
Rara hanya nurut saja Bima kemana, dia tau bahwa lambat lain mereka harus menyelesaikan hubungan mereka, ini waktu yang tepat selesai ujian. Di dalam mobilnya Bima, Rara lebih banyak memilih diam agar tak memicu pertanyaan atau pernyataan, dan amarah.
"Ra, mau makan dimana?" tanya Bima.
"Terserah kamu saja Bim," jawab Rara.
"Masakh terserah, jawaban terserah itu jawaban anak kecil, jawaban orang yang sudah males meladeni orang," nada suara Bima sudah mulai meninggi.
"Carikan bakso aja Bim, aku ingin makan yang berkuah dan panas," Rara cepat-cepat memilih menu.
Bima menarik napas dalam-dalam, mereka berhenti di sebuah kedai bakso yang agak terkenal, Bima juga memesan dua bakso.
Mereka berdua makan dengan hening.
Rara semakin gelisah namun gak bisa bicara apa-apa.
Selesai makan mereka langsung pergi, mereka berhenti di halaman kantor ayahnya Bima.
"Ra, gua cari tempat bicara yang nyaman tenang, ya hanya disini dan di rumah gua, namun gak mungkin aku bawa kamu ke rumahku kan," kata Bima.
"Kamu mau bicara apa Bim?" tanya Rara, yang sudah gak sabar ingin cepat selesai semuanya.
"Hubungan kita," kata Bima pelan.
"Kita putus aja Bim," kata Rara.
"Ok, kali ini aku setuju dan ikhlas, karena aku sadar sejak malam itu, kamu sudah pergi jauh," kata Bima.
"Maafkan aku Bim," kata Rara.
"Gak apa-apa, kamu kan dah bilang sudah gak ada perasaan sama aku, aku aja yang maksa," kata Bima.
"Tolong antar aku pulang Bim," pinta Rara.
"Ok," kata Bima.
Rasa lega di hati Rara.
Selesai ujian intensitas siswa ke sekolah semakin berkurang hanya jika yang memerlukan rapot dan ijasah. Dewi dan Cika sibuk membantu mamanya di cafe, Putri pun hanya sibuk bantu tantenya di rumah. Irfan sibuk cari sekolah kedinasan, Jojo dan Bima sudah terdaftar di universitas pilihan masing-masing.
Sekolah dengan sigap membuat Proom Nite sebelum semua siswanya pergi, semuanya sudah diatur oleh OSIS. Temanya "Make a good memories", dresscodenya yang pria atasan kemeja, bawah celana Hitam, yang perempuan gunakan dress, acara dimulai pukul 19.00.
Putri, Rara dan Cika nebeng di mobilnya Dewi, "Dengar-dengar yang cowok pakai topeng ," kata Dewi.
"Aku gak tau, anak OSIS gak ada yang mau bocorin tentang acaranya ke saya," kata Putri.
"Ngapain mereka pakai topeng?" tanya Rara.
"Kita gak bisa kenal mereka, tapi mereka bisa kenal kita itu tujuannya," kata Cika.
"Jadi penasaran ya," kata Dewi.
Halaman sekolah sudah berubah malam itu, didesain terang sekali, daerah-daerah yang berbahaya untuk siswa dapat berdua-duaan telah dipalang dan di jaga OSIS.
Ruangan aula di desain agak remang, tapi masih bisa kelihatan orang, sebagian besar anak cewek yang di situ.
__ADS_1
"Anak-anak cowok kemana?" tanya Rara.
"OSIS arahkan ke tempat lain, Ayuk kita pilih tempat, semua meja bundar lagi, kita satu tempat aja," kata Dewi.
Mereka memilih meja nomor dua dari kiri dan nomor dua dari depan.
"Siapa yang atur konsumsi?" tanya Rara.
"Catering di warung makan depan," jawab Putri.
"Dapat uang banyak dong Proom Nite ini," kata Cika.
"Tiap orang kan bayar tiga ratus ribu," kata Rara.
"Apa? tiga ratus!" seru Cika.
Cika tidak tau pembayaran, dia taunya Dewi berkata,"Kamu sudah di bayarkan untuk Proom Nite jadi nanti ikut ya."
"Rinciannya seratus makan, seratus decor, seratus cenderamata untuk sekolah," Putri menjelaskan.
Suara musik menandakan acara Proom Nite dimulai.
Para siswa cowok berbaris masuk ke ruangan dengan iringan lagu blus yang tenang sekali.
MCnya adalah seorang adik kelas, para siswa cowok duduk semua di bagian belakang, mereka gunakan topeng. Acara pembukaan dimulai dari laporan ketua panitia, lalu para sambutan dari kepala sekolah.
setelah itu para guru maju main band, dan nyanyi sempat langsung memeriahkan ruangan aula sekolah.
Setelah itu, pembacaan nama-nama guru terfavorite dan guru tergalak, dilanjutkan pemberian penghargaan para siswa teladan Dinda, siswa terbaik main basket di dapat oleh Jojo, dan masih banyak penghargaan lainnya.
