
Hari yang dinantikan Rara, Putri dan Dewi akhirnya tiba. Dewi sudah tiba di depan rumahnya Rara pukul setengah delapan pagi.
"Selamat pagi Tante, apa kabar?" sapa Dewi.
"Pagi Dewi, tambah cantik kamu, apa kabarnya Bagas?" Tanya mamanya Rara.
"Kabar dia mah, pasti baik Tante," Jawab Dewi.
"Lagi dimana dia?" Tanya Mamanya Rara.
"Gak tau, Tante , sepertinya dia lagi di tempat yang tidak ada jaringan," Jawab Dewi.
"Doain saja semoga Bagas aman dan sehat ya," Kata Mamanya Rara.
"Ma, aku pergi dulu," Pamit Rara.
"Iya, hati-hati," Kata Mama.
Stelah dari rumahnya Rara mereka menuju rumahnya Putri, Putri telah siap di teras rumah, dengan budenya.
"Dewi, bawa mobil hati-hati ya, tidak usah ngebut," Pesan Bude.
"Nggih Bude," Jawab Dewi.
"Bude, jangan sedih ya, Putri pergi," Kata Rara."
"Untuk apa Bude sedih, yang ada Bude pikiran saja, ngapain kalian ini jalan gak ada cowoknya," kata Bude.
Bude, aku pergi dulu ya. Putri memeluk Bude.
"Hati-hati, jangan lupa doa," Pesan Bude.
Serentak, Cika, Putri, Rara dan Dewi menjawab, "Iya Bude."
Mobil mereka akhirnya melaju membelah angin di depan. Rara memperhatikan Putri.
"Kenapa Ra?" Tanya Putri.
"Kamu agak kusut, emang kenapa?" Tanya Rara.
"Aku rasanya ingin nangis, tapi gak bisa di rumah," Kata Putri.
Putri langsung menangis di dalam mobil, Cika sampai memeluk Putri.
Rara duduk di samping Dewi hanya menarik napas dalam-dalam.
"Nangis saja yang kenceng Put, ini saatnya, kalau di rumah gak bisa nangis," Kata Dewi.
Putri semakin kencang nangisnya, sampai sesenggukan. Sekitar satu jam, tangis Putri pun berhenti. Dewi akhirnya memutar lagu rohani Natal untuk menenangkan suasana, selesai nangis Putri malah tidur.
Sampailah mereka di tujuan, di pinggiran kota, Dewi telah memesan tempat penginapan, satu rumah kecil dengan dua kamar. "Soal makan gimana, Wi?" Tanya Rara.
"Tenang, sudah kupesan nanti di antar tiga kali sehari beserta cemilan," Kata Dewi.
Putri duduk memandang lautan lepas di depan tempat penginapan mereka.
"Put, jangan melamun, nanti kesambet," Tegur Cika.
"Jalan yuk," Ajak Rara, Putri langsung meraih tangan Rara.
__ADS_1
Pemandangan di Pantai Sawarna benar-benar memanjakan mata Rara, Putri, Dewi dan Cika.
"Teriak Put, yang keras, luapkan segalanya," Kata Rara.
"Nanti kalau dilihat orang gimana?" tanya Dewi.
"Gak masalah," Jawab Cika.
Putri akhirnya berteriak keras sekali, sempat beberapa orang melihat mereka, Rara, Dewi dan Cika hanya senyum memandang mereka. Dari arah timur, dengan jarak dua meter ada beberapa orang muda juga sedang berdiri, mereka melihat ke arah Putri dengan tajam.
Selesai mereka teriak, Rara yang langsung menyeburkan diri ke laut, dan menyiramkan air ke Putri. Mereka bermain kejar-kejaran seperti anak-anak. Hingga napas terengah-engah.
"Ternyata kita hanya rindu seperti anak kecil, bermain kejar-kejaran dan berteriak," Kata Rara.
"Kamu lebih kelihatan berani Ra, gak sama seperti waktu SMA," Kata Dewi.
"Iya, karena aku sendirian, tak ada kalian," Kata Rara.
"Dan aku yang paling cengeng," Kata Putri.
"Gak masalah cengeng disini Put, jangan diluar," Kata Rara.
Mereka balik ke tempat penginapan, bergantian mandi, dan berganti baju, "Baju kalian mana, sekalian di laundry," Kata Dewi.
Pegawai penginapan datang membawa cemilan sore sekalian mengambil pakaian basah mereka.
