Jejak

Jejak
Awal Semester Enam


__ADS_3

Sore itu klinik sangat banyak pengunjungnya, hingga tak ada waktu untuk istirahat untuk Rara.


"Suster, anak saya pusing sekali, tolong," Teriak seorang ibu.


Rara segera mendekatinya, dan memeriksa keadaan anak tersebut, "Mari Bu kita ke ruang istirahat.'


Rara melapor ke dokter Ian, "Dok, ada anak yang pusing sudah gak tahan, ada di ruang istirahat."


"Suhu tubuhnya?" Tanya Dokter.


"Tiga puluh delapan," Jawab Rara.


Dokter Ian segera mengunjungi anak tersebut.


Akhirnya semua pasien dapat teratasi, pasien anak itu dirujuk ke rumah sakit umum daerah terdekat.


"Capek Ra?" Tanya Kak Ruby.


"Gak kak," Jawab Rara.


"Bagaimana pasien terapimu?" Tanya kak r


Ruby.


"Sudah ada perubahan kak," Jawab Rara.


"Baguslah," Kata Kak Ruby.


Seusai menutup klinik, Rara langsung mengendarai motornya. Namun rasanya belum ingin pulang, dia singgah ke taman kota dia duduk dan memesan nasi goreng, mata Rara menyapu seluruh taman kota, serasa hampa, teringat kedua temannya, Dewi yang dalam hitungan hari akan nikah dengan Bagas, Putri yang telah nikah, dan dia sendiri yang belum ada tambatan hati.


"Mbak, kok melamun, gak boleh melamun," suara bude yang menjual nasi goreng.


"Iya mbok," Jawab Rara.


Rara memakan nasi goreng pelan-pelan, sambil menarik napas pelan-pelan. Ponselnya berdering dokter Ian menelponnya.


Rara malas mengangkatnya, sejak mereka putus Rara tidak memberikan kesempatan untuk mereka bicara. Dokter Ian seakan sangat kesal, ditelponnya Rara bertubi-tubi, akhirnya Rara menjawab telponnya.


Hallo Dok, Jawab Rara.


Kenapa angkatnya lama? Tanya Dokter Ian.


Lagi males bicara. Jawab Rara.

__ADS_1


Dokter Ian memutuskan percakapan mereka, Rara melanjutkan makannya. Seorang pria muncul dari depan pintu warung makan itu, dan duduk di depan Rara. Rara tidak kaget melihat itu.


"Aku khawatir melihat kamu, seakan lagi gak ada pikiran dan jalan sendiri," Kata Dokter.


"Dokter pintar rayu cewek," Kata Rara.


"Ra, aku minta maaf," Suara Ian tenang dan serius.


"Yah, dimaafkan," Kata Rara.


"Kayaknya aku gak bisa cerita sama kamu ya, rasanya gimana gitu," Kata Ian.


"Gak sah cerita, aku juga gak mau dengar," Kata Rara.


Ian diam, dan hanya menemani Rara makan, selesai makan Rara langsung pamitan dan pulang, Rara melihat dari kaca spion motornya Ian mengawalinya di belakang.


Ketika sudah mau tidur, Rara mengirim pesan ke Ian. Lain kali gak usah ikutin aku dari belakang.


Gak apa-apa aku yang mau. Balas Ian.


Rara tak membalas lagi pesannya.


Pernikahan Dewi dan Bagas akhirnya terlaksana dengan meriah, Dewi bahagia sekali. Putri datang sendiri tanpa suaminya, dia memeluk Rara erat sekali sambil berbisik, "Jangan pikiran macam-macam, menikah itu tak semudah yang dipikirkan, gak usah terburu-buru kau akan dapatkan pasangan dan cinta yang sangat baik bagi hidupmu." Air mata menetes di pipi Rara.


Putri setiap pagi cepat-cepat masak, dan pergi ke kampus, pulang dari kampus lanjut ke kantor, Putri sudah pisah ruangan dengan Raka, Putri sekarang bagian pemeriksa arsip, mengepalai sekretaris di kantor itu. Pulang kantor segera dia pulang ke rumah, dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah, cuci pakaian, masak dan semuanya.


"Apa yang harus aku bicara, pikiranku banyak," Balas Putri.


"Tak ada satupun yang mau kamu ceritakan ke aku?" Tanya Raka.


"Tidak," Jawab Putri.


