
Kata orang hidup adalah sebuah pilihan, namun tidak semua orang menganggap hidup adalah sebuah pilihan, ada bagian yang sebenarnya tak ingin manusia pilih, namun harus dijalani, ini yang di sebut takdir atau jalanNya Tuhan.
Ujian kenaikan kelas telah usai, hari pertama liburan Dewi nongkrong di cafe mamanya, dia di bagian kasir, seorang gadis seumurannya yang dia kenal juga, yang juga merupakan pelaku tulisan-tulisan di sekolah sedang menyapu cafe.
"Hai," sapa Dewi.
Tak ada balasan dari dia, Dewipun akhirnya diam, dia juga tak berani memanggilnya lagi, dia hanya diam.
"Wi, biar kak Meli yang jaga, kamu pulang, tadi pesan mami, jika kakak selesai dandan, kakak yang jaga."
"Ok Kak, harum banget parfumnya, merk apa?" tanya Dewi.
"Racikan teman, nanti kakak kasih," kata Kak Meli.
"Thanks kakakku sayang, dag."Dewi pamitan.
"Cika, sapu bagian sini, dari tadi kamu nyapu kok bagian sini masih kotor," perintah Kak Meli.
Cika hanya diam dan langsung menyapu di bagian kasir, Dewi masih sempat menengok dan melihatnya, jatuh hati Dewi juga melihat Cika anggota gengnya Lia yang kelihatan strong di sekolah namun kerja di cafe mamanya.
Dewi pulang ke rumah, dia mengendarai mobilnya sendiri, terbayang kejadian saat polisi berhasil mengungkapkan pelaku teror tulisan di sekolah tentang mamanya.
"Wi, pelakunya sudah diamankan," WA mamanya.
"Siapa? ada dimana?" tanya Dewi.
"Di kantor polisi, mama ada disini, tapi mama maafkan, sebab dia kerja di cafe kita, namun dia seangkatan denganmu, dia hanya masih kesel dan belum siap jalani hidup kerja di cafe mama," kata mama.
"Siapa? kirim fotonya," pinta Dewi.
"Ini, janji jangan cerita ke teman-teman," kata mamanya.
"Janji," balas Dewi.
Mamanya mengirim foto Cika, Dewi benar-benar terkejut, sejak awal pertemuannya saat di cafe, untuk pergi menenangkan diri, melihat Cika, hatinya sudah menaruh curiga, Cika yang nulis.
"Ya sudah ma, maafkan, toh dia masih terikat kontrak kerja dengan mama," kata Dewi.
"Nah itu, semua sudah beres," kata mamanya.
Namun selama ini Cika tak pernah berbicara dengan Dewi, dia masih diam. Di sekolah dia lebih banyak menjauh dari Dewi. Sangat disayangkan padahal Dewi lebih ingin mengajaknya ngobrol, dan menjadi teman, seperti kakak-kakak yang lain yang telah lama kerja dengan mamanya, sudah Dewi anggap seperti saudara.
Setibanya Dewi di rumah, dia langsung mendaftar kursus online untuk ambil kuliah, untuk saat ini pilihan Dewi adalah guru Paud atau taman kanak-kanak, mamanya tak habis pikir dengan pilihan Dewi, namun mamanya dukung juga, bagi mamanya guru pekerjaan mulia dan ada banyak waktu untuk keluarga jika Dewi akan menikah, bisa sambil mengelola cafe malamnya.
Rara menghabiskan liburannya dengan sibuk les persiapan daftar perguruan tinggi negeri, walau dia sudah lebih fokus ke satu jurusan yaitu keperawatan, pagi itu saat berduaan dengan mamanya di dapur.
"Ra, kamu harus lulus ujian masuk PTN dan usaha dapat beasiswa," kata mama.
"Iya ma," kata Rara.
"Bima rencana dia kemana?" tanya mama.
__ADS_1
"Tidak tau ma, dia masih pikir, kayaknya teknik sipil, arsitek gitu, tapi bisa juga ke analis darah," kata Rara.
"Analis bisa nurunin kerjaan mamanya," kata mama.
"Iya," kata Rara.
"Riris jadinya masuk SMA Anak Panah, dengan temannya Dedi," kata mama.
"Oh ya, seneng dong dia ma, sesuai pilihannya," kata Rara.
"Iya, uang sekolah dia dapat beasiswa, asal nilainya harus tinggi terus," kata mama.
"Haruslah," kata Rara.
"Tahun depan kita harus irit-irit di rumah, kamu sudah kuliah," kata mama.
