
"Ra, Ra..," panggil Frangki.
"Ya," Rara tampak terkaget mendengar namanya dipanggil.
"Melamun saja dari tadi, ntar lagi sdh mau sampai loh," kata Frangki.
"Oh iya," kata Rara.
Dua meter kemudian Rara bersuara,"Depan pak."
"Ok, neng," kata pak Sopir.
Lalu bis berhenti, Rara pun turun. Bagas dan Frangki hanya diam dan memperhatikannya, Bagas disuruh oleh Jojo untuk ikutin Rara, dan memang benar, Rara kelihatannya aja kuat dari luar, gak nangis kayak cewek-cewek lain ketika putus, namun lebih banyak diam, dan gak mau makan.
Setibanya Rara di rumah, dia kaget ada tamu, "Hallo selamat siang, siapa ni?" tanya Rara ramah.
"Dedi," sapanya sambil memberikan tangan.
"Temannya siapa? Riris atau Rinli?" tanya Rara.
"Riris kak," kata Dedi.
"Baru kelihatan, tinggal dimana?" tanya Rara.
"Tinggal di jalan Cempaka kak, saya anak baru kak, baru pindahan," kata Dedi.
"Pindahan darimana?" Rara bertanya sambil melepas sepatunya.
"Dari Papua," kata Dedi.
"Jauhnya, sudah makan siang belum?" tanya Rara.
"Sudah kak," jawab Dedi.
"Kakak, pulang-pulang intrograsinya lancar banget," kata Riris.
"Haruslah, kaget lihat ada wajah baru di rumah, gak apa-apa ya Dedi, kita kan kenalan," kata Rara.
"Iya gak apa-apa kak," jawab Dedi.
"Kakak masuk dulu ya," kata Rara.
"Kakakmu sekolah dimana?" tanya Dedi ke Riris.
"SMA Bakti," jawab Riris.
"Wuih sekolah mahal tu, yang sekolah juga anak-anak tertentu," kata Dedi.
"Bosnya papa yang bayarkan uang sekolah, asal dia pantau anaknya bosnya papa itu," jelas Riris.
"Oh...," ujar Dedi.
"Ayok kita kerjakan PR IPA, lalu lanjut PR matematika," kata Riris.
Dedi diam dan memperhatikan Riris yang serius mengerjakan PR, dalam hatinya berkata ini anak pintar juga.
Ponsel Putri terus berbunyi, "Hallo," jawabnya.
"Lama bener angkat telpon," marah Irfan.
"Sabar juga kenapa," kata Putri.
"Gak bisa sabar, nanti pasar tutup," kata Irfan.
__ADS_1
"Ada pasar malam," kata Putri.
"Rumahmu dimana?" tanya Irfan.
"Di jalan Merdeka, nomer lima," kata Putri.
"Daerah mana tu?" tanya Irfan.
"Kamu tau Kios Adi yang besar di putaran pertama?" tanya Putri.
"Tau," jawab Irfan.
"Dari situ you belok kiri, jangan belok kanan, lurus aja sampai dapat lorong kedua baru belok lagi kiri nah lorong itu namanya jalan Merdeka, itung rumah kelima," kata Putri.
"Ok, paham," kata Irfan langsung memutuskan panggilan telponnya.
Irfan tiba dengan aman di depan rumah Putri, Putri langsung berlari masuk ke mobilnya Irfan, "Ayuk jalan, pasarnya nanti tutup," kata Putri.
"Sudah ijin mama papamu?" tanya Irfan.
"Aku sudah ijin dengan om dan tanteku, mama papaku semua sudah meninggal," jawab Putri.
Irfan terkaget dan langsung diam.
"Memang kamu sudah tau yang akan dibeli?" tanya Irfan.
"Tau, ku sudah tanya Sartika," jawab Putri.
"Oh... jadi kita ke pasar mana ni?"tanya Irfan.
"Pasar terdekat saja, di perempatan jalan sana ada pasar kaget," kata Putri.
Irfan diam, dan melajukan mobilnya, setibanya di pasar, Putri langsung keluarkan catatan, lalu " mana uangnya?" pinta Putri.
"Oh iya ini," Irfan memberikan uangnya.
Setelah selesai, Putri dan Irfan kembali ke mobil, "Tugasku cuma bantu belanja kan, kamu yang antar ke tempat budemu?"tanya Putri.
"Iya, darimana kamu tau Budeku yang masak?" tanya Irfan.