Raka menatap Putri sambil menahan amarah, ponselnya Raka berbunyi.


Hallo Bu. Jawab Raka.


Besok pulang kantor dengan Putri ke rumah ya. Kata Bude Sri.


Baik Bu. Jawab Raka.


"Siapa?" Tanya Putri.


"Bude Sri, besok pulang kantor langsung ke rumah Bude," Kata Raka.

__ADS_1


Putri langsung pergi ke kamar.


Keesokan harinya setelah pulang kantor mereka langsung ke rumah Bude Sri, ternyata ada Bude Tarmi.


Bude Tarmi tak bicara banyak, hanya melihat Putri dari atas ke bawah, lalu memegang tangan Putri mengajaknya masuk ke kamar.


"Sudah dua bulan ya pernikahanmu nduk, Bude dengar dari Bude Sri kamu jadi semakin kurus dan pendiam," Kata Bude Tarmi.


Putri hanya diam.


"Bude gak ada maksud jahat, bukan karena kamu hanya ponakan, bukan karena perusahaan, Keluarganya Raka yang tak ada apa-apanya, Raka tak punya apa-apa jika kita usir dia, tapi karena Bude sayang kamu, Bude ingin kamu mendapat suami yang baik, Bude sudah kenal Raka sejak dia kecil," Kata Bude.


Putri masih hanya diam, Bude melepaskan kalung dari lehernya dan melingkarkan ke leher Putri.


"Bude gak ada maksud menyiksa kamu, tolong Put, jangan kamu pendam kalau mau marah ya marah, mau nangis ya nangis, Bude dan Bude Sri bingung melihat tingkahmu yang berubah," Kata Bude Tarmi.


"Mau bicara apa lagi Bude, apa Putri boleh memilih, apa Putri boleh kabur, apa ada hak Putri untuk marah, Bude Sri sudah membesarkan Putri, Bude Tarmi sudah memodalkan Putri saham perusahaan yang luar biasa, apa aku berhak marah, biarkan aku diam Bude, daripada aku bicara dan menyakitkan semua yang mendengarkan," Kata Putri.


Bude Tarmi tak lagi bicara melainkan menangis hingga terdengar di luar kamar.


Raka langsung mengerutkan kening, Pakde Agus akhirnya berbicara, " Bude Sri melihat perubahan pada Putri, semakin kurus dan pendiam seperti tertekan, Bude Sri marah Bude Tarmi yang memaksa menjodohkan kalian berdua, akhirnya Bude Tarmi datang untuk berbicara dengan Bude Sri dan Putri."


Raka menarik napas, pikirnya Bude Tarmi orang yang keras, namun malam ini menangis artinya hatinya sangat terluka, apa yang dibuat oleh Putri.


Bude Sri masuk ke kamar dan turut menangis sambil memeluk Putri.


"Maafkan aku Put, maafkan aku Sri," Kata Bude Tarmi.


"Sudah terjadi, sekarang kita harus kuatkan mental dan hatinya Putri," Kata Bude Sri.


"Fokus selesaikan kuliahmu, dan ingat Raka itu gak punya apa-apa, kami yang sebenarnya bosnya dia, makanya Bude langsung suruh kamu jadi kepala sekretaris agar kamu tau semua surat dan berkas," Kata Bude Tarmi.


"Apa aku boleh bercerai?" Tanya Putri.


"Sebenarnya gak boleh, sebab kamu sudah nikah Gereja nduk, semua pernikahan gak ada yang indah nduk, jangan kamu lihat Pakde dan Bude baik-baik saja, cuma kami sudah bisa mengendalikan diri sehingga tak terlihat oleh kalian," Kata Bude Sri.


"Gak masalah jika dia mau cerai Sri, nanti aku bantu urusan," Kata Tarmi.


"Kamu gimana, sudah nikahkan dia lalu ceraikan dia, jangan Tarmi, yang harus kita lakukan kuatkan mentalnya Putri," Kata Bude Sri.


Bude Tarmi menarik napas dan menutup matanya.


Sepulangnya dari rumah Bude, "Aku akan menceraikan kamu, jika kamu berhasil mendapat nilai tertinggi di kuliahmu," Kata Raka.

__ADS_1


"Sungguh? kamu janji Ka?" Tanya Putri.


Raka diam dan langsung ke teras luar mencari udara segar.


__ADS_2