Semua siswa menyalakan senter dari HP, lalu para siswa cowok menuju ke tempat para siswa putri yang duduk, walau tidak semua Putri di datangi para siswa cowok, dan tidak semua cowok juga yang mendatangi para siswa putri.
Di mejanya Rara yang tak ada pasangan hanya Cika, Cika sempat memerah wajahnya malu, dia sendiri yang tidak di kunjungi. Lima menit kemudian, munculah satu pria disampingnya, jantung Cika berdegup kencang, dia tak tau siapa yang mendekatinya, selama ini tak pernah ada teman cowok yang dekat dengannya, apa cowok ini cuma kasihan lihat dia sendiri yang gak ada pasangan.
Lampu kembali dinyalakan, lalu mereka di ajak berdansa, Putri langsung tau bahwa yang mendatanginya adalah Irfan, dia hafal wangi parfumnya. Dewi pun tau bahwa Bagas yang berdansa dengannya, dia hafal tangannya Bagas.
Rara tak kenal siapa yang berdansa dengannya, cowok itu gunakan sarung tangan, topengnya tertutup rapat, parfumnyapun berbeda dari yang dia tau, bukan Jojo atau Bima. Rara gelisah sekali, siapa ini.
Lagu berhenti, merek berhenti berdansa, para pria itu mengantar kembali mereka ke meja bundar, dan para siswa putri yang di ajak berdansa masing-masing mendapat kado juga dari pria-pria itu, Dewi mendapat kalung, Rara mendapat kalung emas, dia yakin itu bukan Kuningan, Dewi mendapat jam tangan, Cika mendapat kado yang terbungkus.
Para pria itu berpamitan, dan mencium tangan para siswi Putri itu.
Di lanjutkan dengan acara foto per kelas, para siswa Putra telah melepaskan topeng.
Selesai foto dimulai dengan acara resepsi makan malam.
Para pramusaji dari catering, yang menghantar makanan di setiap meja.
"Aku gak tau siapa yang berdansa denganku, bukan bau parfumnya Jojo atau Bima," kata Rara.
"Aku juga tak tau," kata Cika.
"Kamu gak hafal tangannya?" tanya Dewi.
"Gak dia gunakan sarung tangan," jawab Rara.
__ADS_1
"Menurutku tetap antara Jojo atau Bima, sebab dia gunakan sarung tangan supaya kamu gak tau," kata Putri.
"Ntahlah," kata Rara.
Selesai acara makan, diperbolehkan pulang, beberapa anak masih selfie dengan teman-teman gengnya, seperti Cika dia masih sempat-sempatkan foto dengan Lia dkk.
Irfan menarik tangan Putri dan langsung ajak foto berdua, begitu juga Bagas dan Dewi.
Rara saja yang hanya diam, dia dapat telpon dari adiknya Riris, Rara keluar ke tengah halaman mengakar telpon tersebut.
"Hallo Ris," sapa Rara.
"Jam berapa pulang kak?" tanya Riris.
"Dikit lagi, nunggu kak Dewi dan yang lain, kakak kan numpang" kata Rara.
"Ok, mama bilang hati-hati," kata Riris.
"Iya," balas Rara.
Ketika dia berbalik mau masuk ke ruang aula lagi, ada yang menarik tangannya, dan gerakan reflek cepat mencium bibirnya.
Rara terkaget sekali, wangi parfumnya sama dengan yang tadi mengajaknya berdansa, namun sekarang sudah tak gunakan sarung tangan, namun dia tetap bertopeng.
Rara berusah melepaskan dirinya dari pelukan, Pria itu akhirnya mengakhirinya ciumannya, dan berbalik pergi.
Rara mengejarnya, menarik lengannya,"Siapa kamu?" tanya Rara.
Pria itu tak berani berbalik dan tak berani menjawab.
Rara akhirnya menyerah dan membiarkan pria itu pergi.
Ketika Rara kembali mau masuk ke aula, dia bertatapan dengan Bima, yang sepertinya melihat kejadian yang dia baru saja alami.
Bima tersenyum mendatanginya,"Kita foto bareng yuk, tadi aku mau dansa denganmu, namun ku telat keduluan orang," kata Bima.
Bima memegang tangan Rara, mereka ke tempat photo shop, mereka foto bersama dengan akrab, Rara tak malu memeluk Bima di depan semuanya.
Bima memberikan kado untuk Rara sebuah gelang emas juga, "Disimpan jadi kenangan kita," kata Bima.
"Thanks Bim, kamu cowok yang baik, pacar yang baik, kamu selalu jagain aku, selalu ngertiin aku," kata Rara.
"Sama-sama Rara sayang, baik-baik ya kuliah, semoga dapat jodoh yang baik," kata Bima.
Bima mengecup keningnya.
"Ra, Ayuk pulang, sudah selesai perpisahannya?" tanya Dewi.
Putri, Dewi dan Cika yang melihat Rara dan Bima pun tersenyum.
"Sudah, Ayuk pulang," kata Rara.
Dalam perjalanan ke mobil Dewi, Rara matanya berkeliling mencari Jojo yang tak tampak sejak penerimaan penghargaan pemain basket terakhir.
Malam yang tak kan terlupakan oleh mereka.
__ADS_1