"Taulah, aku cari tau semuanya, dan kenapa kamu gak suruh Lia ikut ke pasar?" tanya Putri.
"Yah kamu tau, anak seperti Lia mana tau belanja," kata Irfan.
"Eh, jangan judge orang begitu, kamu belum kenal betul dia kali," kata Putri.
Irfan hanya diam tak menjawab, diantarnya Putri pulang, belum sempat Irfan bilang terima kasih, Putri sudah nyerocos," Demi membalas salah gua waktu tu, sampai kapan gua temani ke pasar? atau hanya hari ini saja?" tanya Putri.
"Yah masih ada satu kali lagi tugas gua dan Lia ke pasar, nanti you bantu lagi ya," jawab Irfan.
"Ok, dag," kata Putri langsung turun dari mobil.
Irfan langsung jalan, ternyata tantenya Putri ada di teras, "Sudah selesai belanjanya Put? teman kamu kok gak sopan ya, gak buka jendela, sapa Tante," kata Tante.
"Iya Tante, dia emang gak sopan, nanti ku tegur, Tante aku sudah ceritakan soal ku jatuh dan senggol mobilnya," kata Putri.
"Iya, dia itu yang mobilnya kamu tabrak?" tanya Tante.
"Iya Tante, makanya ku harus bantu dia ke pasar, masih ada satu kali lagi," kata Putri.
"Itu namanya manfaatin orang," suara Dika dari dalam ruang tamu.
Dika anak satu-satunya Tante dan om, makanya Tante sayang putri selayaknya anak kandung, mereka tak punya anak perempuan.
__ADS_1
"Yang penting semua diselesaikan dengan baik," kata Tante.
Putri masuk ke dalam dan bantu menyiapkan makan malam, sebenarnya baru Irfan saja yang tau bahwa orang tuanya sudah meniggal, dan dia tinggal di om dan tantenya, Dewi teman terdekatnya saja gak tau.
Riris tau perubahan diri kakaknya, "Mbak, temani aku belanja dong," ajar Riris.
"Belanja apa?" tanya Rara.
"Keperluanku, mamakan sudah kasih uang kemarin," kata Riris.
"Di dekat saja ya," ujar Rara.
"PRnya kakak banyak?" tanya Riris.
"Gak, sudah kerjakan semua," kata Rara.
"Sama, mumpung hari ini mbak gak les, kita jalan-jalan," kata Riris.
"Oklah, mau kemana?" tanya Rara.
"Ikut aja, Ayuk siap-siap," kata Riris langsung memesan grab.
Rara pun bersiap, Riris menelpon mamanya yang lagi di rumah Mami," Mi, aku dan Rara mau jalan-jalan."
"Kemana?" tanya Mama.
"Ke citra Mall pakai grab," kata Riris.
"Tumben," kata Mama.
"Skali-skali mumpung kakak gak les, kita dua sudah kerja PR, makanannya Rinli ada," jelas Riris.
"Ok, hati-hati ya berdua," kata Mama.
"Dimana mereka?" tanya Mami.
"Mau ke citra Mall," kata Mama.
"Nanti Mami jemput,sekalian antar mamamu," kata Mami.
"Ris, pulangnya kamu tunggu aja kami jemput ya," kata Mama.
"Ok ma," kata Riris.
Grab yang dipesan Ririals sudah tiba, Rara dan Riris langsung masuk, sepanjang perjalanan yang cerewet hanya Riris, Rara cuma ber ah, oh dan iya.
"Mbak," Riris akhirnya suaranya serius.
"Iya," kata Rara yang sempat melihat terus ke jendela luar.
"Mbak, lupakan Mas Bima, dia bukan yang terbaik untuk mbak," kata Riris.
"Iya," kata Rara.
"Jangan cuma iya-iya, gak nangis, tapi melamun, malas makan, malas bicara, malas cerita, berubah jadi pendiam," kata Riris.
Rara hanya diam, dia gak bisa membantah lagi kata-kata adiknya.
"Mbak akan usaha, cuma mbak perlu waktu," kata Rara.
Tiba-tiba ponselnya berdering, telpon dari Bima, Riris langsung ambil dan mematikannya.
"Gak sah angkat, dia gak ada usaha untuk tetap sama kakak, backstreet kek, apak kek, langsung aja terima tu cewek," marah Riris.
__ADS_1
Rara juga lagi malas bicara sama Bima, dia hanya diam, ya Rara masih perlu waktu untuk ikhlaskan Bima.
Bima hanya diam melihat telponnya direject Rara.