"Aku bisa bantu kerja tambahan ma, apa gitu," kata Rara.
"Nanti gak fokus kuliahnya, telat lulus, uang banyak keluar, kamu fokus saja kuliah, lulus tepat waktu, cepat kerja bantu orang tua," kata mama.
"Iya ma," kata Rara.
"Jojo keluar negeri Ra," kata mama.
"Dia mah banyak uang, biarkan aja,"kata Rara.
"Iya," kata mama.
Bagas sibuk berolahraga dia berencana mendaftar menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia, dia mulai mengatur pola makannya.
Irfan hanya diam, dia masih mikir dia harus ambil kuliah jurusan apa.
Putri sudah diarahkan om dan tantenya, dia ambil kuliah sekretaris perkantoran, nanti kerjanya di tempat omnya yang satu lagi, bukan yang membiayainya.
"Fan kamu haru tentukan pilihan, sebentar lagi semua tempat kuliah sudah buka pendaftaran, siapa tau bisa diterima hanya dengan melihat nilai rapot," kata Putri.
"Aku cocoknya kerja apa?" tanya Irfan.
"Kerja jangan bicara cocok jaman sekarang Fan, banyak yang di PHK, lebih baik pilih jurusan yang pasti akan dapat kerja," nasehat Putri.
Irfan diam, dia senang berteman dengan Putri, walau Putri lelet dalam pelajaran, tapi untuk menentukan jalan hidupnya dia optimis dan bisa berpikir panjang.
Putri pun sudah membeli buku persiapan ujian Sekolah dan masuk perguruan tinggi negeri, tiap hari dia berusaha kerjakan soal, jika ada yang susah, dia usaha buka google atau YouTube dan paling akhir dia tanya Irfan.
Jojo terselamatkan karena ada Rara, yang rajin belajar, giat les, tiap malam Rara ingatkan Jojo, PR-PR Les yang harus dikerjakan Jojo,
"Jo ada PR Fisika, kimia, dan biologi untuk besok les, kamu sudah kerja?"
"Fisika sudah, kimia dan biologi belum," jawabnya.
"Kerjakan dong," kata Rara.
__ADS_1
"Kamu sudah?" tanya Jojo.
"Sudah," kata Rara.
"Kirim dong totokan ya," kata Jojo.
"Ok, tapi kamu janji harus segera salin, dan foto balik hasil salinanmu," kata Rara.
"Siap," kata Jojo.
Jam main Basket Jojo dikurangi oleh mami, mami minta dia harus fokus untuk studynya, apalagi tujuannya sekolah diluar negeri.
Sore itu Kak Meli ulang tahun, dia ajak Dewi datang ke cafe, dia ada belikan makan dan minum, Dewi datang, sudah berkumpul semua karyawan mamanya termasuk Cika.
Saat makan bersama, Cika hanya duduk sendirian, Dewi usaha dekatin.
"Hai, Cik," sapa Dewi.
"Hai," kata Cika.
"Kamu sehat?" Dewi bingung tanya apa.
"Sehat," jawabnya.
"Kamu sudah milih jurusan, selesai SMA mau lanjut kemana?" tanya Dewi.
"Kamu kuliah?" tanya Cika.
"Iya, aku milih guru Paud," kata Dewi.
"Aku masih mikir mau kuliah dimana Wi, apa orang tuaku ada uang, ini aja aku sampai kerja disini karena orang tuaku terlilit utang," kata Cika.
"Kalau mami kasih kuliah kamu mau gak?" tanya mamanya Dewi dari belakang saat dengar mereka ngobrol.
"Mau Tante," kata Cika.
"Dengan persyaratan, kamu harus tinggal dengan Dewi, dan kerja sepulang kuliah disini, kamu kerjanya cleaning service dulu, kamu gak layani tamu," kata mama.
"Bener Tante? aku mau." kata Cika.
"Ok, segera pilih jurusan kuliahmu, nanti kita buat perjanjian hitam diatas putih," kata mama.
"Baik Tante terima kasih," kata Cika bersemangat.
Dewi tersenyum melihat Cika yang bersemangat,
"Cika, akan selalu ada jalan bagi manusia jika memiliki hati dan tujuan yang baik," kata Dewi.
Cika diam dan tertunduk dia malu mengingat apa yang dia buat ke Dewi di sekolah.
Dewi tetap memilih duduk dengannya.
__ADS_1
"Wi, aku minta maaf soal tulisan, teror-teror itu," kata Cika.
"Iya aku maafkan," kata Dewi.