"Ntar malam kita nongkrong di cafe Flamboyan, pas dipinggir pantai," Kata Dewi.
"Wah indahnya," Kata Rara.
"Pacarmu sekarang siapa Ra?" Tanya Cika.
"Lalu gimana jika dia bilang ingin jadi pacarmu?" Tanya Putri.
"Aku akan terima, dan jalani, namun aku masih gak mau yang langsung serius untuk nikah," Kata Rara.
"Tapi gimana soal fotomu dan Jojo?" Tanya Dewi.
"Ntahlah, itu Mami, aku gak pernah bisa nolak Mami," Kata Rara.
"Dewi, kamu tau foto itu darimana?" Tanya Rara.
Rara sadar, dia tidak pernah posting foto itu, dan saat di rumah Jojo gak ada Dewi.
"Jojo posting di FB, tulisnya calon istri idaman Mami," Kata Dewi.
"Ya ampun, tu anak," Kata Rara.
"Jojo anaknya baik kok Ra, nurut orang tua," Kata Cika.
"No coment," Kata Rara.
Semua tertawa, "Put, ada yang bisa diceritakan?" Tanya Rara.
"Bude kemarin sadar bahwa aku tak nyaman dengan perjodohan, dan aku bahagia sekali, Arya sudah ada pacarnya selalu menggunakan aku sebagai alasan untuk bertemu dengan pacarnya," Kata Putri.
"Lalu yang membuat kamu nangis apa?" Tanya Dewi.
"Aku bingung, apakah aku mengutamakan egoku untuk menolak Arya, atau aku akan tersiksa dengan Arya," Kata Putri.
__ADS_1
"Bude-mu kan sudah setuju, kalau kamu gak jadi dengan Arya, jadi gak masalah," Kata Cika.
"Iya si, tapi gimana dengan Pakde?" Tanya Putri.
"Arya wajahnya seperti apa si?" Tanya Rara.
Putri mengambil ponselnya dan membuka ternyata ada tiga puluh panggilan dari Arya, tapi Putri malas tau, dan membuka galeri foto memperlihatkan foto Arya ke Rara dan Dewi.
"Ganteng Wi," Kata Rara.
"Iya, tapi lebih manis Irfan," Kata Dewi.
"Irfan ketemu aku di swalayan, gak mau sapa, malah menghindar, biarlah," Kata Putri.
"Sudah lupa dia sama kamu Put," Kata Rara.
"Menurut kalian gimana, tentang aku?" Tanya Putri.
"Pilih yang membuat kamu bahagia Put, jangan terlalu jauh jatuhnya," Kata Rara.
"Iya Put, kalau memang bisa gak nikah sama Arya, putus saja," Kata Cika.
Putri hanya diam den berpikir dengan menatap kedepan.
"Pesanku Put, jaga kesehatan, jangan terlalu mikir dan larut dalam kesedihan," Kata Dewi.
Mereka ngobrol hingga matahari akan kembali ke peraduannya, "Kita foto yuk," Ajak Cika.
Selesai foto-foto, Dewi menghubungi petugas penginapan, minta makan malam mereka di antar di cafe Flamboyan.
Duduk-duduklah mereka di cafe, ditemani musik akustik.
"Kalian tau, ketika Bima datang dan langsung memeluk aku, dan mencium aku, jantungku masih berdegup kencang untuknya, namun aku gak mau hubungan jarak jauh," Kata Rara.
"Rara dengar lagu ini langsung ingat Bima," Kata Dewi.
"Kamu gak rindu Bagas, Wi?" Tanya Putri.
"Rindulah, dia tentaraku yang tangguh," Kata Dewi.
"Bima Orangnya baik, pacar yang baik banget," Kata Rara.
"Cika, gimana soal hatimu?" Tanya Putri.
"Aku belum ada cerita seperti kalian," Kata Cika.
"Putri," Seseorang memanggil, membuat mereka semua kaget dan melihat ke arah suara.
"Arya," Balas Putri.
"Saya telepon berkali-kali kamu gak angkat, tadi kamu yang teriak di pantai kan?" Tanya Arya.
"Maaf, aku lagi nyaman dengan teman-temanku," Kata Putri.
"Kita bicara dulu sebentar," Kata Arya.
Putri berjalan mengikuti Arya.
"Ingat, jangan jatuh terlalu jauh," Bisik Rara.
__ADS_1