iya, cinta itu datang karena sering bersama, suka itu datang karena kita berusaha untuk mengenalnya, dan ternyata dia lebih baik dari semua orang yang kita kenal," Ibunya Raka menjelaskan.
"Ok, saya paham," Jawab Putri.
"Putri sendiri sudah pernah pacaran?" Tanya Ibunya Raka.
"Pernah, waktu SMA," Jawab Putri.
"Kenapa putus?" Tanya Ibunya.
"Karena kuliah, dan memang kami tidak niat jarak jauh," Jawab Putri.
"Lalu kuliah ini, gak ada yang disuka atau mendekati?" Tanya Ibunya Raka.
"Gak ada yang sama seperti dia, dan aku terlalu sibuk kerja dan kuliah," Jawab Putri.
"Gak akan ada yang Putri temui sama seperti mantanmu, dia hanya satu-satunya mantan terindah," Jawab Ibunya Raka.
Putri tertawa.
"Menurut kamu Raka orangnya seperti apa?" Tanya Ibunya sambil menyiapkan makan siang, Putri membantu merapikan meja, dan memotong buah.
"Sulit dibaca," Jawab Putri.
"Raka memang seperti itu, jaga image tapi sekali suka cewek, dan sayang, kamu akan lihat betapa perhatiannya dia, dan baiknya dia," Cerita Ibunya Raka.
Putri hanya senyum.
Mereka makan siang bertiga, sambil bercerita segala hal, tentang Kalimantan, tentang masa kuliahnya Raka, hingga akhirnya pamitan.
"Gimana tentang ibuku?" Tanya Raka di dalam perjalanan pulang.
"Baru berapa jam bertemu, belum bisa dijadikan patokan menilai orang," Jawab Putri.
"Wuih, liburan ini aku bisa dengar Putri berbicara secara tegas denganku, biasanya bicaranya hanya sedikit, dan tidak lantang," Goda Raka.
"Jadi aku harus panggil Mas Raka ni?" Tanya Putri.
"Harus," Jawab Raka.
"Aku rasa aku harus bersabar liburan ini," Kata Putri.
Mereka berdua menghabiskan masa liburan di Kalimantan sepuluh hari, Natal kedua langsung balik Jakarta.
Saat Hari Natal, keluarga Raka dan keluarga Pakde Agus mengadakan makan siang bareng, di rumah Pakde Agus.
Putri begitu lelahnya mempersiapkan segala sesuatu.
Mamanya Raka memberikan kado Natal untuk Putri, sebuah kalung emas.
"Aku kasih dulu pengikat, nanti Raka yang beli untuk ikat di jari ya Nduk," Kata Ibunya Raka.
Semua keluarga tampak bahagia.
Tegakah Putri menolak perjodohan ini? Putri hanya bisa tersenyum menutupi segala perasaannya, hingga pesawat membawa mereka kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Raka tak terlalu banyak bicara, seakan tak memaksa, namun menunjukan saja bahwa seluruh keluarga mendukung perjodohan mereka berdua.